
Sementara itu, Nara tetap mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya kacau setelah bertemu Dafan. Ia tidak bisa berpikir jernih. Jalan satu-satunya adalah melarikan diri. Klakson berkali-kali ditekan agar orang lain tak menghalangi laju kendaraan yang tengah ia kemudikan. Ia tak ingin kalah, tak ingin baper. Menghilang dari Dafan dan tidak lagi tergantung padanya adalah prioritas utama semenjak empat tahun belakangan.
Mendesah panjang, Nara kembali teringat kejadian kala Dafan membentaknya. Termasuk saat-saat Dafan tersenyum manis pada gadis lain. Miris, sakit, air matanya kembali menetes tanpa bisa dicegah.
Mengenang itu, ingin ia mengumpat kasar. Ingin ia menghajar Dafan. Namun, karena cinta yang begitu besar membuatnya justru kabur dan memutuskan pergi ke luar negeri.
Berat, masa itu begitu sulit. Ia yang terlalu muda harus patah hati dan terpaksa melarikan diri dari kenyataan. Meninggalkan Indonesia bukanlah keinginannya. Ada air mata sang ibu dan tentu saja air matanya. Akan tetapi ia ambil juga keputusan berat itu dan pindah. Beradaptasi dengan lingkungan baru seraya menata hati pun tak semuda membalikkan telapak tangan.
Anehnya, setahun setelah pindah ia mendapat kabar kalau Dafan juga dicampakkan. Ingin ia tertawa jahat, tapi sialnya tak terealisasikan, yang ada hanyalah air mata. Menyesali kenapa Dafan tak becus mengejar wanita itu. Menyesali kenapa Dafan tak bisa bahagia meski ia sudah rela Dafan sakiti.
Kini, pria biang masalah itu hadir lagi. Haruskah ia menyerah? Kembali mengejar cinta pria itu?
Nara menggelengkan kepala. Ia terkekeh ironi seraya menghapus air matanya. Sangat tak ingin melewati kesulitan yang sama untuk kedua kalinya dan karena orang yang sama pula.
Menghela napas panjang, Nara masih awas melihat jalanan meski pandangan sudah terpecah-pecah. Mata sembab itu pun tanpa sengaja melihat spion tengah mobil dan melihat kalau Dafan tengah membuntuti.
"Tenang Nara, stay cool, oke. Dia cuma masa lalu. Dan kamu selama ini udah berusaha keras buat ngelupain dia. Jadi sekarang jalan terbaik ya kamu harus abaikan dia. Dia gak pantes lagi buat kamu maafkan apalagi harapkan. Biar dia jalani hidupnya. Dan kamu juga harus bisa menahan diri. Kamu harus punya rasa malu. Jangan lagi ngejar-ngejar dia apalagi merengek cintanya," gumamnya seraya menggenggam erat setir mobil. Ia tambah lagi kecepatan.
Tibalah Nara di sebuah kompleks perumahan elit. Setelah memutuskan kembali ke Indonesia dua tahun lalu ia memutuskan tinggal sendiri. Mandiri, itulah dalihnya agar bisa keluar dari rumah utama keluarga. Namun, bukan hanya itu alasannya, ia keluar dari sana karena di rumah keluarga juga ada kenangan tentang Dafan.
"Lah, itu kenapa ada Feri?" gumam Nara lagi seraya keluar dari mobil. Ia dekati Fery yang berdiri di teras rumah tanpa memedulikan Dafan yang ada di belakang.
"Hey Fer, ngapain ke si—"
Belum juga sempat menyelesaikan kata, sebuah cekalan membuat Nara terpaksa membalik badan. Ia kaget saat melihat Dafan dengan jarak yang begitu dekat. Mendadak hatinya berulah. Berdebar makin cepat. Dafan makin terlihat lebih tampan.
"Lepasin! Sakit!"
Nara meronta setelah sukses mendamaikan hati yang sempat berulah. Dafan yang baru sadar kalau cekalan tangannya menyakiti Nara langsung melepaskan. Ia lihat Nara yang berwajah masam.
"Kenapa kabur?" tanya Dafan. "Aku cuma mau mastiin keadaan kamu."
Nara tergelak sinis. "Jangan sok peduli."
__ADS_1
"Ra, kok gitu ngomongnya?"
Nara kembali terkekeh, bahkan makin terdengar mengerikan. Ia bersedekap dada dengan mata nyalang menatap Dafan. "Kamu lupa apa pura-pura lupa?"
Dafan bungkam. Matanya bergerak lira ke sana kemari seraya mencari alasan.
"Nih liat." Nara telah membentangkan tangan. "Liat, 'kan? Aku gak apa-apa. Aku baik-baik aja. Jadi lebih baik kamu pulang."
"Kalau gitu, apa kita bisa bicara sebentar?"
Miris. Nara ingin menangis tapi yang terjadi malah tertawa makin nyaring. Ia tatap sinis Dafan. "Kita gak ada urusan lagi. Jadi lebih baik kamu pulang."
"Tapi, Ra ...."
Tanpa mau menunggu perkataan Dafan, Nara langsung memutar tumit dan menghampiri Feri. Ia gandeng tangan Fery lalu kembali membalik diri. Ternyata Dafan masih mengikuti. Ia kembali melemparkan senyum sinis. "Pulanglah, kita gak punya urusan lagi. Aku punya urusan dengan orang lain."
Fery yang berdiri dan bisa dibilang sangat dekat dengan Nara jadi gugup apalagi saat tepian gunung Kelud milik Nara menyentuh lengannya. Mendadak suhu tubuh menjadi panas dan dingin secara bersamaan.
Belum sempat melanjutkan kata untuk protes, Nara kembali memeluk erat lengan Fery hingga yang punya lengan mematung. Saking groginya ia lupa menarik napas.
"Tapi aku cuma butuh waktu sebentar, aku cuma mau bilang kalau ...."
"Ayo, Fer," sela Nara. Sungguh ia tak kuat berlama-lama berhadapan dengan Dafan. Ia takut akan melakukan hal gila. Jadi daripada harga diri yang sudah terinjak menjadi makin menyedihkan, ia putuskan menjadikan Fery sebagai tameng. Ia tarik Fery hingga masuk ke dalam rumah.
Kembali membalik diri, Nara yang masih setia mendekap lengan Fery kembali membalik badan dan tetap mendapati Dafan. Ia yang sudah berada di ambang pintu kamar kembali melayangkan tatapan menghunjam. "Kenapa masih ngikutin, sih?"
"Aku cuma mau ngomong, Ra."
Lagi-lagi Nara mengabaikan. Ia banting pintu kamar dengan keras dan tentu saja membuat Fery dan Dafan berjengket kaget.
Namun, Dafan tak patah semangat. Ia ketuk pintu kamar itu. "Ra, Nara. Kita perlu bicara. Aku cuma butuh lima menit doang," teriaknya yang terdengar frustrasi.
Fery yang berkeringat dingin mencoba meraih handle pintu tapi langsung ditepis Nara.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanyanya dengan sorot mata menghunjam.
"M-mau b-uka pi-pintu," balas Fery.
Mendengar itu mata Nara langsung melotot. Ia berkacak pinggang. "Kalau mau mati, silakan buka."
Fery langsung tertunduk. Pria berusia 22 tahun yang mengenakan kemeja kotak-kotak dan rambut tersisir rapi sebelah kiri itu menjadi gugup. Nara yang dikenalnya selama ini selalu terlihat mengerikan bila marah. Sekarang, Nara kembali di mode yang berbahaya. Ia pun kembali diam meski pintu kembali di gedor Dafan dari luar.
"Ra, kasih aku waktu buat ngomong," pinta Dafan lagi.
Akan tetapi Nara malah menyeringai. Ia lirik Fery yang tertunduk. "Kamu ngapain ke sini?" tanyanya.
"G-ak ngapa-ngapain, ta-tadi ni-niatnya c-cuma mau bi-bilang ka-kalau akan ada re-reuni. C-cuma itu," balas Fery. Keringat dingin tapak keluar besar-besar. Ia genggam tangan yang kaku dengan kuat saat Nara mengelilingi tubuhnya.
"Na-nara, ka-kamu mau nga-ngapain?" tanyanya lagi. Seketika ia merasa masuk ke dalam rumah hantu. Horor.
"Fer, kita temenan udah lama 'kan, ya?"
Fery mengangguk. Setelah Nara balik ke Indonesia mereka sering menghabiskan waktu bertiga—dirinya, Nara, dan Anya—seperti waktu masih SMA dulu. Hubungan mereka makin dekat.
"Lalu, apa kamu percaya aku?" tanya Nara lagi.
Fery mengangguk lagi.
"Kamu mau bantuin aku 'kan, ya?"
Lagi-lagi Fery menggerakkan kepala naik turun.
Nara tersenyum misterius lantas melepaskan kacamata Fery lalu mengacak-acak rambut pria itu.
"Mau nga-ngapain?" tanya Fery yang makin gugup dengan tingkah Nara. Namun lagi-lagi respon Nara hanya ulasan bibir yang ambigu. Kini tangannya yang berkutek justru melepaskan satu persatu kancing kemeja Fery.
"Bantu aku, Fer. Bantu aku biar bisa lupain Dafan."
__ADS_1