
"Tolong panggilkan Mbak Sri," pinta Litania.
Chandra yang kalut mengikuti permintaan itu. Ia hampiri suster yang berdiri di dekat pintu dan tanpa malu meminjam ponselnya. Hanya dalam beberapa menit, telepon sudah tersambung ke Sri setelah sebelumnya tersambung ke Ara. Ia hanya hapal nomor telepon Ara. Beruntung Ara menyimpan semua nomor orang yang berada disekitarnya.
"Sayang, ini Sri." Chandra mendekatkan ponsel ke telinga Litania.
Kembali menarik napas, Litania masih berusaha meredakan sakit akibat kontraksi yang mendera. "H-hallo Mbak. Ini saya, Litania. Bisa tolong ambil ponsel saya yang ada di dalam kamar. Tolong hapus semua galeri foto dan vidio di sana."
Setelah mendengar jawaban iya dari seberang telepon, kontraksi dahsyat itu kembali datang. Malah lebih menyakitkan. Ia genggam tangan Chandra dan berucap, "Maaf. Aku banyak salah sama kamu."
Chandra mengangguk, air mata menetes tanpa sadar. "Kamu gak pernah salah, Sayang. Kamu Litania. Kamu duniaku. Jadi, ayo semangatlah," balas Chandra dengan suara yang bergetar.
"Enggak. Aku banyak dosa sama kamu. Aku terlalu usil. Foto dan video kita waktu babbymoon udah aku hapus. Aku ga bakalan ngulangin hal itu lagi. Jadi aku mohon maafin aku. Kalo aku meninggal, tolong jaga anak-anak kita dengan baik. Dan aku nitip nenek."
Chandra mengangguk, pikirannya kosong. Mendengar perkataan ngelantur Litania membuatnya makin tak tega. Kalau bisa, ia ingin mengganti posisi—mengakhiri rasa sakit yang dirasa istrinya itu. Biarlah ia saja yang merasakan sakit. Namun, tentu saja mustahil terlaksana.
Dipegangnya pipi Litania yang masih basah. "Sudahlah, aku gak pernah marah sama kamu. Kamu pasti sehat. Anak-anak kita butuh bundanya. Jadi jangan mikir yang macem-macem, oke."
Litania mengangguk, air mata merembes ke mana-mana.
__ADS_1
"Baikah Ibu, sekarang coba dorong lagi. Tarik napasnya dalam-dalam," ucap si dokter kandungan.
Litania yang sudah lemah kembali mendorong kuat diiringi dengan harapan besar. Berharap rasa sakitnya ini akan segera berakhir.
Beruntung, akhirnya kesabaran, kerja keras dan doa semua orang membuahkan hasil. Pertaruhan nyawa ia menangkan. Ternyata kata orang benar adanya, surga istri ada di suami. Setelah meminta maaf, mendadak ia merasa semangat mengejan. Seperti mendapat tenaga lebih. Hanya dengan satu dorongan dan erangan panjang dari bibirnya, suara tangis bayi pun menyusul, menggema dalam ruangan.
****
Di ruang VVIP rumah sakit.
Chandra terus saja mengelus rambut Litania. Menatap sendu wajah yang tengah terlelap setelah perjuangan panjang. Senyum bahagia terukir lagi. Mata terpejam Litania mengusir rasa takutnya dalam sekejap. Kedua jagoan yang dinanti telah lahir dengan kondisi baik dan normal. Jeda antara keduanya hanya dua menit saja. Kini anak-anak mereka kembali lagi ke ruang bayi.
"Gimana, apa sudah ketemu siapa yang nyulik istri saya?" tanya Chandra kala matanya melihat dua orang itu mendekat.
"Belum, Pak. Sekarang masih diselidiki oleh tim keamanan," balas Rio.
Menghela napas panjang, Chandra yang masih menggenggam tangan Litania kembali melihat ke arah sang pemilik tangan. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati mata Litania telah terbuka. Wanitanya itu mencoba untuk duduk.
"Sayang, kenapa bangun? Istirahatlah. Kondisi kamu masih belum stabil." Chandra berucap sambil membantu dengan mengalaskan bantal di punggung Litania. Tatapannya kembali teduh.
__ADS_1
Litania menggeleng lemah. "Aku gak apa-apa. Dan soal penculik, jangan dicari ya."
"Loh kenapa?"
"Karena mereka orang baik. Mereka yang nganter aku ke rumah sakit."
"Baik apanya. Mereka jahat, Sayang. Gimana ceritanya kamu bilang baik. Nama kamu aja mereka ubah. Kalau aja aku gak nunjukin foto kamu, mungkin aja kita gak bakalan ketemu."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi." Litania memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Gak bisa, aku harus tau siapa penjahatnya. Mereka seenak jidat ganti nama kamu."
"Kalau aku bilang sudah, ya sudah. Jangan di panjang-panjangin lagi. Aku udah maafin mereka."
"Tapi—"
"Aku bilang kalau sudah ya artinya sudah. Aku masih lemes buat berantem." Litania tarik selimut sampe menutup kepala. Ia mulai kesal karena Chandra tak mengiyakan permintaannya.
Sementara Chandra, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu. Belum sehari setelah meminta maaf, kini malah melakukan dosa lagi. "Dasar Litania," batinnya sedikit dongkol.
__ADS_1
***