Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Bertemu makhluk amazone.


__ADS_3

Di sebuah mall yang ada di bilangan Jakarta Pusat.


Litania merangkul mesra lengan Chandra. Bahagia rasanya diajak berbelanja. Walaupun dirinya termasuk tim rebahan akut, tetap saja jiwa wanita yang suka belanja meronta-ronta. Terlebih lagi untuk keperluan dua jagoan kecilnya. Ah ... jadi tak sabar buat bikin bayi lagi, eh!


"Kita langsung ke lantai tiga aja ya. Di sana ada baby shop lengkap," ucap Chandra seraya menepuk punggung tangan Litania. Keduanya tampak bahagia berjalan beriringan. Tatapan aneh orang-orang ... tak mereka pedulikan. Lagian sudah kebal dengan keadaan yang seperti itu. Tatapan sinis maupun cibiran warga yang menganggap mereka tak pantas bersama tak pernah jadi penghalang untuk mereka menunjukkan kasih sayang. Toh, mereka tak mengganggu ataupun merugikan orang lain. Yang terpenting adalah perasaan dan isi kepala pasangan masing-masing. Orang lain mah, whatever- lah!


Tibalah mereka ditempat tujuan. Mata Litania sudah berbinar saat masuk pertama kali. Gaun anak berusia sekitaran tiga tahun yang terpajang di manekin sudah menyambut kehadiran mereka.


"Gila, ini lucu banget!" Litania histeris, ia tutup mulutnya agar tak terdengar menjerit. Lantas melepas gaun kecil itu dari patung. "Aku ambil ini, ya?"


"Tapi anak kita 'kan cowok, Yang." Menggaruk tengkuknya, Chandra terlihat celingukan melihat sekitar. Masih tak mengerti kenapa istrinya sudah kalap padahal baru masuk.


Litania nyengir, baju anak berwarna merah muda susah ada dalam pelukannya. "Aku simpen buat next babby kita, Yang."


"Astaga, ngagetin aja. Aku kira kamu lupa dengan jenis kelamin anak kita." Chandra terkekeh pelan lalu kembali merangkul pundak Litania untuk ke dalam. "Belanja yang penting-penting aja, ya. Jangan terlalu berlebihan. Kalau capek langsung istirahat. Oke."


Litania mengangguk. Matanya masih setia menyapu sekitar. Pakaian serta mainan anak-anak yang terpajang merupakan keindahan yang membuatnya tak rela meski untuk mengerjap.


Keduanya pun berjalan mengitari babby shop itu. Litania bertugas mencari perlengkapan serta peralatan new born, sedangkan Chandra mendorong trolley. Dari popok sekali pakai, baju, celana, selimut, kaus kaki dan tangan, popok yang terbuat dari kain, tisu basah, handuk, kain untuk membedong, bantal, perlak, washlap, perlengkapan mandi hingga minyak telon sudah masuk ke dalam keranjang beroda itu.


Kini Litania berdiri di depan deretan botol susu beserta susunya. Lumayan lama ia memperhatikan barang itu hingga Chandra yang berada di dekatnya menjadi heran. "Kenapa?"


"Kita beli ini apa enggak?" Litania menunjukkan barang yang ada di tangan pada Chandra. "Aku sih maunya anak-anak kita ASI ekslusif, tapi anak kita kan kembar. Sekarang aku jadi ragu. Takut ASI aku gak cukup untuk mereka."


Chandra tersenyum menanggapi kegalaun hati Litania. Ia raih benda itu lantas memasukkannya ke dalam keranjang. "Pasti cukup. Yang penting kamu harus banyak makan makanan yang bergizi dan berserat. Aku yakin ASI kamu pasti banyak. ASI itu keluarnya mengikuti kebutuhan bayi."


Litania bingung, alisnya tertaut. "Kalau cukup kenapa dimasukin ke situ." Mata Litania tertuju pada trolley yang Chandra dorong.


"Ya karena ini tetap penting. Bisa buat stok. ASI kamu pompa, terus masukin sini."


"Loh, kok kamu tau?" tanya Litania yang masih bingung. Suaminya itu paham betul perihal bayi dan melahirkan.


Chandra salah tingkah. Senyumnya terukir agak kaku. Bagaimana menjelaskannya pada Litania karena memang dirinya sudah pernah berbelanja ini sebelumnya untuk menyambut kehadiran Chandira.


"Itu ... itu karena pernah belanja semua ini sama Rania dulu," jujur Chandra.

__ADS_1


Namun, di luar ekpektasi, Chandra kira Litania akan marah, tapi wanita bergaun hamil itu malah tersenyum dan merangkul lengannya, lalu mengambil beberapa botol bayi beserta plastik untuk menampung ASI. Tak lupa pula alat untuk memompa ia masukkan juga. Wajah wanita itu tak menunjukkan ekspresi kesal, malah tampak bahagia. Apakah Litania sudah benar-benar memaafkannya?


Setelah puas berkeliling kini keduanya menuju tempat stroller berada. Mata Litania kembali berbinar setelah melihat begitu banyak jenis kereta dorong bayi yang ada di sana. Pandangan matanya tertuju pada dua stroller yang ada di pojokan, berwarna cokelat merk Graco.


Cepat-cepat ia ambil kereta dorong bayi yang sudah mencuri hatinya. Namun tanpa diduga ada tangan yang juga menginginkan benda itu. Litania yang sudah memegang satu menjadi kaget saat stroller satunya tak bergerak ketika ditarik.


Tampak seorang wanita memegangnya dengan erat. Penampakan makhluk yang membuat darah Litania mendadak naik ke ubun-ubun.


"Lepasin, gak!" ucap Litania yang sudah nge-gas.


"Enak aja, aku mau ini," ucap tu perempuan tak kalah sengit. Matanya menantang dengan dagu terangkat. Begitu arogan dan menyebalkan. Wanita yang Litania ingat betul bernama Bianca. Makhluk amazone yang membuat harga dirinya terluka.


"Kan aku dulu yang pegang," balas Litania.


"Heh anak kecil, ngalah dengan yang lebih tua dong." Si Bianca tampak melotot.


Wah sialan ni tante-tante. Litania membatin kesal. Ia tiup poninya sebentar dan tangan sebelah kiri sudah memegang pinggang.


"Heh! Tante, aku bukan anak kecil, ya. Orang yang kamu bilang kecil ini jago bikin anak kecil tau gak. Buktinya ada dua dalem sini ni." Membusungkan perutnya sedikit, Litania tersenyum miring.


Mata mereka masih menunjukkan kebencian. Seakan-akan telah melakukan pertarungan sengit tak kasatmata. Perbincangan yang sontak membuat orang-orang di sana tersenyum dengan gelengan kepala. Bisa-bisanya membahas perkara ranjang di muka umum. Astaga!


"Ini punyaku." Litania menariknya kuat.


Bianca tak mau kalah. Ia tarik juga benda itu tak kalah kuat. "Ini punyaku. Lagian kan kata kamu anak kamu kembar. Sono cari stroller yang bisa untuk dua anak."


Litania tak menggubris. Sebenarnya bisa saja melepaskan stroller itu. Hanya saja rasa dendam akan kejadian lalu membuatnya menjadi keras kepala. "Gak mau! Aku mau yang ini. Kamu aja sana, cari yang lain!"


Saat mereka saling adu mulut, datanglah suami mereka. Skala dan Chandra. Dua leaki itu tampak salah tingkah dan cemas. Cemas jika terjadi sesuatu pada istri dan janin yang ada dalam kandungan.


Skala mendekati Bianca, begitu pun Chandra. Pria itu menarik lengan Litania.


"Sudah, Ca. Kita cari yang lain aja," pinta Skala.


Bianca berdengkus. Lirikan matanya terlihat tajam. "Gak bisa! Aku maunya yang ini."

__ADS_1


"Ini Tante punya masalah apa, sih. Suka banget cari gara-gara. Jelas-jelas ini aku duluan yang pegang," ucap Litania lantang.


Chandra yang ada di belakang, menghela napas. "Litan, kasih aja. Kita cari yang lain, ya."


"Gak bisa! Dulu aku kalah, sekarang jangan harap!"


"Lalu kamu maunya apa? Berantem? Ayo sini maju," tantang Bianca.


"Hey, Ca. Kamu lagi hamil." Wajah Skala memucat.


"Yah ni Tante makin nyebelin. Siapa juga mau berantem. Kita suit," usul Litania. Dulu dia kalah suit. Dan sekarang ingin mengembalikan harga diri yang tercoreng dengan cara yang sama.


"Oke." Bianca bersedekap dada. "Kalau aku menang, stroller ini milikku plus kamu harus minta maaf," lanjut Bianca dengan nada sombong.


Litania berdecih. "Oke, kalau aku menang, stroller ini jadi milikku plus aku pinjam suamimu."


Wajah Bianca, Skala dan Chandra tampak tegang.


"Litan, apa-apaan ini. Mau kamu apakan suami orang." Chandra berbisik cemas.


"Stt! Diam dulu." Litania melotot. Kini matanya melihat Skala dan kembali menatap nyalang Bianca. "Gimana, barani gak?"


Bianca tampak menelan ludah. Namun, lagi-lagi harga diri tak memperbolehkannya mundur. "Oke, deal. Semua orang di sini jadi saksi," ucap Bianca dengan percaya diri.


Litania tersenyum miring. Tangan sudah ia sembunyikan di belakang punggung. Begitu juga Bianca. Wanita berpakaian modis itu tampak menatap tajam Litania. Tangan pun sudah bersembunyi di belakang.


"Batu kerta gunting!"


Bersambung.


Haha aku up 3 bab loh hari ini. kalian jgn pelit like donk.


BTW kalian pasti udah baca cerita Bianca dan Skala kan. Bagi yang belum, cus ke sana. Dijamin ngakak.


Judul : Bukan kontrak pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2