Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Gak peka.


__ADS_3

"Fia, aku gak nyangka kita ketemu di sini."


Fia melongo, sedangkan Dafin berdengkus. Wajah pria itu mendadak tak enak dilihat.


"Kamu janjian sama dia di belakang saya?" bisik Dafin yang terdengar menggeram.


"Tidak, Pak. Sumpah. Lagian mana bisa saya janjian, tadi saja telepon dia gak bisa saya angkat. Gimana ceritanya bisa janjian?" balas Fia dengan berbisik juga.


"Tapi kenapa bisa dia ada di sini?"


"Ya mana saya tau, Pak. Lagian ini kan pesta. Wajar-wajar saja kalau ada dia. Dia juga pengusaha."


Fia menelan ludah setelah membalas perkataan Dafin. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Dipelototi Dafin setajam itu dan kedatangan pria yang tak lain tak bukan adalah Kevin membuatnya gelagapan. Ia meremas jemari tangan yang kaku. Entah kenapa ia merasa sangat gugup seolah telah kepergok berselingkuh.


Kembali menelan saliva dengan susah payah, Fia menatap horor ke arah Kevin.


"Fia, aku gak nyangka kita ketemu di sini," ulang Kevin saat ia sudah berada tepat di depan Fia dan Dafin. Kevin tampak keren dengan kemeja putih berlapis blazer cokelat tua. "Oiya, teleponku tadi kenapa gak kamu jawab?" tanyanya lagi dengan nada bicara yang terdengar tak bersahabat, cenderung menuduh.


"Masa, sih? Emang ada?" Berpura-pura mengecek ponsel, senyum garing pun Fia tunjukkan. "Eh iya, Maaf, Vin. Hp-ku di mode silent tadi. Habis miting lupa dibenerin," lanjutnya sedikit canggung.


Mengembuskan napas perlahan, Fia merasa tak nyaman setelah berbohong. Terlebih lagi sebenarnya kehadiran Kevin tak pernah dibayangkan olehnya lagi. Waktu terakhir mereka bertemu—setelah pengumuman pertunangan palsu antara Fia dan Dafin—Kevin marah-marah dan memaksanya untuk balik ke Bali. Namun Fia yang masih ingin bekerja menolak keras. Hubungan mereka merenggang mulai saat itu.


"Oiya, kamu kapan tiba di sini?" tanya Fia. Ia berusaha tetap tenang agar hubungan mereka tetap bertahan. Baginya pertemanan yang sudah terjalin lama dan sedari kecil tak layak hancur hanya gara-gara perbedaan prinsip dan pendapat.


"Tadi siang. Ke Jakarta cuma mau ke sini, gantiin papa. Aku gak nyangka kita bisa bertemu di sini. Tadinya mau ngajakin kamu ketemuan sebelum balik ke Bali besok pagi," jawab Kevin yang masih terdengar datar. Fia makin gugup mendengarnya.


"Ketemu? Kenapa?"


Fia diam begitu pula Kevin. Mereka saling pandang hingga membuat Dafin yang menjadi orang ketiga di antara mereka berdengkus kesal. Ia merasa diabaikan dan benar-benar tak senang dengan kehadiran Kevin.


"Fi—"


Belum selesai perkataan Dafin, Kevin lebih dulu menarik tangan Fia. "Maaf Pak Dafin. Saya mau bicara dulu sana Fia. Ada yang mau saya bicarakan."

__ADS_1


"Tapi—"


Lagi-lagi perkataan Dafin terjeda. Kevin dengan cepat menarik pergelangan Fia hingga Fia mau tak mau mengikuti. Keduanya pun hilang tertelan ramainya tamu.


Dafin yang kesal kembali menenggak minuman beralkohol tadi bak menelan air putih. Ia merasa butuh air agar bisa meredam emosi yang ia sendiri tak tahu asalnya. Diabaikan oleh Fia membuatnya menggeram, gigi bergemelatuk dengan sorot mata nyalang. Ia terus saja melihat ke mana dua orang tadi menghilang. Saking fokusnya, Dafin bahkan tak menyadari ada yang mendekati dari arah belakang.


"Ngeliatin apaan?"


Dafin langsung menoleh. Tampak pria botak tersenyum tanpa beban.


''Pak Reynal," ujar Dafin pelan. Ia sempat terbengong saat melihat kehadiran Reynal Smith. Sementara Reynal, ia hanya tersenyum kecil.


"Pak Reynal ke sini juga?" lanjut Dafin.


Namun, Reynal yang datang dengan segelas anggur merah mengabaikan pertanyaan Dafin. Ia malah asyik melihat sekeliling. Setelah selesai menyapu keadaan sekitar, mata keriput pria botak itu tertuju ke Dafin yang masih belum percaya.


"Menurutmu mana yang lebih ngenes antara diselingkuhi dan diabaikan?" tanya Reynal.


Dafin bergeming. Ia mengangkat alis sebelah lalu membatin, orang tua ini kebiasaan. Ditanya tapi dijawab dengan pertanyaan juga, mana aneh lagi. Masa iya nanyain yang begituan?


"Diselingkuhi," balas Dafin akhirnya. Ia asal menjawab.


"Salah, yang ngenes itu yang diabaikan. Apalagi diabaikan karena gak peka."


Dafin terbengong tapi berbanding terbalik dengan Reynal, pria botak itu mengukir senyuman lantas menepuk pundak Dafin.


"Pekalah, Dafin. Yang namanya menyesal itu gak enak, loh. Saya jamin itu," papar Reynal lantas pergi, ia menjauh tanpa melihat ekspresi bingung yang tercetak jelas di wajah Dafin.


Di luar rumah, Kevin dan Fia terus saja berjalan bergandengan tangan dan tanpa sadar telah tiba di tepian kolam renang. Fia yang tak paham dengan perkataan Kevin sebelumnya sudah tidak bisa lagi mengimbangi pikiran jahat dalam benak. Ia tarik pergelangannya dan tentu saja membuat langkah Kevin berhenti.


"Sebenarnya kamu mau ngomongin apaan, Fin?" tanya Fia. Matanya menatap intens Kevin. "Apa ada hal buruk yang terjadi sama keluargaku?" lanjutnya waswas.


Kevin menggeleng. "Bukan, keluargamu baik-baik saja."

__ADS_1


Fia menghela napas lega. Dari semua yang bisa menjadi bahan pembicaraan mereka, hanya keluarga yang menjadi prioritas Fia dan selalu ada dalam pikirannya.


"Syukurlah. Aku kira kamu mau ngasi tau kabar buruk," papar Fia lagi.


Aneh, setelah itu tak ada yang keluar dari mulut Kevin. Suasana mendadak hening. Kevin membisu dengan mata tak berkedip melihat Fia. Fia yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Ia belai pipinya.


"Apa make up aku luntur?" tanyanya cemas. "Kamu ngeliatinnya gitu amat."


Kevin menggelang. Ia masih memindai wajah Fia. Tatapannya teduh tapi terlihat serius di saat bersamaan dan tentu saja membuat Fia makin keheranan. Ia melambaikan tangan di depan mata Kevin.


"Hey, Fin. Kamu kenapa? Kenapa kek sedih begitu? Apa ada masalah?" tanya Fia lagi.


Namun, reaksi Kevin tetap sama—hanya sebuah gelengan kepala.


"Nah lalu?"


"Aku mau minta maaf soal yang kemarin. Aku baru sadar kalau kemarin aku terlalu berlebihan."


Seketika senyum Fia terbit. Ia pukul pelan lengan Kevin seraya terkekeh. "Cuma itu? Aku kira apaan. Kalo cuma itu jangan diambil pusing, Fin. Aku udah ngelupain. Aku juga maklum. Kita sudah temenan lama, jadi wajar kamu kaget terus marah-marah pas tau tiba-tiba saja aku tunangan."


Kevin terdiam. Ia masih memindai wajah berseri Fia. "Tapi aku sungguh-sungguh, Fia. Aku beneran pengen kamu balik. Kita balik ya? Berhentilah kerja. Lagian hubungan kalian cuma pura-pura, gak ada alasan buat kamu tinggal."


"Tentu aja ada, Fin." Fia bersedekap dada lalu membalik badan, perasaannya berbalik menjadi 180 derajat, senyumnya bahkan hilang menguap dalam sedetik. Matanya tertuju ke depan dan melihat air yang tenang.


"Sudah aku katakan Kevin, aku nggak mau balik. Aku masih mau mengejar mimpi. Aku mau bekerja karena keluargaku bergantung sama aku."


"Soal pekerjaan tolong percayakan sama aku, Fia. Aku hanya minta kamu balik lagi ke Bali, mau ya?" ujar Kevin, ia memelas.


Sementara Fia, wajahnya menyiratkan ketidaksukaan. Kevin tahu mimpinya tapi selalu menghalangi. Fia menjadi sedikit kesal. Menurutnya Kevin terlalu memaksakan kehendak.


"Emangnya kenapa, sih? Kenapa kamu terus aja ngajak aku balik? Kamu tau jawaban aku tetep sama. Kamu juga tahu mimpiku itu ingin menjadi wanita karir. Dan ini adalah jalan satu-satunya. Tolong jangan halangi aku Kevin," ujar Fia, ia sedikit berteriak mengatakannya.


"Karena aku gak tenang. Karena aku selalu kepikiran kamu. Kerena kamu jauh, aku jadi gak bisa fokus sama apa pun. Aku mohon, balik dan tinggalin laki-laki itu. Aku gak suka liat kamu deket dia. Aku selalu berpikiran jahat. Karena itu aku hampir gila."

__ADS_1


"K-kevin ...." Fia terkesiap. Ia masih mencerna kata tiap kata yang baru saja Kevin lontarkan.


"Aku mohon berhentilah kerja, balik lagi ke Bali dan jadilah istriku."


__ADS_2