
"Bantu aku, Fer. Bantu aku biar bisa lupain Dafan."
"T-tapi, Ra ...."
Ucapan Fery tak terselesaikan karena Nara sudah menariknya mendekati ranjang. Kini mata Nara yang melotot mengerling ke bawah, seolah-olah kode agar Fery duduk.
"K-kamu s-serius?" tanya Fery tak percaya.
Meski sudah lama berteman tetap saja kamar adalah hal pribadi dan bersifat sensitif, tapi anehnya yang punya kamar menyuruhnya tanpa beban. Mendadak ia memikirkan sesuatu yang berbau plus-plus apalagi Nara sudah membuka semua kancing kemejanya. Salahkah jika isi kepala Ferry melanglang buana ke mana-mana?
Menelan ludah, Fery menatap lekat Nara saat Nara mengiyakan pertanyaannya dengan menganggukkan kepala. Gadis itu tampak mengiba. "Pliase, tolong aku. Kita 'kan udah lama temenan, Fer. Masa nolong aku kamu gak mau?"
Fery mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan sebelah tangan, lantas ragu-ragu mengangguk dan duduk.
"S-sekarang a-aku ha-harus a-apa?" tanya Fery dengan mata masih terarah pada Nara. Heran. Gadis itu sengaja mengacak rambut serta gaun cantik yang melekat di tubuh.
Lagi-lagi Fery menelan ludah saat mata tak sengaja melihat sisi tonjolan tubuh indah bagian atas Nara. Mendadak, lengannya menjadi hangat—seperti kembali didekap—dan mendadak ada yang berdiri tegak tapi jelas bukan keadilan.
Lekas-lekas Fery menggeleng dan mengusir pikiran mesum yang sempat menguasai benak.
Sementara Nara, ia dapat melihat kegugupan di wajah Fery, hanya saja tak punya cara lain. Ia ingin Dafan pergi dari hidupnya meski dengan cara licik seperti ini. Perasaan bersalah Nara pun menjadi berkali-kali lipat saat melihat keringat bercucuran dari tubuh tegap pria kurus itu. Anehnya, meski kurus, perutnya tampak sixpack.
Nara menelan ludah, wajah mendadak berdenyut. Baru kali ini melihat dada Fery terekspos tanpa penghalang. Cepat-cepat ia menolah ke arah pintu dan kembali mendengar suara berisik.
"Ra! Buka!" teriak Dafan lagi yang entah sudah ke berapa kali.
Nanar mata Nara menatap pintu itu. "Mendesahlah, Fer." Mata Nara kembali melihat Fery. Ia kembali mengacak rambut Fery.
"Hah?" Fery tercengang sebelum akhirnya sebuah pukulan yang Nara layangkan di bahunya menyadarkan. Pria berusia 22 tahun itu mendesis lalu menatap Nara, kesal.
"Jangan melotot. Aku bilang cepetan mendesah. Yang nyaring mendesahnya," perintahnya lalu kembali mengacak-acak rambut sendiri, blazer yang menyelimuti terusan tak berlengan sengaja ia buka dan tanpa ragu mencakar leher sendiri.
Fery hanya melongo memperhatikan tingkah aneh Nara.
"Lah, kenapa bengong, sih, Fer? Ayo cepetan. Mendesahlah," pinta Nara lagi, tapi Fery masih terdiam. Ia seperti kehilangan pikiran hingga Nara yang merasa tak direspon pun ikut duduk di sisi ranjang. Ia pegang kedua bahu Fery hingga membuat yang punya bahu tersentak kaget. Pria kurus berhidung bangir itu pun lagi-lagi hanya bisa mengerjap menatap wajah Nara dari jarak dekat.
"Bantu aku biar Dafan gak ganggu aku lagi. Dia laki-laki suci. Pasti ilfill kalau dengar kita mendesah. Aku yakin pikirannya sekarang sudah traveling. Jadi tinggal dikit lagi. Aku minta kamu bantuin aku untuk berakting. Ayo mendesahlah," lanjut Nara, mantap.
Alis Fery tertaut. Ia garuk tengkuknya. "T-tapi Ra. Men-mendesah s-seperti apa?"
"Ya seperti orang lagi nge-sekss."
__ADS_1
"T-tapi a-aku g-gak pep-pernah nge-ngelaku-in i-itu," balas Fery, pipinya merona.
Nara yang melihatnya berakhir mengembuskan napas panjang. Ia toyor kepala Fery. "Kamu pikir aku pernah? Aku taunya cuma dari vidio." Mata Nara menyelidik. "Jangan bilang kalau kamu gak pernah nonton bokep?"
Fery tertunduk dan diamnya itu membuat Nara terkekeh geli. Ia acak-acak lagi pucuk kepala Fery. "Kamu bener-bener laki-laki baik. Itu artinya tongkat sakti mandra guna milik kamu itu gak pernah merasakan mentega sama baby oil?" celetuk Nara seraya melirik yang ada di tengah paha Fery.
Fery yang malu makin tertunduk, ia tutup bagian itu seraya berdengkus kesal. Sementara Nara, semakin terkekeh geli melihat tingkah lucu sahabatnya itu. Andai saja tak ada Dafan di balik pintu, sudah di pastikan ia akan tertawa terpingkal-pingkal.
"J-jangan ket-kettawa, Ra ...." Fery makin terlihat gugup. Nara pun mengerti dan menghentikan tawanya. Sekarang ada hal lebih penting daripada membahas keperjakaan Fery.
"Udah, pokoknya kamu mendesah aja sih. Jangan kebanyakan ngomong. Entar kagak kelar-kelar. Nanti keburu pintunya didobrak Dafan," desak Nara.
Namun lagi-lagi respon Fery hanya kerjapan mata. Pria lugu itu tak tahu apa maksud Nara. Bagaimana bisa mendesah jika tak merasakan apa-apa?
"Bisa, 'kan?" tanya Nara lagi.
Fery mengangguk juga.
Nara tersenyum lega. "Udah kalau gitu. Cepet."
"A-ahh ...."
Fery mendesah meski tergagap.
"Fer, desahan kamu kenapa seperti orang keselek sendok begitu? Bisa gak yang lebih menghayati? Desahan yang sensual. Bisa gak?" ujar Nara kesal. Panik saat mendengar Dafan masih saja menggedor pintu. "Ayo Fer. Cepet. Yang nyaring."
Ferry menggeleng. Bagaimana ia tahu desahan sensual jika tidak pernah melakukan maupun menonton sesuatu yang berbau plus-plus begitu?
"A-aku eng-enggak bi-bisa," balas Fery, akhirnya. Ia nyerah.
"Bisa. Pasti bisa. Kamu kan pintar. Masa iya cuma mendesah aja udah nyerah. Ayo cepetan, Fer," pinta Nara lagi. Ia bahkan mengatupkan kedua belah tangan seraya memasang wajah putus asa.
Fery yang tak tega kembali mendesah. Mengeluarkan suara lirih yang mirip orang kepedasan ketimbang desahan.
Nara yang frustrasi menepuk jidat, sedangkan Ferry kembali mendesah dengan kepercayaan diri yang ada. Pria itu mengumpulkan keberanian dan mengesampingkan rasa malu demi Nara. Namun sayangnya kumpulan perasaan itu membuat ekspresi Fery tampak menyebalkan di mata Nara, belum lagi suaranya jauh dari kata eksotis.
"A-a-ah ...."
Fery mendesah lagi. Nara yang tidak bisa menahan kejengkelan langsung melayangkan pukulan di pipi Fery. Otomatis Fery mengerang nyaring dengan mata melotot. Ia pegang pipinya yang memerah. "Kok a-aku di-dipukul?"
"Soalnya kamu nyebelin. Cepat mendesah yang bener. Atau aku tabok lagi?"
__ADS_1
Lekas-lekas Fery menggeleng. Ia mengerang. Lumayan meyakinkan dari sebelumnya.
"Good." Nara melihatkan jempolnya seraya tersenyum. Namun Fery yang takut di tampar tetap kembali mengerang.
"Ayo mengerang terus, Fer. Yang kencang," bisik Nara. Ia makin bersemangat saat Dafan kembali meminta dibukakan pintu.
Sementara Fery, ia tak punya pilihan lain selain mendesah semakin nyaring. Ia takut bakalan ditampar lagi dan menjadi bulan-bulanan Nara.
Akan tetapi Nara yang merasa itu tidak cukup menyuruh Fery berdiri.
"Ng-ngapain l-lagi?" tanya Fery bingung.
"Kita melompat. Lompatlah sambil mengerang," perintah Nara lagi.
"T-tapi, Ra ...."
"Udah jangan banyak protes. Lakuin aja apa yang aku suruh. Nanti aku bales kebaikan kamu ini," jawab Nara. Ia sudah melompat. Sangat bersemangat hingga dua gunung yang ia bawa ke mana-mana itu pun berayun sangat berirama. Mata Fery tanpa sadar mengikuti dan membuat sesuatu dalam celana mendadak sesak. Ia pun melompat juga tapi dengan posisi membelakangi Nara.
Mereka berdua melompat secara bersamaan tapi dengan kiblat yang berbeda. Napas keduanya sama-sama terengah-engah, suara derit ranjang memperindah suasana. Tentu saja suara tabu itu membuat Dafan yang sedang menempelkan telinga di daun pintu semakin kesal, ia gedor lagi pintu itu, tak hanya dengan tangan, sekarang kakinya ikut berpartisipasi dalam rangka menunjukkan kemarahan pada Nara.
"Nara! Kamu ngapain? Cepat buka pintunya. Kalau gak kamu buka aku dobrak!" hardiknya.
"Oiya, buka aja kalau berani!" seru Nara tak kalah nyaring dari dalam kamar. Dafan makin berang.
"Nara! Buka pintunya! Kalian ngapain di dalam!" tanya Dafan lagi. Buku jarinya serasa bengkak. Akan tetapi pikiran buruk menghantui. Ia kembali menggedor dan mengabaikan rasa sakit di tangan. "Nara! Cepat buka pintunya!"
Nara tersenyum penuh kemenangan. Bukannya takut atau menenangkan Dafan, ia justru makin mendesah nyaring, terdengar nakal dan sensual.
"O ... oh ... oh ...."
"Yeh yeah yeah ...."
"Oh God, Fer. Ini enak bget. Kamu top."
"Oh yeah. Raigh there, that feel amazing, Don't stop, harder. I want you so bad. Give it to me."
Oh Shit! Fery mengumpat dalam benak. Tak habis pikir jalan pikiran Nara. Bagaimana bisa gadis itu punya ide gila seperti ini? Di sini bukan hanya Dafan yang berpikiran jelek. Dirinya pun harus ekstra berusaha menenangkan si Otong sambil melompat-lompat tak jelas. Desahan Nara dan ocehan memancing nafsu itu masih mengudara di telinga bahkan semakin gila.
Sungguh, Fery tak kuat. Ingin segera lari tapi tak berani. Ia tetap memunggungi Nara. Malu jika ketahuan kalau pikirannya sudah naik pesawat dan traveling tanpa paspor.
Sementara Dafan yang ada di balik pintu tak kalah kalut. Ia seperti orang kebakaran jenggot. Entah apa yang mendasari, tapi yang jelas hati merasa bersalah. Ia merasa Nara menjadi liar seperti itu karena ulahnya.
__ADS_1
"Hei Nara! Keluar nggak! Atau nggak aku dobrak ini!"