Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ariska.


__ADS_3

Di hari yang sama.


Alex berlenggang pinggang masuk ke area sekolah. Matanya yang tertutup kacamata awas menyapu sekitar. Memperhatikan dan mengamati murid perempuan yang menurutnya begitu menggemaskan. Para siswi yang wira-wiri di depan mata selalu saja bisa membuatnya bersemangat.


"Pak Alex!"


Alex menoleh ke belakang—mencari arah suara—dan mendapati Zahra—wali murid kelas delapan—tengah berlari menghampiri.


"Iya Bu Zahra. Ada apa?"


Zahra yang sedang menetralkan napas, mengernyitkan dahi setelah melihat penampilan Alex dari dekat. "Pak Alex kenapa pakai masker? Lagi nggak enak badan?" tanyanya, "terus kenapa pakai kacamata? Kalau sakit, kenapa gak istirahat di rumah?"


"Enggak apa-apa, Bu. Saya lagi flu, terus mata saya lagi iritasi."


"Oh, semoga lekas sembuh ya Pak. Oh iya, begini, nanti tolong arahin siswi saya, ya. Namanya Ariska, dia habis berantem kemarin. Lima temen sekelasnya pada bonyok. Jadi saya minta tolong, Bapak kasih pengarahan ke dia biar dia paham kalau sikap barbar dan doyan berantem itu gak baik. Apalagi untuk perempuan." Zahra berucap dengan gimik sedih lalu sedetik kemudian menyerahkan dua lembar kertas pada Alex. "Ini nama siswa yang dia hajar."


Alex membaca sekilas nama-nama itu. "Ini yang dihajar laki-laki semua?"


"Iya, anaknya pinter tapi entah kenapa sekarang berubah drastis. Jadi badung. Mungkin ini karena efek orang tuanya bercerai jadi dia mencari cara lain buat menyalurkan sakit hatinya."


Lagi, wajah Zahra tampak makin muram. "Ya, udah, ya Pak. Saya pamit. Mau siapin soal buat tes anak-anak nanti."


Zahra tersenyum lantas melangkahkan kaki, meninggalkan Alex yang kembali melihat dua lembar kertas di tangan. Kertas pertama berisi nama-nama korban dan kertas satunya biodata si tersangka yang bernama Ariska. Gadis cantik dengan tahi lalat kecil di pipi sebelah kiri.


"Gadis cantik. Akan aku buat kamu jadi baik."


Seringaian Alex terukir, matanya melihat penuh nafsu pada lembaran kertas yang ada di tangan. Pikirannya sudah berisi hal-hal kotor.


Bel berbunyi pertanda jam pelajaran hari ini telah usai. Anak-anak sudah berhamburan pergi keluar kelas meski sang guru—Zahra—masih duduk di meja depan. Hanya ada beberapa murid perempuan saja yang masih berdiam di kelas dan Ariskan termasuk di dalamnya.

__ADS_1


Zahra menatap lekat pada Ariska yang duduk tak jauh darinya. "Ariska, habis ini kamu jangan pulang dulu, ya. Kamu harus bertemu Pak Alex sebentar di ruangannya."


Seketika wajah Ariska memucat. Ia tatap lekat wajah Zahra, "K-kenapa, Buk?"


"Ini pasti karena kamu berantem kemarin Riska," bisik teman Ariska pelan.


Ariska makin terlihat gugup. Ia remas rok birunya. Teringat jelas kejadian di bioskop semalam, Alex dipukul karena dugaan pelecehan. Ariska mendadak gemetar. Ia takut akan menjadi korban selanjutnya.


"T-tapi, Buk ...."


Zahra tersenyum. "Gak apa-apa, Riska. Ini cuma pengarahan. Jadi jangan telat, ya. Kasian Pak Alex kalau dia nunggu kamu kelamaan. Dia lagi sakit tapi bela-belain masuk sekolah. Jadi cepetan ke sana."


Zahra berlalu tapi Ariska masih termangu hingga jenni—teman sebangkunya—mengagetkan dengan melambaikan tangan di depan mata. "Ye malah bengong. Cepetan ke sana."


"Jen, kamu bisa nemenin aku masuk ke sana gak?"


"Maaf, Ris, aku harus buru-buru pulang. Soalnya mama udah nungguin di depan," jawab Jenni setelah melihat ponselnya. "Kalau gitu aku duluan, ya."


Mendasah napas panjang, Ariska lihat sekeliling ruangan yang sudah sepi lalu melihat ke arah tas yang ada di atas meja. Seketika itu juga ide aneh muncul. Lumayan lama ia menimbang ide itu hingga akhirnya setuju.


"Baiklah, ini cuma buat jaga-jaga."


Ariska koyak sedikit tas-nya dengan paku hingga membentuk robekan bulat kecil. Cukup untuk ukuran kamera ponsel. Ia hidupkan rekaman vidio dan memasukkannya kedalam saku tas yang sudah ia permak sedemikian rupa.


"Oke, fix. Semoga gak akan ada hal buruk. Ini cuma buat jaga-jaga." Ariska kembali mendesah panjang lantas membelai tas yang sudah bolong.


Sementara Alex, tersenyum. Senyum yang mengerikan. Bak predator yang siap menerkam mangsa. Dirinya bahkan berkali-kali melihat jam tangan, tak sabar menanti Ariska datang. Ariska. Ke mana kamu? Kenapa belum juga datang?


Tak berapa lama, Alex yang berada di kursi kebanggaannya itu dikagetkan dengan suara ketukan. Pintu berderit dan tampaklah Ariska yang datang dengan menyembulkan kepalanya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kamu Ariska?" tanya Alex.


Ariska mengangguk dua kali lalu memberanikan diri masuk ke ruangan. Ruang yang tak pernah dimasukinya sekalipun. Karena baru kali ini dirinya berulah setelah hampir dua tahun bersekolah di sana.


"Duduklah." Alex berdiri seraya melihat sofa panjang yang ada di ruangan itu. Sebagai kode agar Ariska duduk di sana. Sementara dirinya membuat teh untuk Ariska.


Ariska menurut. Ia letak tas ke ujung sofa dengan posisi sedikit tegak. Berharap gambarnya tertangkap secara menyeluruh.


Soal perasaan jangan di tanya lagi, Ariska begitu gugup apalagi Alex telah datang dan duduk di depannya setelah meletakkan segelas teh hangat.


Tenanglah Ariska. Dia gak bakalan macem-macem. Jadi jangan gugup. Ariska membatin, berusaha menguatkan diri dengan mengusir pikiran buruk. Hanya saja setelah melihat penampilan Alex, kegugupannya makin menjadi. Ia telan saliva saat Alex membuka kacamata dan menatapnya. Tampak sedikit memar di pelipis lelaki itu.


"Baiklah, Ariska. Kamu tau kenapa ada di sini?"


Ariska yang masih menatap canggung sang guru yang bermasker, mengangguk ragu. Tabuhan di dadanya mendadak menggila. Antara canggung dan takut bergumal jadi satu. "Tau, Pak. Karena berantem."


"Lalu apa alasan kamu pukul mereka? Segala sesuatunya itu gak mesti pake otot. Kan bisa diselesaikan dengan lisan."


Terdengar nada perhatian dari Alex, membuat Ariska menghela napas lega. Senyum canggung pun sedikit terukir di bibirnya yang tipis. Pandangan yang membuat Alex meremas lututnya sendiri.


"Coba kasih tau alasan kenapa kamu bersikap seperti itu?"


"Itu karena mereka mengejek saya, Pak. Mereka bilang saya anak terbuang, saya anak pembawa sial karena kedua orang tua saya pisah dan gak ada yang mau bawa saya."


Alex manggut-maggut. "Jadi sekarang kamu tinggal sama siapa?"


"Saya tinggal sama nenek saya, Pak."


Alex tampak gelisah, tak bisa menahan hasrat lebih lama lagi. Ia beranjak dari kursi dan merebahkan diri di sebalah Ariska. Ariska tentu saja risih, gadis itu bahkan menjauh dengan menggeser tubuh.

__ADS_1


"B-bapak mau ngapain?" Tergagap, Ariska kesusahan melancarkan kata, apalagi Alex tak hanya memepet tubuhnya. Pria itu bahkan telah menggenggam tangannya dengan erat. "B-bapak mau ngapain?" ulangnya.


__ADS_2