Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Jiwa pahlawan.


__ADS_3

Mata Litania membola. Orang yang memanggilnya adalah kakak kelas yang dulu sempat ia taksir. Ketua OSIS yang paling dipuja oleh kalangan siswi seangkatannya.


Merapikan rambutnya ke belakang telinga, Litania mengukir senyum manis. Parahnya, pemandangan itu membuat darah Chandra berdesir. Ia yang sudah membuka pintu mobil langsung menutupnya kembali. Bamb! Suara bantingan pintu itu mewakili kekesalan hati.


"Siapa dia?" tanya Chandra.


"Temen."


"Beneran temen?"


"Stt!" Litania memelotot tajam ke arahnya dengan jari telunjuk sudah melekat di bibir. "Diem dulu, bisa?"


Litania abaikan wajah gusar Chandra. Ia bahkan sibuk mengukir senyuman pada pria yang tengah berjalan ke arahnya.


"Riko."


Pria yang dipanggil Litania Riko itu menipiskan bibir. "Kamu beneran Litania? Aku pangling. Aku gak nyangka kita bisa ketemu lagi di sini. Kami apa kabar? Kamu beda banget sekarang. Aku pikir tadi siapa, loh."


"Kabarku baik-baik aja, kok." Litania masih tersenyum. "Emang tadi kamu mikirnya aku siapa?" lanjutnya.


"Aku pikir tadi Nia Ramadhani."


Aih! Hidung Litania kembang kempis. Ia goyangkan tumitnya hingga perutnya yang membuncit juga ikutan bergoyang. "Kamu bisa aja. Aku bukan Nia Ramadhani, tauk."


"Lalu?" Alis Riko terangkat. Senyumnya terukir jelas.


"Jessika Iskandar."


"Jiaaah!" Riko terbahak. Terdengar renyah. Seperti rempeyek dalam stoples Tupperware. Kres! Kres! Kres!


Sementara Chandra, jangan ditanya lagi. Dari hidung, mata juga telinga sudah mengeluarkan asap yang tak kasatmata. Bersifat fatamorgana tapi nyata rasanya. Geram? Pasti. Ia hampiri istrinya yang seperti lupa akan suami.


"Siapa dia, Sayang?" tanyanya seraya merangkul pundak Litania, mesra.


"Abang kelas dulu, namanya Riko," jawab Litania sambil nyengir kuda. Ia tau suami tuanya kini tengah cemburu. Terbukti dari rasa rangkulannya yang sedikit ditekan. Ngilu, Gaes!


"Oh iya, Ko. Kenalin, ini suami aku. Namanya Chandra."

__ADS_1


"Oh iya. Saya Riko." Riko mengulurkan tangan dan dijabat langsung oleh Chandra.


"Saya Chandra, suaminya Litania." Penuh penekanan dalam kalimatnya. Membuat Riko sedikit heran dan sempat menautkan alis sekejap. Namun, senyumnya terukir lagi. Ia sentuh pundak Litania dua kali.


"Ya udah, aku pamit, ya. Tadi cuma mau mastiin kalau mata aku gak salah. Tapi jujur aku seneng liat kamu." Si Riko tersenyum. "Oiya, selamat atas pernikahan kamu. Dan semoga lahirannya nanti lancar."


Riko putar tumitnya. Ia berlalu meninggalkan Litania dan Chandra tanpa menoleh lagi.


Sementara Litania mengerjapkan mata, masih terpana akan punggung Riko hingga tanpa sadar mulutnya yang cerewet bergumam, "Aku juga seneng. Kamu Hati-hati ya. Jangan lupa makan. Dan jangan lupain aku."


Sebuah jeweran menyadarkan Litania. Ia berdengkus seraya mengusap kupingnya yang dijewer Chandra.


"Apaan sih pake jewer-jewer segala. Emangnya aku anak kecil, apa?" Bibirnya bahkan manyun. Telinganya serasa panas dan berdenyut.


"Lah iya. Itu hukuman untuk anak kecil yang lupa akan suaminya. Bisa-bisanya ngeliatin laki-laki laen sampe segitunya. Hati Abang sakit Litan."


Litania mendesah gemas. Senyumnya terukir lepas. "Elueh elueh ... cembokur ni ye," godanya seraya menggelitik dagu Chandra yang sudah ditumbuhi bulu halus. "Cup cup cup cup. Jangan ngambek dong. Entar aku beliin permen lima. Mau?"


Apa-apaan ini? Dikiranya aku kucing, apa? Chandra tak merespon. Wajahnya masih masam hingga Litania berinisiatif memeluk lengan suaminya itu seraya menggoyangnya.


"Jangan marah, donk. Kami 'kan gak ngapa-ngapain. Gak ada hubungan apa pun. Murni. Kita cuma PDKT, doang."


"Ya elah. PDKT itu bukan pendekatan. Dulu mungkin artinya pendekatan. Tapi jaman sekarang PDKT itu udah berubah artian."


"Jadi maksudnya ... kalian gak deket? Gak jadian?" cecar Chandra.


"Ya enggaklah. Wong PDKT itu singkatan dari pernah deket tapi ketikung temen."


Sontak Chandra tergelak, ia gemas dan mengacak-acak rambut Litania. Ternyata yang ada di pikiran jauh dari kenyataan. "Kasian banget sih kamu. Pasti patah hati banget, ya."


Tawa Chandra kembali berlanjut. Suara bising yang memancing kekesalan di diri Litania. Ia sikut perut suaminya hingga yang punya perut mengaduh. Tapi tetap saja masih terdengar tawanya.


"Bisa gak kita pulang, sekarang." Litania bahkan sudah bersedekap dada. Bibirnya mengerucut. Diledek seperti itu membuatnya kesal dan juga malu.


"Iya ... iya, ayo."


Namun, baru saja membuka pintu mobil, sebuah pemandangan membuat mereka kembali membulatkan mata. Tampak segerombolan orang mengejar satu orang dengan meneriakkan kata "copet" yang begitu lantang.

__ADS_1


Sialnya copet itu menuju ke arah mereka. Chandra dengan cepat menarik Litania agar menjauh. Keduanya menaiki bahu jalan. Agar bisa menjauh dari orang yang mengejar dan dikejar.


"Kok aku ditarik?" tanya Litania.


"Begini lebih baik. Jangan ikut campur."


"Lah kok. Kasian itu. Ada orang yang kecopetan."


"Terus kamu mau ngapain. Mau ngejar juga? Soal isi yang di copet nanti biar aku yang ganti. Jadi kamu sekarang diem sini. Abaikan saja mereka. Paham."


Litania memutar matanya malas. "Aku ... bersikap abai?" Tawanya terdengar. Mirip tawa Anggun C Sasmi yang ketika di tawari menjadi duta sampo lain.


"Sekali ... aja. Biarin hal ini ya. Kamu lagi hamil."


"Gak bisa. Aku gak mau bersikap seperti itu. Aku harus membela siapa pun yang membutuhkan," ucap Litania dengan kobaran semangat pahlawan dalam dadanya.


"Tapi—"


Ucapan Chandra terjeda. Litania sudah bisa melepaskan rangkulan dan berdiri di sisi jalan. Ia membungkuk, siap menanti sang copet mendekat. Sepatu kets bahkan sudah terlepas dari kakinya.


Cuih! Litania meludah ke telapak sepatunya. Senyumnya terukir sangat miring. "Pokoknya kamu harus tepat sasaran. Jangan bikin aku malu, oke."


"Copet! Copet! Copet!" teriak orang-orang yang sudah makin dekat.


Sepuluh meter.


Delapan meter.


Empat meter.


Fyuuu .... Brakh!


Sang copet ambruk setelah mendapat ciuman sepatu dari Litania.


Litania tersenyum penuh kemenangan. Si copet langsung meringkuk dan menjadi bulan-bulanan massa. Beruntung ada pak polisi di sana.


"Ya udah, ayo pulang."

__ADS_1


"Tapi sepatuku."


"Biarin aja. Di rumah kan banyak. Ayo cepetan masuk."


__ADS_2