
"Kamu cantik," ucap Chandra setelah melepas ikatan tali bathrobe berwarna merah muda yang membalut tubuh Litania. Matanya tentu saja berbinar melihat apa yang ada di baliknya—dua gundukan kecil yang seperti menantang. Ia telan ludah lantas kembali menatap wajah Litania yang sudah bersemu. "Kamu sungguh mempesona."
"Gombal."
"Ini bukan gombal. Ini beneran. Aku boleh masuk ya. Aku mau jengukin Junior."
Tawa Litania pecah. Tak menyangka Chandra begitu hati-hati hingga meminta izin sekali lagi. Walau tanpa minta izin sekali pun, ia akan pasrah bila digarap saat itu juga. Lagian bagaimana bisa menolak saat yang di bawah sudah basah dan hangat setelah digoyang satu jari.
Litania mengangguk. Respon yang tentu saja tak disia-siakan oleh Chandra. Ia raup tepian mulut Litania yang berwarna merah muda. Daging tak bertulang yang sudah menjadi candu. Suara decakan pun menengahi kegiatan mereka yang sudah diselimuti hasrat.
Melepaskan pagutan, Chandra tatap manik mata Litania yang sudah bergerak liar. Napas keduanya tampak tak beraturan akibat lumatann yang lumayan lama. "Sayang kamu cantik."
Lagi, Litania hanya mampu tersenyum. "Jangan ngegombal terus."
Tanpa aba-aba, Chandra menyerang yang di bawah sana dengan satu kali tumbukan, membuat Litania tiba-tiba memejamkan mata. Desahan panjang pun kembali terdengar.
Litania dan Chandra begitu menikmati penyatuan. Bermula dari napas yang teratur hingga tersengal. Mereka terlena dengan surga dunia yang sudah halal untuk di masuki hingga saat gelombang kenikmatan itu tiba, keduanya mengerang bersama, merasakan sensasi semburan benih masing-masing.
Setelah aksi jenguk junior selesai.
Litania yang sudah membersihkan diri kembali ke dalam selimut lantas memeluk tubuh Chandra yang masih bertelanjang dada.
"Yang, rencananya aku besok mau ngajakin Aldi juga."
Chandra yang tadinya memejamkan mata sontak saja membelalak. Ia pandang betul wajah Litania yang juga sudah menatapnya. "Aldi? Siapa dia? Kamu punya temen cowok? Sejak kapan? Itu temen apa mantan? Ayo jawab."
Litania berdecak. Ia lepas pelukan lantas duduk dan menatap fokus ke arah suaminya yang sudah ke mode cemburu. "Bisa gak jangan su uzon dulu. Dengerin aku ngomong dulu. Dengerin sampe selesai."
Chandra yang tau perubahan wajah Litania menjadi kelabakan sendiri. Padahal baru saja senang-senang masa iya sekarang marah-marahan. Gak etis, 'kan?
__ADS_1
"Iya, iya aku minta maaf." Chandra ubah posisinya menjadi duduk. Sementara mata masih terfokus pada Litania. "Ayo, jelasin. Siapa Aldi terus kenapa dia harus ikut kita?"
"Rencananya aku sama Kinar mau lihat isi hati Arjun. Dan Aldi itu perantara yang bagus. Kita mau liat Arjun cemburu apa enggak. Kalau emang udah keliatan Arjun gak ada rasa ke Kinar, rencananya Kinar bakalan nyerah. Ini usaha terakhirnya."
"Oke, aku paham itu. Semuanya harus di pancing dulu baru keliatan," ucap Chandra seraya mengangguk setuju. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali menegang. "Tapi Aldi itu siapa? Kapan kamu kenal dia?"
"Aldi itu ...."
Litania tersenyum canggung. Bagaimana ini? Aku harus jujur apa jangan?
"Jujur, siapa Aldi?" desak Chandra.
Litania telan ludahnya dengan kasar lalu memejamkan mata sekali. "Aldi itu asistennya Fabian," jawab Litania dengan cepat sedangkan mata sudah menyipit—takut Chandra murka.
"Fabian ... Fabian ...."
Wajah Chandra mendadak merah. "Fabian ... Fabian yang kemarin itu. Laki-laki yang sama kamu itu?" kesal Chandra, memorinya kembali ke beberapa waktu lalu saat dirinya cemburu karena melihat Litania pulang dan diantar seorang pria. Apalagi pria itu begitu sigap memapah Sita masuk ke dalam rumah. Bak menantu sebenarnya.
"Iya, Fabian yang itu. Aku kemaren mau bahas dia. Tapi lupa terus. Kamu pun gak pernah nanya, jadinya aku lupa."
Aku bukannya gak mau nanya. Aku cuma takut kita bakalan berantem lagi. "Jadi kamu masih berhubungan dengan dia?" tanya Chandra lagi yang sedikit menohok.
"Ya enggak lah. Lagian kita cuma temenan. Sama kayak Aldi. Aku gak ada apa-apa sama mereka." Litania bersedekap dada. "Gak percaya?" tanyanya dengan mata melotot.
Chandra telan ludahnya dengan kasar. Sorot mata tajam Litania membuatnya kesusahan menarik napas. Baiklah, jangan bahas itu. Toh Litania sekarang udah balik sama aku. Jadi aku gak ada alasan buat curiga ataupun meragukan dia.
Melemaskan wajah dengan tersenyum, Chandra rangkul lagi tubuh Litania masuk kedalam pelukan. Ia belai mesra rambut basah Litania seraya berucap, "Maaf, aku percaya. Jangan manyun lagi, dong. Entar aku makan lagi, mau?"
***
__ADS_1
Esok harinya.
Wajah Kinar begitu berbinar. Hari ini serasa lebih cerah dari biasa. Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari di mana dirinya kencan bersama Arjun, tapi hari ini juga hari penentuan. Rasa takut tentu saja ada. Takut kalau Arjun benar-benar tak ada rasa dan ia harus merelakan pria itu. Namun, walaupun pahit, ia tetap harus menikmati hari ini. Ya, begitulah otak mensugesti diri. Takut kecewa, pasti. Akan tetapi, kata-kata Litania kembali membuatnya mengerti, kalau usaha boleh boleh saja ... tapi memaksakan kehendak ... jangan.
"Kinar! Cepetan!"
Suara teriakan Litania menggema dalam rumah. Cepat-cepat Kinar berdiri di depan cermin dan kembali memperhatikan diri. Rambut yang biasa tergerai hari ini sengaja dikucir kuda. Tapi baju, tetap saja berwarna—jaket leopard coklat dengan jeans berwarna merah. Sementara alas kaki, sengaja memakai kets biasa karena tak mau menambah tinggi badan dengan menggunakan heels.
Sementara di depan pintu, Arjun tampak berkeringat, wajahnya bahkan sedikit kehilangan rona.
"Kamu kenapa? Gak enak badan?" tanya Chandra seraya mendekati Arjun.
Arjun yang berdiri tegap di sebelah mobil hanya menggeleng. "Enggak Pak. Kayaknya cuman masuk angin."
"Kalau nggak enak badan, pulang aja. Saya gak mau kamu kenapa-napa." Chandra memperingati dengan wajah dingin.
Arjun yang merasa tak enak hati tentu saja menggeleng lagi. Sudah dikasih apartemen masa iya mau enak-enakan.
"Enggak apa-apa, Pak. Saya masih kuat. Lagian saya bosan di rumah terus"
"Oh, ya udah, kalau gitu mobilnya biar saya aja yang bawa."
Lah, kok! Arjun mengurut tengkuknya. "Tapi, Pak ...."
"Sudah, jangan protes. Kamu cukup duduk, diem dan tenang. Kita bakalan nonton hari ini. Anggap aja hari ini kita refreshing."
Mendadak perasaan Arjun menjadi tak enak. Perhatian sang bos yang mendadak membuatnya begitu tak nyaman apalagi setelah melihat duo gadis aneh luar dari rumah.
Arjun telan ludahnya saat melihat penampilan Kinar. Bak macan tutul minggat dari habitat dan lupa akan kodrat.
__ADS_1
Gila bener. Makin hari makin parah. Tobat ... tobat.