Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
masalah dan majalah.


__ADS_3

Di teras depan.


Fia sudah menunggu. Penampilannya kali ini sedikit berbeda—celana jeans dengan atasan kaus putih press body berlapis jaket denim. Akan tetapi, walaupun berpenampilan biasa begitu tetap tak mengurangi apa pun. Kecantikan gadis itu bahkan bertambah menjadi berkali lipat hingga Dafan dan Dafin yang baru saja melewati pintu menghentikan langkah secara bersamaan. Keduanya saling melempar pandangan sebelum akhirnya Fia mendekat dan melerai tatapan mereka.


"Bapak cuma bawa tas ini aja?" tanya Fia setelah mengernyitkan dahi beberapa detik. Ia keheranan melihat Dafin keluar rumah hanya memakai pakaian sehelai sepinggang dengan tas laptop di tangan. Sementara dirinya ....


"Iya, saya cuma perlu bawa ini. Semua pakaian sama keperluan saya sudah ada di vila. Lagipula kalaupun kurang bisa saya beli nanti," jawab Dafin datar. Kini dirinya yang mengernyit melihat barang bawaan Fia. "Kamu seriusan bawa semua itu? Kamu mau kerja apa mau piknik?" tuding Dafin.


Fia nyengir. "Lah, bukannya bapak sendiri yang bilang kalau saya itu nggak boleh balik ke rumah orang tua saya. Jadi saya bawa semua keperluan saya selama tiga hari di sana."


"Iya, tapi tetap aja ini kita kan mau kerja, kenapa bisa barang-barang kamu sampai sekoper begitu?" tanya Dafin lagi.


"Ini hanya sebagian, Bapak. Sebagiannya udah saya tinggalin di kontrakan," jelas Fia gregetan. Hak aku dong mau bawa barang sebanyak apa juga. Wong aku yang bawa ini, sambungnya dalam hati.


"Kamu serius?" Dafin mengerut pelipis, matanya memandang Fia lalu ke koper besar berwarna cokelat kehitaman di samping gadis itu berdiri.


Ya Tuhan, sebagian aja sampai sekoper begini apalagi keseluruhan, batin Dafin heran. Ia lalu kembali menatap Dafan. Saudaranya itu termenung dengan bibir yang tertarik. "Kamu nggak ke rumah sakit, Fan? Kok bengong?"


"Hah?"


"Kamu gak berangkat?" ulang Dafin, sedikit kesal.


"Ya berangkatlah." Dafan berdengkus. Ia lantas menatap Fia. "Oh iya, Fia, hati-hati di sana, jaga diri, walaupun lagi kerja kamu tetap harus memperhatikan kesehatan. Suplemen dan vitamin jangan lupa diminum biar kamu nggak gampang sakit, terus kalau kelelahan istirahat aja. Terus di sana kamu harus banyak-banyak minum air putih."


Mendengar nada bicara saudaranya yang penuh perhatian, kini Dafin yang balik berdengkus. "Ya elah, kamu lupa ya, dia itu sekretaris aku. Maksud kamu apa bilang begitu? Kamu mau bilang aku ini bos yang jahat gitu?" kesal Davin


Dafan nyengir begitu pula Fia, keduanya tampak kesusahan menahan tawa.


"Ya sudahlah, kami berangkat," ujar Dafin ketus seraya berlalu pergi masuk ke dalam mobil sport yang terparkir di halaman. Di sana sudah ada Sulaiman. Hari ini ia sengaja meminta sopirnya mengantar ke bandara.


Di perjalanan.


Senyap. Tak ada yang berbicara, hanya terdengar samar-samar suara radio yang disetel Sulaiman. Dafin sibuk melihat laporan-laporan di layar tablet yang ada di tangan, sedangkan Fia mengalihkan pandangan keluar jendela. Sesekali gadis itu mendesah putus asa karena keinginan untuk bertemu keluarga tak akan terlaksana, sang bos yang galak itu tak akan memberinya kesempatan untuk berjumpa barang semenit.


"Fia, ada hubungan apa kamu sama Dafan?" tanya Dafin datar. Akan tetapi suara itu sukses membuat lamunan Fia ambyar. Gadis itu terpanjat dan tampak gelagapan.


"M-maksud B-bapak hubungan apa, ya?" Fia balik bertanya. Sumpah, tak ada angin tak ada hujan nada suara bosnya itu tampak jelas ngajakin ribut. Bertanya tentang hubungan dengan suara seperti menuding. Jelas saja ia bingung plus kesal.


"Ya hubungan. Kalian sepertinya akrab, bukankah sudah saya katakan, kemarin itu hanya sandiwara, apa kalian merealisasikannya tanpa sepengetahuan saya?" ujar Dafin lagi tanpa melihat Fia. Gadis itu bersungut, bibir lebih maju dua senti.


"Kami nggak ada hubungan apa-apa, Pak. Kami cuma berteman biasa," balas Fia sejujurnya.


"Temenan?" Bibir Dafin naik sebelah, seolah-olah meremehkan, Fia makin kesal dibuatnya.


"Iya, cuma teman, tidak lebih." Fia menekankan. Dafin masih memasang wajah tak percaya.


"Kamu yakin bisa berteman dengan saudara bos kamu? Apalagi kami kembar. Wajah kami sama. Apa kamu bisa membedakan mana hubungan pertemanan dan mana pekerjaan?" Dafin menjeda kata lalu menatap Fia serius. "Kamu yakin gak salah membedakan nantinya? Bisa kamu bedakan mana Dafan dan mana Dafin? Saya yakin kamu masih bingung. Selain gaya rambut, kami memiliki kesamaan hampir 100 persen. Kamu yakin gak bakalan ketuker nantinya?"


Fia bergeming, bola matanya bergerak liar. Ada benarnya perkataan Dafin barusan. Ia sebenarnya tak nyaman menganggap Dafan teman, hanya saja dokter muda itu bersikukuh ingin berteman dengannya agar bisa berbicara santai tanpa ada embel-embel level maupun kasta diantara mereka.


Dafin kembali menatap layar tablet. "Sudahlah. Jangan di pikirkan. Saya juga nggak akan ambil pusing hubungan kalian. Kalau kalian mau berteman ya silakan. Tapi ingat batasan. Saat dengan saya kamu adalah bawahan. Jangan karena Dafan baik sama kamu, kamu jadi ngelunjak. Perlu kamu ingat, Dafan mungkin ramah sama perempuan dan kelihatan baik hati, tapi tidak saya," papar Dafan lagi penuh penekanan.

__ADS_1


Sementara Fia, ia hanya bisa mengangguk. Sesekali membasahi bibir dengan saliva. Ultimatum Dafin memang ada benarnya. Tak sepantasnya ia berteman dengan Dafan, hanya saja keramahan Dafan membuatnya setuju. Baru kenal saja Dafan sudah bisa memberikan kenyamanan, meskipun kadang-kadang kejujuran Dafan membuat hatinya cenat-cenut tak beraturan.


Entahlah, entah sengaja atau tidak kadang Dafan membuatnya merasa jadi perempuan paling cantik sejagat raya. Kadang kala ia risih akan pujian Dafan, tapi ada kalanya juga nyaman karena pria itu sangat ramah, apa adanya dan murah senyum.


"Oh iya, bagaimana pemotretan semalam?" tanya Dafin yang lagi-lagi tanpa menoleh Fia, "apa semuanya lancar-lancar saja? Apa ada pertanyaan yang gak bisa Dafan jawab?"


"Lancar, Pak. Pak Dafan juga menjawab pertanyaan dengan baik. Dia menghafal note yang Bapak kasih," papar Fia.


Seketika bayangan tentang pemotretan di studio semalam mengudara lagi.


"Dia tampan, ya?" bisik seorang pria berkepala pelontos yang gaya dan penampilannya tak mirip pria. "Aku liatnya gemes, deh. Wajahnya fotogenik banget, rahangnya ... uh, aduh pengen tak bawa pulang," lanjutnya lagi.


Fia yang mendengar celotehan pria setengah jadi itu hanya menanggapi dengan senyum canggung. Jujur, sebenarnya ia risih juga berdiri dan berdekatan dengan pria yang berprofesi sebagai MUA itu, hanya saja demi melihat Dafan tak melakukan kesalahan-kesalahan, ia berakhir pasrah dan tetap mendengarkan ocehan.


"Ngomong-ngomong kamu pacarnya?"


Cepat-cepat Fia menggelang. "Bukan, saya cuma sekertaris."


"Iya saya juga tau kamu sekertaris dia. Cuma kan banyak tu bos yang kecantol dengan sekertaris. Ya kali aja kalian lagi cmimew unyu-unyu gitu," godanya seraya nyenggol bahu Fia.


Sumpah, Fia tak bisa berkata. Ia lagi-lagi hanya bisa menampilkan deretan gigi tanpa tahu apalagi yang harus dilakukan.


"Sayang banget, loh. Kalo aku jadi kamu, pasti aku pepet itu, kalo gak berhasil aku pelet."


Jiah, Fia makin tak tau harus berkata apa. Apa sebegitu tampannya Dafan sampai harus di pelet?


Ada-ada aja ni hantu hujan panas. Kek stok perempuan di dunia ini punah aja sampe naksir laki-laki. Modelan kek begini ini ni yang bikin perempuan punah tanpa sebab. Sayang loh ganteng-ganteng tapi belok. Ih kasian. Fia bermonolog lalu kembali melihat Dafan.


"Loh?"


Fia yang berdiri di dekat kru lain sontak panik. Pihak majalah atau yang bertugas sebagai pewawancara tak meminta persetujuan lebih awal soal pertanyaan itu.


Menggelang seraya menyilangkan lengan, Fia bergerak aktif agar Dafan melihatnya. Ia sangat berharap Dafan tak menjawab pertanyaan tersebut.


Akan tetapi Dafan hanya tersenyum lalu kembali melihat wanita yang ada di sebelahnya. "Iya, ada. Ada sosok wanita yang saya suka."


Seketika perempuan itu langsung terkekeh, ia makin terlihat bersemangat. "Kalau boleh tau siapa wanita itu? Apakah publik figur? Anak dewan? Atau ... dewan itu sendiri?"


Dafin lagi-lagi tersenyum. Ia melihat tampang panik Fia. Seolah-olah nikmati obrolan itu, ia pun kembali berkata, "Pokoknya ada. Dia wanita yang pertama bikin saya nyaman. Saya suka dia, dia perempuan yang menyenangkan."


"Hooo ...."


Gelak tawa si embak makin membuat Fia gelagapan. Ia tetap menggelang dengan wajah mengiba. Berharap Dafan tak melanjutkan lebih jauh.


"Kalau boleh tau siapa wanita itu?"


Dafin kembali menatap Fia, sangat intens dan lama hingga semua orang termasuk kameraman langsung mengarahkan kamera ke arah titik fokus Dafan. Fia gelagapan karena semua mata tertuju padanya.


"Oo ... saya paham sekarang. Dan saya doakan agar hubungan Anda dengan wanita itu langgeng. Saya turut senang. Ah ... andai wanita itu adalah saya. Saya akan sujud syukur," goda wanita itu dengan pipi yang membulat karena tak henti terkekeh kecil.


"Fia, hey Fia! Kamu ngelamun?" seru Dafin yang melerai ingatan Fia. Pria itu bahkan menggoyang-goyang pundak gadis itu. Heran akan gelagatnya. "Kamu mikirin apaan, sih?"

__ADS_1


"Eh? K-kenapa, Pak?" tanya gadis itu balik. Ia melongo sesaat, seperti orang linglung.


"Saya tadi nanya, apa ada pertanyaan yang gak bisa Dafan jawab? Pertanyaannya sesuai perjanjian yang diberikan oleh pihak majalah, 'kan? Sebenarnya saya ingin bertanya sama Dafan, cuma dia sudah tidur dan pagi ini saya juga lupa untuk bertanya. Apa bisa kamu jelaskan bagaimana keadaan di studio semalam?" cecar Dafin.


"Tidak ada yang berbeda, Pak. Pak Dafan melakukan pemotretan, habis itu wawancara sesuai jadwal, hanya saja ada satu tambahan pertanyaan dari pihak majalah?" Fia gusar seketika. Ia benar-benar lupa melapor pasal pertanyaan dadakan itu.


"Pertanyaan tambahan?" Sekarang Dafin melihat serius Fia. Alisnya terangkat sebelah, mata pun intens menatap gadis itu. "Apa pertanyaannya?" lanjut Dafin.


"Pertanyaannya seputar asmara dan type calon istri."


"Apa?"


Suara Dafin menggema. Matanya langsung membulat. Ia berdengkus dan tetap melayangkan tatapan elang pada Fia. "Lalu apa jawaban Dafan?" tanyanya dengan suara dalam.


"Saudara Anda tidak bilang apa-apa, cuma ...."


"Wah benar-benar gila," sela Dafin tanpa memedulikan lisan Fia yang terjeda karenanya. Ia menggeleng tak percaya lalu mencoba menelepon Dafan. Sambil melekatkan gawai ke telinga, Dafin pun kembali mengomel, "Lalu kenapa kamu gak bilang hal penting seperti ini, ha!"


"M-maaf, Pak. Saya sudah nyoba nelpon Bapak. Tapi nomor telepon Bapak gak aktif. Terus, saat saya mau kirim pesan, HP saya juga lowbat. Sampai kontrakan saya lupa buat ngasih tau," ungkap Fia terbata. Sumpah, ia pasrah. Tapi tetap berharap dapatkan maaf. Bagaimanapun itu di luar kendali. Ia memang menemani Dafan, tapi bukan berarti bisa memfilter apa saja yang Dafan ucapkan saat wawancara.


"Sumpah, ya. Kamu emang bener-bener," kesal Dafin. Matanya melotot memandang Fia dengan ponsel yang masih melekat di telinga. "Ini tu kesalahan pertama kamu yang sangat fatal, Fia. Kamu ...."


Belum sempat Dafin menyelesaikan kalimat, Fia cepat-cepat meraih tangannya.


"Tolong, Pak. Tolong jangan pecat saya ... saya butuh pekerjaan ini. Tolong kasih saya kesempatan sekali lagi."


Mata Fia berkaca-kaca. Pemandangan yang entah kenapa membuat Dafin tak tega. Ia tarik tangannya dari genggaman Fia.


"Sialan," umpatnya kesal lantas kembali menekan nomor telepon pihak majalah.


Perdebatan pun terjadi. Dafin yang memang galak makin bertambah berkali kali lipat level kesangaran. Fia dan Sulaiman sampai bergidik ngeri. Saking kesalnya, Dafin sampai mengancam akan menuntut perusahaan itu kalau sampai mencantumkan masalah pribadinya.


Telepon berakhir dengan Dafan menjadi pemenang.


Kini ia tatap nyalang lagi Fia. "Ingat, Fia. Saya harap ini kesalahan pertama dan terakhir kamu. Ingat itu baik-baik," ucapnya penuh penekanan. Akan tetapi meskipun begitu Fia bersyukur karena Dafin memaafkan.


Pukul sembilan pagi, tibalah mereka di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Keduanya dijemput oleh sopir suruhan Chandra.


"Fia, kamu tau kan kenapa kita ke Bali?" tanya Dafin. Ia sandarkan punggung yang lelah seraya melihat jalanan yang penuh dengan wajah-wajah orang asing. Namun bukan itu permasalahannya. Otaknya bekerja keras bagaimana membujuk si calon investor.


"Tau, Pak. Bapak bilang kita harus bisa meyakinkan Tuan Reynal Smith," balas Fia yang duduk di kursi samping sopir. Ia dapat melihat wajah lelah sang big bos dari pantulan cermin.


"Iya. Saya harap ini akan sukses," desah Dafin.


Fia mengangguk. "Tapi ke mana kita akan mencari pak Smith ini?" balas Fia.


"Sebentar lagi, sebentar lagi pihak kantor akan mengirimkan alamat di mana si Smith ini menginap. Dan bangunkan saya jika sudah sampai. Saya lelah. Ingin istirahat sebentar."


Fia terdiam, mata kembali melihat depan. Menikmati pemandangan yang ada. Akan tetapi tak lama kemudian sebuah notifikasi pesan membuat mata Fia melotot tak percaya.


"Loh, ini ... ini kan alamat ...."

__ADS_1


Vote like komen and rate jgn lupa. Aku up panjang lebar loh ini. ude kek cintaku pada mooh. hehe.


__ADS_2