
"Ampun ... sakit!"
Lusi mengiba—berharap ampunan—agar Litania mau melepaskan cengkaman tangan. Kepalanya terasa sakit, ia terus saja memegangi rambut yang dijambak oleh Litania seraya merintih.
Namun, Litania yang masih barang menatap lekat wajah itu dengan amat tajam, begitu dekat hingga embusan napasnya yang memburu menerpa wajah Lusi. "Siapa yang menyuruhmu?"
Lisa bergeming, matanya mengerjap berkali-kali, seperti ingin mengatakan tapi takut akan sesuatu.
"Ayo jawab! Siapa dalangnya?" hardik Litania. Matanya sudah membola begitu besar. Semenit lagi jika pertanyaan tak terjawab, ia tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Beruntung Lusi membuka bibirnya seraya berucap, "Leo. Aku disuruh Leo. Rencananya kami bakalan kirim foto itu ke kamu agar kalian cerai.
Lalu akan kami kirim ke media agar Chandra dipecat dari posisinya."
Shit! Kemarahan Litania makin menjadi. Leo, lelaki itu sudah lama menjadi daftar hitam yang ingin sekali ia basmi. Ternyata selain genit, pria itu juga ternyata licik. Persis yang dikatakan Chandra kala dirinya bertemu Leo untuk pertama kali ketika berada di Bali.
Mengempas napas kesal, Litania lepaskan jambakan tangan lantas berdiri. Rasanya begitu panas, dada serasa kebakar karena emosi yang tertahan. Semenit kemudian matanya melihat Arjun masuk ke dalam kamar seraya mendorong Arkan yang sudah di posisi tangan terikat ke belakang. Arkan, pria picik itu terduduk dengan posisi berlutut di depannya.
Bak diktator yang bersiap menghukum pengkhianat, Litania yang masih berang mendekati Arkan lantas berjongkok, lalu menatap lekat wajah lelaki yang kelihatan meringis kesakitan. Jejak darah pun sudah ada di bawah hidung.
Sepertinya perasaan iba Litania menghilang sekarang. Bukannya merasa kasihan, Litania malah menatap makin tajam pria yang mengenakan kaus biasa yang berlapis jaket berbahan jeans itu. Sungguh, ia tak suka ada orang yang mencoba mengusik ataupun menghancurkan keluarganya.
"Kenapa kamu begitu ingin menjatuhkan Chandra, ha!"
Arkan tersenyum miris lalu berdecih. "Karena dia nggak berhak bahagia setelah menghancurkan adikku. Dia pembunuh! Dia laki-laki gak berperasaan yang gak berhak bahagia!"
Ya Tuhan, jawaban macam apa itu? Kenapa bisa pria dewasa berpikiran sempit seperti ini?
__ADS_1
Litania berdengkus setelah membatin kesal. Ingin rasanya mencuci otak Arkan biar bersih. Anak kecil saja tahu kalau jodoh, maut, dan rezeki itu semuanya sudah diatur Tuhan.
"Apa kamu nggak pernah berpikir, dengan kamu berperilaku seperti ini akan membuat adik kamu sedih. Aku yakin dia juga pasti menyesal karena udah memutuskan mengakhiri hidup demi laki-laki yang gak mencintainya.
"Ayolah, kamu yang masih hidup dan sudah dewasa harusnya berpikir panjang. Jangan mementingkan ego sendiri. Jangan mentingin sesuatu yang nggak jelas kek begini.
"Kamu kira adik kamu bakalan bahagia liat kamu bertingkah kek pecundang busuk begini? Kamu pikir adik kamu bakalan seneng di neraka sana?"
Wajah Arkan masam. Tak terima atas perkataan menohok Litania tentang Kira. Ia tatap nyalang Litania dengan rahang yang mengatup kuat. Bahkan dirinya terlihat meronta dan ingin menyerang. Beruntung Arjun dengan kuat menekan bahunya hingga kembali terduduk. "Jangan kurang ajar kamu. Adikku gadis baik-baik!"
"Apa?" Litania membalas tatapan tak suka Arkan dengan tatapan tak kalah garang. "Baik? Adikmu gadis baik-baik?"
Litania tersenyum sinis lalu tak lama tawa hambar menggema memenuhi sudut kamar hotel. Sebuah keadaan yang membuat Arjun, Kinar dan yang lain merinding juga.
"Ayolah, gadis baik-baik gak bakalan ngebet sama laki-laki yang gak menyukainya. Dia akan nyari laki-laki yang tulus sama dia. Bukannya maksa.
"Dan sekarang, setelah semua terjadi, kamu lampiaskan kekesalahan dan ketidakbecusan kamu sebagai abang pada Chandra. Ayolah, jangan jadi pecundang sejati."
"Jangan kurang ajar kamu. Kira itu adikku. Kira itu gadis baik-baik tidak seperti kamu, barbar. Harusnya Kira yang bahagia bersama Chandra sekarang. Dan bukannya kamu!" hardik Arkan. Ia terlihat meronta, tapi terhalang Arjun dan juga tangan yang sudah terikat.
Lagi, Litania tertawa sinis. "Sepertinya otak kamu geser. Sudah aku katakan. Kalau dia gadis baik-baik, dia nggak bakal mengemis-ngemis cinta dari laki-laki yang gak mencintainya apalagi sampai rela bunuh diri. Itu bukan baik tapi gila. Dan kamu, apa juga ingin menjadi gila seperti dia? Hidup dalam halusianasi gak jelas begitu. Hiduplah dalam realita. Kalian itu jahat karena memaksakan kehendak pada orang lain."
"Apa kamu harus ke penjara dulu biar kamu mengerti dan merenung kalau tindakan kamu ini menyalahi aturan?"
Seketika wajah Arkan yang tadinya kelihatan angkuh mendadak gelisah.
__ADS_1
"Pikirkanlah kamu seperti ini nggak bakal bikin adikmu bangkit lagi. Kamu hanya akan menghancurkan hidupmu. Kira sudah memutuskan jalan yang salah. Lalu apa kamu juga bakalan ikut kesalahan dia dengan nyimpen dendam gak berdasar kayak begini? Apa kamu enggak malu bertingkah jahat dan licik seperti ini demi untuk menjatuhkan Chandra? Apa kamu lupa kalau Chandra itu juga temanmu. Kalian berteman sudah lama. Tidakkah kamu ingin berteman lagi dengan dia?
Arkan tertunduk. Pikiran berkecamuk. Perkataan Litania lumayan menyinggung harga diri tapi juga benar adanya.
"Ayolah. Lupakan masa lalu. Dendam kamu itu gak beralasan, Arkan. Kamu hanya akan menambah kesedihan adik kamu di sana. Aku yakin dia sudah menyesal dengan tindakannya.
"Aku heran, kenapa orang rela mengakhiri hidup demi cinta. Cinta itu sebenarnya klise. Yang terpenting itu bagaimana kamu menghargai hidup. Jika kamu bisa menghargai hidup cinta akan datang dengan sendirinya."
Arkan yang sudah tertunduk tampak terdiam. Bahunya bergetar. Pria itu seperti menangis dalam diam.
Berdiri, Litania tatap pucuk kepala Arkan yang tertunduk. "Di mana manusia licik itu ... Leo? Aku tahu ini rencana dia, dasar singa gila, awas aja dia."
Kemarahan Litania kembali mencuat. Tangan sudah mengepal erat saat membayangkan pria licik itu. "Ayo jawab! Di mana dia?"
"Dia sekarang berada di Hotel Melati. Gak jauh dari rumah kalian."
Emosi Litania yang masih menggunung menjadi berkali lipat. Leo, lelaki itu memang perlu dihajar.
Melangkahkan kakinya, Litania menuju pintu seraya berucap, "Arjun. Ayo, kita selesaikan manusia licik itu."
Kini pandangan Litania tertuju pada dua security yang berada di belakang Arkan. "Tolong hancurkan bukti apapun yang ada, baik kamera Arkan maupun CCTV. Saya nggak mau jebakan ini menjadi skandal nantinya," ucap litania garang.
Dua security itu mengangguk paham lantas membawa Arkan dan Lisa keluar. Sementara Litania kembali memutar tumit mendekati Chandra. Hatinya makin bergejolak melihat lelaki itu hanya menggeliat seraya tersenyum dan meracau tak jelas.
Mendesah panjang, Litania kungkung tubuh besar Chandra dan mencubit pipi pria itu dengan kedua belah tangan. Bukan cubitan gemas, melainkan cubitan garang yang mewakili kekesalahan hati. Ia kesal karena lelakinya itu tak berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Tak bercermin dari kesalahan masa lalu. Bisa-bisanya ke klab malam tanpa memberi tahu. Harusnya tobat. Alkohol ataupun kelab itu gak baik.
__ADS_1
like-nya jangan lupa.