
Sumpah, demi semua susunan planet yang ada di tata Surya. Kinar sudah terlihat murka. Ingin rasanya ia muntah emas, berlian ataupun intan. Sekarang kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun.
Mengenggam kuat gawai Arjun, Kinar menatap lekat layar bertulisan itu. "Dasar kutil badak. Bekicot botak. Bisa-bisanya kamu ngatain aku bule gila. Kalau aku bule gila, lalu kamu apa? Dasar Lampir sialan. Gak tau malu. Udah jelas-jelas kalah tapi masih aja deketin Arjun," gumam Kinar setelah mengingat pertarungan—lomba makan mi ayam—melawan Meli kala itu.
Hah sial, setelah mengumpat perasaan Kinar makin tak karuan. Andai ada Meli di situ, sudah dipastikan akan adanya pertarungan sengit. Cakar-cakaran, jambak-jambakan atau mungkin cerdas cermat.
"Aaaaa ...." Kinar merengek pelan. Ia empaskan dirinya di sisi ranjang lalu menatap wajah Arjun yang masih terpejam.
"Apa kamu bakalan balik lagi sama dia? Apa di mata kamu aku sama sekali gak menarik? Apa aku sama sekali gak punya kesempatan buat ngisi hari-hari kamu?"
Kinar tutup wajahnya dengan tangan. Ia menangis dengan tubuh yang terguncang hebat. Pemandangan yang entah mengapa membuat Arjun tak tenang. Ia buka matanya—hendak duduk. Namun setelah melihat Kinar membuka wajah ia berakhir mengempaskan diri dan terpejam lagi.
Dasar bodoh! Kenapa aku tidur lagi, sih.
Sementara itu, Kinar yang telah diselimuti kesedihan menatap lekat lagi wajah Arjun.
Lantas mendesah panjang.
"Baiklah. Kalau kamu memang milih balikan sama Nek lampir keilangan wig itu, aku rela Arjun. Mungkin kita harus putus," gumamnya pelan seraya berlari keluar kamar.
Setelah aman, Arjun buka matanya lantas duduk, matanya menatap pintu yang sudah tertutup.
"Putus? Putus apaan. Jadian aja kagak. Astaga. Tu otak perempuan emang konslet." Arjun bergumam seraya angkat dari posisinya. Ia raih ponsel dan membaca pesan yang Kinar baca. "Ternyata karena Meli."
Arjun terkekeh setelah mendengar umpatan Kinar barusan. "Kutil badak? Nek lampir keilangan wig? Bekicot botak? Perempuan itu emang bener-bener. Dapat dari mana dia kata-kata gak sopan begitu."
Bibir Arjun makin menipis. Lega rasanya, sikap Kinar sudah kembali semula. Gadis itu berlaku selayaknya Kinar yang seperti biasa.
Arjun tekan lagi ponselnya dan mengirim pesan pada Chandra. "Aku yakin mereka pasti nyariin Kinar."
__ADS_1
[Maaf, Pak. Kinar semalaman ada di apartemen. Saya demam dan dia jagain saya.]
Tak berapa lama masuk pesan balasan dari Chandra. [Gak apa-apa. Kamu istirahatlah. Hari ini jangan masuk kerja dulu.]
Arjun tersenyum, lantas melepas ponsel dan meregangkan ototnya yang kaku. Namun, sebuah bunyian keras di luar kamar menyadarkan. Ia kaget dan langsung berlari keluar dan mendapati Kinar tengah berjongkok mengumpulkan pecahan kaca.
"Kinar!"
Menarik tarik Kinar dengan paksa, Arjun pegang bahu perempuan itu dan memaksanya berdiri.
"Kamu kenapa? Ada yang luka gak?" tanyanya dengan wajah panik. Ia pindai tubuh Kinar dari atas sampe bawah dan mendapati jari telunjuk gadis itu mengeluarkan darah. "Kamu berdarah Kinar."
Reflek, Arjun hisap jari telunjuk Kinar. Entah kenapa tak ada perasaan jijik. Ia hanya panik lalu menarik tubuh kaku Kinar untuk menjauhi beling yang berserakan, lantas mendudukkannya di sofa. Rasanya tak karuan saja melihat gadis itu terluka.
Sementara Kinar, shock. Matanya membola. Bukan karena pecahan kaca melainkan karena perhatian Arjun yang tiba-tiba. Lekat-lekat ia tatap wajah cemas Arjun. Sedetik kemudian senyumnya terkembang dengan pipi yang jelas sudah mengang. Benar-benar tak menyangka pria pujaan hatinya itu begitu khawatir akan keadaannya sekarang.
Kinar mengangguk. Secepat kilat Arjun pergi dan sudah kembali lagi dengan kotak putih berpalang merah.
Arjun balut jari Kinar dengan plaster. "Kenapa bisa mecahin mangkuk?"
"Aku mau bikin sarapan buat kamu."
Arjun dongakkan kepalanya. Mata mereka saling bertukar pandangan. Netra Kinar tentu saja bergerak liar dengan menahan debaran dada yang seperti siap keluar. Sumpah, Kinar grogi. Baru kali ini mata mereka bersitatap begitu lama.
"Kamu harusnya gak usah repot-repot. Entar yang ada barang-barang di sini pecah semua."
Bak mendengar kaset kusut tak kasatmata, senyum Kinar mendadak lenyap. Ia tarik tangannya dari genggaman Arjun. "Aku kan cuma mau bantu kamu. Bikinin kamu sarapan. Lagian siapa juga yang mau mecahin barang?" sungutnya seraya memalingkan wajah ke arah kiri.
"Itu buktinya ...." Jari telunjuk Arjun tertuju pada mangkuk kaca yang sudah berubah menjadi banyak bagian. Bahkan beras pun berserakan di lantai. "Harusnya kamu duduk, diem, tenang. Itu udah cukup."
__ADS_1
"Jadi maksud kamu aku gak berguna, gitu?" sungut Kinar. Lengan bahkan sudah berlipat di atas perut. Sementara wajah masih saja cemberut tanpa mau menoleh Arjun.
Sepertinya ni anak lagi ngambek. Tapi, kenapa ngambeknya keliatan lucu, ya ....
Arjun tersenyum seraya menyentuh hidung dengan punggung tangan. Dilihat wajah Kinar dari samping.
Cantik.
Pipi putih, mulus, bersih dengan hidung mancung. Sementara bibir ....
Arjun telan ludahnya. "Tapi terima kasih buat semalam. Kamu pasti capek jagain aku. Harusnya kamu pulang aja. Gak perlu repot-repo kayak begini tapi ujung-ujungnya bikin tekor. Rugi, mangkuk itu mahal. Mangkok limited edition," goda Arjun.
Mata Kinar menyipit. Ia tatap tajam pada Arjun seraya berdecak sebal. Embel-embel di belakang ucapan terima kasih lumayan membuatnya kesal. "Emang berapaam sih harga mangkoknya. Entar aku ganti. Di rumah ada banyak. Jangankan limited edition, yang antik saja aku punya. Kamu mau yang mana. Yang dari Yunani, Paris, China atau mana aja. Sebutin. Aku bi—"
Lisan Kinar terjeda. Aliran darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Tabuhan di dada pun mendadak berhenti. Kinar terdiam. Ia tercekat merasakan benda kenyal memijit-mijit bibirnya. Arjun telah menciumnya terlebih dahulu. Ia kegirangan hingga senyumnya merekah lebar saat Arjun sudah menghentikan pagutan singkat itu.
"Arjun ...." Kinar tersenyum kegirangan.
Arjun turut menipiskan bibir saat melihat warna muka Kinar yang sudah memerah bak kepiting rebus. "Bibir kamu cerewet banget, sih. Apa gak ada rem-nya, ya?"
Kinar menggeleng lalu memonyongkan bibir seraya menyentuhnya dengan telunjuk. Mata bahkan sudah terpejam. Berharap Arjun mengulangi ciumannya. Namun bukannya mendapat ciuman, Kinar malah mendapat sentilan di dahi.
"Jangan mesum. Mendingan sekarang kamu mandi?"
Wajah Kinar berubah lagi. Senyum masum bercampur malu. Ia bahkan mengedip dengan jari tertaut. "Masak udah mau itu si. Kita kan baru jadian."
Lagi, Kinar mengaduh saat sentilan mendarat di tempat yang sama. Ia usap keningnya.yang lumayan panas. "Kening itu buat di cium bukan buat disentil."
"Biar otak kamu yang geser itu kembali normal. Udah ah. Mandi sana. Kita sarapan di luar habis itu aku antar kamu pulang."
__ADS_1