Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Jakun keren dan tak keren


__ADS_3

Menyandarkan punggung di dinding, Chandra yang telah lama bersedekap dada masih setia memandang tajam pada Arjun. Sungguh, baru kali ini merasakan ada gempa bumi dalam diri—jantung berdebar hebat menahan emosi. Bagaimana bisa tenang kala melihat istri tercinta dengan mata berbinar menatap jakun lelaki lain. Benar-benar situasi aneh, dan konyolnya ia tak bisa melarang ataupun marah. Hanya tatapan menusuk dan dengkusan yang menjadi penanda betapa kesalnya ia saat ini.


Sementara Arjun, pria muda itu tentu saja gelisah tapi tetap harus memasrahkan diri duduk di sofa sebelah Litania. Wajahnya sudah pucat dengan posisi sedikit mendongak. Rasanya campur aduk. Kesal dan was-was. Baru saja sehari masuk kerja dirinya telah mendapat tugas yang jauh dari kata normal.


Memperhatikan wajah Arjun yang duduk di sebelahnya, Litania merasa penasaran dan bertanya, "Muka kamu kenapa tegang begitu? Tenang, aku gak makan orang, kok."


"I-iya." Arjun terbata seraya memaksakan senyuman.


Bagaimana bisa santai kala mendapat pelototan tajam dari atasan? Tangan bahkan telah mengepal kuat lututnya sendiri. Sungguh, baru kali ini bekerja mendapat permintaan yang aneh menurutnya. Sepertinya habis ini aku bakalan mendapat sabetan sendal jepit. Matanya udah kayak mau keluar. Ya ampun, ngenes bangget sih jadi asisten dia. Waktu aku kerja dengan pak Irwan gak gini-gini amat. Malah tu orang baik banget. Apalagi istrinya, batin Arjun setelah matanya dan Chandra tak sengaja bertemu.


Menatap Arjun dan Litania, Chandra yang sedang sandaran di dinding memutuskan berjalan dan mendekat, lantas berucap pelan pada Litania, "Sayang, udah, ya. Udah malem. Udah sejam loh kamu gini."


Memandang Chandra, Litania menggeleng bak anak kecil. "Enggak. Aku masih mau mandangin jakun dia. Liat tu jakunnya ...."


Litania mengarahkan matanya memandang jakun Arjun lagi. Jakun yang naik turun kala menelan ludah. Pergerakan yang menurutnya luar biasa. Penampakan yang membuat matanya berbinar indah.


"Emang kenapa dengan jakun dia?" Chandra mengernyit, lantas menyipitkan mata pada Arjun kemudian kembali menatap aneh pada istrinya itu.


"Jakunnya keren. Aku suka," ucap Litania lagi, sedangkan tangan sudah kembali membelai tonjolan yang ada di leher Arjun itu.


"Ya ampun, Sayang ...." Nada suara Chandra sedikit dalam. Sebisa mungkin ia tahan kemarahan agar tak berakhir menjadi pertengkaran.


Dipegangnya pundak Litania seraya menjongkokkan diri. Lantas menangkup kedua pipi Litania agar menghadapnya. "Ini udah, malem. Kalau kamu mau, kamu bisa kok sentuh jakun suamimu ini."


Lagi, Litania menggeleng. Bibirnya bahkan makin maju. "Jakun kamu gak keren," celetuknya.


"Eh." Chandra lagi-lagi mengernyit lalu berdiri dengan cepat. Mengusap wajah yang gusar dengan sebelah tangan, Chandra membatin kesal, emang ada gitu jakun keren dan gak keren? Kok makin hari makin ngawur aja.


Merogoh saku piyama, Chandra lantas mengirim pesan pada Ara.


[Ra, tolong cari info di mana saya bisa memperkeren jakun. Tempat di mana bisa membuat jakun kelihatan indah. Malam ini langsung cari. Besok kita eksekusi.] Send.


Seditik kemudian pesan itu terlihat centang dua tapi, tak ada balasan dari Ara hingga membuat Chandra kembali mengirim pesan.


[Kamu, paham, 'kan?] Send, tapi centang satu. Chandra gusar, ia hubungi nomor telepon Ara tapi tak ada jawaban. Serasa diabaikan. Mendadak rasa kesalnya makin bertambah.

__ADS_1


Menghala napas panjang, Chandra kembali menyentuh pundak Litania yang masih memandang jakun Arjun tanpa berkedip. "Besok lagi, ya. Kasian Arjun. Dia pasti capek." Chandra lirik tajam Arjun, lantas kembali berkata, "Iya, 'kan, Jun?"


Arjun gelagapan, sedangkan wajah masih menengadah ke atas.


"Kamu, capek?" tanya Litania.


Arjun lirik Chandra. Sebuah lirikan tajam serta anggukan kembali tertangkap netranya. Menelan ludah dengan perlahan, Arjun pun berucap, "I-iya, Nona. Saya capek."


"Oh, ya udah. Kamu boleh pulang sekarang."


Akhirnya, helaan napas lega terdengar dari Arjun juga Chandra. Sementara Litania, angkat dari sofa dan memutar tumit hendak balik ke kamar.


Namun, baru saja melangkahkan kaki bebarapa langkah, ia berhenti. Sebuah penampakan yang membuat bola mata Chandra dan Arjun membulat horor secara bersamaan. Mereka bahkan sempat beradu pandang beberapa detik.


Kembali mendekati kedua lelaki itu, Litania tersenyum sambil mencubit gemas pipi Arjun. Menggoyang-goyangnya beberapa kali, lantas berucap, "Makasih, ya. Kamu baik. Ganteng lagi."


Arjun mengusap pipinya. Tak dipungkiri ada rasa bangga dalam diri saat dipuji seperti itu. Perkataan yang tanpa sadar membuat senyuman merekah dengan sendirinya. "I-iya, makasih," ucap Arjun terbata.


Mendekati sang suami yang masih bermuka masam, Litania bergelayut manja. "Kasih dia bonus, Yang. Kasian udah dateng malem-malem ke sini."


Wajah Chandra yang tadinya menengang langsung lemas seketika. Serasa ditumbuhi aneka macam bunga, senyumnya terkembang sempurna. Tumben manggilnya 'yang' biasanya gak pernah. Ah, hormon wanita hamil emang bener-bener.


Chandra pencet hidung Litania. "Iya, Sayang ... sekarang kamu masuk kamar, gih. Istirahat, udah malem."


Litania mengangguk. Ia usap perutnya sementara mata kembali menatap Arjun. "Nak, Bunda harap kamu setampan Om Arjun."


Arjun berjengket kaget. Netra kembali menangkap sorot tajam mata Chandra yang hanya berjarak satu meter darinya berdiri. Gelisah? Jelas, apalagi Litania kembali mendaratkan tangan dan mengelus pipinya. Sungguh, andai bisa menenggelamkan diri di perut bumi. Sudah dipastikan ia akan melakukannya sendiri. Bagaimanapun dia pasti akan mati. Tatapan Chandra benar-benar membuatnya tak berkutik. Sinar mata yang seakan-akan bisa membakarnya hidup-hidup.


Sementara Chandra, lagi-lagi menahan emosi. Ia hela napasnya yang memburu. Makan hati berulam jantung. Diperhatikannya punggung Litania yang sudah ditelan pintu kamar lantas menatap lagi ke arah Arjun.


"Wah, ada yang seneng nih diluji tampan."


"Maafkan saya, Pak. Saya gak maksud." Arjun menunduk patuh. Seneng apaan? Nih tenggorokanku sakit. Lagian bukan salah aku dong kalau terlahir tampan dan muda, batinnya.


"Angkat wajahmu!" perintah Chandra. Tangan bahkan sudah berlipat di dada.

__ADS_1


Arjun menurut. Ia tatap mata melotot Chandra dan tanpa diduga, sebuah cubitan mendarat di pipinya. Bukan cubitan gemas, tapi cubitan kejam. Benar-benar tak berperasaan. Chandra cubit kuat pipi Arjun hingga yang punya pipi mengaduh.


"Itu, balesan karna kamu tampan," geram Chandra. Ia lepas tangan dan kembali melihat Arjun yang berusaha berdiri tegap dengan menahan ringisan. "Sekarang kamu boleh pulang."


Memutar tumit, Chandra tinggalkan Arjun yang masih mematung. Persetan dengan umpatan Arjun karena perasaannya juga tengah campur aduk. Ah, ingin rasanya membanting orang saat ini juga. Chandra membatin kesal.


Bagaimana bisa istrinya itu berubah drastis dalam semalam? Menggemaskan dan menjengkelkan secara bersamaan. Baru saja dibahagiakan dengan panggilan 'sayang' dirinya langsung diempaskan dengan mendengar harapan Litania yang tak masuk akal. Gimana ceritanya, bikin bayinya sama aku tapi ngarapnya mirip laki-laki lain. Ya Tuhan, begitu nikmat hadiah dan cobaan dariMu ini.


Sakit. Chandra hela napas panjang lantas membuka pintu kamar. Tampak punggung Litania yang sedang duduk di sisi ranjang.


"Sayang, kamu kenapa belum tidur?" ucap Chandra seraya melangkahkan kaki mendekati Litania. Disentuhnya pundak itu dan mendapati Litania tengah memegang perut.


Chandra panik. Pikiran jelek langsung memasuki otak. Ia berjongkok dan menegang perut Litania. "Kamu kenapa? Sakit? Perutnya sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit?" cecarnya dengan mata yang membulat.


Litania menggeleng. "Aku gak sakit. Aku cuma laper."


"Oh ...." Menghela napas lega, Chandra sentuh pipi Litania. "Ya udah, kamu mau makan apa? Nanti aku minta mbak Sri buat bikinin.


Litania menggeleng dan cemberut. Membuat Chandra lagi-lagi harus bertanya, "Lalu kamu mau apa?"


"Aku mau kamu yang masak."


"Oke, kamu mau makan apa? Aku masakin sekarang."


"Aku mau makan telor dadar."


Chandra kembali mengernyit, tapi sedetik kemudian ia tersenyum. "Cuma telor dadar? Gampang itu. Ya udah aku bikinin."


Angkat dari posisinya, Chandra yang hendak melangkahkan kaki mendadak berhenti karena Litania memegang tangannya.


"Kenapa lagi?" tanya Chandra dengan nada lembut.


"Aku memang mau telur dadar. Tapi bukan telor ayam."


"Nah terus." Lagi Chandra mengernyitkan dahi,heran.

__ADS_1


"Aku maunya telor angsa."


__ADS_2