Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Bukan pelakor


__ADS_3

"Apa karena dia?" Jari telunjuk sisi terarah ke Fia. "Apa karena Mbak Fia?" ulang Sisi lagi.


Dafin mengangguk, berdiri lalu kembali menghapus air mata Sisi. Tanpa aba-aba ia peluk tubuh kurus gadis itu.


"Maaf," ulang Dafin pelan.


Memeluk makin erat, Dafin membiarkan Sisi menangis dalam dekapan. Ia belai rambut terkucir Sisi dengan penuh perasaan. Helaan napas menjadi bukti betapa ia menyesal dengan hubungan yang kandas.


"Maafkan aku, maaf ... aku yang nggak bisa setia sama kamu. Aku udah berusaha semaksimal mungkin, tapi sia-sia. Aku nggak yakin hubungan yang dilandasi dengan paksaan dan rasa kasihan akan awet. Aku juga nggak yakin kamu bisa bahagia jika kita tetap maksain untuk tetap sama-sama. Tolong maafin aku, berbahagialah dengan orang lain."


Tangisan Sisi makin terdengar pilu. Begitu menyayat hati hingga membuat Dafin lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang.


Sementara Fia, ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Air matanya menetes makin banyak.


Membalas pelukan Dafin, Sisi mencoba menenangkan diri, ia berusaha keras agar tangisnya tak pecah di halaman rumah. Ia tenggelamkan wajahnya yang basah di dada Dafin.


"Maafin aku juga. Maaf, aku yakin kamu kehilangan rasa karena aku. Maaf aku sudah menjadi pembohong. Maaf, akulah yang membuat kamu kehilangan rasa. Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan," ucap Sisi dengan suara bergetar. Ia melepaskan pelukan lalu mengelap air matanya sendiri. "Berbahagialah Dafin. Aku ikhlas, pergilah. Terima kasih kamu udah jagain aku selama ini. Kamu udah bersikap baik sama yatim piatu kek aku. Kamu udah begitu baik menjaga gadis pembawa sial sepertiku. Kamu su—"


Lisan Sisi terjeda karena Dafin menutup mulutnya dengan jari telunjuk. Pria itu lalu menggeleng dengan tatapan mata yang begitu teduh. Ia dapat dengan jelas melihat air mata Fia yang meluncur begitu deras.


Menyapu air itu, Dafin menggelengkan kepalanya. "Enggak ada yang namanya gadis pembawa sial. Yang ada hanyalah ketidakberuntungan. Aku yakin keberuntungan kamu menunggu untuk kamu jemput. Jadi semangatlah, berjuanglah cari kebahagiaan. Aku akan selalu jadi teman kamu. Aku akan selalu men-support kamu. Aku akan terus bantuin kamu kalau kamu merasa kesulitan. Maaf. Hanya itu yang bisa aku lakuin mulai sekarang dan untuk kedepannya."


Sisi mengangguk, lantas mengelap air matanya. Ia hampiri Fia dan menggenggam tangan gadis yang masih mengenakan pakaian tidur.


"Berbahagialah, Mbak. Aku mendukung kalian," ujar Sisi. Ia berusaha berlapang dada. Benar kata Dafin, sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik. Ia sebenarnya menyadari bahwa Dafin sudah berubah sejak lama. Hanya saja belum siap untuk melepaskan. Berpura-pura baik-baik saja pun membuatnya lelah. Menyerah, hanya itu solusinya.


Kembali mendekati Dafin, Sisi pun melepas cincin berlian yang tersemat di jarinya.


"Terima kasih, terima kasih untuk segalanya Dafin," ucap Sisi lagi seraya menaruh cincin di telapak tangan Dafin. Dengan berat hati ia mengukir senyuman, dengan berat hati pula ia akan menerima kenyataan kalau cinta Dafin sudah hilang untuknya. Ia akan mencoba berlapang dada menerima kenyataan kalau dirinya kalah dalam mempertahankan hubungan.


"Sekarang pergilah. Aku harap kalian baik-baik saja. Aku harap kalian langgeng. Aku harap kalian bahagia Aku harap kalian ...."


Sisi tak sempat menyelesaikan kata, ia langsung berlari masuk rumah lalu menutup pintu meninggalkan Dafin dan Fia yang masih termenung di halaman.


Fia melangkahkan kaki mendekat ke arah Dafin. "Pak Dafin, saya nggak yakin ini jalan terbaik. Mbak Sisi pasti sakit hati. Dan itu karena saya," kata Fia, ia hendak menuju pintu tapi langkah kaki tertahan karena Dafin mencekal lengannya dari belakang.


"Lalu kamu mau apa? Kamu mau maksain hubungan yang udah gak sehat ini?" tanya Dafin, penuh penegasan dj sorot mata dan nada bicara.


"T-tapi Pak ...."


Mata mereka kembali berbagi pandangan.

__ADS_1


"Mungkin ini kejam, tapi ini yang terbaik. Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu nggak mau jadi pelakor?" Dafin terlihat serius mengatakan itu.


"Tapi bukan begini juga Pak," balas Fia yang masih tak enak hati pada Sisi.


"Ini harus terjadi. Cepat atau lambat inilah yang akan dia dengar. Sakit memang, tapi aku yakin dia kuat. Dia Sisi, kami mengenal sudah lama. dia hanya butuh waktu. Lagipula aku nggak bisa berbohong lebih lama. Aku nggak bisa menyiksa diri sendiri yang juga nanti pasti bakal menyiksa dia juga. Kita hanya bisa jujur, jujur dengan perasaan masing-masing. Dan aku harap kamu juga bisa jujur dengan perasaan kamu sendiri," jelas Dafin yang masih saja menatap lekat mata Fia.


Fia menarik tangannya, mendadak ia merasa malu.


"Sekarang ayo." Dafin kembali menarik tangan Fia. Mereka kembali melangkah. Fia mau tak mau tetap mengikuti Dafin. Ia kembali duduk di samping kemudi.


Sementara Dafin, pria muda yang memiliki bibir tipis itu tersenyum lega. Akhirnya beban yang ada di dada terlepas dengan sendirinya. Bertahan dalam kepura-puraan merupakan perjuangan yang sangat berat. Hari ini terlepas sudah beban itu. Kini hanya satu misi seorang Dafin. Ia ingin mendengar jawaban Fia. Yes or no. Kalau no. Ia akan berusaha mengubahnya menjadi yes meski harus jungkir balik meyakinkan gadis itu.


Mobil kembali melaju. Selama perjalanan Fia hanya diam saja. Pikiran aneh mendadak menyapa, sebuah pemikiran yang membuatnya entah kenapa merasa lega alih-alih sedih. Ia merasa bahagia saat ada Sisi yang menangis.


Menggeleng kuat-kuat, Fia kembali merutuki dirinya dalam diam. Mendadak merasa menjadi perempuan jahat, merasa menjadi pelakor sesungguhnya. Namun demikian, Fia tetap tidak bisa mengusir perasaan aneh yang makin membesar jika di pikirkan.


Gila, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku tersenyum diatas penderitaan nona Sisi? Dalam hati Fia bersorak-sorai, ia kembali meremas jari tangan yang kaku lalu menatap Dafin yang fokus melihat jalanan. "Pak Dafin, kita mau ke mana? Bisa kita pulang sekarang?"


"Sudah aku katakan, kita berkencan. Jadi jangan banyak nanya," balas Dafin tanpa menoleh. Ia serius melihat jalanan yang lumayan macet karena memang sudah jam sibuk di ibu kota.


"T-tapi Pak Dafin."


"Nanya sekali lagi aku cium kamu, mau?"


"Sudah saya bilang. Kamu nggak mandi pun tetap terlihat cantik."


"Pak Dafin!" teriak Fia. Wajahnya kembali memerah, Dafin yang gemas melayangkan cubitan di pipi gadis itu.


"Kamu diam dulu. Aku akan ngasih apa pun yang kamu mau. Jadi sekarang kamu tenang. Oke?"


Fia lagi-lagi cuma bisa menurut, pasrah. Dafin benar-benar keras kepala.


Tibalah mereka di sebuah gedung pencakar langit. Gedung yang Fia tahu dan hafal betul ada satu unit apartemen milik keluarga Dafin di sana. Gadis itu kembali menyipitkan mata. Pikiran buruk langsung menggerayangi benaknya.


"Bapak mau ngapain ngajak saya ke sini?" Mata Fia kembali menyipit. "Bapak jangan macam-macam ya," lanjutnya dengan nada tetap terdengar garang.


Alih-alih takut, Dafin justru terbahak. Ia kembali mencubit pipi Fia lalu keluar dari mobil. "Keluarlah, percaya sama aku. Aku enggak bakalan ngapa-ngapain kamu."


''Nah, terus kenapa Bapak ngajakin ke sini?"


Mata Fia makin menyipit. Dafin laki-laki dan dirinya perempuan. Orang ketiga pastilah setan. Ia tak ingin ada setan di antara mereka.

__ADS_1


"Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu mau mandi? Mandilah di apartemen. Aku akan nunggu di sini." Dafin lalu membuka bagasi mobi dan mengambil bag paper lantas menyerahkannya kepada Fia.


"Cepatlah berkemas. Aku tunggu dua puluh menit. Lebih dari itu aku akan masuk dan bantuin kamu ganti baju," goda Dafin, matanya mengedip. Fia yang risih langsung menyambar tiga tas kertas itu dan berlari masuk ke dalam sana.


Tak memerlukan waktu lama, Fia yang memang sudah hapal password apartemen itu bisa dengan mudah masuk. Walaupun itu bukanlah kediamannya, tapi ia begitu sering keluar masuk di Apartemen. Tempat itu merupakan basecamp khusus jika dirinya dan Dafin memerlukan tempat untuk menyelesaikan pekerjaan yang bersifat rahasia.


Menelan ludah, Fia menatap horor bag paper yang ada di tangan. Bag paper satu berisi alat mandi dan make up dan bag paper satunya berisi heels berwarna hitam bergliter. Dan yang ketiga sukses membuat mata Fia melotot lebar.


Bagaimana tidak, selain ada gaun cantik berwarna emas, di sana juga terdapat underwear berwarna senada. Fia bergidik lantas meremas pakaian dalam itu.


"Dasar omes, mesum. Banyak pasirnya, ngeres," umpatnya kesal.


Sembilan belas menit tiga puluh tujuh detik, Fia yang sudah siap dengan gaun panjang membalut tubuh tampak tergesa-gesa. Ia sangat yakin sang bos akan benar-benar menepati janji—kalau akan datang menjemput jika telat turun.


Benar adanya. Fia terkejut saat membuka pintu. Tampak Dafin tersenyum semringah mantapnya. Pria itu benar-benar pangling. Gaun yang ia pesan begitu pas membalut tubuh Fia. Lekukannya begitu tampak menggoda. Dafin menelan ludah. Ia celingukan melihat kiri kanan lalu melepaskan jaket.


Fia terbengong sesaat setelah melihat jaket Dafin beralih ke pundaknya. "Lah, Pak. Saya gak kedinginan," ujar Fia.


"Saya tau. Cuma saya gak suka baju kamu."


"Loh?"


"Ya sudah. Pake aja kenapa sih. Jangan kebanyakan protes."


"Lah, yang protes siapa yang marah-marah siapa? Aneh ni orang," gerutu Fia. Dafin yang ada dua langkah di depannya langsung berhenti. Pria itu menatap lekat.


"Kamu bilang apa barusan?''


Fia berdengkus. "Bapak sepertinya perlu asupan vitamin. Biar bisa fokus dengan ucapan saya. Kan sudah sa—"


Lisan Fia terhenti, tapi tidak dengan jantungnya yang berdetak menggila. Dafin dengan lancang mendorong tubuhnya hingga membentur dinding, lantas menyerang dan menyatukan bibir mereka.


Fia yang kaget langsung mendorong. "Bapak ngapain nyium sa—"


Lagi-lagi bibir Dafin mendarat. Fia ingin melayangkan pukulan tapi kedua tangannya tertahan. Dafin melumatt makin dalam. Menikmati sari madu yang ada di bibir gadis itu. Setelah itu menatap lekat wajah Fia yang panik. Deru napas gadis itu tak beraturan.


Dafin tersenyum, lalu menyapu sisa-sisa ciumannya barusan dengan ibu jari. "Mulai sekarang jangan panggil saya bapak. Panggil Dafin saja. Dan saat kita bicara, kamu jangan sekali-kali menyebut diri kamu dengan kata saya, gunakan kata aku. Ngerti. Kita pacaran sekarang. Jadi gak perlu pake bahasa formal."


"Lah, Bapak jangan egois." Fia meronta tapi tetap saja kalah tenaga. Matanya menatap nanar Dafin yang tersenyum genit. Cepat-cepat ia menutup bibirnya rapat-rapat.


"Protes sekali lagi, aku pastiin kita gak jadi ngedate tapi langsung ngamar. Gimana? Mau?"

__ADS_1


Cepat-cepat Fia menggeleng lalu mendorong dada Dafin. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Dafin yang tersenyum penuh kepuasan.


"Dasar Playboy cap badak bercula satu."


__ADS_2