
Masih di hari yang sama. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Litania angkat dari ranjang karena sudah puas mengistirahatkan badan. Semenjak hamil ia jadi cepat lelah dan sering mengantuk.
"Mbak Sri, Kinar udah pulang," tanya Litania ketika melihat Sri berjalan hendak menuju dapur.
Sri yang tengah membawa keranjang belanjaan sontak berhenti dan memutar tumit. Tampak Litania berada di ambang pintu kamar menatap ke arahnya.
"Sudah, Non. Tadi dia pulang sekitar jam sebelas siang, tapi karena Non Litania tadi tidur siang, jadinya dia langsung naik ke atas." Sri menjeda kata sebentar, ia perhatikan wajah kusut sang majikan dengan seksama. "Apa perlu saya panggilin?"
Litania menggeleng lantas mengukir senyuman pada Sri yang seperti keberatan membawa beban. "Gak usah, Mbak. Biar saya aja yang ke atas."
"Kalau gitu saya pamit, Non."
Litania mengangguk lalu melangkahkan kaki menuju lantai dua rumahnya. Tak memerlukan waktu lama, ia pun tiba di depan pintu coklat dengan bergantung nama Kinar di sana. Pintu setengah tertutup.
Mengetuk pintu dua kali, Litania lantas menyembulkan kepala dan mendapati Kinar termenung dengan memegang ponsel. Gadis itu seperti tak mendengar apa pun. Wajahnya terlihat murung hingga Litania masuk ke kamar tanpa dipersilakan terlebih dahulu.
"Kinar, kamu kenapa?"
Litania keheranan. Ia langkahkan kaki mendekati Kinar dan merebahkan diri di sisi ranjang. Duduk bersisian dengan Kinar.
Kinar bergeming. Mulut masih bungkam. Hanya helaan napas panjang yang menjadi responnya.
"Apa karena Alex?" terka Litania.
Kinar menggangguk lesu.
"Tenanglah Bang Chandra pasti bantuin kamu. Arjun juga pasti nggak bakal lepasin orang brengsek itu. Jadi tenang, ya. Jangan sedih."
"Iya, aku percaya, cuma orang kayak Alex itu licik. Pasti bakalan susah." Kinar makin tertunduk. "Andai dulu aku ceritain semuanya, pasti ...." Helaan napas Kinar makin terdengar panjang.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Lagian bukan kamu yang salah, jadi jangan murung lagi, ya. Mereka pasti melakukan yang terbaik." Litania usap punggung Kinar yang membungkuk. "Kita tunggu aja. Orang kek gitu gak bakalan selamat."
__ADS_1
Kinar masih tertunduk. Ia tatap ponsel berwarna pink yang ada dalam genggaman. "Aku kepikiran buat ngasih tau papa, cuma ... aku takut ... aku takut bakalan hancurin usaha papa. Aku takut skandal ini bakalan berimbas pada usahanya dan nama baik keluarga. Aku takut Litan, aku takut ...."
Suara Kinar bergetar. Gadis berambut panjang itu makin tertunduk dalam. Isakannya terdengar pelan tapi mampu menyayat hati. Sementara tangan begitu kuat meremas ponsel.
Litania menata hatinya sekejap. Melihat Kinar yang serapuh itu tentu saja membuatnya juga merasakan sedih. Kedua bola matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Ia usap air yang tertahan di pelupuk mata. Air yang sedetik lagi siap menetes.
"Sudahlah, nggak akan ada apa-apa," ucap Litania lantas memeluk pundak Kinar. Keduanya saling berpelukan sambil menguatkan diri dalam diam. "Tapi menurutku, orang tua kamu harus tahu ini, Alex itu memang harus dihukum seberat-beratnya."
Mengangkat kepala, Kinar hapus jejak air mata lalu menatap Litania yang tersenyum—isyarat menguatkan. Seolah-olah mengatakan, "tidak apa-apa, Kinar. Semua akan baik-baik saja."
Kinar menipiskan bibir, ia usap layar ponsel lantas mencari kontak ayahnya. Namun, tanpa terduga nama Arjun muncul di layar benda pipih itu. Kinar dan Litania saling tatap sejenak, keheranan.
"Angkat," perintah Litania.
Kinar telan ludahnya lalu menyentuh tombol hijau. "H-halo, Arjun."
"Kinar, cepet kamu nyalakan TV sekarang," ucap Arjun yang ada di seberang telepon.
"Alex ... Alex sudah tertangkap, Kinar." Suara Arjun terdengar antusias, membuat Kinar terhenyak sesaat—tak percaya. Ia termangu hingga Litania yang penasaran akan obrolannya dengan Arjun melambaikan tangan ke depan.
"Ada apa?" lirih Litania pelan.
"Alex, Litan."
Kinar langsung memutus panggilan dan meraih remote TV yang memang tak jauh darinya duduk. Lantas menekan tombol lalu mencari berita yang Arjun maksud. Benar adanya. Di TV tampak Alex dan seorang pria botak digrebek polisi dan dijemput paksa di kediaman mereka yang tergolong elit. Pria brengsek itu menunduk dengan tangan tertaut di belakang kepala.
"Itu ... itu Alex!" Litania tak percaya. Matanya membola begitu besar setelah melihat berita.
Sementara Kinar, gadis itu diam. Ia bungkam. Matanya kembali berair, tak lama suara isak tangisnya pecah. Bukan tangis sedih, melainkan tangis bahagia. Ia lega karena orang yang selalu menghantui hidupnya selama ini berakhir dalam penjara.
"Dia ... dia sudah ...."
__ADS_1
Kinar tak bisa melanjutkan kata, ia kembali sesunggukan di dalam pelukan Litania hingga seorang anak kecil di TV yang wajahnya sudah di-blur mengalihkan perhatian Kinar dan Litania.
"Bisa ceritakan kronologinya?" tanya seorang reporter kepada gadis kecil yang masih menggunakan seragam.
"Sebenarnya saya gak yakin. Cuma semalam saya ngeliat Pak Alex dihajar seorang perempuan berpenampilan aneh. Dari obrolan mereka saya dengar kakak itu trauma karena pelecehan waktu dia masih sekolah. Awalnya saya gak tau pasti, itu beneran apa kebohongan. Tapi pas saya di suruh ke ruangan Pak Alex, saya jadi gemetar, takut kalau yang dituduhkan ke beliau itu benar. Jadi untuk berjaga-jaga saya vidio-in pertemuan saya sama dia sebagai bukti."
Gadis kecil itu menjelaskan tanpa terbata sama sekali. Kinar kagum. Anak kecil seumur itu sudah bisa mengambil keputusan yang begitu berani, berbeda jauh saat dirinya masih seusia itu.
"Dia hebat, aku salut sama dia," ucap Kinar dan diikuti anggukan kepala oleh Litania.
"Apa kamu gak takut?" tanya reporter itu lagi.
"Saya sangat takut, Bu. Saya ngadu sama kepala sekolah, tapi responnya seperti itu. Saya takut banget. Saya sampe gemeteran. Kayak gak ada yang lindungin. Apalagi saya sekarang cuma tinggal sama nenek. Tapi saya mikir lagi, kalau saya diam sekarang, korbannya akan tambah banyak, karena semalam saya lihat orang yang menghajar Pak Alex di bioskop itu ada seorang perempuan. Kakak kakak yang berpenampilan kayak orang gila. Dia sepertinya trauma dengan kejadian ini. Dan saya nggak mau berakhir menjadi seperti kakak itu."
Seketika Litania dan Kinar saling pandang.
"Ini ... yang dimaksud itu kamu bukan, sih."
Kinar menggeleng pelan. Beruntung, memori otaknya yang tak terlalu banyak pikiran bisa mengingat pertemuan semalam dengan seorang gadis.
"Kayaknya aku ingat. Aku emang ada ketemu dia semalam."
"Berati yang dia bilang kayak orang gila itu ... kamu?"
Kinar tersenyum canggung. Perkataan Ariska sedikit menohok hati. Gadis gila? Astaga ....
Namun, Kinar bersyukur. Ia beruntung bertemu Ariska dan Ariska melihat keadaannya yang memang tak seperti wanita normal lainnya.
"Saya nggak mau masa-masa emas saya diselimuti dengan kegelapan. Jadi saya memutuskan harus siap dan kuat menghadapi ini. Kan saya gak salah. Jadi kenapa harus takut," jelas Ariska lagi. Statement yang makin membuat hati Kinar penuh rasa syukur. Ternyata ada yang bisa menyuarakan suara batinnya yang tertekan begitu lama.
"Terima kasih. Terima kasih banyak."
__ADS_1