
Tibalah saatnya malam reuni. Anya, Nara dan Ferry sudah masuk ke dalam sebuah mansion megah milik keluarga Jimmy, si donatur terbesar di yayasan SMA mereka dulu.
"Ini sebenarnya reuni apa pesta? Glamor banget," bisik Nara pada Anya. Ia yang berada di tengah-tengah pun langsung menggandeng Anya. Namun, Anya lepas rangkulan itu seraya memelototinya.
"Inget rencana," ujar Anya tegas. Ia tampak cantik dengan gaun tanpa lengan berwarna ungu muda.
Sementara itu, Nara yang di pelototi tersenyum canggung. Ia yang cantik dengan gaun hitam selutut berlapis blazer hitam pun berbalik arah merangkul Ferry.
"Inget, Ra. Kamu dateng ke sini bareng Ferry. Jadi jangan jauh-jauh." Anya memperingati.
Nara lagi-lagi cuma bisa mengangguk. Ia makin mengeratkan rangkulan lantas mendongak—melihat wajah Ferry yang memang tingginya jauh dari dirinya.
"Ayo, Yang. Kita jalan," ucapnya sambil tersenyum genit. Mata bahkan sengaja berkedip.
Mereka pun masuk ke dalam rumah megah itu. Rumah yang sudah disulap sedemikian rupa. Begitu tampak indah karena banyak tatanan bunga dan balon hampir di setiap sudut. Belum lagi meja prasmanan yang sudah menyediakan makanan super enak dan menggugah selera. Tak hanya itu, musik pop juga sudah mengalun indah dari musisi kenamaan.
Meski tak terlalu menyukai, Anya terpaksa berbaur juga. Di sana sudah begitu banyak tamu yang datang. Mereka berpenampilan mewah dan berkelas. Masing-masing menceritakan perjalanan setelah lulus sekolah hingga pencapaian apa yang sudah mereka dapat. Begitu banyak yang menyombongkan diri padahal jelas saja semua itu karena orang tua yang menopang segalanya.
"Hai, Nya."
Seseorang dari belakang memanggil. Anya dan yang lain yang mulanya asyik bercengkerama menjadi berhenti. Mereka melihat sepasang sejoli tengah mendekat. Si pria—Jimmy—Menggunakan tuksedo berwarna hitam dengan rambut sedikit pirang. Dan si wanita—Shireen—berpakaian anggun bak ratu sejagad. Keduanya memasang wajah angkuh.
"Hai juga," balas Anya malas.
Shireen yang mengenakan gaun merah muda tanpa lengan dan rambut disanggul itu pun makin mengeratkan rangkulannya pada Jimmy, seolah ingin memamerkan kemesraan. Anya makin muak melihatnya.
Jimmy tersenyum sinis. Ia pindai Anya dari atas hingga bawah. "Sekarang kamu udah banyak berubah ya, Nya."
"Ya iya lah. Gunung aja bisa berubah tempat. Masa aku harus stay. Gak banget," balas Anya judes. Ia masih membenci Jimmy.
"Ho ... keknya ada yang masih nyimpen dendam, Yang," sela Shireen lantas tersenyum, mengejek.
Anya menunjuk mukanya sendiri. "Aku? Dendam?" Anya terkekeh sejenak lantas tajam menatap Shireen. "Gak banget nyimpen bangkee lama-lama."
"Oh ya? Bagus kalau gitu. Aku dengar kamu pacaran sama Derry. Apa gak ada orang laen sampe sepupu aku pun kamu embat?" timpal Jimmy.
Sebuah pernyataan yang membuat darah Anya berdesir. Sungguh, ingin sekali ia melayangkan pukulan ke muka Jimmy yang tersenyum mengejek itu. Namun, urung dilancarkan karena sudah punya rencana yang lebih menyakitkan ketimbang sebuah bogem mentah.
"Gak masalah. Selama orang itu lebih baik. Kenapa enggak?" bela Anya.
"Hm ... bagus itu. Tapi ngomong-ngomong, kenapa dateng sendiri? Kamu diputusin atau apa?" tanya Shireen. Ia kembali melukai harga diri Anya.
Anya hanya diam sambil menahan emosi agar tak meledak.
"Ha-ha-ha, kamu diputusin lagi, Nya?" sindir Jimmy. Ia menggelengkan kepala. "Malang banget, sih. Harusnya kamu introspeksi diri dulu. Mau masuk ke keluarganya Nasution harus bener-bener berkualitas A. Aku denger Om Prakoso nentang banget. Nah, kalo aku jadi kamu, aku pasti udah lama putusnya."
Emosi Anya makin tinggi. Ia menarik napas lumayan panjang lantas mengukir senyuman yang sebenarnya terlihat aneh.
"Aku gak kayak gitu. Aku bakalan berjuang kalau memang itu hal yang berharga. Aku bakalan usaha karena Derry itu permata. Kalau hanya seonggok sampah, gak mungkin juga aku repot-repot begini," sahut Anya. Sengaja melirik Jimmy sekilas. Wajah pria itu berubah drastis. Ia bahkan maju dan ingin memukul Anya. Namun, Shireen mencegahnya.
Tiba-tiba ponsel Anya berdering. Gegas Anya menjawab panggilan itu tanpa berniat menjauh. Ia tatap nyalang Shireen dan Jimmy tanpa takut.
"Oh, kamu udah datang. Oke aku ke sana sekarang. Tunggu ya?"
Ponsel Anya matikan, lalu ia pun berkata, "Maaf. Derry udah dateng. Katanya dia nunggu aku di kolam renang." Anya tampak celingukan. "Oiya, ngomong-ngomong, di mana kolam renangnya?" lanjutnya.
Jimmy berdengkus tapi menjawab juga, "Kamu masuk aja ke sana. Nanti belok kiri."
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu aku pamit. Oh ya, Jim. Terima kasih karena udah ngundang aku ke reuni ini. Malam ini benar-benar spesial. Ini pertama kalinya kita ngumpul setelah keluar dari SMA. Aku lihat teman-teman banyak berubah, terkecuali satu orang."
Mata Anya melirik sinis ke arah Shireen. Lantas menarik sebelah bibir. Tanpa berniat baik, ia langsung berlalu tanpa memedulikan apa pun.
"Dia makin nyebelin," ujar Shireen. "Kamu kenapa ngundang dia?" lanjut Shireen lagi dengan wajah masam.
"Ya mana aku tau. Ini kan panitia yang urus semuanya. Aku cuma nyediain akomodasi dan yang lain-lain. Masalah undangan semua panitia yang urus. Aku nggak tahu apa pun karena memang sibuk. Gak ngurus beginian," jelas Jimmy lalu menggenggam tangan Shireen. "Kamu jangan marah, ya. Abaikan aja dia."
Shireen berdengkus lalu mengentak kaki. Tampak jelas ketidaksukaan dari raut wajahnya. Ia membalik diri dan melepaskan genggaman Jimmy.
"Kamu mau ke mana?" tanya Jimmy.
"Mau ke toilet," balas Shireen yang tetap berwajah cemberut.
Namun, tanpa Jimmy ketahui, Shireen sebenarnya mengikuti Anya. Ia mengikuti musuh bebuyutannya itu hingga tiba di kolam renang. Mengintip seraya menajamkan pendengaran, itulah yang dilakukannya di balik sudut rumah Jimmy.
"Mas ... Mas Derry. Tolong kasih aku kesempatan sekali ... lagi."
Anya terdengar memelas. Shireen yang mendengarnya makin penasaran dan semakin mendekat. Ia bersembunyi dibalik bunga yang tersusun rapi di samping rumah.
Itu Anya lagi ngomongin apa? Shireen bermonolog. Ia tatap lekat-lekat lagi sang pria yang memunggunginya. Apa itu Derry? lanjutnya lagi.
"Aku janji, aku janji bakalan berubah. Tapi tolong kasih kesempatan buat aku ...."
Anya mengiba lagi, lebih terdengar menyedihkan. Ia bahkan meraih tangan si pria dan meletakkannya di pipi. Namun si pria bergeming.
"Mas Derry kan udah janji. Gak bakalan ninggalin aku," lanjut Anya lagi.
Sembari menahan napas, Shireen kembali berjinjit mendekat. Ia sudah seperti pencuri ulung. Senyum menyeringai tercetak jelas di wajahnya saat melihat si pria menepis tangan Anya.
"Rasain kamu, Nya. Sok yes sih," gumamnya penuh kemenangan. Ia lihat lagi perdebatan antara Anya dan laki-laki itu.
Namun yang diajak Anya berbicara tak menyahut. Pria itu malah pergi, meninggalkan Anya menangis sesenggukan dengan posisi berjongkok di samping kolam.
"Kenapa? Kamu diputusin Derry?" tanya Shireen. Ia bersedekap memasang wajah angkuh.
"Bukan urusan kamu," ketus Anya seraya mengelap air mata, ia berdiri dan melihat Shireen dengan tatapan yang jelas tak senang. "Kamu kenapa bisa di sini? Kamu nguping?" tanya Anya lagi.
Bukannya menjawab, Shireen malah tersenyum meremehkan. Ia dekati Anya. "Aku udah memprediksi kalau kamu itu nggak bakalan awet, mau sama siapa pun nggak bakalan bisa ada yang mampu ngimbangin kamu. Kamu itu manja, keunggulan kamu hanya karena kamu terlahir dari keluarga kaya."
"Kamu ...." Tangan Anya sudah terkepal sangat kuat. Lagi-lagi Shireen meremehkan dengan perkataan itu. Harga dirinya terluka lagi karena Shireen.
"Sudahlah. Kamu mana ngerti dengan kata-kataku. Dan sekarang aku lihat kamu udah dicampakkan Derry. Jadi peluang buat aku ngedapetin dia lebih besar. Dan kamu ... kamu bukan lawan yang kuat lagi. Aku dengan gampang bisa menggoda Derry," ucap Shireen lalu tersenyum licik.
"Apa kamu gila? Jimmy mau kamu kemanakan? Ha! Kalian udah pacaran lama. Kamu sampai rela ngehianatin aku demi Jimmy. Dan sekarang kamu mau ngembat Derry juga. Kemana harga diri kamu?" geram Anya, kesal.
"Ya ya ya ... aku akuin, aku dulu memang menggoda Jimmy. Sekuat tenaga aku menggoda playboy itu biar dia milih aku dan mutusin kamu. Aku juga memprovokasi temen-temen yang lain biar nggak ada yang ngebela kamu. Kamu itu benalu, Nya. Benalu di mana pun kamu berada."
"Tega kamu Shireen! Apa salah aku sama kamu? Ha!" teriak Anya.
"Salah kamu karena kamu bisa milikin apa yang nggak aku punya. Kamu bisa ngedapetin apa pun dengan mudah. Sedangkan aku, aku harus mendapatkannya dengan susah payah. Dan Jimmy ... aku beneran berusaha buat ngadapetin dia karena aku butuh biaya kuliah. Aku butuh dia. Aku butuh penjamin hidup aku. Dan sekarang aku udah bosen sama dia. Aku juga udah ngelarin kuliah. Jadi sekarang aku nggak butuh dia lagi, justru sebaliknya. Aku butuh Derry. Aku butuh laki-laki seperti dia untuk aku jadikan suami. Nggak kayak Jimmy yang kekanakan, dia bodoh, dia nggak berguna, dia hanya beruntung karena orang tuanya kaya."
Anya terdiam. Pemaparan Shireen membuatnya paham, ternyata wanita itu memiliki hati iblis. Berpura-pura lugu demi niat jahat. Anya makin paham dan bersyukur telah mengetahuinya lebih awal.
Tanpa Shireen sadari, ada begitu banyak pasang mata yang melihat dan mendengar perkataannya itu. Termasuk Jimmy, pria itu mematung. Tak menyangka kekasih yang ia puja ternyata bermuka dua. Lebih parah lagi akan meninggalkannya demi pria lain.
Demi apa pun, darah Jimmy berdesir. Ia ingin menghardik sang kekasih tapi di hadang Ferry. Pria berkemeja putih dengan jas di tangan itu ingin memperlihatkan kebusukan Shireen pada semua orang. Ferry, ya ... Ferry si Derry KW.
Seolah belum puas menginjak Anya, Shireen kembali berkata, "Sedangkan Derry, dia laki-laki sempurna. Dan laki-laki sempurna itu memang cocoknya untuk perempuan yang sempurna. Ya ... kayak aku ini. Aku pintar, aku pasangan yang pas buat mendampingi pengusaha."
"Lancang kamu!" Anya yang menggeram menunjuk-nunjuk wajah Shireen. Sungguh ia tak tahu harus bagaimana lagi melisankan kata dalam situasi seperti itu. Ternyata itu alasan kenapa Shireen begitu membencinya. Salahkah ia karena terlahir dari orang tua kaya? Salahkah dirinya jika hidup Shireen susah?
__ADS_1
"Ya. Ini aku, aku Shireen, aku punya segudang mimpi. Aku punya segudang bakat dan prestasi. Nggak kayak kamu. Kamu hanya anak manja yang bodoh. Nggak pantes dapetin Derry. Derry cocoknya buat aku. Sedangkan Jimmy, kau pantas mendapatkan pecundang kayak dia." Shireen lalu terbahak lalu mundur beberapa langkah. Akan tetapi ia menabrak sesuatu. Perasaannya mulai tak enak.
Gemetaran Shireen pun membalik diri dan mendapati Jimmy tengah mengetatkan rahang. Belum lagi begitu banyak pasang mata melotot dan memberinya tatapan hina.
Mata Shireen tertuju pada Jimmy. "Y-yang ... se-sejak ka-kapan k-kamu di—"
Belum juga selesai perkataan itu, Shireen sudah mendapat tamparan. Suara keplakan pun menggema di area kolam renang yang rencananya akan menjadi tempat mereka melihat kenangan lama. Layar dan proyektor bahkan sudah ada di sana. Tapi tak ada yang menyangka, bahwa akan ada pertunjukan yang mencengangkan seperti itu.
Shireen memegang pipinya yang panas. Air matanya menganak sungai. Ia pegang tangan Jimmy yang baru saja melayang ke pipinya. "Yang kamu salah paham. Aku gak gitu. Itu semua Anya, Anya yang bikin seolah-olah aku—"
Lagi, tamparan mendarat di pipi yang sama. Jimmy benar-benar tak bisa menyembunyikan kemarahan dan kekecewaan. Ia arahkan jari telunjuknya ke sebelah kiri.
"Pergi Shireen," ucap Jimmy penuh penekanan.
"T-tapi, Yang ...."
"Pergi!" bentak Jimmy akhirnya. Suaranya menggema seraya memelototkan mata. Hatinya sakit. Harga diri terinjak karena Shireen.
Melihat Shireen yang tak bergerak, ia pun kehabisan kesabaran dan mendorong Shireen hingga terduduk kasar. "Jangan pernah hadir di hadapanku. Aku akan bayar penghinaan ini Shireen. Aku akan pinta papa untuk menggagalkan semua usaha kamu. Aku pastikan gak akan ada perusahaan yang mau nerima kamu. Akan aku buat hidup kamu sengsara. Matilah seperti jalaang!"
Shireen akhirnya pergi. Ia menerabas kumpulan teman sekelas yang berdecak jijik ketika melihatnya.
Kini Jimmy mendekati Anya dan menatapnya sendu. "Maaf, Nya. Selama ini aku udah tertipu sama ular betina itu."
Jimmy pegang kedua belah tangan Anya lalu kembali berkata, "Kita balik lagi, ya. Aku mau nebus kesalahan yang udah aku perbuat sama kamu."
Anya tersenyum penuh ironi. Ia tatap lekat Jimmy. "Boleh, asal kamu tahan menerima ini."
Bugh!
Sebuah tinjuan mendarat tepat di hidung Jimmy. Anya terkekeh melihat Jimmy yang kesakitan dan mengerang memegang hidung.
"Itu balesan laki-laki brengsek kek kamu," lanjutnya seraya berlalu. Ferry dan Nara pun mengikutinya.
Kini Anya bisa melenggang pinggang bangga melewati teman seangkatan. Akhirnya nama baik yang tercoreng karena Shireen pulih juga. Ia bersyukur untuk itu.
Sementara itu, di jam yang sama tampak Dafan tengah terduduk di sisi ranjang. Di kakinya ada kotak berwarna cokelat yang menampung beberapa barang. Matanya tertuju pada selembar foto di tangan—potret dirinya dan Nara.
Melihat itu rasa penyesalan Dafan makin menggunung. Ia mendesah.
"Kenapa?" tanya seseorang yang ada di ambang pintu.
Dafan tak menyahut. Ia malah melayangkan tatapan elang pada si penanya yang tak lain tak bukan adalah Dafin. Saudara kembarnya itu bersender di daun pintu.
"Kenapa nggak ketuk pintu dulu sih?" dengkus Dafan.
"Kenapa harus ketuk? Pintunya aja kebuka lebar," sahut Dafin.
Tanpa merasa bersalah Dafin pun mendekat. Ia duduk bersisian dengan saudara kembarnya itu. Matanya pun melihat lembar kertas yang Dafan pegang.
"Kenapa? Kamu kangen dia? Kamu nyesel?"
Dafan bergeming ia tak berniat menyahut. Diberondong pertanyaan itu membuatnya makin bingung. Bagaimana bisa menjawab sedangkan dirinya sendiri tidak yakin dengan apa yang ia rasakan.
Dafin yang kesal menepuk pundak Dafan. "Berusahalah, kalau memang suka, kejar dia, pertahankan. Jangan sampai dia diembat laki-laki lain."
Mata Dafan menyipit. Lukanya seperti tersiram cuka. Ia lepaskan tangan Dafin dari pundaknya.
Akan tetapi respon Dafin hanya gelak tawa. Ia menjauhi Dafan, tapi sebelum keluar kamar, pria itu kembali membalik diri lalu berkata, "Jujurlah sama perasaan sendiri, Fan. Kamu itu udah terjerat sama Nara. Kamu suka dia karena terbiasa di kejar. Saran aku kejarlah dia sebelum terlambat."
__ADS_1