Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Litania minder


__ADS_3

Terbeku, kaki Litania terasa berat tanpa sebab. Dirinya terdiam menatap sebuah pesta mewah di dalam aula hotel berbintang lima. Ia tak menyangka, kedatangan sosok asisten manager ke rumah mereka tadi sore adalah sebuah jemputan yang mengharuskan dirinya untuk ikut mendampingi Chandra.


Gimana ini? Kok rame banget. Mana semuanya kayak orang kaya. Kalo gini mah, keberanianku langsung menciut. Gimana gak keder kalo di kelilingi ama mahluk sosialita sejagat raya? Batin Litania menggerutu. Ia cekal pergelangan tangan Chandra agar berhenti melangkah.


"Bang, kamu serius ngajakin aku ke sini. Nanti aku bikin malu kamu, loh. Aku pulang aja, ya. Aku gak PD. Tuh liat, semuanya pada cantik, barang dan gaun yang mereka pake juga gak kalah heboh. Aku takut. Aku pulang aja, ya."


Litania memelas, berharap permohonan yang sudah berkali-kali ia layangkan akan digubris Chandra. Akan tetapi, percuma, tetap saja respon yang sama ditunjukkan oleh suaminya itu. Tegas dan tak terbantahkan. Sebuah gelengan kepala serta pelototan tajam menjadi akhir dari permintaan Litania. "Tapi aku takut," rengeknya lagi.


"Takut apa? Kan ada aku. Suami kamu. Kamu cukup senyum aja di sana. Tetep di sampingku. Jangan ke mana-mana. Lagian kamu itu mahluk paling cantik loh di sini. Coba liat sekeliling, yang lain udah pada tua semua. Jadi kamu harusnya PD, oke."


Menggeleng, Litania masih ragu untuk melangkah. Kakinya makin terasa berat setelah melihat para pengunjung yang begitu berkelas dan terlihat pintar tengah berlalu-lalang melewatinya. "Tapi, kalau mereka ngajakin aku ngobrol, gimana? Aku gak mau, Bang. Mereka keliatan kaya juga berpendidikan. Beda banget sama aku. Lagian aku gak paham soal perusahaan. Aku pulang aja, ya. Please ...."


Mengembuskan napas kasar, Chandra usap wajahnya dengan gusar. "Litan, kamu tau gak, suami kamu ini pimpinan, loh. Gak pernah ada yang berani ngerendahin seorang istri pimpinan. Jadi kamu tenang aja." Chandra berucap dengan keyakinan. Ia pegang pundak terturun Litania, menatap manik mata panik gadis itu dengan tatapan teduhnya. "Lagian pakean yang kamu kenakan ini gak kalah mahal. Aku pesen langsung dari Paris, loh. Dari perancang terkenal."


"Ah, masa?" Litania mengernyit. "Abang 'kan pelit," lanjutnya.


"Ye ... gak percayaan banget, sih." Chandra berdengkus, lagi-lagi kata 'pelit' kembali terlontar dari bibir Litania. "Kamu tau gak berapa harga jepit rambutmu yang kecil itu sama semua yang ada di tubuh kamu?"


Menggeleng, Litania bungkam tanpa berniat menjawab. Akan tetapi, ia juga penasaran dengan harga pakaian serta aksesoris yang dikenakannya sekarang.


"Semua ini hampir seratus juta, loh. Dari gaun, aksesoris sampe heels yang kamu pake ini gak kalah mahal dari mereka. Jadi please, kita masuk sekarang."


"Emang harus banget, ya?" Litania mengiba.


Menggenggam tangan dingin Litania, Chandra berusaha meningkatkan kepercayaan diri istrinya itu. "Litan, kamu harus di sini. Papa sendiri loh yang kirim utusan buat jemput kita. Lagian ini cuma pesta pertunangan biasa aja , kok. Cuman, yang bertunangan ini adalah anak dari pak Edward, pemegang saham terbesar di perusahaan setelah papa. Kalau kita gak dateng ke sini, entar bisa brabe. Bakalan ada celah biar mereka bisa nurunin suami kamu yang ganteng ini dari jabatan."


"Lah, kok gitu. Bukannya perusahaan itu kakek yang bangun?"


"Iya, tapi bukan hanya kakek. Ada beberapa relasi yang ikutan turun tangan agar perusahaan bisa berkembang. Belum lagi investor luar negeri yang menunjang kestabilan perusahaan. Jadi, posisi yang aku pegang ini bisa saja digeser kalau mereka gak puas." Menarik napas panjang, Chandra kembali melanjutkan penjelasan, "Dan asal kamu tau. Yang bertunangan ini adalah salah satu musuh dalam selimut. Kalo sekali aja kita bikin kesalahan. Udah pasti tu orang akan ambil kesempatan dalam kesempitan. Dia itu licik. Kita harus berhati-hati. Jadi, tolong bantuin. Tetep di sini. Oke."


"Tapi—"


"Udah, ayo ikut." Chandra tarik pergelangan tangan Litani untuk melangkah—masuk ke dalam kerumunan orang-orang.

__ADS_1


Tak ada pilihan, Litania akhirnya pasrah masuk dan membaur dalam keramaian pesta. Sesekali ia tarik kedua ujung bibir, membalas senyum siapa saja yang tertangkap netra. Tentu saja semua orang menunduk hormat pada mereka. Ya ampun, situasi macam apa ini? Aku kayak ondel-ondel di tengah barongsai. Kagak nyambung.


Setelah melewati kerumunan orang, dirinya dan Chandra menuju tempat prasmanan. Segala jenis makanan dan minuman telah ada di sana. Dari makan berat, camilan, buah, hingga dessert. Semua tertata rapi di atas meja. Belum lagi minuman, dari air mineral, sirop, hingga minuman beralkohol, semuanya tersusun rapi—membentuk menara tinggi—di atas meja.


Mengambil buah anggur, Litania berusaha bersikap biasa saja. Ia dekati telinga Chandra seraya berbisik, "Bang, orang yang punya acara, mana?"


Menggoyang pelan gelas yang berisi wine dan es batu, Chandra yang tengah sandaran di meja membalas bisikan Litania. "Itu, dia kemari." Merunduk, Chandra melirikkan mata, memandang sembunyi dua orang yang tengah berjalan ke arah mereka. "Kita harus waspada. Oke."


Tercekat, pompaan jantung Litania mendadak berhenti. Pergolakan batinnya makin berlipat tatkala orang yang disebut Chandra datang menghampiri mereka. Dirinya yang tengah memegang piring kecil, langsung melepaskannya dan menggenggam tangan Chandra dengan kuat. "Kok aku ngerasa horor duluan, ya."


"Udah, santai aja," bisik Chandra. "Dia itu orang yang tadi aku ceritain. Namanya Edward. Orangnya emang keliatan sangar. Tapi baik, kok. Yang perlu kamu waspadai itu yang di sebelahnya. Itu anaknya, namanya Leo."


"Hallo, Pak Edward. Apa kabar?" Chandra menyapa seraya mengulurkan tangan. Bibir pun turut mengembangkan senyuman. Ya, walaupun di perusahaan dirinyalah yang menjadi acuan, tapi sikap sopan dan santun harus tetap di utamakan.


Menjabat tangan terulur Chandra, pria tua tanpa rambut itu terlihat jelas memaksakan senyuman. Tampak sangar. Tubuh tambun dan kumis tebal yang dipelintir, membuat siapa saja langsung enggan menatap matanya. "Kabar saya baik, dan terima kasih udah mau dateng ke pasta pertunangan anak saya," jawab Edward.


Gila. Orang ini mirip ketua gangster. Litania membatin. Ia remas tas tangan yang berwarna merah. Mencoba menetralkan kegugupan karena wajah garang orang itu.


Pria tinggi dengan rambut rapi disisir samping. Tampan, apalagi setelan jas begitu pas di tubuhnya yang tegap. Senyumnya pun tampak tulus di mata Litania, tapi aneh, entah mengapa ada aura dingin yang terpancar. Membuatnya percaya pada ucapan Chandra—bahwa Leo itu orang yang licik, karena hanya orang licik yang bisa memanipulasi ekspresi dengan mudah.


"Ini istri kamu, ya?" tanya Leo lagi. Ia ulurkan tangan hendak berjabat tangan pada Litania.


"Iya, ini istri saya, namanya Litania." Menarik pergelangan tangan Litania, Chandra merangkul mesra tubuh itu. "Sayang, ini Leo. Dia yang bertanggung jawab penuh untuk anak cabang yang ada di sini."


Tersenyum kikuk, Litania mencoba bersikap normal. Ia sambut uluran tangan seraya berucap, "Nama saya Litania. Panggil aja, Litan."


Berdehem, Litania langsung menarik tangan. Ia merasa benar-benar tak menyukai Leo. Pria itu dengan lancang mengusap telapak tangan Litania dengan jari telunjuk yang tak terlihat oleh orang lain.


Kurang ajar juga ni orang. Litania membatin, menahan geram. Giginya bergemelatuk, menatap tajam pada Leo yang ada di depan.


"Oh iya, tunangan kamu mana?" tanya Chandra, membuyarkan sorot minat Leo pada istrinya.


"Oh, Rumi, namanya Rumi. Dia katanya tadi lagi ke toilet. Bentar lagi mungkin ke sini," jawab Leo. Sementara mata masih saja mencuri pandang pada Litania.

__ADS_1


"Eum, Pak Chandra, bisa kita bicara sebentar. Ada yang mau saya diskusikan dengan Anda," ajak Edward. Pria itu menatap serius pada Chandra.


Mendadak gugup, Chandra menoleh sekilas wajah resah Litania. "Kalau boleh tau, ini tentang apa Pak Edward. Apa bisa kita bicara di sini saja?"


"Di sini terlalu berisik, Pak." Edward mengalihkan pandangan pada Litania. Aura galak makin terpancar dari sorot mata tajamnya. "Boleh saya bicara sebentar dengan Pak Chandra," pintanya ramah, tapi jelas tengah mengintimidasi.


"Eh, iya ... iya ...."


Litania tak berkutik. Ia takut, tapi tetap berusaha tenang. "Gak apa-apa. Aku nunggu di sini. Aku gak akan ke mana-mana."


Mendekatkan bibir ke telinga Chandra, Litania berbisik, "Tenang aja. Aku baik-baik aja. Aku bisa jaga diri."


Menatap sekilas wajah Litania, Chandra pun menyetujui ajakan Edward. "Baiklah Pak Edward. Kita ngobrol di mana?"


"Ikut saya, Pak."


Tak perlu menunggu lama, sosok Chandra dan Edward telah hilang ditelan punggung ramainya para pengunjung. Dirinya yang ditinggal bersama Leo hanya bisa menjaga jarak agar tak berakhir melayangkan pukulan pada pria itu.


Namun, bagai lalat yang mencari koreng. Leo yang jelas tau ketidaksukaan Litania malah mendekatinya dengan berani. Ia perhatikan sosok Litania dari bawah hingga kepala. "Kamu cantik, muda lagi. Kenapa mau nikah sama Chandra?"


Bersidekap dada, Litania tanpa ragu memancarkan tatapan kebencian. "Bukan urusan kamu."


"Oh, ya." Menyeringai, pria bermata keranjang itu tampak meremehkan. "Apa kamu percaya sama dia?"


Membuang muka, Litania malas menatap wajah mesum pria itu. "Tentu saja," jawabnya singkat.


"Benarkah? Apa kamu gak mau dengar sebuah rahasia?"


***


Hallo. Harap tinggalkan like dan komentar ya. Vote juga. hehe


Itu sebagai dukungan untuk saya. Dan juga, tolong crta ini di fav kan. soalnya saya mau gnti cover dan judul. jdi biar Klian GK bingung. Di favoritin dulu. ok.

__ADS_1


__ADS_2