
"Dafan, kamu tau gak, kita punya tetangga baru. Mereka baru pindah tadi sore," ucap Dafin seraya duduk di sisi ranjang lantas berbaring. Sementara mata, terfokus ke layar ponsel yang ada di tangan. Ia tengah asyik menonton kartun kesukaan, Boboiboy.
Namun, Dafan tak merespon. Jarinya begitu cekatan menulis kada demi kata yang ada di buku dongeng Sang Kancil.
Merasa diabaikan, Dafin pun kembali melanjutkan kata, "Mereka punya kucing, lho. Bulunya tebal. Warnanya abu-abu."
Berhasil, ucapan Dafin sukses membuat Dafan menghentikan aktivitas. Senyumnya terukir antusias. Ia begitu menyukai kucing. Hanya saja sang ayah alergi dengan binatang berbulu dan lucu itu. Alhasil, keinginannya untuk memelihara kucing tak pernah disetujui.
"Beneran, kamu gak bohong, 'kan?" tanya Dafan.
"Ya enggak, lah. Aku liat sendiri, kok," balas Dafin penuh keyakinan. Sementara mata masih setia menatap layar ponsel.
"Kalau gitu besok kamu ijin sama bunda. Aku mau liat kucingnya."
Dafin mencebik. Ia letak ponsel dan kembali duduk. "Kamu yang mau liat, kenapa aku yang minta izin?"
"Ya karna kamu adik."
"Curang, di mana-mana abanglah yang maju duluan."
"Itu kan beda. Nah kita situasinya juga beda." Dafan tak mau kalah.
"Beda gimana?" tanya Dafin tak terima.
"Karna kamu yang ngasih tau, jadi kamu yang harus tanggung jawab."
"Ih, kok gitu."
__ADS_1
"Ya itu resiko kamu." Terdengar otoriter hingga Dafin hanya bisa pasrah menyetujui permintaan Dafan.
"Resiko apa?" tanya Litania yang ternyata sudah ada di belakang mereka.
Twin D terdiam. Mata mereka membulat, kaget.
"Kalian ngomongin apaan? Keknya serius banget." Litania ikutan duduk di sisi ranjang. Matanya memindai wajah mirip sang anak secara bergantian. "Ayo cerita, Bunda juga mau dengar apa yang kalian bahas."
"Enggak ada, Bun," jawab Dafin cepat.
Mata Litania terarah ke anak sulung yang sedang duduk di kursi belajar. "Bener kata Dafin?" tanyanya menginterogasi.
Dafan terdiam, tapi keinginan ingin bertemu kucing membuat mulutnya sedikit terbuka. Ia pun berucap lirih, "Sebenarnya kita berdua pengen maen ke rumah tetangga sebelah, Bun. Tetangga baru."
"Kita? Kamu aja kali, aku sih ogah," celetuk Dafin tak terima. Kesempatan tak boleh disia-siakan. Kan ada sang bunda di sana. Jadi tak mungkin Dafan memarahinya.
"St! Udah, jangan berantem. Sekarang udah malam."
Dafin membuang muka. Ia ambil lagi ponselnya dan melanjutkan tontonan tadi. Sementara Dafan, menatap takut-takut pada Litania.
"Gimana, Bunda? Boleh gak?
"Gimana apanya?" Litania mulai bingung. Mendadak lupa apa yang tadi mereka bahas.
"I-itu ... besok aku boleh main ke tetangga sebelah? Kata Dafin mereka miara kucing."
"Oo cuma itu." Litania manggut-manggut. "Kenapa kalian gak bilang dari awal? Ini pake acara tatap-tatapan sama marah-marahan segala. Bunda kan jadi gak ngerti."
__ADS_1
"Boleh, ya, Bun?" tanya Dafan lagi.
"Iya, boleh. Sebagai tetangga yang baik, kita juga harus menyambut kedatangan orang baru. Berbuat baik sama tetangga itu perbuatan terpuji. Kalau nanti ada apa-apa sama kita, siapa lagi yang nolong kalau bukan tetangga."
Duh! Hidung Litania kembang kempis menahan tawa. Mendadak ia merasa jadi seorang motivator, dan anehnya duo tampan itu selalu menurut. Mereka tak tau saja, kelakuan sang mama sudah mirip Tarzan di era metropolitan. Ucapan dan tingkah laku bertolak belakang.
"Makasih, Bunda," tambah Dafan. Wajahnya berseri, bahagia. Sementara Dafin, tak peduli.
"Iya, besok kita sama-sama ke sana." Litania angkat dari ranjang dan menutup buku yang Dafin tulis. Lantas menuntunnya menaiki ranjang atas. Tempat tidur dua tingkat dengan Dafin berbaring di bawahnya.
"Sekarang kalian tidur dulu. Udah malam. Dan kamu." Kini mata Litania tertuju ke Dafin. "Gadget-nya siniin," lanjut Litania seraya menekuk keempat buku jari secara bersamaan.
"Tapi, Bun, tanggung, bentar lagi selesai film-nya," rengek Dafin.
Namun, mata Litania menyipit dengan gelengan kepala mengikuti. Ia ambil paksa benda pipih yang Dafin pegang dan memasukkannya dalam saku piyama. "Sekarang udah malam. Dan satu lagi. Mulai sekarang jatah nonton kamu yang sehari 2 jam Bunda kurangin. Jadi sehari cuma boleh satu jam."
Dafin melotot. Ia kembali duduk dengan wajah hampir menangis. "Kok gitu?"
"Ya karena gak lama lagi kalian masuk TK. Jadi harus banyakin belajar dan bergaul sama anak yang lain. Jangan mantengin HP mulu."
"Tapi, Bun—"
"No Protes."
Litania berlalu. Meninggalkan Dafin yang wajahnya sebentar lagi akan menangis. Sebenarnya tak tega, hanya saja semua demi masa depan cemerlang sang buah hati.
"Maafin Bunda. Semua demi kebaikan," gumamnya lirih seraya melangkahkan kaki keluar dari kamar.
__ADS_1
***