
"Wah, kamu keren banget, loh. Aku beneran gak nyangka kalau kamu bisa kek begitu. Aku yang liat aja jadi ngeri-ngeri sedap," ucap Chandra, sedangkan tangan sudah mengalung di pinggang Litania.
Terkekeh pelan, Litania yang mengalungkan tangan di leher Chandra merasa terpuji. Mata mereka bersitatap penuh rasa bahagia. "Aku juga gak nyangka bisa nyerocos kek tadi. Tapi aku beneran keren, 'kan? Udah kayak ibu negara belom? Atau kayak ibu tiri?"
"Emb, kamu keren. Banget, benget, banget. Pokoknya ibu negara atau ibu tiri kalah kejam sama kamu. Kamu udah kayak wonder woman." Chandra tersenyum, dibelainya rambut Litania dan menyelipkan di belakang telinga. "Apalagi penampilan kamu yang sekarang, jujur aku seneng. Kamu bisa menyesuaikan diri dengan ruang lingkup yang memang menuntut kita untuk selalu rapi dan berperilaku terhormat."
"Itu karena aku gak mau bikin kamu malu. Maaf, selama ini aku seenak jidat sendiri. Gak mikirin jidat kamu yang pastinya cenat cenut karena aku." Litania nyengir kuda lalu menyentuh perutnya yang masih rata. "Demi kamu, demi anak kita, aku bakalan coba untuk belajar dewasa."
Chandra tersenyum, diciumnya pucuk kepala Litania. "Nah gitu, dong."
"Makasih banget karna kamu udah ngertiin sikap kekurangajaranku selama ini. Tingkahku yang ... entah, pasti kamu sempat malu, 'kan?"
Chandra menggeleng. "Gak, aku gak pernah malu. Aku selalu bersyukur bisa dapetin kamu. Lama loh aku menanti. Udah kayak pungguk merindukan bulan."
"Bulan?" alis Litania mengernyit. "Itu artinya mukaku jelek, dong."
Chandra tergelak sekejap lantas mencubit hidung mancung Litania. "Kamu cantik. Cantik banget, udah kek bidadari kecebur di kali."
"Kelelep, dong."
Tawa chandra makin nyaring saja. Menggoda Litania membuat lelahnya hilang seketika. Dipegangnya dagu Litania yang sedikit runcing. Mata mereka bersitatap, Litania pun seolah-olah tersihir. Mata teduh Chandra membuatnya damai.
"Litania ...."
"Emb, kenapa?"
Tak berniat menjawab, Chandra malah memajukan wajah. Bibir ranum Litania yang berlapis lipstik begitu menggoda iman. Ia begitu ingin segera melumattnya.
Tiga senti.
Dua senti.
Satu senti.
__ADS_1
Ah sialan! Padahal sedikit lagi. Suara ketukan pintu membuyarkan adegan romantis mereka.
Chandra berdengkus. "Masuk!"
Tampak Ara yang ada di pintu. Wanita itu tersenyum canggung melihat posisi Litania dan Chandra yang jujur membuatnya rindu suami. Gak tau sikon banget, sih. Ara membatin dalam senyumannya.
Melepaskan kalungan tangannya, Chandra bersandar di sisi meja dan menatap fokus pada Ara. ''Kenapa, Ra?"
"Maaf, Pak. Sekarang jadwalnya miting sama pihak Jepang. Mereka sudah tersambung di laptop Bapak."
***
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Litania yang sedang duduk sendiri di atas gedung begitu terpana akan tatanan taman yang ada. Semuanya tertata sangat rapi hingga dirinya tak berhenti berdecak kagum. Belum lagi cakrawala yang sedikit mendung membuat dirinya betah berlama-lama di sana. Bahkan saking nyamannya, dirinya tak sadar kalau Ara tengah mendekat dari arah belakang.
"Minum?" Ara menyodorkan sebotol jus lantas tersenyum ramah padanya.
"Terima kasih."
Hening, mendadak atmosfer menjadi aneh. Teringat jelas bagaimana dirinya menghina Ara. Namun, anehnya Ara seperti biasa saja. Wanita berpakaian formal itu tersenyum memandang langit kemudian menyeruput kopi yang ada dalam gelasnya.
Ara menoleh. "Iya, kenapa, Nona."
Litania tersenyum canggung. "Panggil Litan aja. Aku kemaren cuma bercanda aja. Masa iya di panggil Nona. Gak banget. Udah kayak jaman kerajaan aja," sungutnya dengan bibir yang sedikit mengerucut.
"Baiklah. Ada apa, Litan. Ngomong aja. Jangan sungkan."
"Aku ... aku mau minta maaf soal tempo hari. Aku kayaknya emang keterlaluan."
Menipiskan bibir, Ara pandangi awan mendung di atas mereka. Sedetik kemudian kembali menyeruput kopinya. Membiarkan angin menerpa wajah sekejap dan kembali memandang Litania. "Enggak masalah. Saya paham, kok. Dan saya juga nggak sakit hati. Kalau saya di posisi kamu saat itu, saya juga bakalan meledak."
Ara tersenyum kikuk. Bagaimanapun itu memang rencananya agar Litania meledak dan cemburu. Ya, rencana yang berjalan lancar. Saking mulusnya pertengkaran antar suami istri itu kembali terjadi.
Memutar-mutar botol yang ada di tangan Litania jelas merasa tidak nyaman dan merasa bersalah. Ia telan saliva dan menundukkan pandangan.
__ADS_1
"Aku malu, Mbak. Jujur, aku ingin berperilaku elegan kayak Mbak. Kayak wanita-wanita yang lain. Tapi selalu aja gagal dan berakhir membuat dia kesal."
Ara kembali tersenyum. "Pelan-pelan saja. Semuanya butuh proses. Tapi kamu beruntung punya suami kayak pak Chandra. Orangnya dewasa dan hampir mendekati sempurna. Kalau kamu sia-siakan dia, kamu yang bakalan nyesel. Di luaran sana banyak lho yang siap menunggu duda suami kamu bahkan menggoda."
"Iya, Mbak. Aku tau, aku hanyalah gadis biasa dari rakyat jelata. Yang biasa makan ubi rebus tapi mendadak disuguhkan dengan spaghetti," ucap Litania lagi. Sebuah ucapan yang entah mengapa membuat Ara berpikir Litania sungguh menggemaskan.
"Tapi kamu sekarang udah jadi istrinya. Kamu memiliki hatinya. Jadi semangat, jangan insecure. Percaya diri aja kalau kamu pantes bersanding dengan dia. Jaga dia baik-baik. Jaga hubungan kalian agar tetap harmonis. Apalagi kamu sedang mengandung." Mata Ara tertuju pada perut Litania yang masih rata.
Litania masih bungkam hingga Ara tergoda untuk berucap lebih panjang lagi. "Dulu saya sempat mempertanyakan kejantanan suami kamu, loh."
Litania mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"
"Iya, setiap ada anak gadis dari investor ataupun kolega bisnis yang naksir dia, dia selalu cuek. Gak pernah menggubris atau melirik. Kan sadis itu namanya. Bayangin nih ya, bertahun-tahun saya kerja sama suami kamu, nggak pernah sekalipun dia jalan atau melirik perempuan lain. Ya jelaslah pikiran saya traveling ke mana-mana."
Ara tersenyum kecut. "Saya mikirnya suami kamu itu bengkok," lanjutnya seraya terkekeh geli.
"Ah, Mbak, kalau bengkok ya enggak mungkin jadi gini ceritanya," ungkap Litania seraya memegang perutnya. Wajah sudah memerah. Bagaimanapun ia bersyukur suaminya itu bukan tipe laki-laki mata keranjang.
"Terus apa kamu pernah nanya kenapa dia make mobil murah keluaran lama?"
"Ya karna dia pelit."
Ara menggeleng. Senyumnya makin merekah saja. "Itu karena dia gak mau jadi pusat perhatian. Coba bayangin kalau dia ke mana-mana pake mobil mewah. Pasti banyak yang ngantri buat ngegoda dia. Kebayang dong betapa repotnya saya nolak semua ajakan kencan yang datang. Yang sebelum-sebelumnya aja udah bikin puyeng. Dari anak pengusaha sampe anak pejabat. Banyak yang ngantri buat kencan buta. Tapi tetap ditolak."
Litania manggut-manggut. Sedetik kemudian ia tersenyum kaku. Mengingat bagaimana hinaan pelit selalu meluncur dari bibir untuk suaminya itu.
"Dan saran saya, sekarang kamu harus hati-hati. Semua karyawan udah lihat kamu, udah tau fisik kamu. Jadi berhati-hatilah, kalau dulu semua orang itu hanya mendengar gosip kalau istri Pak Bos itu, begini begitu begini begitu, banyak gosip miring yang menjabarkan bagaimana kamu menggoda dia hingga berakhir bisa menikahinya."
"Lah, kok bisa gitu." Litania tambah bingung.
"Ya karena kenyataannya, usia kalian itu jauh banget. Udah kayak om sama ponakan. Apalagi selama ini pak Chandra itu dingin sama perempuan. Tak tersentuh. Jelas mereka iri sama kamu lalu mulailah gosip aneh menyebar kayak polusi. Tak kasatmata tapi berefek juga."
"Tapi kenapa aku yang dijelek-jelekin. Itu gak adil namanya. Mereka aja yang gak tau gimana tu si bang kocan ngejar-ngejar aku." Litania mengerucutkan bibir, membuat Ara lagi-lagi tersenyum gemas.
__ADS_1
"Karena di mata mereka suami kamu itu sempurna, jadi ... ya begitu. Ya sudahlah, jangan di pikirin. Yang penting kalian hidup tenang, nyaman dan damai. Jangan dengerin apa pun. Oke."