Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Belum sadar.


__ADS_3

POV Dafin.


Kubuka pintu lalu mengendurkan dasi. Rasanya sesak. Aku tak bisa bernapas normal. Ada apa denganku? Apa aku punya penyakit jantung? Sejak melihat si kunyuk itu melamar Fia, aku jadi nggak bisa fokus pada hal apa pun. Bahkan diperjalanan tadi aku hampir saja menabrak mobil lain. Ya Tuhan. Ada apa dengan otakku?


"Argh! Aku rasanya bisa gila."


Aku melempar jas ke sofa lalu menjambak rambut sendiri. Tadi, di bawah aku melihat Fia tengah mengobrol dengan laki-laki. Aku mendadak menjadi kesal, dan sekarang beginilah aku, sudah seperti orang gila. Kedekatan Fia dengan pria lain sungguh mengusik. Ada apa dengan hatiku?


Menarik napas panjang, lalu mengembuskan secara perlahan. Sangat berharap cara ini ampuh membuatku tenang. Namun, semuanya ambyar karena sebuah notifikasi pesan dari Dafan.


Darahku makin mendidih setelah membaca pesannya. Dia seenak jidat menyuruhku memulangkan Fia. Apa haknya?


Kucoba menghubungi Fia. Tersambung.


"Ya, Pak. Ada yang Bapak perlukan?" tanyanya ramah.


Aku terdiam sejenak. Sedikit heran padanya. Bukankah semalam aku menghancurkan lamaran dia? Tapi, sekarang dia berucap seperti biasa—sopan.


"Apa peraturan saya sudah kamu sampaikan?"


Aku bertanya tanpa basa-basi.


"Sudah, Pak. Sebentar lagi mungkin semuanya akan mendapat notifikasinya."


"Kalau gitu, cepat naik ke atas. Bikinkan saya kopi."


"Ba—"

__ADS_1


Aku langsung memutus telepon. Aku gugup, suaranya terdengar merdu. Kenapa ini? Apa ada masalah dengan telingaku? Aku menjadi berdebar.


Tiga menit menunggu tapi Fia tak kunjung tiba. Pikiranku makin liar dan membuatku tak bisa mengendalikan sesuatu dalam dada. Semakin ditunggu semakin aku gusar. Semakin aku meyakinkan diri untuk bersabar, semakin besar dorongan yang menyuruhku untuk mengamuk.


Kucoba menghubungi lagi dan hanya dalam beberapa detik telepon sudah tersambung. "Iya, Pak," jawabnya lagi


"Cepetan Fia! Bikinkan saya kopi!"


Akhirnya aku berteriak, aku kesal karena gadis itu tidak kunjung tiba. "Apa dia masih mengobrol?" gumamku pelan


Cih!


Mendadak aku penasaran dengan sosok laki-laki yang berbicara sama Fia di bawah tadi. Apa dia yang bernama Rito? Keponakannya Maryam?


Gegas aku menuju meja kerja dan mulai mengoperasikan laptop. Cuma beberapa kali klik sebuah foto dan informasi yang aku butuhkan sudah tersedia.


Dan benar. Darahku makin berdesir setelah mengetahui kalau pria yang berbicara akrab dengan Fia adalah Rito. Keponakan si lampir itu.


Mengangkat kepala, mataku nyalang menatap daun pintu yang tertutup. "Dasar ganjen, sekretaris macam apa itu? Gimana ceritanya dia mengabaikan aku? Aku bosnya, aku yang menggajinya selama ini. Dia bekerja denganku tapi kenapa dia sekarang sangat belagu? Apa karena dia terlihat populer belakangan ini?"


Sialnya, makin memikirkan hal negatif darahku makin mendidih. Emosiku makin tinggi kala mengingat bagaimana Kevin memujanya, melamarnya, dan sekarang Rito juga selalu menempel padanya, belum lagi Dafan.


Aku menghela napas panjang. "Apa sih sebenarnya kelebihan Fia? Bukankah dia sama saja dengan wanita lain? Kalau soal baik itu kan relatif, semua perempuan juga punya sisi baik dalam diri. Sama halnya dengan kecantikan, kalau selalu merawat diri bukankah kecantikan selalu ada? Tapi aku tetap heran, kenapa semua orang begitu tergila-gila padanya?


Aku kembali mondar-mandir. Sebegitu asyiknyakah obrolan mereka hingga dia lupa kalau aku belum dibuatkan kopi?


Tanganku gatal dan kembali menghubungi Fia.

__ADS_1


"Fia, kopi!" hardikku. Sekali-kali wanita itu harus ditegas. Aku tidak suka orang yang selalu membuang waktu.


"Iya Pak. Sekarang saya sudah ada di pantry," balasnya.


Aku duduk, rasanya lelah karena telah mondar-mandir depan meja. Akan tetapi tak lama kemudian suara pintu diketuk dan terlihatlah wajah gadis itu. Sama seperti biasa. Dia cantik. Ya ... aku akui wajahnya lumayan cantik, penampilannya sangat rapi. Namun, entah kenapa aku masih saja kesal melihat dan mengingat bagaimana dia dekat dengan laki-laki lain.


Aku mengepalkan tangan. Aku jadi makin kesal. Ada apa denganku ini? Apa aku gila? Apa aku cemburu?


"Ini, Pak, kopinya." Dia meletakkan kopi di meja.


Aku diam, mataku menyalang. Aku masih kesal, bahkan sangat kesal, dia mementingkan mengobrol dengan orang lain ketimbang mendahulukan keinginanku.


"Dasar lelet," ketusku.


"Maaf, Pak, saya lambat karena tadi ada yang komplain soal peraturan baru," ujarnya dengan posisi berdiri tegak memeluk nampan.


Mataku menyelidik. Apa benar begitu? Jangan-jangan itu cuma alasan kamu doang, Dasar.


Sial, bulu kudukku berdiri setelah menyeruput kopi buatannya lantas menyeburkan isinya. Gelas yang ada di tangan bahkan sudah kulempar. Dia terlihat jelas berjengket. Aku yakin dia kaget, tapi aku tetap kesal, bagaimana bisa dia lalai?


"Apa kamu mau saya mati?" hardikku tanpa rasa kasihan. "Berapa ton gula yang kamu masukkan ke sini? ha! Bukankah kamu tahu kalau saya tidak suka manis!"


Dia tertunduk. Aku mengelap sisa kopi, ah bukan kopi. Ini lebih pas kalau di sebut madu. Tubuhku merinding karenanya. Aku tidak suka manis. Bahkan bisa dibilang anti. Aku punya trauma dengan yang namanya makanan atau minuman yang rasanya manis.


"Maaf Pak Dafin. Saya ...."


"Pergi!"

__ADS_1


"T-tapi, Pak ...."


"Saya bilang, pergi!"


__ADS_2