Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Pesta.


__ADS_3

Malam harinya.


Seperti mendapat tumpahan gula, senyum Dafin begitu merekah dengan pipi yang sudah merona. Ia tak menyangka akhirnya akan segera mengumumkan hubungannya ke khalayak ramai. Itu artinya semua orang akan tahu kalau dirinyalah pemilik Fia, sekretaris yang selalu unggul dalam banyak hal. Sekretaris baik hati nan seksi.


"Gila. Belum apa-apa aku udah horny duluan."


Dafin terkekeh pelan. Ia garuk tengkuknya seraya menata hasrat. Ia tahu akibatnya jika melebihi batas. Sekretaris yang sudah tiga tahun ini merangkap menjadi kekasihnya itu begitu pandai menjaga diri. Pertahanannya sangat kokoh. Tak mudah Dafin runtuhkan dengan rayuan ataupun iming-iming. Ia jadi penasaran, bagaimana cara Fia dibesarkan? Fia gadis langka di jaman modern ini.


Akan tetapi meski tak bisa menyentuh, ia tetap bersyukur dan yakin untuk menjadikan Fia istri. Perempuan yang bisa menjaga diri pasti bisa menjaga kehormatan suami dan keutuhan rumah tangga nantinya. Ia juga yakin kalau Fia pasti bisa menjaga anak-anak mereka kelak. Sebab itulah ia begitu terikat dengan gadis tangguh itu. Fia. Dafia Diantisya. Gadis pintar yang galaknya nauzubillah.


"Maaf ya lama," ujar Fia seraya duduk di kursi. Ia langsung memasang sabuk pengaman. Penampilannya malam ini begitu wah dengan balutan gaun indah berwarna putih. Rambut yang biasa lurus dan terkucir kuda malam ini tergerai indah dengan sedikit bergelombang. Bibir yang biasa hanya dilapis lip blam kini berwarna merah. Sungguh indah dan cantik penampilannya malam ini hingga tanpa sadar membuat seorang pria yang duduk di belakang kemudi mengerjap takjub.


"Kenapa ngeliatin aku sampai kayak gitu, sih? Aneh, ya? Jelek, ya?" cecar Fia seraya membelai baju dan rambut. Saking panik ia bahkan mengeluarkan cermin bedak dan melihat penampilannya sekali lagi.


"Jelek, ya? Apa aku harus ganti baju?" lanjut Fia. Namun, Dafin tak merespon hingga membuat gadis itu berpikir buruk sesuka hati. Ia lepas sabuk pengaman hendak keluar.


"Mau ke mana?" tanya Dafin akhirnya. Ia tarik lagi tangan Fia dan membuat gadis itu terduduk lagi.


"Aku mau ganti baju," balas Fia.


"Ngapain ganti. Ini udah bagus, kok."


"Beneran?"


Dafin mengangguk.


"Tapi kenapa tadi kamu diam?" tanya Fia lagi


Bukannya menjawab Dafin malah berdeham, ia lepas cekalan tangan lalu menggaruk tengkuk. "Ya sudah, pasang lagi sabuk pengaman. Kita berangkat. Acaranya sebentar lagi akan dimulai."


Fia merungut. Bukannya mendapat jawaban dirinya malah diperintah. Dengan malas ia pun kembali memasang sabuk pengaman itu.


Dafin berdeham lagi. Matanya tertuju ke telinga Fia. "Yang ada di telinga kamu itu apaan?" tanyanya seraya menunjuk.


"Ini?" Fia memegang antingnya, "tentu aja anting masa iya kalung," balas Fia dengan jutek. Ia masih kesal.


"Iya, aku tau itu anting. Tapi kenapa kamu pake. Itu jelek banget. Mending lepas."


Fia langsung menutup telinganya, lantas melotot tajam. "Kamu lupa? Ini kami sendiri loh yang ngasih."


"Masa? Itu anting dari aku apa dari Dafan?"


Terdengar menyindir, Fia jadi keki juga dibuatnya.


"Tentu aja dari kamu. Kamu gak percaya? Mau ngajak berantem?" Mata Fia sudah menyipit tajam.


Tapi Dafin justru mengabaikan ia lalu menghidupkan mesin mobil. Perlahan mobil keluar dari pekarangan kontrakan Fia.


"Masa sendiri yang beli tapi sendirinya yang lupa?" sungut Fia dengan bibir manyun.


Dafin yang mendengar sindiran lirih itu menarik sebelah bibirnya tanpa mau melihat Fia. "Iya, tapi waktu dipajang di etalase bagus banget. Makanya aku gak ngenalin."


Fia langsung menoleh. "Jadi menurut kamu pas aku yang pake ni anting jadi jelek, gitu?" sungut Fia. Bibirnya makin maju. Ia bahkan menyipitkan mata.


Namun, bukannya menjawab Dafin malah menggidikkan bahu. Fia jadi tambah sebal. Ia bersedekap lalu membuang muka ke arah jendela. Bukannya dipuji dirinya malah mendapat cercaan. Kejam kau Fergusso.


"Lepas aja antingnya. Nanti aku kembalikan ke toko." Dafin berkata dengan nada datar.


"Serius?" Fia kembali menutup telinga. Matanya makin menyipit tajam melihat Dafin yang mengemudi. "Pelit amat, sih. Masa iya dikembalikan. Beliin baru kek, apa kek."


"Salah sendiri. Kenapa baru dipake. Kan aku ngasihnya tiga tahun lalu. Aku kira kamu gak mau make barang-barang pemberianku."


Fia menelan ludah. Wajahnya berubah seketika menjadi canggung. "Ya gak mungkin juga pake perhiasan tiap hari. Kan kita kerja."


"Ya walaupun begitu apa harus nunggu tiga tahun baru dipake?" tambah Dafin.


Fia makin salah tingkah.


"Kenapa? Mau ngeles lagi?"


Dafin memutar bola matanya malas. Akan tetapi ada sedikit tarikan di ujung bibirnya itu.


Sementara Fia tertunduk dan meremas tas tangan bermerek yang Dafin belikan. Hadiah yang ia terima dua tahun yang lalu. Sama halnya dengan baju yang dikenakannya sekarang. Itu juga adalah hadiah ulang tahun yang ia terima tiga bulan lalu dari Dafin.


"Lagian kamu aneh. Masa dikasih barang gak mau. Boleh dikasih barang cuma waktu ulang tahun doang. Itu pun cuma satu barang. Aku heran kenapa bisa kamu hidup dengan membatasi diri seperti itu? Kesannya kamu gak ngehargai aku banget yang tulus sama kamu," sungut Dafin. Akhirnya yang menggumpal dalam dada selama tiga tahun tercurah juga.


"Iya aku tau. Aku itu memang gak mau terlalu banyak makan uang kamu. Aku juga gak mau nerima barang pemberian kamu karena takut," balas Fia. Terdengar ambigu di telinga Dafin.


Menatap sekilas, Dafin tak tahan untuk mengabaikan perkataan Fia barusan. "Takut apa? Kamu takut apa sebenarnya? Aku gak bakalan ngungkit-ngungkit barang pemberian. Haram bagiku meminta lagi barang yang udah dikasih."


Penuh penekanan dalam kalimat terakhir Dafin. Nyali Fia jadi menciut.


"Takut entar terlalu banyak kenangan, jadi susah move on," balas Fia lirih.


"Oh ... jadi kamu pernah kepikiran buat putus?" dengkus Dafin. Ekor matanya melirik Fia dengan tajam dan membuat Fia menjadi salah tingkah.


"Ya, nggak juga. Cuma 'kan kita hidup harus realistis. Aku bukan tipe orang yang idealis jadi nggak mau yang muluk-muluk. Enggak mau punya mimpi yang ketinggian, entar kalau jatuh sakit. Begitu juga dengan hubungan, aku sayang sama kamu. Tapi nggak terlalu berharap jadi istri kamu, karena apa? Karena jodoh itu tetap di tangan Tuhan."


Dafin masih diam. Air mukanya merah padam. Tangannya bahkan menggenggam erat setir mobil dengan napas yang sudah menderu.


Fia yang menyadari itu hanya bisa berdeham. Ia tahu kalau sang kekasih yang ada di sebelahnya itu sudah di mode bahaya. "Kamu jangan marah, ya. Kan aku gak salah."

__ADS_1


Dafin masih diam. Tak berniat menjawab. Ia sibuk menenangkan hati agar tak berakhir mengamuk.


"Lagian aku sengaja nyimpen barang pemberian kamu itu biar bisa aku pake di hari spesial. Kayak malam ini," lanjut Fia lagi dengan posisi masih menunduk.


Sekonyong-konyong ekspresi wajah Dafin berubah total. Ia tepikan mobil lalu menatap Fia dengan lekat. "Jadi malam ini malam spesial ya?" ulangnya dengan menyeringai genit.


Fia yang sudah kadung malu kembali membuang muka. Jantungnya serasa cenat-cenut. Tak mau menjawab. Cukup sekali saja pengakuan itu.


Sementara Dafin yang melihat gelagat Fia yang malu-malu kucing begitu pun berakhir mengukir senyuman. Menurutnya jalan pikiran Fia tak bisa ditebak. Setelah diinjak-injak, kini perasaannya diangkat kembali. Fia ini begitu berbeda. Berbeda dari gadis lain yang bisa dikatakan ada udang di balik batu.


"Kalau gitu, mana. Udah kamu siapkan?" ujar Dafin, sengaja mengubah topik pembicaraan. Ia suka Fia yang menjadi kucing persia ketimbang singa betina.


Fia langsung menghela napas karena tahu hal apa yang Dafin maksud. Pria itu bahkan sudah menengadahkan tangan.


"Siniin," ujar Dafin lagi.


Pasrah, perlahan Fia mengambil amplop segi empat panjang dari dalam tas. Ragu-ragu ia mengeluarkannya, lalu menggenggam erat seakan tak ingin melepaskan.


"Kenapa lagi?" Dafin bertanya seraya melirik kertas yang Fia genggam diatas pangkuan.


"Fin." Fia memanggil. Ia menatap lekat Dafin. Ada kekhawatiran dalam sorot matanya itu.


"Kenapa?" balas Dafin. Mendadak jadi tak nyaman dengan tatapan mengiba Fia.


"Bisa nggak sih kita nikahnya siri aja?"


"Apa?!"


Bak mendapat bom atom. Dada Dafan bergemuruh luar biasa karena satu kalimat itu. "K-kamu serius, Fi? Kamu minta kita nikah siri?" ulangnya sedikit nyaring. "Kamu sadar apa yang kamu bilang barusan? Kamu sadar, Fi!"


Dafin lantas menjambak rambutnya sendiri. Ia frustrasi dan tak habis pikir, bagaimana bisa Fia meminta hal aneh seperti itu?


"Wah ... kamu bener-bener. Kamu gak cinta sama aku?" lanjut Dafin lagi. Ada kekecewaan dalam kata-katanya.


"Bukan begitu, Fin. Aku cinta sama kamu. Aku sayang, tapi ...." Lisan Fia terjeda. Gadis berparas ayu itu bahkan menggigit bibir. "Aku ... aku masih mau bekerja, Fin," lanjutnya lagi. Lirih, sangat pelan. Dafin yang mendengarnya menjadi terheran-heran.


Namun, satu yang bisa Dafin tangkap dari permintaan absurd Fia barusan. Calon istrinya itu tidak rela melepaskan mimpi


"Kamu kok aneh, Fi. Kebanyakan perempuan minta kejelasan status. Lah, kamu kok kenapa minta nikah siri?"


"Habisnya aku nggak rela, Fin. Aku masih mau kerja. Aku masih mau jadi sekertaris kamu."


"Fi, hey ... coba dengerin aku." Dafin membuka seat belt. "Lihat sini, lihat mata aku," ujar Dafin lagi setelah memiringkan tubuh.


Fia yang menunduk mengangkat kepala. Mereka saling bertatapan. Dafin dapat melihat ada kegelisahan dipancaran bola mata Fia. Sorot netra gadis itu terlihat sayu dan tampak tertekan. Bahkan ada setitik embun di pelupuk matanya itu.


"Fi, tolong dengerin aku. Aku sayang sama kamu. Aku mau semua orang tau tentang kita. Aku gak terima kalau kamu digodain laki-laki lain. Aku gak mau Fi."


Fia menggeleng. "Aku sayang sama kamu tapi ...."


"Fi ...." Dafin sengaja menyela. Matanya semakin mengunci tatapan Fia. "Lagian, Fi. kamu itu bisa jadi sekretaris aku tanpa harus pegang ID card. Kamu cukup jadi sekretaris aku di kehidupan rumah tangga kita."


"Tapi, Fin."


"Fi, pliase ... jangan ragukan keseriusan aku. Apa kamu senang? Kamu menikmati goda karyawan lain? Atau ... apa kamu sanggup liat aku digodain perempuan lain?" tanya Dafin, sedikit kesal


Fia menghela napas. Ia tahu betul bagaimana rasanya pacaran diam-diam. Selama 3 tahun ada saja gangguan dan godaan. Baik dari dirinya maupun Dafan. Begitu banyak perempuan yang ingin berdekatan dengan kekasihnya itu. Dari model hingga anak konglomerat lainnya. Tak jarang para pesaing pun berlomba mendekati Dafin. Betapa lelah hatinya menahan itu semua. Menahan cemburu dan bersikap formal begitu memerlukan banyak tenaga. Dan tiga tahun itu adalah neraka tak kasatmata bagi hubungan mereka.


"Percaya sama aku, ya?" pinta Dafin lagi. Kini terdengar lembut dan tulus


Fia bungkam. Amplop putih yang ada di tangan tetap ia genggam.


"Ayo, Fi ... percaya sama aku. Cepetan kasih ke aku," ujar Dafin lagi. Empat buku jarinya bergerak-gerak, menunggu kertas itu seraya memandang wajah Fia. Ragu-ragu Fia pun meletakkan kertas itu ke tangannya.


Fix. Kertas Dafin tangkap. Senyumnya terukir sedangkan Fia merungut kesal.


"Kertas ini sudah aku terima. Sekarang jam setengah tujuh malam kamu resmi mengundurkan diri jadi sekretaris seorang Dafin."


Fia menggeleng, ia menjadi berubah pikiran lantas mengulurkan tangan hendak mengambil kertas dari tangan Dafin. Tapi sialnya Dafin sudah memasukkan ke dalam saku. Fia pun merungut lagi. Ia kalah


"Keputusan udah final, Fi."


Mendesah pasrah, rasanya sangat berat meninggalkan sesuatu yang sangat disuka. Melepaskan cita-cita yang susah payah diraih rasanya begitu berat.


Namun Fia juga sadar, kodratnya sebagai perempuan adalah mengikuti suami dan mendampingi suami.


Dafin yang mengerti kegelisahan Fia ikut mendesah. Bukan niat hati memutus sayap Fia. Hanya saja aturan tentang larangan pasangan bekerja satu kantor sudah menjadi aturan resmi. Jika mengingkari, ia takut para karyawan tidak akan mematuhi bahkan bergunjing bagaimana dirinya menelan ludah sendiri. Sungguh, Dafin tak mau seperti itu.


Memegang tangan Fia, Dafin pun berkata, "Maafkan, Fi. Maaf karena kamu berkorban begitu banyak untuk kita. Tapi aku janji, aku janji bakalan bahagiain kamu dan anak-anak kita nantinya. Aku bakalan menebus pengorbanan kamu ini dengan kehidupan yang layak. Kehidupan yang bahagia. Aku gak akan bikin kamu menyesal karena udah ngelepasin hal berharga ini. Maafin aku dan terima kasih." Lantas mencium punggung tangan wanita itu.


Di rumah.


Pesta berjalan sebagaimana mestinya. Begitu banyak petinggi dan orang-orang penting perusahaan yang menikmati acara itu. Bahkan ada beberapa pejabat negara ikut menghadiri pesta itu. Pertemuan bisnis yang berkedok ulang tahun. Baik Dafan maupun Dafin juga tak mempermasalahkan. Bagi mereka itu sudah lumrah di kalangan keluarga pebisnis.


"Selamat ya Fi, Fin. Akhirnya kalian mengumumkan hubungan ini," kata seorang gadis cantik bergaun panjang yang tak lain tak bukan adalah Sisi Maharani. Ia mengulurkan tangan seraya mengukir senyum super manis.


Dafin dan Fia menyambut uluran tangan itu secara bergantian. "Makasih loh kamu mau dateng. Aku kira kamu gak bakalan mau dateng," balas Dafin. Ia yang memang menggandeng Fia makin mengeratkan rangkulan. Seolah-olah tidak ingin Fia salah paham. Dalam rangkulan itu juga sebagai penegasan bahwa hanya ada nama Fia di hatinya.


"Ya gak mungkinlah. Udah gak jamannya musuhin mantan apalagi buang muka. Mau bagaimana pun kamu tetep berjasa di hidup aku. Cuma sayangnya sebatas itu," balas Sisi.


"Ya, kita memang gak berjodoh. Makasih karena kamu udah bersikap dewasa sampe sekarang," timpal Dafin. Ia seruput minuman bersoda dalam gelas lalu melihat sekitar.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan dia?" sela Fia seraya melirik Miko yang berdiri mematung di sudut ruang. Pria yang terlihat serius memindai ke segala arah.


"Dia?" ulang Sisi. Helaan napas menjadi akhir. "Entahlah, Fi. Aku serasa berhubungan dengan dinding. Orangnya kaku banget. Aku kadang berpikir, apa jangan-jangan dia cuma jadiin aku sebagai ibu sambung sementara buat anaknya?"


"Hust! Jangan suudzon. Dia gak sebrengsek itu," timpal Dafin.


"Oh ya?" Sisi terkekeh. Fia pun ikutan tersenyum.


"Iya dong. Aku bisa menilai orang dengan baik," balas Dafin lagi


"Oh ya?" Kini Fia yang menyela. "Lalu bagaimana dengan aku? Apa aku termasuk pribadi yang baik?"


Dafin menelan ludah. Matanya membesar lalu dengan cepat menguasai pikiran. Ia tahu itu adalah jebakan. Jujur salah, bohong lebih salah.


"Hayo, kenapa gak dijawab?" goda Sisi yang sengaja memanaskan suasana. Gelagat salah tingkah Dafin membuat dua gadis itu pun tersenyum gemas.


"Kenapa gak dijawab? Dulu aku bagaimana?" cecar Fia lagi.


Pelukan di pinggang Fia langsung mengendur. "Kalian mengobrol saja. Aku mau ke toilet," kilah Dafin lalu bergegas memutar tumit. Ia tahu pasti ujungnya akan seperti apa. Jadi jalan terbaik ya menghindar.


"Dia menggemaskan, 'kan?" tanya Sisi pada Fia. Keduanya masih dengan posisi menatap punggung Dafin.


Fia mengangguk. "Kadang dia menggemaskan, kadang juga menyebalkan. Kadang ngangenin kadang juga ...."


"Ingin meninggalkan?" potong Sisi lantas terkekeh.


Fia lagi-lagi mengangguk. "Ya begitulah hubungan. Gak pernah ada yang manis sampe akhir."


"Semoga kalian bahagia. Aku doakan segalanya dilancarkan," lanjut Sisi lagi.


Fia langsung menoleh dan menatap wajah tenang Sisi. "Kamu juga. Aku harap kamu bisa bertemu dengan laki-laki yang benar-benar sayang sama kamu. Carilah yang perhatian. Jangan yang cuek. Takutnya entar perangainya makin buruk dan makin cuek saat udah berumah tangga."


Sisi mengangguk. "Iya, aku juga berpikiran sama. Ada kalanya aku ragu sama Miko. Selama ini yang buat aku bertahan sama dia ya karena anaknya, Cinta. Anaknya manis banget. Penurut dan lucu. Aku sempet heran. Apa Miko bener-bener ayahnya?"


"Hust, jangan gitu," timpal Fia lagi.


Sisi terkekeh sejenak lalu manggut-manggut. "Ya, aku tau. Aku tau Cinta itu anaknya dia. Cuma kadang gak habis pikir aja. Miko yang kaku bisa menghasilkan bibit cantik dan lucu kek Cinta."


"Ya kita mana tau. Siapa tau dulunya Miko humoris. Trus berubah setelah negara api menyerang," kelakar Fia.


Keduanya sama-sama tersenyum, tapi ekspresi bahagia mereka luntur saat mendengar dehaman dari arah belakang. Tampak Miko dengan setelan serba hitam berdiri tegak di belakang dengan mimik wajah penuh keseriusan.


"Maaf Nona Fia. Bisa saya bicara sama Nona Sisi sebentar?" pintanya.


Fia menyentuh hidung. Ia berusaha keras agar tidak tertawa. Bagaimana bisa seorang pria memanggil pacarnya sendiri dengan sebutan nona? Astaga ....


"Boleh, Nona?" tanya Miko lagi.


Fia mengangguk lantas melepas kepergian Sisi dan Miko dengan senyuman.


"Kalian memang pasangan aneh," gumamnya pelan.


Dalam euforia bahagia itu, ada sepasang mata yang Dafan miliki tengah menatap Fia dari lantai dua. Dalam kesendirian, dalam ketidakberdayaan ia berdiri sendiri tanpa ada yang tahu.


Sesak, berat, hati bagai terhimpit batu yang besar. Meski sudah bertahun-tahun mencoba melupakan tetap saja rasanya aneh. Bagai ada hati yang kosong dan itu sangat menggangu.


Dafan mulai merenungkan perkataan sang bunda. Kalau rasa sakit itu tidak bisa dihindari. Cara paling ampuh adalah menghadapi. Sesakit apa pun lama kelamaan pasti akan terbiasa jika sering bersama. Obat paling mujarab adalah menghadapi rasa sakit itu sendiri.


Perlahan Dafin turun. Ia hampiri Fia yang sedang berjalan menuju perasmanan.


"Pilih salad buah saja. Lebih aman."


Fia terlonjak. Ia mencari asal suara dan melihat Dafan berdiri di belakangnya. Kembaran sang calon suami terlihat gagah dengan tuksedo berwarna putih.


"Pilih itu saja," ulang Dafan seraya menunjuk tumpukan buah yang sudah dibagi dalam cup sebesar mangkuk. "Kalau kamu makan itu aku jamin berat badan kamu gak bakalan nambah. Lagian udah malam. Ngemil buah lebih sehat daripada makanan padat. Gak lucu kan kalau calon pengantin perempuan pas resepsi kekecilan gaun?"


Fia terdiam. Ia lalu menuruti perkataan Dafan dan menikmati semangkuk salad buah. Sementara Dafan sendiri hanya berdiri dan melihatnya.


"Kenapa? tanya Fia salah tingkah. Tatapan Dafan yang begitu teduh justru membuatnya semakin merasa bersalah.


"Selamat ya. Selamat atas pernikahan kalian," ujar Dafan lalu mengulurkan tangan. "Dalam dua minggu status kita bukan lagi sebagai teman melainkan ipar. Aku harap hubungan ini akan berlanjut sampai kapanpun."


Fia menyambut tangan terulur itu. "Terima kasih banyak atas doanya ... Abang ipar," balas Fia. Sedikit canggung menyebutkan kata terakhir.


"Tentu saja ... adik ipar."


Jabatan tangan terlepas perlahan bersamaan dengan langkah Dafan yang mundur. Fia dapat menangkap ekspresi sedih Dafan hanya saja jalan satu-satunya hanyalah melepaskan. Membiarkan Dafan melupakan dirinya.


"Aku harap kamu bisa menemukan seseorang yang lebih baik dari aku," lirih Fia dengan mata masih tertuju pada punggung Dafan yang perlahan hilang di telan ramainya tamu undangan.


Dafan memutuskan keluar dari rumah menggunakan pintu belakang yang kebetulan menyatu dengan garasi. Ia bawa mobilnya keluar dan membelah jalanan ibu kota yang sudah pekat dan gelap.


Sungguh, ia butuh udara segar untuk mengisi rongga dada yang begitu sesak.


Sementara di sudut ruangan lainnya, terlihat Anya tengah gelisah. Ia yang mengenakan gaun cantik berwarna biru laut tampak menggigit ujung kuku. Matanya bergerak liar menatap layar ponsel hingga suara derap sepatu membuyarkan aktifitas yang dilakukan itu.


"Lyra ... Monik ...." Wajah Anya mendadak pucat. Ia pindai dua gadis itu dengan nanar.


"Kenapa sembunyi di sini?" tanya Lyra—seorang gadis sebaya Anya. Seorang mahasiswi yang sama-sama mengambil jurusan tata boga seperti dirinya.


"Iya, dicariin dari tadi malah di sini," tambah Monica. Gadis bersanggul dengan gaun dada terbuka. Matanya menatap Anya dengan sorot menyelidik dan sinis. "Jangan bilang kamu ngindarin kita-kita?"

__ADS_1


Jeda sejenak. Monica kembali melayangkan tatapan penuh intimidasi. "Kamu gak kek gitu, kan? Kamu bukan pembohong, 'kan, Nya?"


__ADS_2