Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Menebus kesalahan.


__ADS_3

Mengangkat kepala, Chandra membetulkan posisi lantas mencubit pelan pipi tembam Litania. Tak hanya pipi yang tembam. Tubuh bagian lain juga ikutan membengkak. Seiring dengan kegemaran Litania yang suka makan camilan dan makan tengah malam. Kebiasaan yang Chandra maklumi mengingat ada calon manusia yang bergantung pada asupan nutrisi yang Litania makan.


"Sabar. Masih 3 bulan lagi. Kamu hati-hati, ya. Jangan terlalu banyak gerak. Jangan kayak tadi. Aku udah worry duluan. Aku kira kamu mau ngejar tu copet, loh. Nakutin banget bayangin ibu hamil lagi lari-larian." Chandra cemberut mengingat kejadian tadi siang. Pikiran yang hampir menghentikan detak jantungnya.


"Ya kali ibu hamil lari, Yang." Litania tertawa nyaring. Ia bahkan pegang perutnya yang terasa kencang. Tak paham dari mana ketakutan tak berdasar Chandra datang.


"Loh, kok ketawa?"


"Ya habisnya kamu lucu. Bisa-bisanya bayangin aku lari. Mau jalan aja ribet, berat, apalagi mau ngejar copet," ujar Litania yang masih setia dengan kekehannya.


"Yah, namanya juga pikiran. Wajar dong aku mikirnya begitu apalagi sikap kamu yang grasak grusuk begitu, bikin jantungan tau gak," sungut Chandra. Jangankan dirinya, reader aja pasti tegang bayangin Litania lari-lari. Iya kan, Gaes?


"Yah, dia baper. Hahaha." Tawa Litania makin nyaring. Chandra yang sudah terlanjur gemas membekap mulut istrinya dengan mulut. Dalam sekejap suara tawa, lenyap. Berganti menjadi suara cecapan yang aduhai. Libido memimpin mereka sekarang. Lumataan nikmat yang berdurasi lama.


Melapaskan pagutannya, Chandra menatap lekat wajah Litania. Napas terengah-engah dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.


"Kebiasaan banget, deh. Maen sosor aja." Litania bersungut dengan wajah cemberut.


Chandra tersenyum lalu menarik hidung Litania dan menyatukan dahi mereka. "Aku harap kamu jangan macam-macam. Jangan ngelakuin yang aneh-aneh. Aku nggak bakal biarin apapun terjadi sama kamu dan anak-anak kita. Kamu harus jaga diri, Sayang. Berhati-hatilah selama hamil. Aku ingin kamu dan anak-anak kita sehat."


"Iya, iya ... cerewet banget, sih. Aku gak bakalan grasak-grusuk lagi. Aku akan menjadi wanita terkalem di dunia."


Chandra kembali tertawa, ucapan sungguh-sungguh Litania terasa banyolan untuknya. Namun, ia mengangguk juga. Biar begitu, Litania adalah Litania, istrinya. Istri barbar yang masih berusaha untuk menjadi sempurna.

__ADS_1


"Aku percaya." Chandra rengkuh punggung Litania lalu mendaratkannya ke dada. Memeluknya dengan erat. Seakan tak mau melapaskan meski sesaat. Ia belai perut Litania dengan perasaan yang bahagia tiada tara. Menikahi Litania, berumah tangga dengannya, kini bahkan akan dihadirkan dua jagoan dalam hidupnya. Ini merupakan hidayah dan hadiah terbesar dari Tuhan.


"Yang ... besok kita belanja, yuk. Kita beli keperluan si kembar," ucap Litania yang masih nyaman dalam dekapan.


"Chandra mengangguk, ia kecup pucuk kepala wanitanya. "Iya, besok kita pergi. Tapi agak siangan, ya. Soalnya pagi ada miting sama tim pemasaran."


Litania mengangguk. Sudah paham dengan kegiatan Chandra yang memang sibuk. Beribu nasib karyawan ada dalam genggaman. Prianya itu harus berusaha keras mencapai kesuksesan agar perusahaan selalu berjaya. Apa jadinya jika failed. Pasti akan banyak pasang mata yang menangis.


"Sayang ...." Chandra memanggil dengan suara lembut. Punggung Litania masih saja dielusnya.


"Hm ... kenapa?"


"Kita babymoon, yuk."


Litania membuka matanya yang terpejam. Senyumnya hilang berganti dengan lipatan halus di kening. Ia mendongak, menatap wajah serius Chandra. "Apa? Babymoon? Bang Chandra serius?"


"Emang bisa? Bang Chandra 'kan sibuk terus?"


"Bisa, demi kamu aku bakalan kosongin jadwal. Ya, meskipun bakalan mendapat pertentangan dari Ara. Tapi gak apa-apa, nanti aku coba ngomong sama papa juga."


"Beneran?" tanya Litani masih tak percaya.


Chandra terkekeh lagi. Wajah semangat Litania membuatnya juga bahagia. Ia rangkul lagi pundak Litania lalu merapatkannya di dada. senyum tulusnya terukir. "Sebenarnya seminggu setelah Kinar pergi ayahnya Kinar menemuiku."

__ADS_1


Senyum Litania sirna, matanya menyipit. "Om Frans?" Melepaskan rangkulannya, Litania duduk dan menatap serius lagi wajah suaminya itu. "Kok enggak pernah bilang?"


Namun Chandra mengabaikan pertanyaan Litania. Ia buka map cokelat yang ada di atas meja. Map yang sudah ia bahwa sebelumnya. "Pak Frans ngasih kita ini, katanya hadiah karena udah bersikap baik sama Kinar."


Litania bungkam, matanya tertuju pada map yang Chandra pegang.


"Hadiah ini dari dia, paket liburan ke pulau Komodo. Katanya kita bisa pakai Villa-nya yang ada di sana. Dia juga ngasih tahu kalau kamu pernah ingin bulan madu ke sana."


"Beneran Om Frans ngasih ini?" Litania tersenyum lebar tapi, berbeda dengan Chandra. Pria itu tampak murung, desahan napasnya terdengar panjang.


"Maaf soalnya bulan madu kita kemarin. Aku egois, nggak nanya pendapat kamu dulu dan malah langsung mengusulkan ke Bali. Maafkan aku ya, kemarin gak memungkinkan kita untuk berliburan jauh."


Mata Litania berkaca-kaca, tak tahu harus melisankan apa. Ia peluk tubuh tegap suaminya. "Enggak perlu minta maaf. Aku seneng kok bulan madu ke sana. Kebahagiaan bukan diukur dari mana dan seberapa mahal tempatnya. Bulan madu itu adalah momen di mana kita menghabiskan waktu berharga bersama orang terkasih. Dan aku bersyukur menghabiskan momen bulan maduku bersama kamu di sana. Di sana juga kita bisa jujur dengan perasaan mading-masing," terang Litania setelah memorinya berputar ke beberapa bulan lalu. Kejadian diculik Reno hingga kejujuran Chandra, terlintas jelas di ingatan. Ada hikmah dibalik musibah.


Sementara Chandra, setelah mendengar ucapan bijak Litania membuat senyumnya terukir. Bahagia dan rasa bersalahnya masih menyatu. "Kita berlibur di sana saja ya?"


"Gak harus, kok. Gak masalah kalau emang nggak sempat. Kapan-kapan juga bisa, 'kan?


"Gak apa-apa. Aku beneran bisa. Demi kamu, demi nyenengin kamu, demi Nebus kesalahan di masa lalu, aku bisa lakuin apa aja. Aku bakalan minta tolong sama papa dan Ara buat meng-hendle perusahaan kalau ada masalah rumit saat kita pergi."


Litania kembali sumringah. "Ini beneran kita bisa ke sana?" tanyanya tak percaya.


"Iya, beneran."

__ADS_1


"Seminggu lagi kita periksain kandungan kamu. Kalau Dokter Novita mengatakan oke. Kita bisa berangkat."


Litania mengangguk. Bulir air yang sudah lenyap kembali menetes. Ia peluk Chandra dengan erat seraya berucap, "Terima kasih ... terima kasih banyak. Aku sayang sama kamu, aku bahagia punya kamu. Aku akan barusaha lebih baik lagi agar bisa berubah. Kasih aku waktu dan jangan bosan buat ngasih tau aku. Mana yang boleh dan mana yang enggak. Ingetin aku agar bisa jadi istri yang baik untuk balas semua cinta kamu. Dan terus nasehati aku biar bisa jadi ibu yang baik nantinya."


__ADS_2