Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
akal bulus yang tak mulus


__ADS_3

Malam makin larut, semua orang sudah terlelap dalam kamar masing-masing, tapi tidak Litania. Wanita berpiyama dengan gambar wajah Siwon yang sedang tersenyum itu tengah mondar-mandir di ruang tamu. Mata acapkali tertuju pada jam 3 D yang terpajang di dinding dekat sofa. Bagaimana tidak, waktu telah menunjukkan hampir tengah malam. Namun Chandra, suaminya itu belum juga sampai rumah padahal tadi mengatakan akan segera pulang.


"Ke mana dia?" gumam Litania seraya menahan keresahan.


Di waktu yang sama, Chandra tengah mondar-mandir juga. Namun, jelas bukan di rumah. Pria yang masih mengenakan kemeja lengkap dengan jas hitam itu terlihat gelisah di depan toilet sebuah kelab malam. Sementara mata menatap horor ponsel yang ada di tangan. Tertera nama "Bundanya anak-anak" sedang memanggil.


Tak lama, level kecemasan yang terukir di wajah pria itu sedikit turun kala melihat Bambang mendekat dengan tergopoh-gopoh.


"Pak Bambang, ini udah semua, 'kan?" tanya Chandra seraya menerima beberapa tas kertas yang Bambang sodorkan.


"Sudah, Den. Semua sudah ada dalam situ. Pembersih wajah dan parfum juga sudah saya belikan, persis dengan yang Aden pesan."


"Terus, baju yang Bapak beli ini sama persis dengan yang saya pake, 'kan?"


"Iya, Den. Saya bahkan bangunin orang yang punya butik."

__ADS_1


Chandra manggut-manggut, tapi wajahnya kembali tegang. "Mouthwash-nya? Gak ketinggalan, 'kan?"


"Ada, Den. Saya juga udah beli permen."


Menghela napas lega, Chandra tersenyum melihat Bambang. Seolah-olah dari bibir yang sedikit merekah itu ia mengatakan terima kasih yang sangat banyak.


"Kalau begitu saya tunggu di mobil, Den."


Chandra mengangguk. Bambang pun memutar tumit dan pergi. Tinggallah Chandra sendiri. Tanpa membuang waktu, pria itu menyempatkan diri membersihkan wajah dengan scrub yang Bambang beli. Tak lupa pula kumur-kumur agar aroma wine tak terdeteksi. Lantas masuk ke ruang ganti yang ada di lantai atas ruang VVIP kelab.


Mendesis kesal, cepat-cepat Chandra lepas jas, dasi dan kemeja yang menempel di tubuh. "Ini semua gara-gara mereka, andai saja aku gak ketipu, pasti sekarang aku enggak perlu repot-repot kayak gini," gumam Candra kesal. "Kalau Litan sadar aku ke kelab dan minum, pasti aku bakalan langsung ditendang tanpa perasaan."


Benar adanya, Litania telah menunggu Chandra dengan tangan bersedekap. Wanita itu menatap tajam mobil yang dikemudikan Bambang, seolah dapat menembus pekatnya malam dan tebalnya kaca mobil. Bambang dan Chandra yang memang menyembunyikan kesalahan merasa bersalah dan tanpa sadar telah menelan ludah berkali-kali. Mereka ngeri akan sosok wanita cantik nan muda itu. Aura Samsonwati mendadak mendominasi.


"Pak, kalau dia nanya, bilang saja saya lembur," pinta Chandra sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan menghampiri Litania.

__ADS_1


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanyanya seraya memeluk mesra tubuh itu. Sangat berharap Litania tak sadar. "Maaf, ya. Ada masalah mendadak di kantor. Jadi harus diselesaikan dulu."


Litania yang memang tak mencium sesuatu yang aneh hanya pasrah saat dipeluk. Namun, kekesalannya pada Chandra masih ada hingga ia melepas pelukan itu dengan kasar. Bisa-bisanya tak memberi kabar, menelepon saja tidak.


"Kalau ada sesuatu sepenting itu harusnya kasih tau. Aku kan jadi khawatir," sungut Litania.


"Iya iya." Chandra tersenyum gemas seraya menuntun wanitanya itu untuk masuk rumah. Bersyukur karena Litania tak sadar hingga tibalah keduanya di dalam kamar.


Seperti biasa, Litania akan membantu sang suami melepas semua pakaian. Namun, aktivitas biasa itu mendadak menjadi luar biasa. Litania terdiam, mata melotot memandang Chandra.


"Apa ini?" tanyanya dengan suara sedikit nyaring. Kemeja Chandra ia genggam kuat.


Chandra yang merasa bersalah mendadak menahan napas. Tatapan Litania mendiskreditkan. Namun, sebisa mungkin ia harus menyembunyikan kegugupan itu.


"Apanya yang apa?" tanya Chandra pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Jujur sama aku. Kamu ... kamu main gila sama perempuan lain, 'kan?" hardik Litania dengan kepalan tinju yang sudah sempurna.


entar malam aku up lgi


__ADS_2