Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Susu asli


__ADS_3

Lima hari berselang. Semua anggota keluarga tengah mengelilingi meja makan terkecuali Chandra. Suami dari Litania itu masih berat meninggalkan peraduan apalagi setelah berduet dengan Litania tadi subuh. Duet goyang dombret yang menguras seluruh tenaga luar mau pun dalam. Semenjak ikut kelas hamil, istrinya itu menjadi lebih lihai saat di ranjang. Mendominasi permainan dan tentu saja rugi kalau menolak.


"Litan, Mama Papa sama Chandira rencananya balik ke Semarang siang ini," ucap Lita setelah menyelesaikan sarapan. Ia angkat dari kursi dan menuang susu berkalsium tinggi dan rendah lemak untuk suami dan dirinya sendiri.


"Pulang?" Mata Litania membulat, ia yang baru selesai menghabiskan semangkuk salad buah langsung meraih gelas air putih dan meminum isinya hingga habis. "Kok, cepet banget sih, Ma, Pa," lanjutnya dengan suara manja yang khas. Bolak-balik matanya melihat Lita dan Bram.


"Cepet apanya? Kami sudah tiga mingguan loh di sini."


"Tapi, Ma ... nanti rumah bakalan sepi. Kemaren Nenek, hari ini Mama sama Papa. Entar aku ngerumpinya sama siapa?"


"Bukan gitu, Sayang. Sebenarnya Rania udah pulang, katanya dia kangen Chandira."


Litania bungkam, dilihatnya Chandira yang tengah duduk dan bermain boneka. Ia paham perasaan Rania. Ibunya pasti kengen dia, batinnya.


Mengembuskan napas panjang, Litania mengangguk pelan. "Iya, deh. Gak apa-apa. Litan ngerti. Titip salam aja buat Mbak Rania."


"Nah gitu, dong. Entar, kalau ada waktu nanti Mama ke sini lagi. Kamu baik-baik, ya. Jaga kesehatan. Jangan terlalu capek."


Mengelap bibirnya dengan tisu, Litania kembali mengangguk. Mau protes pun percuma. Keputusan bijak ya hanya berpasrah. Toh biasanya memang seperti itu. Di rumah hanya berdua. Akan tetapi, setelah hampir sebulan bersama mertua, rasanya pasti akan ada yang berbeda.


"Litan udah selesai sarapannya, Ma, Pa." Angkat dari kursi, Litania tatap kedua mertuanya secara bergantian. "Kalau Mama sama Papa perlu sesuatu, cari litan di taman samping, ya. Litan mau ngasih makan ikan sambil rebahan," lanjutnya lantas memutar tumit.

__ADS_1


"Loh, kok." Lita mengernyitkan dahi, begitu pun Bram yang sama bingungnya. Bagaimana bisa Litania memberi makan ikan saat anaknya mungkin saja kelaparan. Kedua orang itu berakhir saling adu pandang.


"Sayang, jangan kasih makan ikan dulu," cegah Lita.


Litania membalik diri, bingung tapi masih setia mendengar.


"Iya. Ngasih makan ikan bisa entar-entar." Bram mengemukakan pendapat.


"Nah iya, lebih baik suami kamu bangunin dulu, udah jam segini apa dia gak mau sarapan?" sambung Lita.


Litania tersenyum, terbayang lagi olahraga mereka tadi subuh. "Biarin aja lah, Ma. Ini 'kan hari Minggu. Lagian dia udah kenyang makan aku tadi, jadi gak bakalan kelaperan."


Semburan susu Bram mencapai setengah meter. Hidung sakit dan mata berair. Batuknya bahkan tak berhenti. Celetukan menantunya itu benar-benar vulgar. Bisa-bisanya membahas hal begituan di saat dirinya tengah menenggak susu. Dasar menantu gendeng!


***


Melihat istrinya yang sibuk memilih pakaian, Chandra pun tak tahan ingin bertanya, "Yang, kamu beneran mau ngumpul sama ibu-ibu itu?"


"Iya. Aku suka ngobrol sama mereka. Mereka orangnya asik. Aku nyesel baru ikut kelas sekarang. Kenapa coba gak dari dulu." Senyum wanita itu terbit. Ia menggerak-gerakkan badan, menatap diri di depan cermin seraya menempelkan gaun hamil berwarna ungu.


"Tapi 'kan ini hari Minggu, harusnya kita ngabisin waktu sama-sama, Litan," protes Chandra. Sebenarnya tak suka Litania lebih memilih kumpul dengan teman-teman baru ketimbang memanjakan dirinya.

__ADS_1


"Tapi aku udah keburu janji, Yang ... ini tu ulang tahunnya Bu Risma. Gak enak kalo gak dateng." Litania rebahkan diri di sisi ranjang. Menatap intens wajah cemberut suaminya, ia pun berucap, "Lagian gak bakalan lama, kok. Aku pasti pulang sebelum jam makan malam. Janji."


Chandra mengangguk pasrah. Tak akan pernah menang melawan Litania. Apalagi saat wanita itu memasang wajah mengiba. Bawaannya ingin ... membuatnya mendesah manja.


"Tapi jangan macam-macam, jangan ganjen."


Litania terkekeh, disentuhnya dagu Chandra yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus. "Euleh euleh ... ada yang lebhai."


"Bukan lebhai. Tapi mengingatkan."


"Iya iya ...." Memeluk tubuh Chandra dari samping, Litania rebahkan kepalanya di bahu pria itu. "Aku gak bakalan macem-macem. Gak bakalan bisa juga. Lagian siapa yang berani lirik perempuan bunting kek aku ini. Gada menarik-menariknya sama sekali."


Chandra lepaskan pelukan lalu menangkup wajah membengkak Litania dengan kedua belah tangan. "Siapa bilang kamu gak menarik? Kamu cantik. Selalu bisa bikin Albert tertarik," kelakarnya.


Litania memutar bola matanya. Bibir yang maju karena apitan tangan Chandra menjadi lebih mengerucut. Ia mulai paham ke mana arah ucapan suaminya.


Melepaskan tangan Chandra dari wajah, Litania pun perkata, "Pasti ada maunya.'


Chandra tersenyum. Ia usap perut membuncit Litania lalu turun sedikit demi sedikit ke paha dan berakhir di ....


"Kasih Albert jatah dulu, ya? Habis itu baru boleh pergi."

__ADS_1


__ADS_2