
"Kita pernah ketemu, 'kan?" tanya Litania.
Wanita hamil itu sedikit gugup. Walaupun bersikap angkuh, ketakutan tetap kentara di wajahnya. "Masa! Kayaknya gak pernah, deh. Saya yakin kamu salah orang."
Melepas paksa tangan Litania, Miss Dolphin pun pergi dengan langkah lebar.
Sementara itu, Lesti yang penasaran mulai mendekat. Disentuh bahu Litania yang masih fokus menatap arah ke mana Miss Dolphin itu pergi. "Kamu kenal dia?"
Litania kaget, ia mengangguk ragu tapi sedetik kemudian menggeleng. "Rasa-rasanya kenal, tapi rasa-rasanya enggak," balas Litania yang direspon kekehan oleh Lesti dan yang lain.
"Kamu ini ada-ada aja. Kirain Mbak kamu kenal. Ya udah duduk lagi. Dia emang begitu, gak asik orangnya," ujar Lesti lagi.
Litania pun duduk, pikirannya terganggu akan wajah wanita tadi. Namun, sekeras apa pun berusaha mengingat, ia tetap tak menemukan titik terang siapa gerangan wanita glamor itu.
Mendesah panjang, Litania rebahkan punggung yang pegal di sandaran kursi. Teman-temannya bersenda gurau seolah tak terjadi apa-apa. Mereka tertawa lepas hingga suara dering telepon Lesti mengagetkan.
Merogoh ponsel yang ada di tas branded miliknya, mata Lesti membulat saat melihat nama si penelepon. "Kawan-kawan, ini dari Miss Ratna," ucapnya sedikit panik.
Sontak Lia, Mina dan Juni angkat dari kursi, mengelilingi Lesti. Telinga mereka bahkan mendekat, berlomba-lomba mencuri dengar apa yang akan dikatakan instruktur yoga mereka.
"Apa? Miss Ratna serius!"
Suara lantang Lesti mengagetkan Litania dan kawan-kawan, bahkan memancing rasa ingin tahu pengunjung lain.
"Baik, kami akan segera ke sana," balas Lesti lagi. Air mukanya menunjukkan kekhawatiran.
"Ada apa? Kenapa? Apa yang Miss Ratna bicarakan?" cecar Lia yang diikuti anggukan kepala Mina, Juni, Lia dan Litania.
"Bu Risma masuk rumah sakit. Dia pendarahan saat menuju ke sini."
__ADS_1
"Loh, kok bisa? Apa sudah waktunya melahirkan? Apa dia baik-baik saja?" Kini Litania yang memberondol pertanyaan.
"Sebenarnya HPL Bu Risma itu masih sebulan lagi. Tapi kita berdoa saja. Semoga dia dan anak ke duanya ini selamat," jelas Lesti. Ia buka dompet dan meletakkan dua lembar uang seratus ribu di atas meja. "Saya mau nyusul ke rumah sakit. Kalian mau ikut?"
"Mau," jawab tiga orang anggota lain, kecuali Litania, pikirannya masih tertuju pada wanita hamil yang masih belum keluar dari toilet. Entah apa yang dibuatnya di sana.
"Kamu gak ikut?" tanya Lesti.
Litania menggelangkan kepala. "Mbak aja dulu. Nanti aku nyusul. Aku ada perlu sama seseorang."
"Oh ya udah, kami duluan, ya?"
Litania mengangguk. Ia lepas kepergian teman-temannya dengan perasaan tak menentu. Selain khawatir dengan keberadaan Bu Risma, kejanggalan juga menyelimuti pikiran. Filing mengatakan iya, tapi otak tak bisa bekerja sama. Tidak bisa mengingat seseorang tapi yakin pernah melihatnya itu rasanya nano-nano. Jadi ingin cakar dinding saking kesalnya.
Kembali menoleh ke arah lorong toilet, Litania pijit pangkal hidung sambil berpikir dan mengingat. Namun, tak berhasil, kini matanya tertuju pada stoples kecil permen jahe yang ada di atas meja. Makanan yang ia yakin milik Juni.
"Kayaknya enak." Menelan ludah, Litania ambil permen itu dan memasukkannya ke mulut. Seketika ekspresi Litania sumringah. Bak si pria baju kuning di iklan sosis. Bibir tertarik dan sedikit menganga, mata bahkan terbuka lebar. Bukan karena rasa dari permen, melainkan perasaan senang karena bisa mengingat sosok yang sedari tadi membuat otaknya maraton, berlari kencang memutar memori.
Merogoh ponsel dalam tasnya, Litania hubungi Ara dan meminta foto Rumi, tunangan Leo.
Foto diterima. Fix, benar. Wanita yang ngaku sebagai Miss Dolphin itu tidak lain tidak bukan adalah Rumi.
"Tapi gimana bisa dia hamil, bukannya pertunangan mereka batal, ya? Jadi gimana bisa dia ...." Jeda sejenak. Otak Litania refresh lagi mengingat Leo, si pria licik bermata keranjang buah busuk dan berulat. "Ish! Dasar jahat!" geramnya. Tinju bahkan sudah terkepal. Mengingat Leo mendadak ia kesal.
Tanpa Litania sadari, si Endol alias Rumi tengah maju mundur cantik di belakang. Takut kalau Litania akan mengenali identitasnya dan mengacaukan penyamaran.
"Baiklah, aku pura-pura gak kenal saja. Toh, emang gak kenal, 'kan? Ketemu aja cuma sekali. Gak mungkin dia ingat hanya dengan satu kali lihat."
Memantapkan hati, Rumi mendekat. Sedikit heran dengan keadaan yang tak seramai tadi, hanya saja ketakutan membuatnya abai. Ia dekati meja dan menyambar tas miliknya. "Maaf, saya ada urusan. Saya pamit pulang." Tanpa mendengar jawaban Litania, Rumi segera memutar tumit dan melangkah. Semoga istri Chandra itu gak inget aku. Bisa brabe kalau ketahuan... Rumi bermonolog.
__ADS_1
Namun, belum sampai pintu restoran, suara menggelegar Litania membuat jantungnya serasa copot. Samsonwati berbalut pakaian Barbie itu menyeru namanya lantang.
"Ish! Perempuan ini benar-benar gila!" Cepat-cepat Rumi putar lagi tumit dan mendekati Litania. Wajah pucat. Ia raih tangan Litania dan mengajaknya duduk. Kacamata bahkan sudah terlepas. Mata mereka bersitatap dalam beberapa detik. "Please ... jangan sebut namaku," lirihnya.
Litania yang tak paham situasi ikutan berbisik, "Memangnya kenapa? Kenapa kamu nyembunyiin identitasmu?"
"Karna aku malu. Pernikahanku batal, ditambah aku hamil diluar nikah."
Bergeming, Litania mematung. Rumi yang melakukan dosa tapi dirinya yang merasa bersalah.
"Maaf, apa karna kami," ujar Litania makin lirih, mengingat dirinyalah yang mengusir Leo dari Indonesia.
Rumi menggeleng. Wajahnya yang cantik ditetesi air mata. Mengingat Leo mengorek lagi luka lama. "Bukan. Aku sama Leo udah putus hubungan sebelum dia ke Jakarta. Aku juga kaget saat tau Pak Edward mengirimnya ke luar negeri. Tapi, setelah mendengar ulahnya, aku mendukung. Laki-laki seperti Leo memang gak pantes dikasih kesempatan."
"Tapi kamu—"
"Aku gak apa-apa. Ini pilihanku. Aku gak mau menikahi laki-laki brengsek playboy kayak dia. Aku sakit hati, dia main gila sama sahabatku sendiri." Air mata menetes tanpa permisi, Rumi sedikit kewalahan menahannya agar tak tercurah habis. Bagaimanapun sekarang dirinya ada di tempat umum.
Menghapus air matanya, Rumi menatap dalam kesungguhuna. "Aku bisa ngelewatin ini dengan baik. Jadi kamu jangan terbebani. Ini gak ada sangkut pautnya sama kalian."
"Tapi orang tuamu ... masa depan anakmu ...."
"Orang tuaku ngerti. Mereka kecewa tapi tetap mau melindungi. Jadi, sebisa mungkin aku harus bisa menyembunyikan identitas. Aku gak mau skandal ini ngasih efek buruk dan mencemari nama baik keluarga. Untungnya aku anak pensiunan Mentri san bukannya selebritis. Jadi gak banyak yang kenal aku terlebih lagi di Jakarta ini."
Litania mengangguk. Meski sudah dijelaskan, rasa bersalahnya belum hilang.
"Jadi aku mohon, jaga rahasia ini, ya? Paling enggak sampe aku melahirkan. Aku sengaja gak ke luar negeri. Aku gak mau Leo jadiin alesan anak ini biar kami balikan. Aku beneran gak mau. Dia tau aku hamil. Tapi karena ayahnya, dia gak berani balik."
***
__ADS_1
Wah tebakan kalian salah semua. hehe.