
Semenjak mendengar teriakan Lita, pikiran Litania jadi tak fokus. Ia sering termenung dan acap kali tak nyambung saat di ajak bicara.
Sama halnya dengan sekarang. Chandra berkali kali memanggil tapi tak mendapat respon hingga pemimpin dari Big Grup itu sengaja mendekatkan wajah. Menatap lekat mata kosong Litania lantas menoel hidungnya.
"Kamu lagi mikirin apaan, sih? Kayaknya berat banget. Dari kemarin aku perhatiin kamu kebanyakan melamun."
Litania gelagapan. Ia yang memang berdiri di sebelah pintu mobil langsung menampik dengan gelengan kepala. "Gak, kok. Siapa yang melamun?" kilahnya.
"Tu buktinya." Pandangan mata Chandra tertuju ke kaki Litania. Lantas terkekeh saat mendapati ekspresi malu-malu istrinya itu. "Kamu salah pake sandal, loh. Pake acara gak ngaku lagi. Kamu mikirin apaan sih sampe gak fokus begitu?"
Tersenyum kuda, Litania serahkan tas kerja pada suaminya, lantas memeluk tubuh itu dengan sangat erat. Setelah melihat perangai Erik, ia sadar sesuatu, bahwa suaminya lebih baik meski kadang kala pemikiran tak sepaham.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Coba cerita," ujar Chandra yang sudah curiga. Ia tarik tubuh istrinya untuk duduk di kursi teras. Lantas menatap lekat wajah yang kelihatan gelisah itu. "Coba cerita, kamu punya masalah apa? Apa ini ada hubungannya sama anak-anak?"
Litania menggeleng. Ia belum sempat menceritakan perihal kunjungannya ke rumah Lita dan memang tak tau harus memulai dari mana.
Namun, seketika wajah cantik Livia melintas jelas. Keresahan mendera tanpa bisa Litania lawan. Ekspresi Livia yang terlihat tertekan membuatnya ingin mencari tahu kebenaran yang terkubur. Apakah benar Erik sejahat itu hingga membuat anak kecil seperti Livia ketakutan? Dan kalau memang benar, kenapa bisa Erik tak tersentuh oleh pihak berwajib? Hmm ... kepo Litania makin menjulang tinggi. Meski tekat sudah tak mau berurusan dengan Lita lagi, tapi tetap ia ingin mencari tahu jawabnya.
"Sayang ...." Litania memanggil Chandra dengan hati-hati, "kalau aku berulah lagi, apa kamu bakalan marah?" lanjutnya. Sementara tangan saling tertaut.
Litania mengangguk dua kali. "Iya, ini andai saja. Andaikan aku ditangkap polisi, kamu bakalan sewa pengacara buat aku, 'kan? Kamu bakalan bela aku, 'kan?" cecarnya yang tentu saja mendapat pelototan dari Chandra. Pria itu sadar kalau di balik pertanyaan ada rencana jahat.
"Ini sebenarnya ada apa? Kamu mau berantem? Kamu mau apa, Litan?" cecar Chandra balik. "Kamu bukan lagi ABG yang sukanya cari gara-gara. Inget, sekarang kamu sudah jadi orang tua. Jadi, aku mohon, jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh."
__ADS_1
Sungguh, hati Chandra dag dig dug tak karuan. Pikiran buruk menggerayangi benak. "Aku minta kamu jangan macem-macem. Aku gak mau ada hal buruk terjadi sama—"
Lisan Chandra tak selesai karena sudah di tutup Litania dengan telapak tangan. Mata wanita bergaun biru itu bahkan sudah melotot menatapnya.
"Aku cuma nanya, kamu bakalan lindungi aku apa enggak. Cuma itu doang, kok."
Chandra tepis tangan Litania. "Tentu saja. Aku bakalan bela kamu sampe kapan pun. Apa pun yang terjadi, aku bakalan lindungin kamu. Mau salah atau bener aku gak peduli. Tapi sebenarnya ada apa? Kamu gak—"
Lagi, lisan Chandra terpotong karena Litania sudah berdiri. Wanitanya menuju mobil dan membuka pintu. Memasang senyum manis, Litania pun menarik lengan Chandra dan menuntunnya menuju pintu yang terbuka saraya berucap, "Cukup. Jangan curigaan. Aku cuma butuh jawaban itu. Jadi sekarang lebih baik suamiku yang tampan mempesona ini pergi bekerja."
"T-tapi—"
__ADS_1
"Sudah, jangan banyak tapi-tapian. Percaya deh sama aku. Istrimu yang cantik jelita sejagat raya ini gabakalan mencoreng nama baik keluarga apalagi sampe bikin perusahaan gulung tikar. Jadi, pergi yang tenang dan bekerjalah dengan semangat."