
Pesta pun berjalan dengan semestinya. Suasana yang tadinya kacau berangsur-angsur mulai membaik. Dafin dan Fia bergandengan tangan. Mereka tak henti merekahkan senyuman saat menyapa semua tamu undangan. Tak jarang pula ada yang mengucapkan selamat atas perekrutan Dafin sebagai direktur utama dan Fia sebagai pacarnya.
Sementara itu, Litania dan Chandra memilih bungkam. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk mendengar penjelasan Dafin.
Pun Dafan, pria berpakaian rapi itu duduk dengan pikiran kosong. Tatapannya selalu mengikuti pergerakan Dafin dan Fia. Gelenyar aneh menghantam dada. Ia cemburu melihat sang gadis incaran malah menjadi pasangan adiknya.
Litania yang mendapati ekspresi gelisah sang anak sulung ikutan sedih. Ia mendesah lirih ketika mengingat anaknya itu mengakui rasa sukanya untuk Fia. Namun, semua sekarang diluar kendali.
"Ngomong-ngomong kita mau ke mana Pak Dafin?" tanya Fia seraya celingukan. Ia heran saat langkah Dafin menuju pintu keluar padahal pesta masih berlangsung
Akan tetapi Dafin mengabaikan, ia malah meraih ponsel yang ada di saku celana dan mendekatkannya ke telinga.
"Om Rio, tolong cari tahu siapa dalangnya. Saya ingin Om lebih cepat dari sebelumnya, jangan sampai dia menghapus semua jejak seperti waktu itu," ujar Dafin penuh penekanan. Fia yang mengetahui perasaan kacau sang atasan hanya mengikuti tanpa berani bersuara lagi. Keduanya menuju mobil yang ada di parkiran.
"Pasang sabuk pengamanmu, Fia."
Dafin memerintah dengan nada datar. Pikiran kalut, tentang kecelakaan sang kekasih hingga sandiwara tadi membuatnya tak bisa berpikir jernih apalagi tersenyum. Ia hanya mengemudikan kendaraan tanpa berkata-kata.
Sementara Fia, ia juga sama. Bungkam. Suasana sangat hening hingga Dafin yang merasakan kepalanya akan pecah menepikan mobil.
"Kenapa berhenti, Pak," tanya Fia. Perasaan gugup menyerang saat melihat kiri kanan dan tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Gadis itu mendadak takut.
Dafin mendesah, air mukanya masih menyiratkan kecemasan. Ia tatap lekat Fia. "Fia soal tadi aku harap kamu ...."
Dafin menggantung lisan, bagaimanapun gadis itu sudah menyelamatkan diri dari situasi kacau. Akan tetapi ia harus menegaskan sesuatu pada gadis itu.
"Soal tadi ...."
"Iya Pak, saya ngerti," potong Fia, "tadi itu hanyalah sandiwara. Bapak tenang saja, saya akan mendukung setiap langkah Pak Dafin meskipun kebohongan."
Dafin menyugar rambut ke belakang. "Tapi masa depan kamu ...."
Fia tersenyum. "Gak akan ada masalah dengan masa depan saya, Pak. Saya melakukan ini sukarela. Saya ikhlas membantu Bapak. Saya yakin situasi rumit tadi membuat Bapak spontan berbohong. Dan saya, saya sebagai sekretaris hanya bisa mendukung dan mengikuti arahan."
Dafin menyandarkan punggung yang lelah. Tatapannya menatap depan dengan embusan napas panjang.
"Maafkan saya, saya akan mengembalikan situasi dan nama baik kamu ke semula saat semuanya sudah terkendali. Dan untuk sementara ini, kamu harus berakting lebih baik lagi. Kita sudah kepalang tanggung, Fia. Nanti jika sudah saatnya, kita umumkan perpisahan kita. Terserah saja alasannya. Kamu mau bilang hal jelek tentang saya juga tidak masalah. Yang pening image terkutuk itu tidak melekat ke saya. Saya tak masalah kalau di anggap playboy. Tapi kalau membelok ...." Dafin memukul setir. Ia berdengkus. "Saya akan pastikan cunguk itu membayar dengan mahal untuk penghinaan ini."
Fia mengangguk patuh.
Dafin pun kembali menghidupkan mesin mobil. Ia membelah jalanan menuju rumah sakit tempat Sisi dirawat.
Tibalah di rumah sakit.
Langkah Dafin begitu lebar menyusuri koridor. Pikirannya kalut karena takut kehilangan. Ia terus saja berjalan dan tak mengingat ada Fia yang hampir berlari mengikuti jejak kakinya.
"Sisi, bertahanlah. Aku akan ke sana," gumam Dafin dalam langkah menuju ruang ICU.
Tibalah di tempat yang dituju. Dafin berjalan gontai menuju ranjang tempat Sisi terbaring. Kondisi gadis terkasihnya sangat memprihatinkan. Ada begitu banyak selang dan jarum yang menancap di tubuh mulus gadis itu. Bahkan selang oksigen bertengger menutupi hidungnya yang mancung. Bunyi monitor pun menengahi keheningan.
Dafin mendekat, air mata sudah tergenang di pelupuk. Sakit rasanya saat melihat wanita yang sudah tiga tahun menghiasi hari tengah tak sadarkan diri. Gadis itu terpejam, ia seperti tertidur damai dengan wajah yang penuh luka dan lebam.
"Ya Tuhan, Sisi ...."
Dafin terduduk di kursi samping ranjang, ia genggam kuat tangan Sisi lalu mengusapnya. "Kamu harus bertahan, Sayang. Katanya kamu ingin kita berlibur keliling Eropa. Kamu harus kuat. Kamu harus cepat sadar. Dan kalau kamu sadar, aku akan siapin waktu yang banyak untuk kita. Aku akan lakuin apa pun yang kamu mau. Kamu pernah bilang kalau ingin ke bioskop, 'kan?"
__ADS_1
Dafin tertunduk. Sebutir air mengalir di pipi. Menyesal karena keinginan Sisi yang sederhana itu saja tak bisa ia berikan. Lekas ia menyekanya lalu kembali melihat Sisi. Diciumnya tangan gadis itu berkali-kali.
Seketika rasa sesal yang menyelimuti pikiran Dafin makin menebal. Selama tiga tahun berpacaran tak pernah sekalipun ia membawa gadis itu berkencan layaknya pasangan biasa. Mereka menghabiskan waktu hanya dengan makan malam di restoran langganan, hanya itu. Itu semua bukan tanpa alasan. Semua karena kasus foto masa lalu hingga membuatnya harus selalu berhati-hati. Pacaran dalam diam adalah keputusannya dan Sisi menyanggupi.
"Nona Sisi mengalami luka yang sangat serius di bagian kepala. Dia sekarang berada di masa vegetatif. Kita hanya bisa berdoa untuk kesadarannya."
Ucapan seorang dokter mengudara lagi ke kepala Dafin. Hatinya kembali perih. Pria itu tertunduk dengan bahu sedikit berguncang.
Fia yang menyaksikan dari balik pintu hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia yakin sang bos sangat terpukul dan jalan terbaik adalah membiarkannya bersama Sisi.
Tanpa Fia duga seorang wanita cantik datang mendekat. Gadis itu terbengong karena si wanita berdiri tepat di depannya.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Fia berhati-hati.
"Saya Erlina, temennya Sisi. Boleh saya masuk?"
Tanpa menunggu jawaban Fia, gadis yang bernama Erlina itu mengetuk pintu tiga kali dan membuat Dafin yang sedang tertunduk sedih bergegas membenarkan posisi, ia berdiri.
Sama seperti halnya Fia, Dafin sempat terdiam sejenak. "Maaf, si—"
Belum sempat Dafin bertanya, seorang anak kecil mengguncang tangan Sisi. Gadis itu terisak dan memamggil Sisi dengan kata "Mama".
"M-ma-ma?" ulang Dafin dan Fia bersamaan. Mereka saling pandang. Keheranan tentunya.
Akan tetapi berbeda hal dengan Erlina. Wanita cantik itu gelagapan lalu memeluk sang gadis kecil yang tengah menangis. "Maaf, anak saya memang suka manggil Sisi dengan sebutan mama," jelasnya. Wajah wanita itu tampak panik.
Dafin dan Fia pun kembali adu pandang sebelum akhirnya Erlina bertanya, "Maaf, kalau boleh tau kalian siapa?"
Fia tersenyum, ia mengulurkan tangan. "Saya Fia, kami ini ...."
Si kecil kembali menangis, Dafin dan Fia yang tak nyaman undur diri.
"Kenapa gak ngaku aja, Pak?" tanya Fia dari belakang saat dirinya mengikuti Dafin.
"Jangan sekarang. Kita baru saja mengumumkan bahwa kita pacaran. Gimana ceritanya saya bisa punya dua pacar?" jelas Dafin tanpa menghentikan langkah. "Lagian selama ini memang gak ada yang tau kami pacaran kecuali orang tua saya, Nasya dan orang tua Sisi yang tinggal di Bandung."
Fia yang mengikuti Dafin, manggut-manggut. "Tapi ngomong-ngomong kita mau ke mana? Ini bukan arah pulang?" tanya Fia lagi. Ia sedikit keheranan melihat sang bos masih saja berjalan seraya melihat tanda arah hingga tibalah mereka di sebuah lorong sepi dan hanya ada ruang yang bertuliskan "Kamar Mayat".
Seketika Fia baru paham kalau Dafin ingin melihat almarhum dan almarhumah orang tua Sisi. Akan tetapi diluar ekspektasi, Dafin malah berhenti. Pria itu mensejajarkan diri dengan pintu dan sesekali mengintip orang yang sedang menangis dan berduka di dalam sana.
"Kenapa gak masuk, Pak?"
"Stt!"
Dafin menginstruksikan dengan jari menempel di bibir. Fia sontak terdiam dan ikutan bersandar tenang di pintu ruangan. Terdengar suara isak tangis lebih dari satu orang.
Dafin mengintip lagi dan melihat ada empat orang di sana. Dua laki-laki paruh baya dan dua perempuan yang berusia kira-kira tiga puluhan. Satu perempuan mengguncang jasad ibu Sisi dan satunya memeluk tubuh ayah Sisi. Ia tebak itu adalah kedua kakak Sisi beserta suami mereka.
"Sudahlah Lia, ikhlaskan orang tua kamu. Gak baik menangis hebat seperti itu," papar pria yang berdiri di dekat Lia.
"Bagaimana aku bisa tenang, Mas Deni? Orang tuaku meninggal. Mereka meninggal karena Sisi. Gadis murahan gak tau malu itu udah bikin orang tuaku meninggal," balas Lia, ia terus saya meraung hingga Deni memeluknya dari belakang.
"Iya, ini karena Sisi. Andai dia gak maksa orang tua kita ke sini. Ini gak bakalan kejadian. Dia bilang kejutan ... kejutan apa yang mengerikan seperti ini? Dia benar-benar biang masalah. Dari dulu pembawa sial. Dia ...." Suara isakan kembali menggema, wanita yang memeluk jasad ayah Sisi kembali meraung histeris. Ia bahkan terduduk dan pria yang ada di sebelahnya mulai memeluk.
"Sudahlah Mira, jangan begini. Gak baik mengungkit keburukan adik kalian di depan orang tua kalian yang sudah meninggal."
__ADS_1
"Cih! Adik? Kami gak punya adik, Mas. Dia hanya anak adopsi pembawa sial. Semenjak sekolah tingkahnya gak berubah, selalu bikin masalah. Dia ... dia memang perempuan jahanam. Dia membawa petaka di keluarga kami," papar Mira dengan suara yang masih menyatu dengan tangisan.
Dafin yang mendengar itu semua, terdiam. Ia mematung. Benar-benar tak mengerti arah pembicaraan empat orang di sana. Ia bahkan tak tahu kalau Sisi punya hubungan yang buruk dengan saudaranya, terlebih lagi kenyataan kalau Sisi anak adopsi.
Mendadak Dafin curiga. Sedih, pasti. Hanya saja kebohongan Sisi membuatnya bertanya-tanya, apa motif gadis itu? Apa niatnya? Padahal dari awal ia sangat mengerti jika Sisi mengatakan semuanya dengan jujur. Dan orang tua Sisi juga tidak pernah membahas soal adopsi.
Sebenarnya ada apa ini? Sisi, apa yang kamu sembunyikan? Dafin membatin. Mendadak kepala berdenyut. Ia menjauh dari ruangan dan tentu saja di ikuti Fia tanpa menimbulkan suara. Ia tahu mereka tengah menguping, dan tentu saja hal itu tak pernah di benarkan oleh siapa pun.
"Pak, kita—"
Lisan Fia terjeda karena Dafin membalik diri. Raut wajah pria itu tampak kusut, keningnya berlipat dan ada sedikit kantung mata.
"Bisa kamu diam dulu, saya butuh waktu untuk berfikir," ujar Dafin.
Fia mengangguk sekali. Ia hanya mengikuti Dafin dari belakang. Pria itu kembali merogoh saku celana.
"Om, bisa tolong saya cari informasi tentang seorang perempuan. Namanya Sisi Maharani, mahasiswi akhir, dia berkuliah di akademi kebidana di Jakarta Selatan. Tolong cari infonya, dan tolong rahasiakan dari siapa pun."
Di perjalanan pulang, Dafin terus saja berpikir keras. Benar-benar tak menyangka bahwa kekasihnya mempunyai rahasia besar seperti itu. Padahal ia sangat terbuka pada gadis itu. Demi Sisi ia melupakan dunia malam dan fokus ke perusahaannya. Baginya sisi adalah bidadari, berbeda dari gadis kebanyakan yang pernah ia pacari, tapi ternyata gadis itu menyimpan banyak rahasia dibalik sikap pengertian dan kebaikannya selama ini.
Mengembuskan napas panjang, Dafin pun melihat Fia yang ada di sebelahnya, gadis itu tertidur nyenyak. "Kasihan kamu, hari ini benar-benar hari yang panjang, ya?"
Dafin tersenyum kecut mengingat hari ini begitu banyak hal yang sudah mereka lewati, ia lelah, Fia juga sama.
Tak berapa lama kemudian dering telepon Fia membuyarkan keheningan. Gadis itu menggeliat sebentar lalu mengerjap hingga akhirnya membenarkan posisi.
Ia lihat sang bos yang masih menyetir. "Maaf, Pak. Saya ketiduran," ujarnya dengan suara serak. Matanya masih saja mengerjap.
Dafin merespon dengan berdeham. "Angkat telepon kamu," ujar Dafin.
Lekas Fia merogoh tas kecil yang ada di pangkuan dan ekspresi terkejut tercetak jelas di wajah. Ia pandang Dafin sekilas lalu kembali menatap layar ponsel.
"Siapa?" Dafin menoleh, "apa orang tuamu?" lanjutnya.
Fia menggeleng pelan. "Kevin," balasnya kemudian.
"Jawab saja. Katakan kalau kita sudah bertunangan. Jangan sampai kebohongan kita terendus media," jelas Dafin dengan nada datar. "Walaupun dia teman baik kamu, saya ingin kamu rahasiakan perihal kita."
Fia pun mengangkat telepon. Dafin hanya melirik sesekali wajah gadis itu. Pasti berat berbohong pada orang yang di suka. Terlebih lagi di posisinya sekarang, menyukai Kevin tapi harus berpura-pura bertunangan dengan pria lain.
"Apa katanya?" tanya Dafin saat Fia sudah selesai menelepon, lebih tepatnya memutus secara sepihak. Terbukti telepon gadis itu kembali berdering dan Fia mengabaikan.
"Apa dia marah?" tanya Dafin lagi.
"Iya, dia marah. Dia gak setuju dan katanya akan ke Jakarta lusa," balas Fia. Ia pijit pelipisnya.
"Biarkan saja. Ini cuma awal. Saya yakin berita kita yang sudah bertunangan sudah tersebar ke seluruh negeri. Dan kamu juga pasti akan menghadapi kesulitan besok. Mulai dari wartawan sampai pandangan karyawan. Saya harap kamu kuat. Saat semuanya selesai, saya akan berikan imbalan setimpal," papar Dafin.
Mendengar itu entah kenapa ada sengatan dalam hati Fia, ia mendadak sedikit sedih. Ia tak berpikir imbalan saat mulai memutuskan berbohong. Namun, juga tak tahu pasti apa alasannya hingga bisa dan nekat berbohong seperti itu.
"Jadi, besok apa yang harus saya lakukan?" tanya Fia.
"Bertingkah seperti biasa. Kalau ada yang kepo, bilang saja hubungan asmara kita bukan untuk konsumsi publik. Dan jika ada yang nyinyir, tutup kuping lalu beri tau saya. Saya akan memberikan mereka hukuman," papar Dafin, pria itu masih menatap jalanan.
Fia lagi-lagi mengangguk. Mata ia alihkan ke luar jendela seraya berpikir keras. Apa yang membuatnya rela masuk ke dalam sandiwara? Apakah karena murni ingin membantu ataukan ada yang lain?
__ADS_1
Cepat-cepat gadis itu menggeleng. ini murni demi pekerjaan, batinnya menolak.