Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Bioskop


__ADS_3

Arjun yang masih tak paham apa tujuan Chandra hanya bisa menelan ludah dengan kasar.


"Ayo, siniin kuncinya. Biar saya yang bawa," pinta Chandra dengan gimik serius—tatapan tajam dengan alis melengkung.


"Ini, Pak."


Menggaruk lagi tengkuknya yang tak gatal, Arjun pun memberikan kursi mobil pada Chandra. Perasa tak enak tentu saja ada saat sang bos memutuskan mengemudikan mobil sedangkan dirinya harus duduk di kursi penumpang, apalagi sudah ada Kinar di dalam sana. Wanita penuh warna itu bahkan telah membuka kaca mobil seraya terus saja mengedipkan mata padanya.


Lama-lama aku bisa gila beneran kalau begini ceritanya. Mengembuskan napas kasar, Arjun pasrah akan keadaan dan berakhir masuk kedalam mobil dengan perasaan yang ....


"Arjun, kamu tampan," ucap Kinar saat melihat Arjun baru saja duduk di sebelahnya.


Arjun berjengket, alisnya tertaut. Ia tatap wajah berseri Kinar. Wanita itu menatap seakan dirinya adalah lelaki paling tampan dan paling kece sedunia, padahal yang dipakainya hari ini hanyalah jeans biasa serta baju kaos bertuliskan Villa dengan jaket denim di luarnya.


Nah, kan ... belum apa-apa aku sudah diteror. "I-iya ... terima kasih, Kinar." Arjun memaksakan senyuman.


Namun teringat lagi akan trauma yang Kinar ceritakan kala itu. Kata "maklum" pun terbesit dalam benak hingga ia berakhir pasrah dan mengerti dengan keadaan.


Trauma tak mungkin hilang dengan cepat. Perlu proses dan perlu keteguhan hati.


"Arjun, kamu tampan, kayak Dilan."


Lagi, suara sensual Kinar seperti sengatan listrik. Arjun tanpa sadar menahan napas saat mata Kinar berkedip-kedip.


Astaga, aku merinding, batin Arjun. Ia paksakan senyuman lantas berucap, "Makasih, Kinar."


Memalingkan wajah ke arah kanan, Arjun menata hati seraya mensugesti diri. Ia harus tahan dan harus bisa bertahan dengan keadaan. Jika saja hanya berdua, dirinya akan senang hati membalas gombalan Kinar dengan omelan.

__ADS_1


Sementara Litania yang ada di depan kesusahan menahan tawa. Ekspresi genit Kinar dan wajah tegang Arjun membuatnya ingin sekali terbahak. Namun, ia tahan juga tawanya demi Kinar, sang sahabat tersayang.


"Sayang, pasang sabuk pengamannya," ucap Chandra mengagetkan.


"Eh!"


Litania ternyum kikuk. Ia balas perhatian Chandra dengan senyuman. "Iya, ini aku pasang."


Namun, belum sempat tangan Litania memegang sabuk itu, Chandra dengan cepat merebutnya lalu melingkarkan ke tubuh Litania. Dan tentu saja bukan hanya memasangkan sabuk pengaman. Dua pasutri itu memanfaatkan keadaan dengan menyatukan bibir—kecupan singkat. Membuat Kinar yang ada di belakang hanya bisa mendengkus kesal. "Jangan nyiksa ngapa."


Litania terkekeh. "Emang kenapa? Masalah?" balas Litania seraya menolehkan kepala—melihat wajah masam Kinar. "Wajar dong. Kita udah halal ini."


Litania tersenyum miring, membuat hati Kinar semakin panas saja. Sementara Arjun, tak tahu lagi harus apa. Apakah tersenyum ataukah marah. Setiap berdekatan dengan Kinar rasanya campur aduk, ada rasa kasihan, benci jengkel, entahlah semuanya seperti rujak pecel—pedes, gurih, tapi bikin nagih.


Sejam perjalanan, tibalah mereka di sebuah mall yang ada di daerah Jakarta Pusat. Litania turun dari mobil setelah Chandra membukakan pintu untuknya. Sementara Kinar dan Arjun membuka pintunya masing-masing.


"Iya ada di aku, ini tiketnya." Litania menunjukan lima lembar tiket dengan senyum merekah. Penampakan yang membuat Arjun lagi-lagi mengernyitkan dahi. Bertanya-tanya dalam benak tapi tak berani menyuarakan.


Berjalan berpasangan, empat manusia beda usia, strata, serta beda penampilan itu tentu saja menjadi pusat perhatian. Chandra dan Litania tampak tanpa segan memamerkan kemesraan—bergandengan tangan dengan senyum yang mengembang—seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua. Pemandangan yang tentu saja menarik perhatian orang, apalagi adanya sosok Kinar.


Lengkap sudah, ingin rasanya Arjun mengecil dan bersembunyi di lubang semut. Menjadi perhatian banyak orang bukanlah keinginannya. Ia hanya mampu tertunduk dalam langkah hingga tibalah mereka ke tempat tujuan.


"Arjun kamu beli cemilan, ya," pinta Chandra seraya menyerahkan debet card. "Ini khusus saya bikin agar urusan kita lancar. Pasword-nya ulang tahun kamu."


Arjun terdiam sesaat. Matanya mengerjap tak percaya. Biasanya Chandra hanya memberinya uang tunai untuk bertransaksi apa pun. Namun hari ini ....


"Cepetan ambil, jangan bengong." Chandra berucap lagi seraya menyodorkan kartu segi empat berwarna kuning itu pada Arjun. "Tapi jangan salah gunakan. Laporannya tetap masuk di saya, paham."

__ADS_1


"Paham, Pak."


Arjun ambil kartu itu lalu menuju tempat dijualnya popcorn dan juga minuman untuk mereka di dalam sana. Namun, sebuah penampakan membuat Arjun harus menghentikan langkah. Sosok laki-laki mengalihkan perhatiannya. Ia tertegun melihat laki-laki yang pernah menggandeng Kinar juga ada di gedung yang sama. Bahkan tak hanya di bawah atap yang sama. Leleki itu juga menuju ke arah yang sama dengan tujuannya—arah Kinar, Litania dan Chandra.


Sebenarnya siapa dia?


Perasaan Arjun menjadi aneh. Ada yang mengganjal di dalam dada hingga bernapas rasanya sedikit susah, apalagi saat pria itu sudah menghampiri Kinar dan dibalas senyuman yang entah kenapa berbeda saat Kinar tersenyum padanya. Pria tampan berpakaian kasual itu terlihat ... entahlah, Arjun merasa tak senang saat dia berbaur dengan Kinar dan memperkenalkan diri pada Chandra.


Apa ini, kenapa aku merasa tersingkirkan? Kenapa aku ngerasa kalau bakalan ada saingan?


Lagi-lagi hatinya makin terasa sesak. Ada yang patah tapi bukan ranting. Apa aku cemburu?


Menggelengkan kepalanya sendiri, Arjun tampik perasaan yang entah mengapa membuatnya tak nyaman.


Nggak! Nggak, aku nggak gila. Masa iya aku cemburu. Kinar bukan tipe-ku. Aku gak suka ABG. Ayolah ... jangan konyol. Apa aku sebegitu kesepiannya sampe tergoda sama perempuan jejadian itu.


"Ah sudahlah. Stay cool." Arjun bergumam pelan, ia usir perasaan aneh dengan kembali melajukan kaki menuju empat orang yang tengah bercengkrama itu.


Tibalah Arjun dengan tangan penuh belanjaan. Kedatangannya disambut senyuman oleh Litania. Namun, tidak Kinar, mata gadis itu tertuju pada lelaki tadi.


Tumben, batin Arjun lagi.


"Arjun, kenalin, dia temenku namanya Aldi," ucap Litania dengan wajah gembira.


"Halo, saya Aldi." Aldi menjulurkan tangan ke arah Arjun.


"Saya Arjun, saya asisten-nya Pak Chandra," balas Arjun seraya menjabat tangan Aldi. Pria yang jujur ... level pesonanya sekitaran 11 12 darinya—beda tipis.

__ADS_1


"Ya udah, ayo sekarang kita masuk," ajak Chandra dengan wajah dingin. Perasaan tak enak tetap menjalari pikiran. Melihat Litania berteman dengan pria membuatnya berpikiran picik, sempit dan tak logis. Kecemburuan tetap menyerang meski Litania sudah menjelaskannya semalam. Apalagi setelah melihat penampilan Aldi yang terlihat lebih oke. Sialan. Ini pancingan buat Arjun. Tapi kenapa aku yang terpancing.


__ADS_2