
"Bagaimana keadaan Sisi?"
Dafin bertanya pada Fia di saat ia baru saja tiba. Fia yang membawa nampan langsung meletakkan isinya di atas meja, lantas membalas dengan senyum ringan.
"Saya mendapat laporan kalau dia baik-baik saja, Pak. Pukul lima pagi dia lari pagi dan pukul tujuh dia berangkat ke kampus," balas Fia.
Dafin sudah merebahkan diri di kursi. Sekarang ia menatap lekat Fia yang berdiri di depannya. "Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi ingat, terus awasi dia. Saya gak mau kejadian enam bulan lalu terulang lagi."
Fia mengangguk patuh lalu memutar tumit, ia pergi meninggalkan Dafin. Soal pertanyaan Dafin barusan, ia sudah hapal di luar kepala. Sang bos memang selalu menanyakan hal yang sama setiap pagi selama enam bulan belakangan. Ia sedikit heran dengan pemikiran Dafin, pria itu selalu menanyakan kabar sang pacar setiap pagi sedangkan malam harinya mereka selalu bertemu. Bagi Fia itu adalah sebuah pemborosan dan hal yang sia-sia.
Namun, kembali ke alasan Dafin. Bukan tanpa sebab ia melakukan sesuatu yang tergolong berlebihan seperti itu. Semuanya demi keselamatan mental Sisi. Entah kenapa ia merasa Sisi menderita seperti itu karena keluarganya. Terlebih-lebih lagi saat mengetahui Sisi pernah mencoba bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangan. Ia merasa berhutang dan kasihan, tidak ada siapa-siapa yang mendukung gadis itu selain dirinya.
Menghela napas panjang, Dafin menatap lekat cincin pertunangan yang tersemat di jari. Setelah kejadian sebenarnya terungkap, Dafin memenuhi janjinya pada Fia dan Dafan. Ia mengadakan konferensi pers sebulan setelah Reno tertangkap. Semua bukti ia beberkan ke media termasuk sandiwara pertunangannya dengan Fia. Kini, ia kembali ke kehidupan awal sebagai pengusaha dan pacar Sisi, ah tidak ... sekarang status mereka sudah menjadi tunangan.
Akan tetapi, rasanya tetap kosong, Dafin merasa ada sesuatu yang tak beres dengan hatinya sendiri. Ia tak bisa bersikap normal seperti sedia kala. Dirinya memang bertunangan, tapi hati terasa gamang. Gelenyar aneh dalam dada saat bertemu Sisi tak sama seperti dulu. Begitu besar efek sebuah kebohongan.
Waktu sudah menunjukkan jam istirahat. Dafin keluar ruangan hendak mengajak sekretaris-nya itu makan siang, tapi sayang, orang yang akan di ajak tak berada di tempat.
"Apa mungkin dia ke kantin?" Dafin menerka, langkahnya pasti menuju kafetaria yang ada di lantai 10 gedung.
Ternyata benar adanya, Fia tengah makan sendirian. Dafin yang tak ingin mengganggu memutuskan menunggu di meja yang letaknya tidak jauh. Hanya berjarak beberapa meja saja. Dari belakang, ia bisa melihat betapa nikmatnya Fia menyantap hidangan yang ada. Sekretarisnya itu bahkan mengabaikan beberapa laki-laki yang ingin duduk satu meja dengannya. Alhasil laki-laki itu menjauh dengan wajah masam kecut. Dafin tersenyum tanpa sadar.
"Kamu memang beda, saat gadis lain berlomba bergosip ria sambil makan, kamu malah makan yang benar-benar makan. Di saat perempuan lain sibuk menggaet laki-laki kamu malah tidak peduli sama sekali," gumam Dafin, senyumnya kembali terbit. "Aku heran, sebenarnya apa yang menjadi minatmu selain bekerja dan keluarga?"
Akan tetapi, kasak-kusuk obrolan para karyawati yang ada di depannya sedikit mengusik. Dafin pun mencoba melebarkan kuping. Ia penasaran, topik apa yang membuat dua perempuan di depannya itu terkekeh pelan?
"Eh, masa, sih? Kok aku baru dengar."
Seorang wanita berkemeja putih menatap serius temannya yang ada di hadapan. Dafin makin menajamkan pendengaran.
"Iya beneran, Lala. Aku udah lama taunya cuma baru berani speak up. Tu lihat, gayanya aja kayak nggak mau bergaul dengan karyawan lain. Sombong, mentang-mentang sekretaris direktur utama," timpal wanita ber-blazer ungu. Ekor matanya melirik sinis Fia yang sedang makan.
"Bukan nggak mau, mungkin dianya nggak sempet kali, Dwi. Secara tanggung jawab dia gede loh daripada sekretaris direktur lainnya. Dia itu sekretaris pimpinan utama," sanggah si wanita berkemeja putih yang bernama Lala.
"Udah, deh, jangan ngebela dia. Jangan sok perhatian. Aku tahu kamu juga mengumpat dia dalam diam, 'kan? Secara dia itu jadi perhatian laki-laki di kantor sini." Dwi makin mengompori.
Sketika Lala menelan ludah, ekspresinya menyiratkan ketidaksenangan. Kenyinyiran temannya itu memang tiada duanya. "Gak, aku gak gitu. Kamu jangan mengada-ngada," balasnya ketus.
"Alah, nggak mau ngaku. Aku tahu kamu cemburu 'kan sama dia? Aku dengar kalau Mas Rito yang kamu taksir deket sama dia. Kamu yakin gak cemburu, La?"
"Enggak, siapa bilang?" elak Lala. Matanya sinis melihat Dwi
Namun, si Dwi seperti berbakat menjadi kompor, ia tak akan berhenti sampai orang yang dikomporin meleduk. Ia bahkan melibaskan tangan dan sengaja mengukir senyum meremehkan. "Jangan ngeles. Pura-pura baik-baik aja itu gak enak, loh. Kita semua tahu kalau kamu itu sukanya sama Rito, cuma sekarang Rito malah deket dan ngasih perhatian lebih sama Fia."
Lala kembali kelabakan, wajahnya jelas menyiratkan kegelisahan. Ia minum air putih yang ada di depan lalu menatap punggung Fia.
Sementara Dwi tetap tersenyum miring. "Kenapa? Kamu mau membandingkan diri?" tanyanya.
__ADS_1
Lala lagi-lagi terdiam.
"Tenang, menurutku kamu sama dia nggak kalah kok. Malah lebih oke kamu ke mana-mana. Dia itu cuma beruntung, beruntung dekat sama Pak bos dan punya skandal dengan dia. Jadi semua laki-laki yang ada di perusahaan ini berebut ingin dekat sama si Fia itu."
"Enak ya jadi Fia. Pak bos pasti makin peduli sama dia karena udah nyelametin reputasinya." Desahan frustrasi Lala membuat Dwi berbangga hati. Ternyata tebakannya benar—kalau Lala cemburu pada Fia.
Dwi menyeruput teh es miliknya. "Enak gak enak jadi dia. Asal kamu tau ya, aku denger laki-laki di sini jadiin dia taruhan, siapa yang bisa jadi pacarnya dia bakalan dapat sepuluh juta. Tapi gak tau juga kalo Rito, secara pangkat dia di sini kan udah tinggi, gak mungkin juga tergiur dengan sepuluh juta."
Mendengar itu darah Dafin jadi berdesir, ia ingin marah dan menghardik para wanita pengghibah yang ada di depan. Namun urung dilakukan karena masih perlu informasi lebih lanjut siapa yang membuat taruhan konyol seperti itu.
Tapi sayang, belum juga mendapat informasi yang konkret, Dafin dikejutkan dengan Fia yang mendadak beranjak dari kursi. Dafin yang salah tingkah cepat-cepat menyembunyikan wajah.
Bodoh, kenapa aku harus sembunyi? Dafin bermonolog, ia beranjak dari kursi dan mengikuti Fia. Pandangannya fokus pada gadis itu dan tak memedulikan sapaan karyawan lain. Jujur, ia merasa tak enak hati. Ternyata efek dari sandiwara pertunangan itu sangat buruk. Ia pikir semuanya sudah selesai, tapi ...
Dafin terus membuntuti. Niat hati ingin meminta maaf dan mengatakan hal yang di dengar tadi—kalau Fia bakalan jadi barang taruhan.
Namun, belum sempat memanggil, Fia sudah berhenti, gadis itu menerima telepon dan bergegas menuju tangga darurat. Dafin yang penasaran tetap membuntuti.
Kira-kira siapa yang nelfon dia? Dafin bermonolog lagi. Ia yang ada di tangga melihat Fia sedang berdiri menghadap ke luar yang kebetulan dibatasi dengan kaca raksasa. Sebuah dinding transparan yang bisa membuat siapa saja melihat dengan leluasa keadaan di luar gedung.
Dafin makin penasaran. Sekretarisnya itu tampak gelisah dan menggigit ujung kuku.
"Duh, malam ini, ya? Aku gak bisa janji, Fan. Kamu kan tau sendiri, aku cuma sekertaris. Aku pulang kalau memang sudah selesai semua urusan. Kamu tau sendiri kan jadwal pulang Pak Dafin gak bisa kita diprediksi. Aku takut kamu kelamaan nunggu nanti," kata Fia hati-hati.
Sementara Dafin yang menguping sudah bisa menerka kalau yang menelepon Fia adalah Saudaranya, Dafan.
Mendadak ia gerah hati. Tangannya terkepal erat lalu meninggalkan Fia yang masih bertelepon. Ia tahu betul kalau Dafan tulus pada sekretarisnya itu, hanya saja tetap merasa tak senang. Seperti ada yang mengganjal. Rasanya ada sebutir pasir dalam sepatu baru. Walaupun terlihat baik-baik saja tapi pasir kecil itu tetap mengganggu.
"Dafan bener-bener keras kepala, apa coba yang dia lihat dari Fia? Perasaan gadis itu biasa saja. Malahan di luaran sana banyak yang lebih cantik. Kenapa dia kekeh banget deketin Fia? Dasar."
Dafin terus berjalan. Membawa perasaan yang makin tak karuan. Semakin memikirkan Dafan dan Fia dirinya makin merasa kesal. Pria itu berakhir masuk ke dalam toilet dan membasuh muka.
"Apa mungkin aku cemburu?" gumamnya saat menatap wajah sendiri dari pantulan cermin.. Tak berapa lama ia tergelak garing—mentertawakan diri sendiri—lantas menunjuk wajah.
"Aku cemburu? Ayolah. Aku Dafin. Aku atasan dan dia cuma sekertaris. Ya walaupun dia baik tetep aja gak mungkin."
Dafin benarkan posisi, meninggikan bahu yang terturun lalu mengelap wajah dengan sapu tangan. Matanya begitu tajam menatap pantulan wajah sendiri.
"Aku Dafin, aku gak mungkin cemburu," ucapnya pelan tapi jelas penuh keyakinan.
Akan tetapi ekspresi wajah Dafin berubah total saat ada yang masuk. Ia gelagapan sendiri dan kembali membenarkan dasi yang sebenarnya masih rapi, lantas berdeham membalas sapaan dua karyawan yang masuk.
"Eh eh eh, itu Pak bos tumben pake toilet di sini, bukannya dalam ruangannya ada toilet, ya?" bisik karyawan satu. Matanya melihat punggung Dafin hingga hilang di telan pintu.
Sementara karyawan dua yang tengah mencuci tangan tak menganggap serius obrolan temannya. Ia justru asyik menata rambut dan membuat orang yang berbisik tadi kesal dan menyikut perutnya. "Aku lagi ngomong, woi! Dengerin kek."
"Lah, kamu lagi ngomong? Aku kira lagi ngajakin gosip. Sorry ya. Temenmu ini gak doyan gosip. Ngapain? Lagian itu aja kamu bicarain. Ya terserahlah dia mau pake toilet mana. Wong perusahaan milik keluarganya. Lagian positif thinking napa? Siapa tau dia kebelet."
__ADS_1
Masih dengan menahan gejolak aneh di dada, Dafin terus saja berjalan menuju ruangannya. Matanya nanar saat melihat meja Fia kosong. Meja kerja yang kebetulan di depan ruangannya.
"Keknya obrolan mereka panjang banget," dengkus Dafin. Ia hendak masuk ke ruangan tapi tertahan saat melihat sesuatu ada di atas meja—sebuah kotak cokelat berwarna merah muda dengan hiasan pita di atasnya.
Namun, bukan itu yang menjadi titik fokus Dafin. Ia malah membaca tempelan kertas di atas tempat cokelat itu. Di sana tertera tulisan yang membuatnya ingin muntah seketika.
Nikmatilah coklat ini. Aku harap harimu manis, semanis cokelat ini.
"Jiah. Receh banget sih ni si Dafan. Yang model begini mana bisa naklukin perempuan." Tersenyum miring, Dafin mendadak merasa bahagia, tetapi sedetik kemudian ekspresinya berubah total. Ia letakkan kertas itu lantas berkata, "Kenapa aku mendadak jadi seneng? Bukankah harusnya aku sedih kalau Dafan di tolak. Tapi kenapa aku sangat ingin mereka gak jadian?'"
Dafan menyugar rambutnya. "Aku keknya butuh liburan. Otakku beneran gak waras," decaknya lalu memakan lahap cokelat yang ada di sana. Ia lahap habis seolah sedang memakan seseorang yang tidak disuka. Ia mengunyah dengan geram hingga suara dari belakang membuat pria itu berhenti mengunyah. Ia mendapati Fia mendekat dengan mimik wajah keheranan.
"Pak Dafin ngapain? Apa ada yang perlu saya lakukan?" tanya gadis itu dengan dahi sedikit mengernyit. Heran karena sang bos seperti menahan sesuatu.
Tapi apa? Mustahil tekanan batin, 'kan? Fia bermonolog. Matanya kemudian melihat cokelat pemberian Dafan.
"Pak, itu kan punya saya," ujar Fia lantas mengambil kotak cokelatnya dari tangan Dafin. Namun sayang, ia tidak melihat satu pun yang tersisa. Tajam ia tatap si tersangka pemakan cokelat.
"Bapak ngabisin coklat saya?" tanyanya dengan suara dan mimik wajah yang jelas menuding.
Namun respon Dafin biasa saja. "Kenapa? Kamu keberatan? Nanti saya ganti," balasnya datar.
"Bukan gitu maksud saya, Pak. Kalau Bapak memang lapar saya bisa pesankan makan siang," jawab Fia dengan suara dan ekspresi ramah seperti biasa. Namun, dalam lubuk hati yang paling dalam, ia mengutuk pria yang ada di depannya karena selalu saja semena-mena dan semaunya sendiri.
"Gak perlu. Saya sudah kenyang. Kenyang makan hati," balas Dafin dengan menekan kalimat terakhir. "Lagipula cuma cokelat doang. Pelit amat. Apa karena di kasih Dafan?"
Fia jadi bingung sendiri. Ia ingin bertanya lebih tapi Dafin sudah memutar tumit.
"Aneh banget tu orang," gumam Fia seraya memutar mata, kesal.
Tanpa diduga Dafin kembali membalik diri, pria itu maju begitu cepat. Fia yang kaget sontak mundur ke belakang.
"B-bapak mau ngapain?" tanya Fia terbata.
Dafin tersenyum smirk, ia memepet tubuh Fia hingga tak bisa menghindar lagi. Mata mereka saling beradu. Dafin memberikan tatapan tajam yang membuat Fia merasa tersudutkan.
"Tolong bilang sama Dafan. Kamu gak bisa ketemu dia malam ini. Kita harus menghadiri pesta pernikahan keluarga pak Darmawan," balas Dafin lalu memundurkan kaki. Ia dapat melihat ekspresi cemas Fia.
"Lah, tapi kenapa? Bukannya Bapak sendiri yang minta saya buat menghapus jadwal itu?'' tanya Fia.
"Ya terserah saya, saya bosnya."
Kalimat itu begitu membuat Fia kesal. Terlalu sombong.
Eh, tapi tunggu dulu. Dari mana dia tau kalau aku bakalan ketemu sama Dafan? Fia membatin. Ia balas tatapan Dafin. "Bapak mencuri dengar pembicaraan saya. Bapak gak tau ya, itu tindakan terlarang. Berdosa."
"Ya enggak, dong. Yang dosa itu mencuri. Yang namanya mencuri itu pasti diem-diem. Nah kalo saya kan enggak. Saya langsung bilang, itu artinya saya gak mencuri, tapi cuma dengar."
__ADS_1
"Lah, kok bisa gitu ya?"
"Bisa dong. Udah, pokoknya batalin acara kamu. Entar sore kita ke pesta dan kamu harus siap-siap."