
"Lagi ngapain?" tanya Arjun seraya mendekat ke arah sofa. Tuxedo berwarna cokelat kehitaman baru saja terlepas dari tubuh dan kini ia tengah mengendurkan dasi. Mata tertuju pada Kinar yang sedang duduk dan di kelilingi begitu banyak kotak berwarna-warni. Resepsi pernikahan mereka baru usai sejam yang lalu.
"Ini ... lagi buka kado." Kinar tersenyum canggung. "Mama sama papa udah pulang?" lanjutnya.
"Sudah."
Mata Arjun masih tertuju ke Kinar. Wanita yang sudah sah jadi istrinya itu telah terbalut bathrobs dengan rambut yang setengah kering. Make up pengantin sudah terhapus dari wajah. Arjun mengulas bibir. Kinar terlihat sangat cantik di matanya.
Berdeham sekali, pria yang sudah melepas beberapa kancing kemeja itu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Matanya menyapu ruang pengantin yang begitu elegan dan mewah dengan lampu sedikit remang. Nuansa yang pasti akan memancing otak ke arah skidadap aye-aye hot apalagi ini malam pertama.
"Kamu sudah mandi?" tanya Arjun berbasa-basi.
Kinar mengangguk lantas berucap, "Sudah. Sekarang kamu mandilah. Aku sudah siapin air hangat."
Wajah Kinar bersemu setelah mengucapkan itu. Bagaimanapun ini mimpinya selama ini—menyiapkan air mandi untuk suami bahkan tak keberatan jika diajak mandi sekalian. Saat wanita lain bermimpi meraih karir, pendidikan dan segala macam, dirinya malah hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang mengurusi suami dan anak. Hanya itu? Ya, sesederhana itu isi kepalanya yang bahkan tak bisa mengingat perkalian.
"Oiya, apa ada yang kamu perlukan?" tanya Kinar memecah keheningan. Ia dan Arjun sama-sama terdiam dan canggung.
"Gak ada, sekarang aku belum perlu apa pun, Kinar. Tapi gak tau juga nantinya. Kalau sudah waktunya, lakukan apa yang aku pinta," balas Arjun ambigu, setelah itu bibirnya menipis. Ia dekati Kinar yang masih terduduk dan tanpa kata mendaratkan kecupan ringan di dahi, lalu pergi menuju kamar mandi mengabaikan wajah Kinar yang makin memerah.
__ADS_1
"Tapi gak tau juga nantinya. Kalau sudah waktunya, lakukan apa yang aku mau," gumam Kinar mengikuti gaya bicara Arjun. Senyumnya tercipta amat manis. GR tepatnya.
Kini Mata Kinar terfokus pada pintu kamar mandi yang tertutup. "Please, deh, Jun. Bisa gak sih kamu jangan bikin aku baper mulu? Semenjak ketemu kamu kehaluanku udah mengalahkan kesaktiannya Shin Ho Kong manjat tau gak. "Ah aku jadi gak sabar pengen dipanjat," lanjutnya lagi seraya tersenyum setelah berpikir mesum.
Dua bulan semenjak lamaran itu, Kinar dan Arjun tak diperbolehkan bertemu sama sekali. Jadi wajar saja gadis yang akan kehilangan kegadisannya itu kaget. Tubuh serasa disengat listrik padahal cuma benda kenyal yang mendarat. Begitu ajaib efek dari sebuah sentuhan.
Membuyarkan pikiran mesum, kini mata kinar tertuju ke kotak kado setengah besar berwarna ungu. Kado yang ia ingat betul pemberian Litania. Sahabatnya itu datang sendirian.
"Aku penasaran apa isinya? Lebih tepatnya penasaran apa isi kepala Litan saat beliin aku kado ini," gumamnya.
Tanpa menunggu lama, kotak terbuka bersamaan dengan mata Kinar yang membulat lebar. "Apa ini? Dia ngasih aku kain jala!" pekiknya saat melihat apa isinya.
"Litan emang pengertian. Dia ngasih aku kado yang berharga. Jadi sekarang tugasku hanya harus bisa ngasih kesan pertama yang wah buat Arjun. Aku mau nunjukin bahwa akulah wanita tepat yang paling sempurna. Aku bakalan bikin dia klepek-klepek, terus gak bisa hidup kalo gak ada aku. Pokoknya malam ini aku harus ... ah, jadi gak sabar ...."
Kinar tersenyum lagi. Mata kembali melihat pintu kamar mandi. Kalau bisa. Ingin ia gedor saja pintu tertutup itu. Menerkam Arjun bak pemain pro dalam film blue atau hentai yang sering ia lihat. Hanya saja ... sabar ... kata itu terus terngiang di telinga.
Lama menunggu, lima menit berlalu sangat lama. Namun aneh, Arjun tak kunjung keluar. Kinar yang bosan meraih ponsel di atas nakas.
"Aku mau liat peruntungan zodiakku. Hari ini terlalu sibuk sampe gak sempat buat liat. Hmm ... semoga ramalannya bagus."
__ADS_1
Capricorn, kesehatan Anda baik-baik saja, tapi usahakan minum air putih yang banyak. Sekarang cuaca sedang tak menentu.
Kinar manggut-manggut, jempol kembali menscroll layar ponsel.
Keuangan Capricorn.
Jangan Khawatir. Anda diberkahi dewa uang selama tujuh turunan. Namun, meski begitu, berhematlah. Bijaklah dalam berbelanja.
Asmara Capricorn.
Berhati-hatilah. Di mana sukamu, mengintip dukamu. Tambahkan hati, kuatkan diri.
Dahi Kinar mengkerut setelah membaca tulisan itu. "Apa maksudnya, ya? Aku akan dapat kemalamgan gitu? Ih kok ngeri sih ni ramalan." Jeda sejenak. Mata Kinar masih tertuju di layar. Perasaannya jadi tak tenang hanya gara-gara ramalan zodiak.
"Aku harap ini bohong. Tapi, setiap aku baca ni horoskop, ramalannya selalu bener. Apa jangan jangan ...."
Lisan Kinar terjeda karena terdengar bunyi barang berjatuhan dari dalam kamar mandi. Cepat-cepat ia angkat dari kasur dan ke sana.
"Arjun! Kamu kenapa?" tanya Kinar dengan nada teriak. Kepanikan menyerang hebat apalagi saat tak juga mendapat sahutan.
__ADS_1
***