
"Sampe kapan kita berdiri dan cuma berpelukan?"
"Hah?"
"Apa kamu gak mau gitu ngajakin aku ke kasur buat ninu-ninu." Kedip-kedip, Kinar menggoda.
Arjun terdiam, tapi sedetik kemudian baru paham. Tawa pun tak dapat ditahan lagi. Arjun sampai memegang perut. Ia terpingkal-pingkal akibat ucapan dan gimik menggoda Kinar. Sebenarnya sudah lama ia tahu bahwa Kinar bernafsu padanya, hanya saja tetap tak habis pikir ada kata ninu-ninu.
Astaga ... kosakata dari mana itu? Batin Arjun dalam gelak tawanya.
Sementara itu, Kinar yang melihat Arjun tertawa hebat hanya bisa tersenyum malu. Ia jauhi suaminya itu lantas menuju kamar mandi. Menutup pintu lalu wajah yang bersemu dengan kedua telapak tangan, kulit mulai berdenyut, hati mulai cenat-cenut. Baru hari ini Arjun tertawa lepas seperti itu.
Rasanya nano-nano. Antara malu, kesal dan bahagia, semuanya tumpang tindih. Kinar tak tahu yang mana lebih dominan. Namun, satu hal yang pasti, ia makin cinta pada pria itu.
Lima menit di dalam kamar mandi, Kinar pun menyembulkan kepala—mengintai area kamar dengan mata nyalang. Niat awalnya ingin sekali dijamah, tapi setelah ditertawakan rasa malu jadi bertumpah ruah. Ia tak sanggup jika harus berhadapan dengan Arjun sekarang.
Menggelengkan kepalanya, Kinar menepuk pipi sendiri kala mengingat betapa hebohnya tawa Arjun tadi.
"Gak enggak. Aku gak siap kalo dia minta hak-nya. Aku malu. Tapi ... kalau dia nagih gimana? Secara dia udah ngerti kode yang aku kasih. Argh! Aku bisa gila," gumam Kinar seraya menjambak rambut sendiri, frustrasi.
__ADS_1
Akan tetapi, kegelisahan berhenti saat tak ada siapa pun dalam ruangan.
"Sepi. Ke mana dia?" Menjeda kalimatnya sejenak, senyum Kinar langsung terbit. "Tapi bagus juga kalau dia gak ada. Kesempatan bagus buat aku kabur."
Berjalan menuju pintu dengan tergesa-gesa, kaki Kinar terhenti saat ada sepasang tangan yang menahan dari belakang. Tak hanya itu, angin segar menerpa tengkuk, menghidupkan sesuatu yang harusnya padam. Membangkitkan gelenyar aneh yang sudah susah payah Kinar redam. Gadis itu bergidik geli.
"Kamu mau ke mana?" tanya suara berat dari belakang. Suara yang Kinar hapal betul milik suaminya.
Kinar gigit ujung kukunya, bola mata bergerak liar dengan otak yang juga bekerja keras mencari alasan.
"Emb itu, Arjun. Aku mau itu ... eh, aku mau anu. Eh maksudku aku mau ninu. Gak enggak, maksudku aku mau—"
Menyentuh tangan Arjun yang sudah terkalung mesra di perut, Kinar pun berucap pelan, "Arjun. Bisa lepasin tangan kamu dulu gak?"
"Jawab dulu, sebenarnya mau kamu tadi apa? Itu, anu apa ninu-ninu?" goda Arjun yang sudah tahu kalau istrinya itu tengah grogi. Ia balik tubuh Kinar yang semampai agar mereka saling berhadapan.
"Hm itu, aku sebenarnya tadi mau—"
Lagi, lisan Kinar terjeda saat melihat apa yang ada di depan mata. Perut sixpack Arjun sudah terpampang nyata. Indah. Tak berpenghalang sama sekali.
__ADS_1
Kinar telan ludah, matanya mengerjap, terpesona karena otot bisep dan dada Arjun sangat menonjol. Tanpa Kinar sadari senyumnya makin lebar dengan jari telunjuk telah menekan-nekan gumpalan daging itu.
"Jadi sebenarnya kamu mau ini?" goda Arjun lagi seraya menggerakkan kedua dadanya. Seksi bak binaragawan profesional. Bergerak kiri dan kanan secara bergantian.
"Eh." Kinar tarik jarinya dari tubuh Arjun. Pipinya makin terasa panas. "Bukan, bukan itu," kilahnya.
"Apa iya?" Arjun tersenyum. Matanya menyipit menyelidik. "Bukannya tadi pagi kamu bilang rela kalau aku makan. Sampe bilang gak usah sarapan segala?" lanjutnya lagi.
"Itu itu ...."
"Trus barusan. Apa tadi ya namanya?" tanya Arjun sok lupa. Padahal ia tahu betul istilah nyeleneh yang Kinar ucapkan sebelumnya. "Oh iya, Ninu-ninu. Aku kira tadi kamu itu niruin bunyi sirine ambulan."
"Ih, itu bukan ambulan, Jun. Itu kode agar aku kamu perawanin." Kinar sontak menutup mulutnya. Ia keceplosan.
Arjun tergelak lagi. Kinar yang salah tingkah membalik diri dan menyembunyikan wajahnya yang sudah serasa tebal.
"Kalau begitu, ayo."
***
__ADS_1
Plis ya Gaes. yang di bawah umur tolong jgn baca part selnjutnya. skip aja.