Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ending.


__ADS_3

'Ya ... itu karena aku juga ada perjalanan bisnis keluar negri," balas Fabian. "Oh iya, kabar kamu gimana? Makin cantik sekarang. Pasti skincare-nya mahal." Fabian tersenyum menggoda.


"Ah, Mas Fabian bisa aja. Orang jelek begini dibilang cantik. Lagian skincare yang paling ampuh itu ya bahagia. Tertawa itu adalah penolak bala dan penolak tua yang paling ampuh di dunia."


"Sudah bijak sekarang, ya," goda Fabian lagi. Litania tersenyum malu dibuatnya.


"Oiya, Mas Fabian udah nikah?"


"Belum. Kalau kamu, udah punya berapa anak?" tanyanya berbasa-basi. Sebenarnya ia selalu mengawasi Litania dari kejauhan. Hanya itu, sebatas melihat tanpa berani mendekat, karena bukan haknya untuk meminta lebih.


"Anakku dua, Mas. Kembar. Namanya Dafan sama Dafin. Taun ini mereka masuk TK kecil."


"Aku yakin, anak-anak kamu pasti cakep-cakep kayak orang tuanya."


"Ih ... Mas Fabian bisa aja. Jangan muji terus, dong. Entar aku terbangnya ketinggian terus gak bisa turun," balas Litania seraya menyentuh pipi yang sudah menghangat. Bibirnya merekah, menahan malu.


"Oh iya, aku boleh nanya gak?" tanya Fabian. Matanya melihat Litania sebentar kemudian kembali ke jalanan. "Sebenarnya sudah lama aku penasaran soal yang satu itu."


"Boleh, tanya aja, Mas."


"Kenapa kamu mau dipanggil Litan. Kenapa gak Lita, Tania atau Nia? Kan lebih indah."


Litania tersenyum. Ingatannya kembali ke masa kecil saat ia dirundung karena memiliki nama itu. Saat itulah ia tak ingin memiliki persamaan nama dengan gadis mana pun.


Litania yang bisa saja di panggil Lita, Tania atau pun Nia memilih mencari opsi sendiri. Litan, baginya terdengar keren, unik dan tidak pasaran. Perbedaan tak selamanya buruk dan persamaan tak selamanya membawa efek baik.


"Ditanya kok senyum?" Fabian keheranan karena Litania malah termenung dan bukannya menjawab. "Emangnya ada sejarah apa di balik nama itu? Apa buruk?" lanjutnya.


Litania menggeleng. "Gak ada. Gak ada cerita buruk di baliknya. Malah sebaliknya. Aku senang. Aku bahagia pake nama Litan, kelihatan keren. Beda dari yang laen. Bener, kan?"


"Ck! Dasar."


Fabian tersenyum. Begitu pula Litania. Kenangan masa lalu yang buruk kini sudah berpindah haluan. Teman-teman yang dulu membully sekarang telah sadar. Mereka berteman baik sekarang, Nia maupun Tania telah mengakui kesalahan. Terlebih lagi Lita, perubahan yang ditunjukkan oleh Lita sangat signifikan. Semenjak insiden pemukulan yang diterimanya, wanita yang sudah mendapat predikat janda muda itu lebih baik dalam berkata. Ia balik lagi ke Semarang dengan membawa Livia. Anak yang disayanginya sepenuh hati meski bukan ia yang melahirkan. Dari kesalahan yang lalu Lita sadar, bahwa masa dewasa orang terbentuk kuat saat mereka masih menjadi kanak-kanak. Dan ia memutuskan akan membesarkan Livia selama Erik mendekam dalam penjara.

__ADS_1


"Sudah sampai. Makasih, ya, Mas." Litania berucap seraya melepaskan sabuk pengaman. Namun, belum terlepas, pintu mobil mendadak terbuka. Tampak Chandra menatap tajam ke arahnya dan Fabian.


"Loh, kok, udah pulang?" Litania turun dengan hati-hati. Ia dekati Chandra, berniat menjelaskan. Dari wajah yang terlihat masam kecut itu, Litania sudah dapat menyimpulkan. Bahwa suaminya kini tengah cemburu. Jadi, sebelum apinya semakin membesar, baiknya dijelaskan dulu.


"Yang ... ini gak yang kayak kamu pikirin. Aku sama Mas Fabian cuma kebetulan. Aku ... aku ...."


Lidah Litania mendadak kelu. Aura dingin Chandra jelas terasa. Matanya menatap tak suka ke Fabian.


"Aku beneran. Kami gak macem-macem. Aku—"


Perkataan Litania terjeda karena Chandra menyentuh pundaknya.


"Aku tau, Pak Bambang ada ngasih tau aku soal ini," jelas Chandra.


Menghela napas, Litania tersenyum lega. Namun, satu yang ia lupa, jas Fabian masih bertengger dan menyelimuti tubuh.


Tanpa bicara, Chandra lepas jas itu lantas mendekati Fabian. Matanya tajam memindai wajah pria tampan berlesung pipi. Namun, lagi-lagi Fabian merespon dengan senyuman.


"Perkenalkan, saya Fabian." Fabian mengulurkan tangan, ingin berkenalan secara langsung.


Lagi-lagi Fabian merespon dengan ulasan bibir, maklum akan perlakuan dingin cendrung tak sopan itu. Ia paham, siapa pun pasti tak senang jika istrinya berduaan dengan pria lain.


Memakai jasnya, Fabian lantas melihat Litania yang berdiri di sebelah kiri mobil kemudian kembali menatap Chandra. "Kalau begitu saya pamit."


"Tunggu!" Chandra mencegah dengan menahan pintu. Fabian terdiam, ia yang sudah duduk terpaksa harus kembali keluar.


"Ada apa?" tanyanya


Namun, tanpa aba-aba, Chandra malah mencengkeram leher jas Fabian. Fabian tentu tercengang. "Kenapa ini?" tanyanya lagi.


"Ini." Chandra berucap seraya mengambil sehelai rambut Litania yang ternyata menempel di jas itu. "Ini rambut berharga istri saya. Jadi saya gak mau ada yang memilikinya."


"Ya Tuhan, itu cuma rambut!" ucap Litania, menggeram. Mukanya merah menahan malu. Sumpah, iq tak enak hati akan tingkah konyol suaminya pada Fabian.

__ADS_1


"Walaupun cuma rambut. Tapi ini rambut kamu. Aku gak mau ada yang nyimpen. Terlebih lagi sama orang yang kayak miara udang di balik batu," tuding Chandra. Cemburu membuatnya kekanak-kanakan.


Lagi, Fabian hanya tersenyum. Ia tepuk pundak Chandra lantas kembali masuk dalam mobil. Lantas membuka kaca mobilnya sedikit. "Maaf, saya tidak ada niat jadi pebinor. Tapi, jika kamu menyakiti Litania atau membuatnya menangis lagi. Aku janji, aku yang akan berlari lebih dulu buat menghapus air matanya."


"Hey jangan mimpi!" teriak Chandra karena mobil Fabian telah berlalu. Kini matanya tertuju ke Litania.


"Tuh kan dia punya rasa ke kamu."


Litania kesal. Ia menatap nyalang Chandra yang sudah terbakar api cemburu. "Lalu kenapa kalau dia suka aku? Gak masalah, 'kan? Toh aku itu istri kamu. Kita udah punya dua anak. Dan yang penting aku itu cintanya cuma sama kamu. Jadi suami kok gak percayaan banget, sih."


Litania memutar tumit, melangkah masuk rumah dengan mulut yang terus bersungut. Rasanya kekesalan mendominasi pikiran. Ia memutuskan meninggalkan Chandra yang masih di halaman. Takut jika berlama berdebat akan menimbulkan pertengkaran. Ia paham kecemburuan Chandra, tapi tak bisa menerima caranya. "Dasar bangkotan expired. Nyebelin," lanjutnya lagi.


Sementara itu, Chandra yang tau gelagat Litania langsung mengejar. Kalau tidak segera diluruskan bakalan tak dapat jatah kelon selama tiga hari. Tidak, ia tak suka itu. Lebih tepatnya Albert tak mau.


"Sayang, tunggu! Jangan ngambek, aku kan cuma ngasih tau."


-


-


-


-


Tamat.


Makasih yang sudah mengikuti cerita ini. Makasih banyak. Karena kalian aku semangat nulis. Terima ksih juga atas partisipasi karena ngasih vote nya. Aku bersyukur. Beneran. heheh


Tapi jangan sedih, aku bakalan bikin part bonus. heheh tapi aku sarankan tidak usah lanjut untuk kalian yang merasa crta ini membosankan dari awal atau apalah.


cerita ini sudah tamat. Jadi gak ada keharusan atau kewajiban untuk kalian tetap lanjut.Sekali lagi aku gak maksa. Kalau mau baca ya sukur. kalo enggak ya udah. Gpp.


asal nanti jangan komentar yang bikin aku murka ya. Tolong jaga hati antar sesama. Kalau masih komen nyelekit. Aku sumpahin kutilan. Heheh

__ADS_1


makasih. 💕💕💕


__ADS_2