
Pagi harinya, Chandra dan Litania telah berada di depan rumah mereka. Pasangan suami istri itu lagi-lagi menunjukkan perbedaan ekspresi. Chandra tersenyum, sedangkan Litania manyun.
Chandra pegang pipi Litania, menatapnya penuh cinta lalu mendaratkan kecupan di dahi. "Aku berangkat kerja dulu, ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Ingat, hanya hubungi aku."
Terdengar penuh penekanan di kalimat terakhir itu, membuat Litania mendengkus samar tapi berakhir mengangguk juga. Perubahan sikap Litania bukan tanpa alasan. Ia kesal pada Chandra ketika mengingat semalam. Ia kira akan ada adegan hiya hiya, tapi ternyata ....
Mengembuskan napas panjang, Litania pegang punggung tangan Chandra seraya memaksakan senyuman. Biar bagaimanapun keadaan Junior di dalam perut lebih utama daripada yang di bawah perut. Ya, itulah alasan Chandra semalam. Mereka sempat lupa diri bahwa Litania baru saja pulang dari rumah sakit. Sekarang mereka sadar, paling tidak untuk sementara waktu keduanya harus bersabar demi kebaikan bersama.
"Aku berangkat, ya. Jangan lupa makan, terus hati-hati. Junior perlu asupan gizi biar sehat." Chandra berjongkok, ia belai perut Litania yang berbalut gaun selutut berwarna coklat lantas kembali berucap, "Baik-baik di dalam, ya, Nak. Jangan nakal. Kasian Bunda."
Litania tersenyum, kekesalannya mendadak menguap. Perlakuan lembut Chandra dan perhatian tulus itu membuatnya paham kalau semua demi kebaikan. Ia usap rambut Chandra. "Berangkatlah. Nanti keburu macet."
"Ya udah. Aku brangkat, ya. Kamu hati-hati. Jangan melakukan apa pun yang berbahaya, bisa?"
Mengangguk pelan, Litania balas tatapan Chandra dengan senyuman. "Bisa. Udah ih. Bawel baget. Berangkat sana."
Kekehan renyah Chandra kembali terdengar. Makin hari rasanya ia makin bahagia saja. Dan sebuah kecupan di kening menjadi akhir. Chandra pergi dan Litania hanya bisa menatap punggung tegap prianya itu dari belakang hingga mobil berlalu ditelan besarnya pagar rumah mereka.
"Pagi-pagi kenapa manyun? Gak dapet jatah ya ...."
Suara cempreng Kinar membuyarkan lamunan Litania. Gadis itu bahkan telah memeluknya dari belakang. "Pasti gak dapat jatah," ulangnya lagi.
Berdecak kesal, Litania balas godaan itu dengan sebuah jitakan keras hingga suara mengaduh pun keluar dari bibir Kinar.
"Apaan, sih. Sakit tauk!" sungut Kinar seraya mengusap dahinya yang terasa panas.
"Makanya jangan cari gara-gara. Pagi-pagi udah bikin emosi."
Wajah Litania makin masam. Semantara senyum menggoda Kinar makin terkembang.
Kinar dekatkan kambali wajahnya. "Itu artinya tebakanku benar," bisiknya seraya terkekeh.
"Serah kamu, deh." Litania berdengkus. Sumpah, emosinya makin meletup-letup. Ia tinggalkan Kinar yang masih saja tertawa. Namun, baru melangkahkan kaki untuk menjauh, sebuah ide masuk ke dalam pikiran. Ide untuk mengusir kebosanan. Litania putar tumitnya seraya menatap Kinar. "Kinar."
Kinar yang masih tertawa langsung memfokuskan mata ke arahnya. "Kenapa Cintaku Sayangku Manisku ..." jawabnya dengan nada menggoda. Mata pun tak lupa mengedip.
"Ayo kita nge-moll."
Senyum Kinar makin lebar. Dengan jari telunjuk dan jempol menyatu membentuk huruf O, Kinar pun menjawab, "Oke Bos!"
***
Setelah lumayan lama berkeliling, Litania dan Kinar berakhir memasuki sebuah restoran yang ada di lantai atas gedung mall. Keduanya begitu tampak lelah setelah berbelanja.
"Rame ya," ucap Kinar setelah memindai keadaan restoran. Semua kursi tampak penuh oleh pengunjung.
"Ya jelaslah. Ini hari Sabtu, Kinar ..." jawab Litania, "aku ke sana dulu, ya. Aku pesen dulu."
Kinar manggut-manggut. Ia raih benda pipih dari dalam tas dan memainkannya sebagai pembunuh sepi hingga Litania tiba dengan nampan berisi dua posri minuman juga burger ukuran jumbo. Ada juga dua.bungkus kentang goreng di sana.
"Kamu beneran bisa makan itu?" tanya Kinar dengan mata yang sudah mengerjap berkali-kali. Heran akan nafsu makan temannya yang sudah mulai banyak.
Litania menyipitkan matanya. "Tunggu aja nanti kalau kamu hamil. Jangankan makan beginian. Buaya aja pasti kamu makan."
Lagi, Kinar tergelak. Ia lepas gawai yang ada di tangan lantas menatap wajah masam Litania. "Kamu ini kenapa, sih. Sejak kemarin marah-marah mulu. Mana nanyaian surat Yasin. Mangnya mau ngusir jin."
Sumpah, ledekan Kinar makin membuat kesal. Litania lemparkan kentang goreng ke arah gadis berambut kuning itu dan telak, mengenai hidung Kinar. "Kamu gak tau sih rasanya jadi aku."
"Ya gak tau lah. Emang kamu kemarin kenapa? Ayo cerita, aku penasaran. Bukannya kalian masuk ke dalam rumah sakit itu baik-baik aja. Ee ... pas keluar malah kayak abis perang. Mana nanyain surah Yasin. Sumpah. Aku ngakak so hard."
Litania berdecak kesal. Mengenang kesialannya kemarin membuat darah kembali berdesir. Ia lemparkan lagi kentang goreng ke arah Kinar. "Tu mulut kalo ketawa lagi aku jait beneran loh. Mau?"
Mata Litania sudah melotot. Membuat Kinar mau tak mau menyudahi tawa yang sungguh rasanya sudah sekali dihentikan.
"Ya udah, sorry, sorry," ucap Kinar seraya meraih burger dan kentang goreng yang ada dalam nampan.
Hening, keduanya tampak menikmati junk food kekinian itu dengan mata sesekali melihat sekitar. Dan tentu saja penampakan yang sama terulang seperti biasa—orang-orang menatap aneh ke arah mereka dan itu karena Kinar. Namun, Litania yang sudah biasa tak memedulikannya. Toh, mereka tidak mengganggu siapa pun.
__ADS_1
Tak berapa lama seorang pelayan tiba dengan membawa seporsi ayam goreng pesanan Litania. Gadis muda lengkap dengan seragam restoran. Gadis itu juga sepertinya kesusahan meredam tawa. Terbukti dengan bibir yang dipaksa mengatup sementara tampak jelas kalau bibir itu sedang berkedut. "Ini pesanannya, Mbak."
Litania tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Akan tetapi tidak untuk Kinar. Gadis perpenampilan nyentrik itu memegang tangan si pegawai. "Kalau mau ketawa ... ketawa aja. Aku gak marah, kok."
Wajah si karyawan tampak berubah. Ia tau sekarang tengah membuat pelanggan kesal. Dengan wajah takut dan bibir bergetar gadis yang bertanda pengenal Mita itu tertunduk dalam.
"Maafkan saya, Mbak. Saya gak maksud, saya gak maksud buat kurang ajar. Jadi tolong jangan bilang ke manager. Saya masih memerlukan pekerjaan ini, Mbak. Tolong maafkan kelancangan saya. Saya janji gak akan—"
"Udah, aku gak marah, aku cuma mau bilang kalau mau ketawa ya ketawa aja. Siapa yang marah?"
Mita membelalakkan mata, mulut setengah ternganga apalagi setelah melihat Kinar mengeluarkan uang seratus ribu dan memesukkannya ke dalam saku celananya. Apa ini? batinnya.
"Ambillah, ini tip," ucap Kinar seraya menyunggingkan senyuman.
Mita masih bingung. Namun, setelah melihat senyum Kinar ia pun melangkah menjauh meski hati bertanya-tanya. Apa jangan-jangan ini jebakan Batman? Bagaimana bisa orang yang aku tertawakan memberiku uang?
"Kinar." Litania memanggil setelah menelan sisa burger yang ada dalam mulut.
"Emb, kenapa?" jawab Kinar yang juga tengah mengunyah kentang goreng.
"Kamu yakin gak mau berubah. Kamu masih nyaman dengan dandanan begini?"
Kinar mengangguk yakin. "Emb, aku masih nyaman. Tunggu aku benar-benar yakin baru aku lepas."
"Terus Arjun?"
Menghela napas panjang. Kinar lepas kentang goreng lalu menyeruput minuman bersoda-nya. "Aku bakalan usaha lebih. Aku bakalan buat dia liat hatiku dan bukannya penampilanku."
"Kayaknya perlu waktu lama. Arjun aja kayak ilfil sama kamu. Gimana ceritanya dia mau nerima kamu dengan penampilanmu yang kayak ondel-ondel kecebur cat begini," ucap Litania jujur. Ya, meskipun kejujuran itu menyakiti Kinar, tapi tetap saja ia merasa harus mengatakan kenyataan.
Kinar terlihat nyengir. Bagaimanapun sudah bertahun-tahun dia bergaya bak ondel-ondel tersiram cat. Namun, tetap saja, ia juga perlu waktu untuk mengubahnya lagi seperti semula.
"Dan soal Alex ... apa kamu gak mau ngelaporin dia ke polisi?" tanya Litania ragu-ragu.
Wajah Kinar mendadak murung. Ia lepas makanan yang ada di tangan lalu melempar pandangan ke arah luar restoran. Matanya mulai berkaca-kaca tapi dengan cepat ia sapu dengan tangan sebelum meluncur deras.
"Tapi Kinar—"
"Udah, jangan bahas itu lagi, ya. Aku juga gak bodoh. Sekarang aku udah dewasa. Jadi kalau dia macam-macam ya tinggal teriak. Cari pertolongan. Aku gak akan bodoh kayak dulu lagi."
"Kamu yakin?" Mata Litania penuh kekhawatiran. Naumn tidak untuk Kinar. Gadis itu tampak tenang mengatakannya.
"Hem, aku yakin. Aku janji bakalan jaga diri sendiri. Jadi kamu gak perlu khawatirin aku lagi. Kamu udah punya keluarga sekarang. Jadi berbahagialah. Fokuslah sama keluargamu. Apalagi udah ada Litania junior di dalam sana."
Litania tampak murung. Biar bagaimanapun Kinar adalah sahabatnya. Sahabat yang selalu merengek saat diganggu orang lain. Sahabat yang tak bisa apa pun jika sendirian. Entahlah, rasanya ia berkewajiban menjaga Kinar padahal tidak ada hubungan darah.
Ya sepertinya aku emang harus buat dia jadian sama Arjun. Paling gak ada yang jagain dia.
Litania tatap lagi Kinar yang sudah kembali menikmati makanannya. ''Terus, kalo papa kamu keduluan tau kamu di sini, gimana? Kamu pasti bakalan dibawa paksa, Kinar. Kamu gak takut? Papa kamu 'kan galak."
"Nah dari itu. Aku minta tolong bantu aku biar bisa deket sama Arjun." Tatapan Kinar kembali sendu. "Aku iri sama kamu. Suami kamu cinta banget sama kamu. Sedangkan aku. Mau liat dia respek sama aku aja gak bisa."
Litania mendesah panjang lantas menagtupkan kedua lengan di meja. Makanan Yanga da di tengah bahkan sudah tersingkir ke samping. Ia tatap betul-betul wajah murung Kinar. "Kayaknya kita perlu perubahan strategi."
"Apa?" jawab Kinar tak kalah antusias.
"Coba aja kamu cuekin dia. Sapa tau dia merasa kehilangan terus sadar kalau kamu itu berharga."
Kinar terkekeh lantas menyadarkan kembali punggungnya yang sempat menengang. "Uda kayak lagu Bang Rhoma aja. Kalau sudah tiada ... baru terasa ... bahwa kehadirannya ... sungguh berharga. Sungguh berat aku rasa kehilangan dia ...."
Berdengkus, Litania lempar Kinar dengan tisu. Wajah sudah masam kecut melihat Kinar bercanda padahal dia serius mengatakannya.
"Aku ini serius Kinar ... bukan nge-dangdut," ucap Litania kesal.
Kinar hentikan tawanya. Ia tatap lekat lagi wajah serius Litania. "Iya, Iya, aku tahu, masalahnya ... aku yang enggak nggak yakin bisa nyuekin dia. Wong pas buka mata aja muka dia yang duluan aku liat. Kayaknya aku beneran jatuh cinta deh sama dia," ucap Kinar. Senyum akibat berkhayal kembali terukir. Membuat Litania kembali menghela napas panjang—bingung bagaimana memecahkan masalah percintaan Kinar yang rumit bin njlimet.
"Ya harus usaha, dong. Atau enggak pakai cara yang satunya," ucap Litania lagi.
__ADS_1
"Apa?" tanya Kinar yang kembali antusias. Matanya bahkan membelalak lebih lebar dan berbinar. "Ayo, cepat bilang."
"Bikin Arjun cemburu. Kata orang sih ampuh."
Seketika pikiran Litania kembali ke masa lalu saat dirinya dan Chandra bertengkar dan ada sosok Ara di tengah mereka.
"Iya. Kita coba aja pakai cara itu," ucap Litania penuh keyakinan.
Kinar tergelak lagi. "Tapi masalahnya siapa yang mau berpura-pura main kayak begitu?"
"Ada, satu," jawab Litania, bibirnya tersenyum seperti menyimpan misteri.
"Siapa?" tanya Kinar lagi. Mendadak rasa penasaran menggerogoti pikiran saat melihat senyum ambigu Litania.
"Siapa, ayo bilang."
"Aldi."
***
Di kantor.
Mengempaskan diri di kursi kebanggaannya, Chandra usap wajah yang lelah seraya menghela napas panjang. Hari ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Begitu banyak masalah yang harus ia selesaikan dengan cepat.
Chandra angka satu di ditelepon yang ada di sebelahnya seraya berucap, "Ara, masuk!"
Tak lama pintu diketuk dan masuklah Ara, sang sekretaris yang selalu rapi dari pagi hingga malam.
"Apa hari ini jadwal saya sudah selesai?"
"Sudah Pak. Hanya saja barusan saya mendapat telepon dari sekretarisnya Pak Mark. Katanya Pak Mark ingin bertemu Anda di Cassanova."
Ara ragu-ragu mengatakan itu, karena tak biasanya investor mengajak bertemu di luar jam kerja terlebih lagi di sebuah klub malam. Hanya saja Chandra terlihat biasa saja merespon ajakan itu. Membuat Ara menelan ludah, tak percaya.
"Baiklah jam berapa?"
Membelalak, Mata Ara membola seketika. Tak percaya akan respon dari Chandra. "Bapak serius mau ketemu Pak Mark di sana?"
Chandra yang awalnya terpejam mendadak membuka mata. Ia tatap wajah tak percaya Ara. "Emangnya kenapa? Enggak masalah bagi saya. Hitung-hitung buat refreshing saja. Saya sudah lama tidak ke sana."
"Tapi Pak—"
"Sudah, beritahu saja Arjun untuk bersiap-siap. Saya sebentar lagi turun."
***
Di kelab malam.
Chandra terduduk di sebuah ruang pribadi besar yang kedap suara. Sebuah sofa besar melingkari meja lengkap dengan minuman dan beberapa buah di sana. Bahkan TV lebar ada di dalam ruangan VIP itu."
"Jam berapa sekarang?" tanya Chandra dengan mata yang kembali terpejam. Kepala ia sandarkan di sofa dengan lengan menutup mata.
"Sudah pukul sepuluh malam, Pak."
Hening, tak ada respon atau pun suara dari Chandra hingga membuat Arjun memberanikan diri untuk bertanya. "Apa kita enggak sebaiknya pulang saja, Pak. Bapak kelihatannya lelah sekali."
Chandra mengibaskan tangan. Sementara kepalanya yang berat masih di posisi yang sama. "Gak bisa Arjun. Dia orang penting. Lagian saya juga penasaran apa yang ingin dia bahas di dalam sini."
Arjun mengangguk paham. Ingin bersikeras pun percuma. Dirinya hanya pesuruh dan hanya bisa mengikuti perintah saja.
Namun, tak lama, dering telepon mengagetkan Arjun. Tertera nomor yang tak dikenal memanggilnya. "Saya permisi sebentar, Pak."
Chandra berdehem, sementara mata masih saja terpejam. Ia begitu lelah hari ini, ingin rasanya pulang dan merebahkan diri di samping Litania hanya saja ....
Menghela napas panjang, Chandra terkaget kala pintu berderit dan tampak seorang gadis yang ia kenal masuk ke dalam ruangan.
"Maaf, Pak Chandra. Tuan Mark lagi ada keperluan di luar. Jadi saya disuruh menemani Anda di sini."
__ADS_1