
Dirumah.
Sita terlihat mondar-mandir di teras depan. Ia begitu menghawatirkan sang cucu yang belum juga pulang sementara waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ke mana kamu, Ndok? Kenapa belum juga pulang? Kenapa telfon Nenek gak kamu jawab?
Melirik jam dinding yang ada di ruang tamu, wanita berdaster panjang itu makin gelisah. Ia usap layar ponsel yang ada di tangan dan kembali mencoba menghubungi Litania. Namun, sinar lampu mobil yang masuk ke halaman mengalihkan pergerakan Sita dan membuyarkan kecemasannya. "Itu 'kan Chandra."
Turun ke halaman, Sita yang penasaran menghampiri mobil itu dengan langkah lebar. Tanpa diduga, sosok sang cucu yang begitu ia khawatirkan juga keluar dari mobil dengan wajah masam. Gadis itu bahkan sudah berganti baju.
Sita mengernyitkan dahi, bingung dengan situasi yang ada. Bukannya tadi perginya pake gaun? Trus bukannya tadi pamitnya mau pergi sama Fabian? Tapi kenapa sekarang pulangnya sama Chandra?
Sita makin mempercepat langkah, dan lagi-lagi sebuah pemandangan aneh membuatnya membulatkan mata. Heran, wajah tampan sang menantu kini penuh dengan warna biru kehitam-hitaman.
"Loh loh loh! Kenapa ini?" Wajah panik sita begitu kentara. Dipegangnya kedua belah pipi Chandra yang sudah memar. "Wajah kamu kenapa?"
"Aku habis digebukin preman, Nek." Melirik sekilas Litania yang ada disebelahnya, Chandra kembali berkata, "Preman cantik. Dan beruntungnya preman cantik itu istriku."
"Ya ampun, Litan! Ini kerjaan kamu!" Sita mengerling tajam. Sedetik kemudian sebuah layangan tangan mendarat dua kali tepat di pundak kiri Litania.
Litania mengaduh. "Sakit, Nek."
"Kamu ini bener-bener. Gimana ceritanya bisa begini? Kok tega sama suami sendiri."
Memanyunkan bibir sedikit, Litania mengusap-usap bagian pundaknya yang panas seraya berucap, "Itu 'kan dia sendiri yang minta. Lagian dia pantes dipukul."
"Kamu ini, kebiasaan banget. Dia ini suami kamu, loh. Makin gede kok makin kurang ajar. Inget, kamu masih istrinya dia. Kamu bukan lagi ABG. Status kamu sekarang udah berubah."
"Iya aku tau. Kan aku gak pernah bilang kalau masih perawan."
__ADS_1
Makin memelototkan mata, Sita berancang-ancang ingin kembali melayangkan pukulan. Akan tetapi belum sempat mendaratkan tangan, sang target telah lebih dulu menghindar dan berlari masuk ke dalam rumah. Suatu pergerakan Litania yang membuat darah Sita berdesir hebat. Ia kesal dan menyeru nama sang cucu dengan nyaring.
"Sudah, Nek. Gak apa-apa. Aku seneng kok dipukulin. Paling enggak dia sekarang udah mau ngomong sama aku. Biarin deh badan ini bonyok." Chandra berucap pelan. Ia sedikit menarik ujung bibirnya untuk menenangkan Sita. Akan tetapi sedetik kemudian senyum itu berubah menjadi erangan. Ngilu itu mendadak datang. Memar di ujung bibir lumayan menyakitkan.
Berdecak kesal, Sita pegang kembali pipi Chandra. "Tapi dia udah keterlaluan gitu, lho."
"Gak apa-apa, Nek. Beneran. Kalau Nenek marahin dia. Nanti takutnya dia ngambeknya makin berkepanjangan." Menatap Sita dengan mata mengiba, Chandra kembali berkata, "Tolong maafkan dia, Nek. Aku baik-baik aja, kok. Sumpah."
Mengembuskan napas panjang, Sita mengangguk setuju. "Yaudah, kalau gitu ayo kita masuk. Udah larut. Dan juga, kalau bisa rayu dia biar mau ikut kamu pulang. Nenek udah gak enak dengan omongan tetangga. Mau bagaimanapun kalian masih suami istri. Jadi gak boleh pisah lama-lama."
"Makasih, Nek. Doain aku biar bisa meluluhkan keras kepalanya dia." Bibir Chandra berkedut—menahan sakit akibat memaksa untuk tersenyum.
"Iya, tapi ini bantuan pertama sama terakhir yang Nenek kasih. Awas aja kalo kamu nyakitin dia lagi. Nenek bakalan bawa dia jauh dari kamu."
Chandra mengangguk lemah. "Maaf ...."
Sita kembali membuang napas berat, dipegangnya pundak kiri chandra. "Ini karna Nenek udah kenal kamu sama keluargamu. Nenek percaya kamu makanya Nenek berbaik hati buat maafin kamu. Tapi jangan coba-coba buat kesalahan lagi. Paham!" Sita menyipitkan mata sebelum akhirnya memutar tumit menuju rumah.
"Aku masuk, ya?" ucap Chandra seraya menutup pintu kembali. Ia langkahkan kaki mengelilingi kamar Litania. Kamar yang baru kali pertama ia masuki. Kamar bercat ungu muda dengan dekorasi sederhana. Hanya saja atribut yang ada membuat pria berusia 34 tahun itu menggelengkan kepala—tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Begitu banyak gambar serta potret boy band Super Junior tertempel di dinding kamar. Lebih banyak dan lebih heboh dibanding yang sudah Litania tempel di kamar mereka. Ia tak percaya begitu ter-obsesi-nya Litania pada boy band itu. Bahkan bantal, guling, serta selimut juga ikutan bergambar member Super Junior.
Litania emang bener-bener sesuatu, batinnya.
Merebahkan diri di sisi kasur, mata Chandra masih asyik memindai sekeliling. Kamarnya unyu begini tapi yang punya malah nyeremin.
Tersenyum sedikit, Chandra pun memanggil, "Litan, kamu gak tidur? Udah larut, loh."
__ADS_1
"Enggak, kamu aja yang tidur duluan."
Masih bersedekap dada, Litania masih enggan memandang Chandra. Gadis yang sudah berganti baju itu masih sibuk menata hati. Ia masih kesal, tapi entah mengapa level kekesalannya mendadak turun hingga ia tak tau harus apa. Haruskah bersikap biasa saja ataukah berperilaku kasar? Apalagi mengingat surat dari Rania ditambah nasehat dari sang nenek juga Fabian. Sungguh, Litania galau.
Mengepalkan tangan dengan kuat, Litania memejamkan mata berkali-kali. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku bilang 'aku udah maafin kamu' atau 'ayo kita pulang.'
Bergidik, Litania buyarkan pikirannya sendiri. Gengsi mendadak mengambil alih kendali. Jangankan untuk membuka obrolan. Berdehem saja ia enggan. Sialan, kenapa aku yang merasa jadi penjahatnya.
Litania kembali memejamkan mata. Namun, tanpa diduga Chandra telah mengalungkan lengan di perutnya. Sebuah perlakuan mendadak yang membuat Litania harus membulatkan mata dengan cepat. "Apa-apaan ini!" hardiknya.
"Tenanglah. Jangan teriak, nanti nenek kamu bangun." Mengecup pucuk kepala Litania, Chandra pun melanjutkan ucapan, "Makasih udah maafin aku."
Litania memutar bola matanya malas. "Siapa yang maafin kamu?"
"Ya kamu, lah."
"Tau dari mana?"
"Feeling. Kalo kamu masih marah gak mungkin kamu mau sekamar sama aku." Makin mengeratkan pelukan. Chandra kecup ceruk leher Litania. Sebuah perlakuan binal yang membuat tubuh serasa disengat listrik. Litania mematung dengan debaran di dada yang sudah mulai menggila. Ia ingin mengumpat tapi mulut malah bungkam.
Sialan. Aku jangan sampai terpancing.
Litania meronta. Lebih tepatnya setengah melawan. Ia ingin lepas tapi tubuh tak sejalan dengan pikiran. Ia berakhir diam saat Chandra kembali mendaratkan kecupan di sisi lainnya.
"Aku kangen kamu, Litan. Maafin aku. Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Gak akan ada yang aku sembunyikan lagi. Aku akan jujur apapun itu. Aku takut, aku gak sanggup kalau kamu pergi."
Oh shit! Tubuh Litania menegang. Bisikan serta perlakuan binal Chandra mampu memancing sesuatu dari dalam diri—hasrat istri yang selalu ingin dibelai kasih oleh suami. Fantasi liar juga ikut unjuk gigi—membayangkan malam panas yang sudah mereka lakukan selama ini.
__ADS_1
Memejamkan mata sedikit lama. Litania mencoba meredam libido yang sudah mendominasi pikiran. Tenang Litan. Jangan goyah. Tenanglah. Beri dia hukuman sedikit lebih lama, Litania bermonolog dalam hati lagi.
Kembali mendaratkan kecupan, Chandra berbisik, "I love you, Honey."