
Melangkah dengan mantap, hari itu juga Anya ingin mendatangi hotel tempat ayah Derry bekerja. Hotel bintang lima yang begitu tersohor di seluruh negeri. Karena kepiawaiannya dalam mengelola perusahaan, Prakoso dinobatkan sebagai pengusaha tersukses di dunia perhotelan dan restoran.
"Mau ke mana?" tanya Litania. Ia yang baru keluar kamar mendekati sang anak bungsu yang sudah cantik dengan gaun hitam tanpa lengan. Rambutnya yang panjang tergerai indah.
"Anya mau pergi, Bun. Ada urusan sebentar," pamitnya lalu mencium punggung tangan Litania.
"Loh, kok udah mau pergi lagi. Bukannya kamu baru pulang."
"Gak lama, kok. Bentar aja," sahut Anya lagi.
Litania terdiam. Ia tuntun Anya untuk duduk di sofa ruang tamu. Anya yang keheranan hanya diam saja.
"Bunda mau ngomong," ucap Litania. Ia tampak serius tapi anehnya seperti enggan berkata lebih lanjut.
Lagi-lagi Anya hanya diam dan mencoba mencari tahu dengan menerka-nerka. Sekilas penuturan Nara tadi sore terlintas. Anya pun tersenyum kecil.
"Apa masalah Bang Dafan?" tebak Anya.
Litania membelalakkan mata. "Kok kamu tau?"
"Ya taulah, Bun. Aku kan deket sama Nara."
Litania mendesah. Ia genggam tangan Anya. "Kamu jangan kayak gitu ya. Walaupun kalian hidup di jaman milenial tapi jangan pernah melupakan norma agama dan sopan santun. Bunda beneran gak bisa ngomong. Abang kamu udah bikin ayah sama Bunda malu."
__ADS_1
"Emangnya Tante Kinar dan Om Arjun marah banget ya?" tanya Anya yang mulai kepo.
"Marah beneran sih enggak. Cuma mereka kecewa aja. Jelas-jelas suka Nara tapi kenapa berbelit-belit? Kami sebenarnya juga pengen jadi besan. Tapi kan gak bisa maksa. Abang kamu kekeh banget gak mau sama Nara. Tapi diam-diam disosor juga."
Anya manggut-manggut. Membenarkan perkataan itu. Masalahnya adalah Dafan yang tidak peka dengan perasaan sendiri.
Litania yang resah pun kembali berkata, "Jadi demi kenyamanan dan keamanan bersama, kami putuskan agar mereka tunangan dulu. Dafan ngelarin studinya dan Nara juga."
Litania makin mengeratkan genggaman. Memiliki anak perempuan memang cobaannya sangat besar. Ia tatap Anya dengan tatapan penuh harap. "Bunda harap kamu jaga nama baik keluarga. Kamu anak perempuan, Nya. Walaupun Bunda suka marah-marah sama kamu bukan berati Bunda benci. Bunda justru lebih sayang kamu dan gak mau kamu keluar batas."
Anya balas genggaman tangan Litania. Ia tersenyum, berharap kegundahan yang menerpa Litania sirna. "Bunda tenang aja. Mas Dery gak kayak gitu kok. Kami tau batasan."
***
Anya yang sudah dipersilakan sekretaris Prakoso sedang berdiri tegak di depan pintu. Ia menatap pintu bercat hitam itu dengan nanar. Tali tas selempang ia genggam kuat. Penuturan dan ketakutan sang bunda membuatnya ingin segera memperjelas hubungan dengan Derry. Dan tentu saja harus bisa meruntuhkan dinding kokoh di antara mereka. Prakoso, ya, orang itu harus ditaklukan terlebih dahulu.
"Katakan, ada apa?" tanya pria tua itu—Prakoso Nasution—dengan nada suara datar.
"Kita bisa ngomong sebentar nggak, Om?" pinta Anya penuh harap.
Prakoso mengembuskan napas kasar dan tampak kesal. Dengan berat hati ia melepaskan kertas yang ada di tangan lalu mendekati Anya. Ia persilakan gadis muda itu untuk duduk di sofa berwarna hitam yang ada dalam ruangan
Menyilangkan kaki, Prakoso menatap Anya dengan sorot mata elang. Gadis itu, ia hafal betul tabiatnya. Ia membenci Anya bukan tanpa sebab. Anya dulunya adalah biang masalah, semua orang tahu kalau gadis itu suka bikin rusuh. Kalau bukan keluarganya yang pengusaha, sudah dipastikan ia tidak akan memandangnya meski sedetik.
Namun takdir berkata lain, anak semata wayang yang begitu diharapkan terpikat pada gadis itu. Ia bahkan sudah menggunakan banyak cara untuk memisahkan mereka, tapi selalu tak berhasil. Ia pun memutuskan menunggu, menunggu Derry dan Anya bosan satu sama lain lalu putus.
__ADS_1
"Ayo katakan, apa maumu?" tanya Prakoso, terlihat arogan.
"Om, aku sayang sama Mas Derry. Apa nggak bisa Om kasih restu buat kami?" ucap Anya, to the point dan penuh kemantapan.
Prakoso mendesis. "Jangan mimpi. Saya gak suka kamu," balasnya sarkas.
"Om, tolonglah jangan begini. Aku udah usaha Om. taku janji bakalan jadi mantu yang baik. Aku bahkan udah pinter masak, loh, Om. Gak bakalan deh bikin Om masuk rumah sakit lagi," iba Anya.
Prakoso merespon permintaan Anya hanya dengan sipitan mata. "Kalau kamu jadi saya, apa kamu bakalan nerima perempuan gak teratur kayak kamu jadi menantu?"
"Ya kalau anaknya seneng kenapa nggak," balas Anya seperti tanpa beban. Ia tahu Prakoso tak suka dibantah, tapi tetap saja ia tak mau kalah.
"Lancang kamu!" Prakoso menekan tengkuknya. Baru saja bertemu dua menit gadis itu sudah bisa membuat darahnya naik. Bagaimana mungkin gadis itu menjadi menantunya, bisa-bisa ia mati dalam seminggu.
"Tapi, Om. Kami beneran saling sayang. Apa Om gak mau nimang cucu? Om udah tua loh."
Prakoso diam. Dalam hati kecil ia juga ingin melihat cucu pewaris. Hanya saja tetap tak terima jika ibu dari cucunya adalah Anya.
Prakoso bergidik. Ia langsung berdiri. "Pergilah. Saya punya banyak pekerjaan," tegasnya lalu kembali lagi ke kursi kebanggaan.
Anya kehabisan kata. Sudah tiga tahun ia melakukan hal yang sama dan lagi-lagi respon Prakoso tetap sama—mengusir tanpa melihat wajahnya.
Meski harga diri terluka Anya tetap tidak menyerah. Dengan gontai ia keluar dari ruangan itu dan meraih ponselnya.
"Malam ini kita lakukan rencana B," tuturnya pada seseorang di seberang telepon.
__ADS_1
***
like jangan lupa.