Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Muslihat gelay.


__ADS_3

Pukul sepuluh malam. Prakoso yang baru saja menyelesaikan pekerjaan keluar dari kantor. Ia diikuti oleh sang asisten, keduanya menuju basement.


Namun, baru saja masuk ke dalam mobil, ia dikagetkan dengan kedatangan dua orang asing. Satu bergaya bak reporter dengan alat perekam di tangan, dan satu lagi si juru kamera. Prakoso mulai risih, tapi demi nama baik ia buka kaca jendela mobil, menyapa mereka dan memamerkan senyumnya yang tak tulus sama sekali.


"Maaf Pak Prakoso. Maaf mengganggu waktu Anda sebentar. Saya dari majalah sukses mau mengkonfirmasi sesuatu pada Anda. Apa benar kabar yang telah saya terima kalau anak bapak ternyata seorang gay?"


Bak mendengar petir tak kasatmata, senyum Prakoso langsung hilang, ia mematung, matanya membulat lebar dan membuat si reporter gadungan yang tak lain tak bukan adalah Monica kembali berkata, "Apa itu sebabnya kenapa anak Bapak yang bernama Derry tak kunjung menikah sampai sekarang?" lanjutnya.


Prakoso yang sempat shock langsung menggeleng cepat dan membantah keras-keras. "Dari mana kamu dapat berita itu? Asal kamu tau, anak saya normal. Nggak mungkin dia gay," pungkas Prakoso tegas.


"Tapi, Pak, saya punya buktinya." Monica berpura-pura mengeluarkan benda dari dalam tas. Si Prakoso yang sudah kadung kesal menutup kaca mobil dan memerintahkan sang asisten untuk pergi. Ia meninggalkan Monica yang berteriak menyebut namanya.


Setelah melihat mobil Prakoso menjauh, Monica pun tersenyum. Ia raih ponselnya dan menghubungi seseorang. "Misi sukses, sekarang langkah selanjutnya."


Sementara itu Prakoso yang masih terkejut memijit pelipis. Sungguh tak pernah sekalipun ia membayangkan gosip tak berdasar itu mengudara. Apalagi untuk Derry. Ia benar-benar kesal, bagaimana mungkin Derry mempunyai scandal seperti itu? Darahnya berdesir, ia perintahkan sang asisten untuk menuju apartemen Derry.

__ADS_1


Tak memerlukan waktu lama, Prakoso pun tiba dan menekan password. Gegas ia masuk saat pintu terbuka.


Lagi, seperti dijatuhi bom atom. Emosi Prakoso menjadi-jadi saat mendapati Derry tengah tertidur pulas dengan seorang pria. Darahnya kembali berdesir. Ia hardik Derry dengan suara nyaring.


Gelagapan. Derry yang awalnya terpejam cantik langsung terbelalak. Ia kaget mendengar teriakan dan lebih shock lagi sakit saat melihat Prakoso tengah menatapnya nyalang. Belum lagi ada seorang pria yang tertidur disampingnya, pria asing yang tengah menggeliat. Lebih anehnya pria asing itu tak mengenakan pakaian dan hanya mengenakan boxer di pinggang.


"Apa ini Derry!" bentak Prakoso yang siap menumpahkan lahar kekesalan. Ia tatap si teman tidur Derry dengan nyalang.


Namun, tak ada yang menyahut. Derry masih kelihatan bingung sedangkan si pria teman tidur sudah kabur. Laki-laki yang tak lain tak bukan adalah Damar. Ia disuruh Anya menyelinap ke apartemen itu saat Derry sudah terlelap.


"Kamu beneran gak waras. Gimana bisa kamu begini? Apa kamu gak mikirin kehormatan keluarga?" bentak Prakoso.


Menekan dadanya yang mendadak berdebar hebat, Prakoso pun berjalan keluar dengan di papah sang asisten. Tangan bahkan terkepal kuat. Ia berusaha keras agar emosinya tidak meledak karena takut penyakit jantungnya kambuh.


"Ini benar-benar sial. Bagaimana bisa Derry punya hubungan dengan laki-laki. Gila, skandal ini aku harus aku apakan? Bagaimana aku menutupnya?" gumamnya kesal.

__ADS_1


Seketika bayangan Anya melintas dalam benak. "Ya, sepertinya aku harus menerima gadis itu. Nggak masalah barbar. Nggak masalah jika dia biang masalah. Daripada Derry dicap sebagai gay."


Tibalah di dalam mobil, Prakoso langsung berkata, "Sekarang kita pergi ke rumahnya Chandra. Kita pergi ke rumahnya keluarganya Anya. Saya gak mau skandal ini membuat perusahaan hancur. Saya akan melamar anak gadis mereka untuk Derry."


Si asisten pria yang masih muda dan berada di balik kemudi pun menautkan alis. Ia menggaruk tengkuk lalu melihat arloji yang ada di tangan.


Sembari melihat wajah Prakoso yang lelah dari pantulan cermin tengah, ia pun berkata, "Tapi ini sudah hampir tengah malam, Pak. Bukankah sebaiknya kita datang besok saja, sekalian mempersiapkan segalanya.''


Mengembuskan napas panjang, Prakoso rebahkan punggungnya yang lelah dan kepala yang berat di sandaran kursi.


"Ya sudahlah, sekarang kita pulang. Saya mau istirahat," ucapnya dengan mata terpejam.


Derry. Bayangin kek begini ya. Heheh


__ADS_1


__ADS_2