Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Hati ke hati


__ADS_3

"Kamu mau sarapan?" tanya Dafin melerai kebisuan. Sudah hampir sepuluh menit berkendara tapi Fia tak berucap sepatah kata pun. Dafin jadi bingung sendiri dan mulai bertanya-tanya, apakah caranya terlalu ekstrem?


Fia hanya berdeham. Tak punya alasan untuk berkata-kata apalagi minta pulang. Sekarang ia sudah mandi dan cantik. Pria di sebelahnya itu ternyata sudah merencanakan ini semua dengan matang. Dari pakaian luar sampai ke dalam, Dafin begitu tepat menerka ukurannya.


Menghela napas panjang, Fia mendadak teringat Dafan. Pria itu sangat baik, perhatian dan sopan. Entah apa dosa yang ia lakukan di masa lalu sampai-sampai bisa berakhir terjebak cinta segitiga yang rumit seperti itu.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Dafin lagi.


"Terserah Bapak," balas Fia sekenanya. Rasanya tidak punya tenaga lebih untuk berdebat. Kata-kata tak mempan untuk bos yang mengaku menjadi pacarnya itu. Belum mengiyakan ajakan untuk berpacaran saja bibirnya sudah tiga kali dinikmati.


"Nyebelin, tukang paksa, awas aja kalau berani macam-macam lagi."


Fia merungut. Dafin yang samar-samar mendengar sungutan Fia jadi gemas dan memutuskan menghentikan mobil.


Kepala Fia berputar melihat sekitar. "Kenapa?" tanya Fia. Mereka berhenti di taman kota. Berhubung hari Sabtu, jadi begitu banyak orang yang menghabiskan waktu pagi mereka dengan berlari pagi, bahkan ada juga yang asyik bermain dengan keluarganya.


"Turun dulu, kita harus bicara," ucap Dafin.


Fia menurut. Dafin pun menuntun gadis itu untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman lantas berkata, "Kamu duduklah dan tunggu di sini, aku mau beli sesuatu."


Fia lagi-lagi tak menyahut, hanya ulasan bibir terpaksa yang mengantar kepergian Dafin. Ia dapat melihat punggung tegap pria berkaus merah maroon itu perlahan hilang dari pandangan.


Kini, mata Fia melihat sekeliling. Suasana pagi yang ramai dan cuaca yang cerah membuatnya termenung beberapa saat sebelum akhirnya sebuah bola karet sebesar telur menyentuh kaki. Tentu saja benda kecil itu membuyarkan lamunan.


Mengambil bola, mata Fia melihat sekitar dan mendapati seorang bocah berkemeja kotak-kotak, bertubuh agak gempal sedang berjalan menghampirinya.


"Ini bola kamu?" tanya Fia. Ia mendapat anggukan dari bocah lelaki yang bisa ia tebak berusia sekitar empat tahunan. Mendadak ia teringat dengan anak Sisi yang meninggal.


Mendesah panjang, Fia memberikan bola itu dan sang bocah langsung pergi berlari menghampiri ibunya.


"Dia pasti sedih karena sudah kehilangan orang tua dan anak. Hari ini dia malah kehilangan tunangan. Aku harap dia beneran baik-baik aja," gumam Fia lirih. Rasa bersalah makin menyelimuti pikiran. Ia kembali termenung dan sebuah sentuhan di pundak mengagetkan. Tampak Dafin menyodorkan sebotol teh dingin kepadanya.


"Minum dulu," tawar Dafin.


Fia menerima tanpa berkata. Ia buka tutup botol dan menikmati sedikit isinya. Ia lirik Dafin, pria disebelahnya juga tengah meminum kopi dalam kemasan yang juga berbentuk botolan.


Hening, Fia masih memutuskan diam. Dafin yang melihat wajah masam kecut Fia tak bisa menghentikan senyuman. Entah kenapa, sejak mengakui perasaan sendiri ia jadi tidak bisa mengontrol emosi dan ekspresi. Fia benar-benar menjungkirbalikkan dunia dan kebiasaannya. Keteraturan yang selama ini dijaga menjadi berantakan dalam sekejap.


Berdeham, Dafin menggenggam erat botol yang ada di tangan. Ia lihat lekat Fia. Dari samping pun gadis itu tetap terlihat cantik.


"Fia, kita harus bicara," ujar Dafin, terdengar serius.


"Bicara aja." Fia menjawab tanpa mau menoleh. Ia hanya memutar bola matanya, malas. Perasaan dari tadi dia udah ngomong deh, lanjutnya bermonolog.


"Aku harap mulai hari ini kita bisa akrab. Perlakukan aku sama kek kamu perlakuin Dafan." Jeda sejenak, Dafin menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan. "Aku iri sama Dafan. Kalian bisa akrab, sedangkan sama aku kamu terlalu kaku dan formal," lanjutnya.


"Bukannya itu Bapak sendiri yang minta. Lagian hubungan kita memanglah sebatas atasan dan bawahan," jawab Fia. Kata-katanya sama persis dengan yang Dafin tekankan padanya beberapa bulan lalu. Ia sedikit senang. Ternyata Tuhan memberikan waktu untuknya membalas dendam.


"Tapi enggak sekarang. Aku harap kamu perlakuin aku sama kek kamu berhadapan sama Kevin maupun Dafan, bisa? Itu perintah."


Fia menghela napas panjang. Lagi-lagi Dafin memaksakan keinginan. Ia menoleh Dafin.


"Baiklah, apa yang mau kamu katakan," ujar Fia. Sedikit lembut dari sebelumnya. Ia akan menuruti permintaan Dafin yang satu itu—berbicara santai tanpa ada sebutan "Bapak" saat mereka berbicara.


"Maaf soal tempo hari."


Mata Fia terbelalak, ia shock karena Dafin tak pernah meminta maaf lebih dulu. Di saat menjadi sekretaris, dirinya yang selalu meminta maaf meski Dafin yang salah.


Fia mengerjap, sedangkan pria disebelahnya tetap menatap depan. Bos-nya itu terlihat tenang dengan napas yang terdengar panjang. Sebuah gelagat yang membuktikan kebalikan. Ada kegelisahan yang Dafin coba sembunyikan.


"Malam itu aku nggak bisa ngontrol emosi. Aku sangat marah saat ngeliat Kevin berlutut dan ngelamar kamu," lanjut Dafin.


Fia menelan ludah, seketika ia menjadi gugup. "Kamu liat semuanya?" tanya Fia.

__ADS_1


Dafin mengangguk. "Maaf aku terlambat sadar kalau aku memang suka kamu."


Fia bungkam, ia tak tahu harus menjawab apa. Mendengar Dafin membahas Kevin, ia makin merasa bersalah. Tiga pria begitu berharap padanya. Tanpa aba-aba Dafin meraih tangan tangannya lantas menggenggam erat. Fia tentu saja berjengket. Ia melihat Dafin dengan tatapan heran.


Namun, tidak untuk Dafin, mata pria itu teduh, seteduh samudera, begitu tenang sehingga Fia seakan tertarik dan ingin menyelam lebih dalam.


"Aku tanya sama kamu, apa kamu masih suka sama Kevin?" tanya Dafin yang terdengar putus asa. Ada nada penuh harap di sana.


Fia mendesah. Kaki ia ayunkan karena memang tak menapak tanah. "Entahlah. Jujur aku juga nggak tahu apa yang aku rasa. Aku dulu begitu menyukainya. Bertahun-tahun aku nyimpen rasa suka untuk dia. Tapi semenjak kerja ke Jakarta dan jauh dari dia, perlahan-lahan rasa itu udah gak terasa. Kek hilang, dan aku gak kepikiran. Aku nggak tau, ini beneran yang namanya cinta atau hanya sekedar suka. Tapi yang jelas dulu Kevin menjadi arah pandanganku."


Fia terkekeh mengingat masa lalunya bersama Kevin. Mereka selalu bertengkar tapi anehnya ke mana-mana selalu bersama. Dari Fia berangkat sekolah sampai belanja keperluan harian, Kevin selalu ada di dekatnya. Itulah yang membuat Fia tanpa sadar bergantung pada Kevin.


Berdengkus, Dafin merasa tidak senang saat Fia tersenyum karena membayangkan pria lain. Botol yang ada dalam genggaman bahkan berbunyi. Namun, ia tetap ingin mendengar perasaan gadis itu lebih jauh. Ingin memastikan kalau saingannya bukanlah Kevin.


"Lalu apa yang kamu rasa saat Kevin melamar waktu itu? Kamu pasti senang. Cintamu berbalas," lanjut Dafin, terdengar dingin. Sekuat hati ia tahan diri agar tidak mengamuk.


"Entah." Fia menggidikkan bahu. "Aku nggak tau pasti. Tapi kayaknya memang rasa suka aku perlahan hilang untuk dia. Kek serasa ngedepin teman aja."


Senyum Dafin sedikit terukir tetapi sedetik kemudian bibir yang tersenyum itu kehilangan keindahan saat botol yang ia pegang memantulkan wajah sendiri. Ia teringat Dafan.


"Lalu, soal Dafan bagaimana?"


"Dafan baik, aku suka sama dia. Dia perhatian, dia lembut, dia begitu asyik kalau diajak ngobrol. Aku nyambung sama dia. Dia bikin aku nyaman."


"Nyaman?" Dafin mendadak resah. Ia merasa posisinya sedang terancam. "Nyaman hanya sebagai teman, 'kan?" lanjutnya.


"Iya, sepertinya memang begitu."


Makin antusias. Dafin menangkup pipi tirus Fia dan menatapnya makin dalam. "Kalau denganku, apa yang kamu rasa?"


Fia gelagapan, ia tepis tangan Dafin dengan paksa, tapi lagi-lagi Dafin dapat menangkup wajahnya yang merah dengan mudah. Fia pasrah, tak hanya pipi, sepertinya tubuh dan pikirannya juga ditarik paksa dan hanya tertuju pada Dafin. Pria di sebelahnya itu seperti mempunyai kekuatan tersendiri, seperti magnet. Ia tak bisa menolak justru senang berdekatan dengannya.


"Apa aku berbeda?" tanya Dafin lagi. Matanya berbinar. Fia jadi salah tingkah.


"Hmm itu ..."


"Emang kamu tau apa?" Fia mendelik kesal, ia berdengkus. "Tingkat kepedan kamu akut banget. Hati-hati, jatoh nanti langsung gak bisa berdiri," lanjut Fia. Sebuah sahutan yang mengubah ekspresi Dafin.


"Kenapa? Mau marah? Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang kalau kita sudah temenan."


Gelak Dafin mengudara lagi, ia acak-acak rambut Fia. "Kamu memang spesial. Gak mudah terintimidasi."


Fia berdecak sebal. Ia minum jus buah yang ada di tangan. Matanya kembali menyapu sekitar dan tanpa sengaja melihat anak laki-laki tadi tengah bermain bola dengan ibunya.


Mendesah panjang, Fia tatap wajah Dafin. "Lalu bagaimana dengan Sisi? Apa kamu nggak kasihan sama dia? Kalian pacaran kan sudah lama?"


"Sisi?" Dafin menyandarkan punggung lantas menatap langit pagi yang cerah.


"Sejak kapan kamu mulai kehilangan rasa ke dia? Bukannya kalian selama ini baik-baik aja? Jangan bilang karena aku," tuding Fia. Ia berhati-hati dalam mengatakannya. Sangat berharap Dafin menampik.


Akan tetapi Dafin tetap diam hingga Fia kembali melanjutkan kata, "Aku sempat iri, kadang merasa cemburu kamu memperlakukan dia begitu baik. Sedangkan aku selalu saja menjadi sasaran kemarahan kamu. Kamu menyebalkan."


"Menyebalkan?" ulang Dafin, sedetik kemudian ia tergelak.


Mengarahkan mata ke sekitar, Dafin masih saja tertawa, orang-orang yang kebetulan berlalu lalang di depan mereka menjadi keheranan.


"Aku serius," lanjut Fia. Ia sangat berharap bukan dirinya yang menjadi alasan kandasnya hubungan antara Dafin dan Sisi. "Jangan bilang kalau kamu tergoda karena aku."


Dafin menghentikan tawa. Ia kembali menatap Fia lantas melihat cincin pertunangan yang masih tersemat di jarinya. Ekspresi wajah yang tadinya bahagia menjadi murung dalam seketika.


"Entahlah, aku juga nggak tahu tapi yang jelas bukan karena kamu. Kami mulai renggang semenjak insiden penculikan Anya. Sejak aku tahu masa lalunya."


Fia mendesis lantas memutar matanya, sinis. "Katanya cinta. Kenapa mendengar masa lalu seseorang kamu jadi berpaling? Semua orang punya masa lalu, termasuk aku."

__ADS_1


"Itu beda kasus. Aku juga punya masa lalu tapi masalahnya dia berbohong, dia menutupi masalah sebesar itu sendirian. Harusnya dia cerita. Harusnya dia lebih terbuka, aku akan senang hati menerima kekurangan dia."


Fia berdecak lagi. "Bukankah kamu juga dulu mempunyai banyak perempuan? Aku pasti kamu pembohong handal."


Lagi-lagi Dafin terkekeh, ia mencubit gemas pipi mulus Fia hingga yang punya pipi mengaduh kesakitan. Gadis itu ingin melawan tetapi Dafin sudah berancang-ancang ingin menciumnya. Sontak saja ia memundurkan kepala lalu mendorong dada Dafin. Laki-laki bersurai klimis itu kembali tergelak, bahkan makin nyaring.


"Kenapa? Apa ada yang lucu?" dengkus Fia, kesal.


"Aku memang punya banyak perempuan. Ya walaupun malu untuk mengakuinya. Aku memang playboy dulu. Tapi coba deh. Coba kamu tanya sama semua mantanku, apa aku pernah berbohong sama mereka? Mereka pasti menjawab, enggak. Aku bahkan blak-blakan sedang menjalin cinta dengan beberapa perempuan saat dekat dengan mereka. Tapi anehnya mereka enggak keberatan. Lalu salahnya aku di mana?"


Kejemawaan begitu kentara di wajah Dafin. Fia jadi kesal.


Ni laki-laki yang kepedean tingkat dewa apa perempuan yang begoo. Fia bermonolog lalu menatap depan.


Hening, keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya Dafin berinisiatif menggenggam tangan Fia lagi. Sangat erat. Fia merasakan kehangatan dan ketulusan dalam genggaman Dafin.


"Asal kamu tahu, jadi playboy bukanlah mauku. Waktu itu aku masih muda, jiwa pemberontak begitu bergejolak luar biasa. Waktu itu aku kesal dengan keadaan. Apa kamu tau rasanya saat melepaskan keinginan yang begitu ingin kamu wujudkan? Rasanya sangat menjengkelkan. Aku benci tapi nggak punya kekuatan lain untuk melawan."


Fia menatap heran pada Dafin yang tetap saja melihat depan. Laki-laki di sebelahnya itu seperti menyembunyikan isi hati yang tengah gundah gulana.


"Dulu, aku aku sangat kesal dengan keadaan yang gak sesuai apa mauku. Aku benci menjadi seorang pengusaha. Aku mulai berontak. Aku mulai melakukan sesuatu yang ... entahlah aku juga nggak tahu manfaatnya. Aku menyesal," lanjut Dafin.


"Pantas saja kamu pandai merayu. Masa muda kamu benar-benar luar biasa," ujar Fia sarkastis.


"Ya, aku pikir juga begitu. Itu pengalaman hidup yang benar-benar nggak bisa aku lupakan. Pelajaran yang benar-benar membuatku kapok. Tapi satu sisi aku bersyukur. Karena pengalaman itu aku bisa membuka hati kamu."


Fia mendesis. "Jangan ngawur."


"Jangan bohong," balas Dafin seraya mengedipkan mata. Genitnya nggak ketulungan.


"Memangnya kenapa? Ada apa dengan masa laluku?" tanya Dafin.


"Nggak ada apa-apa. Lagian aku nggak punya urusan dengan itu."


"Oh ya?" Davin memiringkan tubuh, Fia yang melihat gelagat mesum Dafin refleks menghindar dan berakhir duduk di ujung kursi. Ia yang kesal menyipitkan mata, Dafin berakhir tertawa karenanya. "Tenanglah, percaya atau enggak aku masih perjaka, loh. Segelku masih terkunci. Entar kita unboxing sama-sama."


Bagai tertelan biji kedondong, Fia mematung dan kesusahan menelan ludah. Ucapan Dafin yang singkat itu seperti menuding.


Hening beberapa menit. Setelah berbicara hati ke hati seperti itu keduanya merasa menjadi lebih dekat. Kedongkolan Fia pada Dafin perlahan hilang justru menciptakan kenyamanan yang ia sendiri tak tahu kapan bermulanya.


"Fia, apa kamu pernah menginginkan sesuatu tapi nggak pernah kamu dapatkan sampai sekarang?" tanya Dafin mengurai kebisuan mereka.


Fia bungkam wajahnya mendadak murung karena ingatannya tentang masa lalu berputar begitu cepat tapi jelas. Kenyataan tentang masa kanak-kanaknya yang jauh dari kata bahagia. Tak ada sehari pun ia bisa menjadi diri sendiri, bermain bersama teman-teman seperti anak-anak kebanyakan begitu jauh dari kenyataan. Ia selalu serius, selalu menghabiskan waktu di rumah dan belajar agar bisa mendapatkan beasiswa, Fia bekerja keras untuk itu sejak SD.


"Apa kamu pernah begitu ingin sesuatu yang gampang tapi gak kesampaian?" ulang Dafin.


Alih-alih menjawab, Fia malah mendesah saat matanya tak sengaja melihat sebuah tenda. Tampak anak-anak bermain dengan wajah ceria. Mereka bermain masak-masakan di sana. Fia tersenyum penuh ironi.


"Apa ada yang ingin sekali kamu lakukan?" Dafin mengulang pertanyaan yang hampir sama.


"Aku ingin sekali kemping. Waktu kecil aku begitu ingin berkemah dengan teman-teman, menikmati hangatnya api unggun dan melihat bintang malam. Terdengar remeh, 'kan? Tapi asal kamu tau, hal remeh itu enggak pernah terealisasikan. Aku selalu sibuk belajar dan bantuin ibuk. Ekstrakurikuler seperti pramuka dan segala macam gak pernah aku ikutin. Aku gak tertarik, bagiku enggak menunjang nilai akademis. Aku hanya tertarik dengan taekwondo. Itupun karena Kevin menyukainya," terang Fia panjang lebar.


"Ternyata balik lagi ke Kevin," dengkus Dafin.


Fia tertawa. "Kenapa? Cemburu?"


"Menurut kamu?" Dafin berdengkus lagi. Ia mendekatkan wajahnya. Sangat dekat bahkan embusan napas mereka pun saling bertabrakan.


"Kamu mau ngapain? Jangan macem-macem. Ini di tempat umum." Fia memperingati. Bola matanya bergerak liar. Wajah Dafin mendominasi pandangan.


Tanpa aba-aba, Dafin berdiri. Ia tarik tangan Fia lalu mengunci ritsleting hingga menutupi leher gadis itu. Fia lagi-lagi cuma mengerjap.


"Ini panas, loh."

__ADS_1


"Gak masalah kalau kamu yang panas. Asal jangan aku. Nanti brabe."


Dafin menarik tangan. Fia. Fia mau tak mau harus mengikuti ke mana arah Dafin. Dalam langkah Fia kembali bertanya, "Sebenarnya kita mau ke mana lagi?"


__ADS_2