Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Cara menghibur Kinar.


__ADS_3

Sementara itu di parkiran rumah sakit.


Berdeham-deham, Arjun buka pintu mobil dekat Kinar seraya menyuntuh hidung dengan punggung tangan. Ia perhatikan gadis yang tengah melamun itu. Gimana caranya ngehibur dia? Dia ini kan aneh. Tapi aku juga heran kenapa hari ini dia diem terus. Apa jangan-jangan dia punya penyakit serius? Trus divonis umurnya gak bakalan lama lagi.


Menggelengkan kepala, Arjun membuyarkan pikiran yang membuatnya bergidik sendiri. Nggak, nggak, nggak mungkin orang seperti ini punya penyakit kronis. Penyakit aja kalo liat penampilan yang kayak begini langsung pergi. Ya, baiknya emang harus ku hibur. Kasian. Masalah hidupnya kayaknya berat banget.


Menghela napas, Arjun pindai wajah murung Kinar. Bak ayam yang lagi sekarat dan minta disembelih. Sungguh kasihan. Akan tetapi, setelah melihat semua atribut yang ada di tubuh gadis itu, rasa kasihan menguap berubah menjadi kekesalan. Bagaimana tidak? Penampilan Kinar hari ini benar-benar bikin sakit mata—jaket hitam berlapis manik-manik berpadu padan dengan celana jeans hijau panjang serta kacamata berwarna ungu, belum lagi rambut yang sudah berubah warna menjadi kuning.


Astaga, mau ngelenong ke mana sih dia. Arjun kembali berdeham. "Mau jalan-jalan sebentar?" tanyanya dengan nada datar.


Kinar tak merespon, ia malah memunggungi Arjun lalu berucap, "Aku lagi gak punya tenaga. Kamu aja sendiri. Aku nunggu di sini."


Tak ada semangat sama sekali dalam nada bicaranya. Kinar menundukkan pandangan. Bertemu Alex kemarin telah menghilangkan mood ceria yang biasa melekat dalam diri. Pesona Arjun pun mendadak pudar karena perasaan kesal yang masih belum hilang karena Alex. Entahlah. Luka lama kembali menganga. Kinar menghela napas panjang dengan pandangan yang tetap ke bawah.


Sementara Arjun, menggaruk pelipis. Tak tau harus bagaimana membujuk gadis itu. Jagankan membujuk, membuka obrolan saja tak tau harus dari mana.


Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Aneh, bikin aku takut saja. Lebih baik dia ngoceh nggak jelas dari pada diam seribu bahasa kayak begini.


Arjun terdiam beberapa detik, berpikir keras bagaiamana membujuk Miss Pelangi itu agar mau keluar mobil. Tiba-tiba ide gila melintas. Ia telan ludah seraya berpikir ulang, dan fix, Arjun mengangguk yakin.


Tanpa aba-aba dan tanpa pemberitahuan pula, Arjun gendong tubuh kurus Kinar keluar dari mobil.


"Aku gak suka bicara dua kali," ucapnya tanpa menoleh Kinar sama sekali. Situasi dadakan yang membuat hidung Kinar serasa kembang kempis. Bagaimana tidak? Wajah tampan nan rupawan Arjun kini cuma berjarak sejengkal saja darinya.


"Matanya tolong dikondisikan. Udah mau keluar, tuh," ketus Arjun lagi.


Mengerjap-ngerjapkan mata, Kinar yang masih kaget tetap menatap lekat wajah tegas Arjun meski telah diperingatkan. Ia tak bisa berhenti menatap wajah itu. Ah, apa aku telah terkena pelet buluh perindu. Aa' Arjun I love you.

__ADS_1


Senyum mesum Kinar kembali terukir. Senyar aneh dari dalam dadanya kembali mencuat. Rasa suka pada pria itu menjadi berkali lipat. Kapan lagi coba di gendong ala bridal style begini. Udah kayak honeymoon saja. Eh, enggak ding. Nikah dulu. Oke fix, aku harus bisa ngajak dia nikah. Ayo, Kinar. Semangat.


Kinar lantas mengalungkan tangan di leher Arjun. Sementara mata masih setia memandang wajah yang seharian ini tak sempat ia nikmati. Namun, mata nakal itu kini tertuju pada bibir tebal berwarna merah kecoklatan milik Arjun. Gleg! Kinar telan ludahnya.


"Arjun, cari hotel, yuk."


"Hah!" Mata Arjun membelalak.


"Eh, salah. Maksud aku cari penghulu," ralat Kinar seraya cengengesan. Wajah sudah bersemu dan terasa berdenyut. Pesona Arjun benar-benar membuatnya merasakan apa itu cinta gila. Cintanya belum tiba, gilanya yang datang lebih dulu.


Arjun bergeming, tak menghiraukan ocehan Kinar, hanya jakun saja yang naik turun. Pemandangan yang membuat Kinar menenggelamkan wajahnya di dada pria itu—malu seraya meredam niat. Jakun itu, ah ... jakun itu ... Kinar gemas dan begitu ingin sekali menyentuhnya.


"Kamu kenapa?" tanya Arjun keheranan.


Kinar menggeleng. Sementara wajah masih saja ia sembunyikan.


"Kamu duduk di sini," ucap Arjun setelah tiba di sebuah kursi panjang dan menurunkan tubuh Kinar dari gendongan. Pria itu tampak meregangkan ototnya sebentar lantas kembali berucap, "Tunggu sini. Aku cari minuman dulu."


Kinar mengangguk. Ia perhatikan punggung tegap pria yang baru saja menggendongnya. Pria yang ... ughh! Gemas, ingin sekali ia miliki.


Sementara itu, Arjun yang sudah menjauh mulai keheranan. Kinar seharian ini tak mengoceh barang sepatah kata pun. Namun setelah disentuh olehnya, mata mesum wanita itu kembali beroperasi, dan bibirnya yang merah kembali merekah dengan lebar.


Otak wanita itu sepertinya ada yang salah. Manghentikan langkah, Arjun putar tumit dan melihat kembali tubuh wanita yang tersenyum sumringah ke arahnya. Padahal belum semenit yang lalu mata itu begitu sendu, tubuh bahkan membungkuk seakan memikul beban berat manusia seluruh dunia. Tapi lihatlah, sekarang berubah total seperti sedia kala.


Ada-ada saja.


Setelah membeli beberapa camilan dan minuman, Arjun pun kembali ke tempat Kinar duduk. Tampak gadis itu kembali termenung.

__ADS_1


"Maaf lama," ucap Arjun seraya merebahkan diri di sebelah Kinar. Gadis itu terkanjat seolah-olah tak menyadari kehadirannya.


Ekspresi yang tentu saja membuat Arjun bingung dan penasaran. Apa isi kepala gadis itu hingga tak menyadari kedatangannya?


Menyodorkan sebotol jus jeruk pada Kinar setelah membuka penutupnya, Arjun pun berucap, "Minumlah. Kamu pasti haus."


Kinar mengangguk, mengambil botol itu dan mendekatkannya ke bibir. Namun baru saja mencicip sedikit, wajah cantik Kinar berubah drastis—mengkerut. "Ish! Minuman apaan ini?" tanyanya seraya menyerahkan kembali botol itu pada Arjun. "Kecut banget."


Arjun kesusahan menahan tawa, bibir bahkan berkedut saking susahnya meredam rasa geli yang menggerogoti. Ekspresi Kinar lumayan membuat tawa hampir saja lepas.


"Gimana rasanya?" tanya Arjun tanpa menoleh Kinar.


"Tentu aja asem," jawab Kinar dengan wajah sedikit manyun.


"Rasa minuman itu sama persis kek muka kamu. Asem, kecut gak enak diliat."


Mata Kinar membelalak, otak masih bekerja mencerna perkataan Arjun yang sungguh tak terpahami olehnya. "Apa maksudmu? Kamu merhatiin aku ya ternyata."


Senyum genit Kinar tercipta lagi. Ia bahkan telah menyeggol lengan Arjun dengan lengannya. Bak cacing kepanasan hingga Arjun kembali berdecak kesal lalu menjauhkan diri. "Bisa gak duduk diem. Aku belum selesai ngomong."


Kinar menurut diam. Namun, mata masih saja menyipit, genit.


"Maksud aku, apapun masalahmu, hadapilah. Bila tak sanggup sendiri, minta bantuan sama orang lain. Jika masih belum bisa, menyingkir saja dulu lalu kumpulkan tenaga buat membalasnya. Tapi ingat. Jangan pernah lari dari masalah."


Kinar tertunduk. Wajahnya murung seketika. Air mata pun mulai mengalir setitik dua titik tiga titik. Sial. Makin deras saja. Kinar tertunduk makin dalam, berusaha menyembunyikan kesedihan agar tak tampak oleh Arjun. Namun, Arjun tau, hanya saja pura-pura tak melihat. Terkadang, berpura-pura buta adalah jalan terbaik.


Situasi mendadak hening. Tak ada satu pun yang berniat untuk berbicara. Hanya terdengar suara sirene yang kebetulan masuk dan berhenti tepat di depan UGD rumah sakit. Sebuah bunyian berisik yang membuat Arjun menghela napas panjang.

__ADS_1


"Sebenarnya aku mau ngucapin terima kasih sama kamu soal Meli tempo hari."


__ADS_2