Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Sosor.


__ADS_3

Tibalah di tempat tujuan. Sisi yang sepanjang perjalanan diam saja kini hanya bisa mengerjap. Dalam tatapan kosong itu ia sebenarnya keheranan. Ternyata Miko membawa dirinya ke rumah Miko sendiri. Rumah minimalis dua lantai dengan taman mini dan kolam ikan di halaman. Rumah yang sering ia kunjungi selama ini.


Miko yang melihat Sisi mematung bak orang linglung pun melepaskan helm di kepala lantas mendekatinya. "Tenang saja, aku gak bakalan macam-macam, aku mau ngasih lihat kamu sesuatu. Jadi cepat lepas helm kamu dan ikut aku ke dalam."


Lagi, gaya bicara Miko membuat Sisi terbeku. Meski bingung apa yang dimaksud, Sisi pun menuruti. Ia ikuti langkah kaki Mico hingga tibalah mereka di sebuah pintu bercat warna pink, pintu kamar Cinta.


Pelan tapi pasti Miko ketuk pintu itu. Tak berapa lama keluarlah seorang wanita paruh baya dengan mata sedikit sembab. Ia menunduk dan menunjukkan hormat pada Miko lantas berlalu pergi tanpa berkata sepatah kata pun.


"Masuklah," pinta Miko lagi, terdengar dingin. Pria itu kembali ke mode awal—kaku.


Sisi hanya bisa mengikuti. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika masuk ke kamar itu. Matanya membulat sempurna saat melihat Cinta tengah terbaring lesu dengan selang infus di tangan.


Sisi yang panik langsung menghamburkan diri di sisi ranjang. Ia genggam tangan gadis kecil itu. Air matanya berguguran tanpa bisa dicegah. Sungguh, melihat cinta terbaring tak berdaya begitu membuatnya kembali teringat dengan anaknya. Ia mengasihi Cinta, menganggap dan memperlakukan gadis sepuluh tahun itu seperti anaknya yang sudah tiada.


"Sudah 2 hari Cinta terbaring di sini. Dia lemah karena nggak mau makan sama sekali. Semenjak kita putus dan semenjak kamu nggak datang ke sini lagi dia mogok makan. Dia selalu nanyain kamu dia ngotot mau ketemu kamu," papar Miko.


"Lalu, kenapa kamu nggak bilang?" balas Sisi. Ia putar kepalanya dan menatap Miko kesal, lantas kembali melihat Cinta. Hatinya nyeri. Belum dua minggu tidak bertemu Cinta, gadis itu sudah seperti banyak kehilangan berat badan.


"Bukan aku yang gak mau bilang, tapi kamu yang selalu menghindar," sahut Miko.


Sisi tersentak, memorinya mengingat ke beberapa hari belakangan. Miko terus saja berada di dekatnya. Namun, ia dengan kekanakan mengabaikan Miko. Selalu menganggap Miko tidak pernah ada bak makhluk tak kasatmata. Berkedip saja Sisi enggan kala melihatnya.


Menarik napas yang berat, Sisi sekarang baru menyadari kalau sifat kekanakan itu membuat anak kecil semanis Cinta menjadi lemah tak berdaya. Menjadi korban keegoisannya. Ia ingat pada Cinta saat meminta putus, tapi rasa benci pada Miko menutup kasih sayang yang sudah lama terjalin di antara mereka.


Sisi kecup tangan gadis itu dan membuat yang punya tangan membuka mata. Lekas Sisi menghapus air yang meluber banyak di pipi.


"Maaf, Sayang. Kamu jadi kebangun," ucap Sisi pelan. Ia rapikan anak rambut Cinta yang berantakan.


Cinta menggeleng lemah. Dalam tatapan yang sayu itu ia tersenyum, lalu membalas genggaman tangan Sisi. "Tante kenapa baru datang? Cinta kangen. Tapi Papa selalu ngelarang Cinta buat ketemu Tante."


Bak keran bocor, air mata Sisi makin meluruh banyak. Ia mengangguk dan kembali menggenggam erat tangan cinta lalu mengecupnya.


"Maafin Tante ya, Sayang. Tante salah, Tante gak akan ngilang lagi. Kemarin Tante terlalu sibuk."


Cinta menggangguk lesu. Senyumnya kembali terbit meski terlihat jelas tengah tak punya banyak tenaga.


"Kamu udah minum obat? Udah makan?" tanya Sisi lagi


Cinta menggeleng. "Aku mau makan kalau Tante yang suapin."


Mendengar itu hati Sisi serasa diiris sembilu. Ia hapus air matanya, mengangguk patuh, lantas meninggalkan Cinta dan pergi ke dapur. Ia menyiapkan makan malam yang sebenarnya kemalaman mengingat jam sudah menunjukkan hampir pukul jam sebelas malam.

__ADS_1


Tak berapa lama Sisi pun tiba dengan semangkuk bubur yang sebenarnya sudah pengasuh Cinta buat beberapa jam sebelum mereka datang.


Tanpa banyak drama, Cinta menghabiskan suap demi suap yang Sisi sodorkan.


Sementara Miko, tetap berdiri mematung melihat kedekatan Cinta dan Sisi. Keduanya tampak berperilaku bak ibu dan anak padahal tidak ada aliran darah setetes pun di antara mereka.


Melihat itu Miko jadi sadar kalau keegoisannya ternyata sudah menyakiti dua wanita yang paling berharga dalam hidup. Perlahan ia memundurkan langkah dan meninggalkan mereka.


Entah karena efek obat atau karena kekenyangan, Cinta pun tertidur damai. Sisi yang sudah melihat kondisi Cinta membaik pun memutuskan untuk beranjak dari ranjang dan pulang.


Namun, baru saja membuka pintu, dirinya dikagetkan dengan kehadiran Miko. Pria itu duduk di sofa berwarna hitam yang bersisian dengan pintu kamar Cinta.



"Duduklah sebentar, kita harus bicara," ucap Miko datar dengan suara rendah.


Sisi bergeming, lebih tepatnya bingung harus merespon apa, satu sisi benci panda Miko tapi sisi lainnya ingin mendengarkan apa yang ingin Miko katakan.


Bergerak malas, Sisi pun merebahkan diri duduk di sofa itu. "Cepatlah katakan, aku mau pulang," ketusnya.


Miko menutup matanya sebentar lalu menatap Sisi lekat-lekat. "Aku minta maaf."


"Untuk apa?" ketus Sisi lagi.


Gelagapan karena salah tingkah. Sisi remas jemari tangan. Ia tahu Miko, Miko adalah sosok laki-laki kaku yang sepertinya pantang mengatakan kata gombalan. Akan tetapi berbeda kali ini. Kata itu bagai serbuk gula yang menyirami hati Sisi yang tengah galau. Sungguh, ia terlena akan kata-kata yang tak memiliki unsur estetika itu.


Diamnya Sisi membuat Miko makin resah. Ia takut Sisi akan kembali marah dan meninggalkannya. Jadi, sebelum itu terjadi, ia berinisiatif menggenggam lebih dulu tangan Sisi. Aneh, tangan mukus dan lembut itu terasa dingin.


Meski bingung Miko tetap menatap gelagat aneh Sisi. "Maaf, aku tau sikapku terlalu berlebihan. Dan aku akan berubah. Kasih aku waktu. Aku sayang sama kamu. Hanya kamu yang ngerti aku dan peduli sama Cinta."


Sisi bergeming. Ia bingung mau merespon bagaimana. Haruskah mengangguk setuju seperti perempuan yang tidak punya harga diri? Ataukan tetap pergi meninggalkan Miko? Namun, entah kenapa gejolak dalam dada membuatnya enggan melakukan opsi kedua.


"Aku tau, aku salah. Asal kamu tau, aku terbiasa begitu karena ingin melindungi diri. Aku takut terlalu nyaman dan bergantung sama kamu. Aku takut ditinggalkan lagi."


Seketika itu darah Sisi berdesir. Ia tarik tangannya dari genggaman Miko. "Keputusan itu terlalu kekanak-kanakan untuk kamu ambil Mik. Kamu sudah dewasa. Apa harus berpikir begitu?"


Miko diam.


"Bukankah kamu tau masa laluku lebih ekstrim dari kamu? Tapi aku tetep berjalan maju. Aku juga pernah terpukul bahkan hampir gila karena masa lalu, tapi apa aku nyerah? Enggak, Mik. Begitu banyak orang yang ingin aku melanjutkan hidup. Ada begitu banyak orang yang peduli sama aku. Aku rasa masa lalu gak pantes dijadikan alasan," terang Sisi.


Sisi yang kesal beranjak dari sofa. Namun, sebuah cekalan di tangan membuatnya harus membalik badan. Ternyata Miko, tanpa diduga si pria dinding itu meletakkan tangannya di kepala. Sisi tentu bingung dan segera menariknya, tapi pegangan tangan Miko begitu kuat dan tak memperbolehkanya lepas.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan, Miko. Lepasin gak!" hardik Sisi.


Miko menggeleng dan tetap mempertahankan posisi aneh mereka—Sisi berdiri dan ia tetep duduk di sofa dengan tangan Sisi ada di kepalanya.


"Tolong kasih kesempatan. Aku akan berubah, mungkin tidak bisa dalam hitungan hari, tapi aku bakalan usaha, tolong kasih aku waktu. Bertahun-tahun aku melindungi diri dengan bersikap dingin. Tapi, demi kamu ... demi Cinta dan demi masa depan kita, aku akan berubah jadi lebih baik."


Masa depan kita?


Oh God. Pipi Sisi bersemu. Meski tak secara keseluruhan, ia bisa melihat sosok Dafin di diri Miko. Bukan gagal move on. Tapi, pria yang penyayang adalah hal utama yang wanita inginkan.


"Aku bukan orang yang romantis, aku sadar itu dan aku tau itulah alasan ibunya Cinta pergi dan gak mau balik lagi. Aku yakin dia sudah bahagia dengan hidupnya dan aku gak akan ambil peduli tentang dia. Dia masa laluku. Tapi yang yang jelas, aku gak mau kesalahan masa lalu membuatku kembali ditinggalkan."


Perkataan Miko terjeda. Sisi dapat melihat ada keseriusan serta kejujuran dalam manik mata Miko yang terfokus padanya.


"Maaf, kasih aku waktu sedikit lagi. Tolong percaya aku sekali lagi."


Lagi, tanpa Sisi duga, Miko kembali melakukan sesuatu yang membuatnya tercengang. Pria itu telah mengeluarkan kotak perhiasan segi empat dalam saku jas dan langsung menyematkan cincin emas. Hati sisi mendadak berbunga. Meski perhiasan itu tak semewah cincin yang pernah Dafin beri, tapi Sisi dapat merasakan ketulusan yang tak kalah besar dalam perhiasan itu.


"Sisi Maharani. Jadilah istriku. Jadilah ibu sambung Cinta. Aku sangat berharap harap kamu mau menerima duda tidak becus ini jadi suami."


Sontak Sisi mengangguk. Ia bahagia, benar-benar merasa diperlakukan sebagaimana mestinya. Air matanya menganak sungai. Ia peluk erat Miko saat pria itu sudah berdiri tegak.


"Aku mau, Mik. Aku mau jadi istri kamu," balasnya dengan rasa haru.


Miko melepaskan pelukan. Ia usap air mata Sisi lantas dengan perlahan mendekatkan wajah.


Tiga senti ... tabuhan dalam dada keduanya membuncah hebat.


Dua senti ... rasanya ada sesuatu yang akan meledak.


Satu senti ... embusan napas keduanya menerpa wajah masing-masing.


Skip ....


Hahaha,


Baper boleh, sangee jangan.


Like komen dan Vote.


Jangan pelit. Heheh.

__ADS_1


Yang kangen Dafan Nara, cung angkat kaki. Eh maksudnya angkat jempol dan kasih Vote.


__ADS_2