Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Makan malam


__ADS_3

Laki-laki itu membuka helm dan melihat sekitar. Orang-orang bahkan berkerumun hendak membantunya bangun. Namun, ia yang merasa keadaannya tak terlalu parah mengangkat tangan sebagai kode bahwa baik-baik saja. Orang-orang komplek kemudian pergi dan tinggallah dirinya dan Anya yang masih bersimpuh.


"Kamu memang cocoknya tinggal di luar bumi," ujarnya.


Anya yang mendengar celetukan menyebalkan itu langsung mendongak dan mendapati wajah pria yang tak asing tengah tersenyum sinis. Ia pun langsung berdiri dan membersihkan lutut yang kotor karena bersujud tadi.


Apa maksudnya di luar bumi? Apa aku harus tinggal di planet lain, gitu? Anya membatin kesal. Ia berdengkus.


"Kenapa? Kenapa diam?" tanya pria itu lagi. Ia berdiri dengan perlahan karena lutut dan siku terluka.


Namun, bukannya membantu Anya malah memasang kacamata kemudian bersedekap dada. Tak lupa pula wajah yang angkuh ia tolehkan ke arah lain. Seolah-olah malas melihat orang itu.


"Hey, kenapa? Kenapa nggak mohon-mohon lagi? Ayo, rayu aku lagi biar gak laporin kamu ke polisi. Atau, kamu siap ganti rugi?" cecar si dia dengan nada yang tak kalah angkuh.


Ironisnya, mendengar itu kejutekan Anya langsung meluntur, ia melepas kacamata, mengatupkan kedua belah tangan lantas menggeseknya sambil memasang wajah mengiba. "Ayolah Mas Vero, jangan kejem sama aku. Lagian kan kamu punya duit banyak. Masa iya tega meres aku yang masih sekolah. Ke mana hati nurani kamu?"


Laki-laki yang Anya panggil Vero, terkekeh. "Oo gitu ya. Mentang-mentang kita kenal kamu gak mau ganti rugi?" balasnya dengan wajah kesal. Rasa sakit di siku lumayan ngilu terlebih lagi saat melihat wajah jutek si tersangka membuat laki-laki yang bernama lengkap Vero Ardian Irka itu menatap nyalang. "Bukannya Ayah kamu juga kaya. Sapa tau motor yang udah lecet ini di ganti baru?"


Anya mendesah. "Boro-boro diganti, Mas. Aku aja anak kandungnya didepak, tersingkirkan dan diasingkan cuma gara-gara berantem. Sekarang aku gak punya duit. Kalo bunda sama ayah tau aku bikin orang luka pasti uang jajan aku bakalan dipangkas habis. Entar aku mendadak kurus terus mati muda. Mas Vero gak kesian apa sama aku yang malang ini?" lanjut Anya dengan mata mengedip-ngedip. Berharap Vero luluh. Namun, bukannya mengiyakan, si Vero malah menoyor kening gadis itu.


Anya mendesis, tapi Vero tetap memasang wajah datar se-datar triplek.


"Makanya, jadi perempuan itu yang benar, yang anggun. Jangan doyannya cuma berantem. Dari kecil kamu suka banget cari masalah. Sekarang gini kan. Nyesel kan?" ujar Vero lagi lalu menuju motornya.

__ADS_1


Tak lama kemudian suara desahan terdengar dari mulut Vero. Miris melihat motor yang baru dibeli sudah lecet, kaca spion bahkan patah. Ia coba men-starter dan beruntung masih berfungsi.


Sementara Anya mengerucutkan bibir. Lagi-lagi mendapat kuliah dari orang yang ia kenal. Ya meskipun jarang bertemu tapi ia mengenal Vero dan keluarganya dengan baik.


Berjalan mendekati Vero, hati-hati Anya menelisik ekspresi pria itu. "Ngomong-ngomong, Mas Vero gak apa-apa? Sakit gak? Lukanya parah gak? Apa perlu ke rumah sakit?" cecarnya.


Vero menggeleng. Matanya masih memindai kuda besi kesayangan.


"Kira-kira mampu gak pulangnya? Kalau enggak, aku aja yang bawa mo—"


Lisan Anya terjeda karena Vero meletakkan jari telunjuk ke bibir Anya . Anya mengerjap, sedangkan Vero kembali duduk di atas motor. "Kalau kamu yang bawa, aku pastikan kita berdua gak ada lagi di bumi," ujar Vero ketus.


Anya hanya bisa nyengir. Ia perhatikan Vero yang tengah memasang kembali helm. "Ya udah, hati-hati ya, Mas. Maaf soal itu." Anya menunjuk spion motor yang patah. Cengiran masih terlihat jelas. "Jangan dendam. Salam buat Om Irwan sama Tante Reka."


Vero berlalu, Anya membalik diri dan melihat Sulaiman ada di belakang. Lekas ia mendekati seraya kembali masang wajah memelas. "Pak, tolong jangan bilang ayah sama bunda, ya?" rengeknya.


***


"Kenapa, Pak? Keliatan aneh, ya?" tanya Fia. Ia berdiri salah tingkah saat melihat Dafin terpaku tak bersuara. Hanya mata pria itu yang terlihat bekerja, memindai penampilannya dari atas sampai bawah.


"Kenapa kamu bilang?" Dafin menggeleng seraya mendekat, ia kelilingi tubuh Fia yang terbalut pakaian formal serba hitam. Tak lupa rambut terkucir seperti biasa. "Kita mau makan malam, Fia. Bukan ke pemakaman. Kenapa kostum kamu serba hitam begini?" lanjutnya.


Fia menggaruk tengkuk. "Saya gak punya baju lain, Pak. Yang saya punya ya cuma pakaian kerja. Tadi saya juga gak sempet belanja," tuturnya.

__ADS_1


"Ya sudahlah." Dafin mendesah. Ia balik diri dan menuju mobil. "Masuklah," perintahnya lagi bernada datar.


Fia mengikuti. Ia duduk di belakang setir dan Dafin ada di kursi penumpang. Pikiran pria itu masih bercabang, jadi rasanya tak aman jika mengemudi.


Setelah berkemudi hampir sejam, tibalah Fia di rumah Dafin. Pagar putih yang menjulang tinggi terbuka lebar saat mobil yang ia kemudian mendekat. Fia berdecak dalam hati. Rumah keluarga Dafin benar-benar seperti istana.


"Fia, jangan melamun. Ayo cepetan turun. Keluarga saya sudah menunggu," ujar Dafin lalu membuka pintu. Ia biarkan Fia mengikuti tanpa ada niat menenangkan maupun berjalan beriringan. Ia tahu Fia tengah grogi tapi terus saja melangkah mendahului. Mood-nya makin tak karuan apalagi saat melihat Dafan tengah berdiri di ambang pintu dengan pakaian rapi. Saudaranya itu tersenyum ramah dan membuat ketampanan memancar indah tanpa ada yang berani menyanggah.


Dafin melewati tanpa menyapa saudaranya. Ia menuju lantai atas dan berniat mandi. Tubuhnya gerah dan hati mendadak gelisah. Ia butuh air untuk mendinginkan otak dan tubuh yang lelah.


Sementara Dafan, ia tetap menyambut Fia dengan senyum hangat. "Selamat datang di rumah kami, Fia," ujarnya.


Fia sedikit lega, setidaknya karena hadirnya Dafan di sana tak membuatnya mati kutu.


Tak lama kemudian muncul Litania dari arah belakang. Ia tersenyum. "Kamu Fia?" tanyanya.


Fia mengangguk pelan dan mengiyakan. Sebenarnya sedikit terpana dengan penampilan dan wajah Litania yang masih terlihat segar.


"Ya sudah. Ayo masuk. Ayah Dafin dan Dafan sudah menunggu di meja makan."


Makan malam pun dimulai saat Dafin sudah selesai membersihkan diri. Tanpa banyak bicara mereka menikmati makan malam yang memang disediakan Litania dan Chandra untuk menyambut Fia. Keduanya beberapa kali mencuri pandang pada gadis itu. Melihat betapa tenangnya Fia membuat senyum Litania pun sedikit terukir.


Fia benar-benar pandai membawa diri. Meskipun dari keluarga sederhana ia tak terlihat kampungan. Ia sudah melakukan banyak latihan jauh sebelum dirinya melamar jadi sekretaris. Baginya profesi sekretaris tak kalah berbeda dengan seorang wanita konglomerat, harus mengutamakan sopan santun agar image baik sang bos tetap terjaga.

__ADS_1


Sementara Dafan, ia terus saja mencuri pandang pada Fia. Melihat gadis yang disukai ada di depan mata membuatnya mengabaikan apa pun. Ia bahkan tak mendengar kalau Litania dan Chandra beberapa kali berdeham.


Melihat gelagat sang anak sulung membuat Litania makin serba salah, sedangkan Dafin, anaknya yang satu itu seperti tak merasakan apa-apa. Ia terus saja makan tanpa menoleh kiri kanan.


__ADS_2