
Pintu berderit, terdengar derap kaki seseorang mendekat diikuti aroma alkohol yang menyengat. Sosok lelaki yang tak lain adalah Chandra. Pria itu masuk ke kamar Rania dengan tampilan yang acak-acakan. Lengan kemeja digulung sampai siku dengan dasi yang setengah terlepas. Tak tertinggal pula jas hitam bertengger di pundaknya.
Chandra 'kah itu?
Rania yang belum tertidur sontak saja memejamkan mata. Ia tau siapa yang datang. Sosok lelaki yang menjadi ayah biologis anaknya.
Merebahkan diri di sisi ranjang, Chandra lihat dengan intens tidur pulas Chadira. Pipi tembam dengan bibir yang sedikit mengerucut—karena posisi tidur ya yang terlungkup. "Sayang, maafkan Daddy ...."
Pelan, Chandra berucap sungguh pelan. Ia usap wajahnya dengan sebelah tangan. Mengusap setitik air mata yang terturun. Setiap memandang wajah polos Chandira membuatnya merasa bersalah. Dan rasa bersalah itu semakin hebat kala dia tak bisa melepaskan Litania. "Ya Tuhan ... Aku memang egois. Bagaimana bisa aku mementingkan diri sendiri dan mengabaikan anakku sendiri."
Mengembuskan napas berat, Chandra arahkan mata pada sosok ibu dari anaknya. Sosok wanita cantik yang tak beruntung karena bertemu dengannya.
__ADS_1
Menyibak anak rambut yang menutupi mata Rania, Chandra berkata lirih, "Maafkan aku, Ra .... Aku udah bikin kamu dan anak kita menderita. Sekarang aku nyerah untuk Litania. Sebisa mungkin aku akan jaga kalian. Aku akan berusaha menjadi ayah dan suami yang baik. Aku akan berusaha, Ra. Tapi ...."
Chandra tak mampu meneruskan lisan. Untuk pertama kalinya ia menangis dalam seumur hidup. Melihat wajah polos sang anak dan membayangkan bagaimana menderitanya Rania selama ini membuatnya menunjukkan sisi lemah. Ia tunjang kepala yang berat dengan siku. Bahu yang tegap pun tampak bergetar samar. "Tapi ... tapi aku gak yakin apa aku bisa bahagia ...."
Sungguh, Rania tak bisa menahan hati. Ia usap air matanya yang juga ikutan keluar. Melihat Chandra menangis dan meratap seperti itu menyisakan rasa bersalah di dirinya. Kesalahan masa lalu yang juga karena kesalahannya. Aku juga minta maaf. Aku juga salah ....
Menyeka air mata yang sudah membasahi pipi, Chandra dekatkan wajahnya ke arah Chandira. "Maafkan Daddy, Sayang." Mengecup pelan dahi sang anak. Chandra pun angkat dari kasur dan meninggalkan kamar. Sebuah keadaan yang membuat Rania membuka mata. Menatap kosong daun pintu yang sudah tertutup.
Lagi, air mata Rania meluruh dengan deras. Ia bekap mulut dengan selimut agar tak ada suara rintihan yang keluar. Melihat Chandra yang merelakan kebahagiaan demi mereka membuatnya terharu juga bersalah. Sebuah rasa yang makin membuatnya tertekan.
"Baiklah. Aku harus merelakannya bahagia. Mungkin kami memang gak berjodoh." Rania lap jejak kesedihannya dan beranjak dari kasur. Meraih tas yang ada di bawah kasur. Tas yang sudah ia siapkan sedari siang. "Kuatlah, Ra. Kebahagiaanmu bukanlah di keluarga ini."
__ADS_1
Rania ambil pulpen dan buku yang ada di laci. Menuliskan sesuatu sebagai ucapan perpisahan.
Maafkan aku. Aku pergi tanpa pamit. Aku takut kalau berpamitan langsung membuatku goyah. Aku takut serakah, Chan. Aku sadar kalau aku gak pernah ada di hati kamu. Aku juga sadar kalau kebaikanmu itu semata-mata karena tanggung jawab. Aku bersukur untuk itu. Tapi makin lama berada didekatmu aku makin bimbang. Aku gak mau jadi orang egois yang merebut kebahagiaan orang lain demi diri sendiri. Aku putuskan akan pergi dan balik ke Semarang. Aku akan menjalani hidup seperti wanita tangguh yang lain.
Tapi kumohon. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Raihlah kebahagiaanmu. Kamu dan Litania sangat cocok. Jujur aku iri. Dan aku gak mau rasa iri itu membesar. Jadi aku putuskan pergi.
Soal anak kita. Chandira tetaplah anak kita. Anak hasil kesalahan tapi anugerah terindah dari Tuhan. Kalau kamu dan mama merindukannya, aku akan lapang dada membuka pintu rumah. Tapi dengan syarat, Litania harus tau. Aku gak mau main kucing-kucingan dan mengulang kesalahan yang sama.
Soal Chandira. Aku akan mendidiknya dengan baik. Akan aku didik dia agar gak melakukan kesalahan yang sama kayak kita dulu. Dan saat dia besar. Aku akan jelaskan segalanya. Jadi kamu jangan merasa bersalah. Sekali lagi raihlah kebahagiaanmu.
Note.
__ADS_1
Datanglah paling gak sebulan sekali. Semarang Jakarta gak harus pake pesawat. Dan yang terpenting kiriman uangnya jangan telat.
Salam sayang. Rania.