
Chandra mengeratkan pelukan. "Jadi sekarang kita baikan?"
Litania mengangguk. Wajah pun sudah mulai bersemu.
"Jadi besok kita pulang ya?"
Lagi-lagi Litania mengangguk.
"Pulang ke rumah mama."
"Kerumah mama?" ulang Litania. Ia lepaskan pelukan dan menatap wajah serius Chandra. "Kenapa gak balik ke apartemen?"
Kembali merengkuh tubuh Litania, Chandra berucap pelan, "Karena di rumah mama gak ada yang nungguin. Lebih baik kita yang tinggal ke sana. Mama sama papa mutusin balik lagi ke Semarang."
"Lah, kok bisa?" Litania berpikir sejenak. "Apa karena Chandira?"
"Emb." Chandra perhatikan wajah Litania yang kembali menatap ke arahnya. "Gak apa-apa, ya? Mereka mau deketan sama cucunya."
Mengembuskan napas panjang, Litania mengangguk. "Iya, gak apa-apa," jawabnya pelan. Disentuhnya perut yang masih rata. "Maafin aku, aku belum bisa ngasih kamu keturunan."
"Gak apa-apa. Kita masih punya waktu buat usaha. Jangan terlalu dipikirin." Chandra ederkan matanya ke sekeliling. "Sayang, bagaimana kalau kita ajak nenek kamu tinggal bareng kita? Jangan lagi jualan. Aku bisa kok memenuhi kebutuhannya. Bagaimana?"
"Ehm, besok aku coba ngomong. Siapa tau dia mau ikut kita. Aku juga kesepian sih sebenarnya. Aku udah terbiasa sama nenek. Cuma ya itu ... nenek orangnya susah diajak ke mana-mana. Dia paling seneng jualan. Gak mau bolos barang sehari."
"Coba dulu lagi, ya. Aku gak tega ninggalin dia di sini sendirian. Apalagi dia udah tua."
Makin mengeratkan pelukan, Litania memekarkan senyuman. "Makasih ya udah perhatian sama nenek. Besok aku coba ngomong sama nenek lagi." Melepaskan pelukan Litania menarik selimutnya. 'Ya udah. Sekarang kita tidur. Udah malem."
"Tidur?" ulang Chandra. Alisnya mulai tertaut kala Litania sudah membalut diri kembali dengan selimut. "Jangan tidur duluan, dong. Kan kangen-kangenan kita belum selesai."
"Besok aja deh. Aku capek seharian ini nagisin kamu," jawab Litania tak peduli. ia abaikan tangan Chandra yang berkali-kali menggoyang pahanya.
"Tapi ...." Senyum mesum Chandra terukir. Ia kungkung tubuh Litania yang sudah terbalut selimut. "Kita main ya," lanjutnya mengiba. Sementara wajah ia bikin sememelas mungkin.
__ADS_1
"Main apaan?"
"Ehem ehem."
"Apaan ehem ehem?"
"Ceplak ceplok."
"Kamu laper? Mau makan telor ceplok? Ya udah deh aku bikinin." Litania dorong dada Chandra lantas angkat dari ranjang. Namun, belum sempat melangkah, tangannya sudah dicekal dan berakhir terduduk di pangkuan Chandra. "Kenapa lagi? Katanya laper."
"Suami kamu ini memang laper. Tapi bukan di perut."
"Lalu?" Litania mengernyit.
"Di bawah perut."
***
"Nah udah cukup. Bang kocanku tampak handsome." Litania tersenyum puas. Di kelilinginya tubuh kaku Chandra. "Pasti gak bakal ada yang sadar kalau wajah ini penuh lebam," lanjutnya seraya tersenyum kuda.
Litania terkekeh. Ia arahkan kembali tubuh tegap suaminya itu menghadap cermin besar. "Bukan penjahat ... lebih tepatnya pria misterius. Sekarang jamannya yang begituan. Noh liat." Telunjuk Litania mengarah pada poster Siwon yang ada di dinding. Terpampang jelas gambar sang idola yang juga berpenampilan sama. "Kamu mirip dia."
"Ck, ada-ada aja. Ya udah, aku tinggal. Kamu nanti siap-siap. Sepulang aku dari sana kita langsung ke rumah mama. Dan kalau bisa, ajakin nenek kamu sekalian."
Litania mengangguk. "Sampaikan permintaan maafku sama Ara ya."
Tersenyum kuda. Litania bergelayut manja di lengan Chandra. Sungguh, rasa khawatir tetap ada meski sudah berulang kali ditegaskan bahwa Ara hanya seorang sekertaris.
"Iya, aku pergi dulu."
***
Di ruang makan. Sita tampak sibuk menyiapkan sarapan, dahinya yang keriput sedekit berlipat kala mengetahui Litania datang tanpa Chandra. "Litan, Chandra ke mana? Belum bangun?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Enggak, Nek. Dia udah pergi. Lagi ada urusan sama sekertarisnya." Menarik kursi, Litania langsung duduk dan memperhatikan sang nenek yang kembali sibuk bolak balik dari dapur ke ruang makan. "Nek, duduk sini bentar. Aku mau ngomong," ucap Litania serayaenepuk kursi yang ada di sebelahnya.
Sita terdiam sejenak. Diperhatikannya wajah serius Litania kemudian menarik kursi dan duduk bersebelahan dengan Litania. "Kenapa? Ada masalah lagi?" tanyanya heran.
Litania menggeleng. "Entar siang aku ikut bang Kocan balik ke rumah mama."
Senyum Sita terkembang. "Wah bagus itu. Nenek seneng dengarnya."
"Tapi Nenek ikut aku, ya?" Litania memelas. Ia tarik tangan Sita dan menggenggamnya erat. "Ikut kami ya, Nek. Please ...."
Dalam sekejap senyum Sita menguap. "Maaf, Litan, Nenek gak bisa ikut.'
"Kenapa?" Memanyunkan bibirnya sedikit, Litania berharap sang nenek mengubah keputusan. "Demi aku, Nek. Kita tinggal sama-sama, ya."
Kembali mengukir senyuman hangat, Sita tetap menggelengkan kepala. "Enggak, Litan. Nenek seneng di sini. Nenek seneng bisa jualan di pasar. Kalau Nenek cuma malas-malasan, yang ada badan nenek pegel semua."
"Tapi Nek—"
Lisan Litania tak terselesaikan. Sita menepuk punggung tangannya seraya memelototkan mata. "St! Udah ya. Jangan bahas ini lagi. Nenek seneng hidup begini. Nenek seneng bisa jualan. Jadi jangan dibuat susah. Jangan mikirin yang enggak-enggak. Nenek baik-baik aja, kok.
"Tapi Nek—"
"Udah, jangan maksa. Ayo kita sarapan."
Litania terdiam meski wajah sudah cemberut. Dalam diri ingin merengek agar sang nenek luluh, tapi tetap saja ia tak bisa apa-apa. Sang nenek telah memantapkan keputusan.
Mengembuskan napas kasar, Litania raih piring di atas meja serta menuang nasi di atasnya. Namun, baru saja mencium aroma yang ditimbulkan oleh nasi itu, tiba-tiba dalam perut serasa diobok-obok. Litania bergeming sesaat—mencoba mencari tau kesalahan apa yang ada dalam diri. Namun, sedetik kemudian ia kalah. Rasa mual makin menjadi.
Menutup mulut dengan telapak tangan, Litania berlari menuju kamar mandi. Sungguh, baru kali ini merasakan mual, kepala pusing dan tenaga seperti terkuras habis. Padahal sedetik sebelumnya biasa saja. Ada apa ini? Litania membatin. Ia sandarkan punggung di pintu kamar mandi dan melihat sang nenek tergopoh menghampirinya.
"Litan, kamu kenapa?" tanyanya seraya menangkup kedua belah pipi Litania. Matanya yang keriput tak bisa menyembunyikan kecemasan. "Kamu sakit? Kita ke rumah sakit, ya?"
Mengelap tepian mulut yang masih basah, Litania tersenyum kecut. "Gak perlu, Nek. Aku sepertinya cuma masuk angin."
__ADS_1
"Nah, kan. Semalam sudah Nenek ingetin. Kamunya yang ngeyel. Sekarang malah muntah-muntah. Ya udah, sekarang makan ya. Walau dikit perut kamu tetap harus diisi." Sita mendorong tubuh lemah Litania untuk duduk kembali ke kursi. "Kamu duduk di sini, Nenek bikinin teh anget dulu.