
Chandra berjingkat kaget, mata pun membola seketika. Ia benarkan posisi kala melihat Lusi—penerjemah yang bekerja bersama Mark Lukas Anthony—merebahkan diri di sebelahnya. Wanita cantik bertubuh menarik itu tampak rapi dengan rok span dan kemeja putih yang masih membalut tubuh.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Chandra heran sekaligus kesal. Sudah sejam menunggu tapi yang mengajak bertemu tak kunjung tiba. "Kenapa tidak bilang dari awal?"
"Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya suruhan." Lusi menyodorkan sebuah nampan yang berisi jus dan sebotol air mineral yang dibawanya dari luar. "Minum dulu, Pak," pintanya.
Wajah cantik Lusi tampak begitu berseri. Wanita berusia 28 tahun itu tak henti melengkungkan bibir, tersenyum terus ke arahnya. Chandra sedikit risih dan tak nyaman akan wajah ramah itu. Baginya senyuman setiap perempuan sama saja, begitu membuat kesal dan tak ada manis-manisnya. Hanya Litania seorang yang begitu indah meskipun tak gosok gigi selama dua hari.
Mendengkus samar, Chandra raih air meneral yang ada di atas meja, membuka penutup botolnya, lantas menenggak hampir setengah. Rasa lelah masih menggerogoti. Andai ada Litania, sudah dipastikan ia akan bermanja ria dengan istri barbar-nya itu.
"Ya sudah kalau begitu. Saya pamit." Chandra berdiri, meraih jas yang tergeletak di atas sofa lalu kembali berkata, "Besok saja kita bertemu lagi. Kalau begitu saya permisi."
Chandra melewati Lusi. Akan tetapi baru mengayunkan kaki tiga langkah, pandangan mata mulai memburam. Indra pendengaran mulai samar-samar menghilang. Ia putar tumit dan memperhatikan Lusi yang tengah bersandar di sofa dengan senyuman yang ... entahlah, begitu ambigu.
Chandra sipitkan matanya, melihat wajah Lusi yang mulai berbayang, dari satu menjadi tiga lalu menjadi lima. Ada apa ini? Batinnya.
"Lusi ...." Chandra pengang kepalanya yang berat, jas serta tas kerja yang ada di tangan tentu saja terlepas dengan sendirinya. Sumpah, ia sama sekali tak bisa memfokuskan titik pandangan. Kepala terasa berat seakan tertimpa batu besar.
"Lusi, apa yang kamu masukkan ke dalam minuman saya?"
Chandra masih berjuang untuk mempertahankan kesadaran meski pandangan dan ketajaman panca indra di tubuh mulai berkurang. Dengan detak jantung yang sudah mulai melemah, Chandra dekati Lusi yang masih terduduk. Namun sial, mendadak penglihatan berubah buram lalu pekat. Hanya dalam hitungan detik, tubuhnya yang tegap ambruk seketika itu juga di pangkuan Lusi.
Lusi menyeringai lalu mengusap rambut tebal Chandra. Pria itu sudah terpejam di atas pangkuan. "Maaf, Pak. Aku hanya suruhan. Aku butuh uang."
Lusi belai pelipis Chandra. "Aku heran, kenapa wajah setampan dan se-perfek kamu bisa menikah dengan anak kecil itu."
Lagi, Lusi berdecak kesal. Ia perhatikan wajah tampan Chandra lalu mengusap bibir pria itu dengan jari telunjuk. "Malam ini kita berpesta ya, Sayang," lirih Lusi sensual. Senyum licik pun terukir.
Mengarahkan pandangan ke luar pintu, Lusi lantas berteriak, "Hey! Kalian yang di luar. Cepatan masuk!"
Tak berapa lama masuk dua orang yang bertubuh tambun dengan kemeja hitam. Dua pria itu membopong tubuh Chandra, berlomba dengan keadaan. Mereka takut Arjun akan tiba padahal sudah susah payah menyingkirkannya.
__ADS_1
"Ayo cepat!" perintah Lusi.
Selang beberapa menit kemudian, Arjun pun tiba. Pria itu menggerutu karena orang yang menelepon tak bicara, hanya terdengar cekikikan saja dari seberang telepon sana. "Menjengkelkan!" kesal Arjun.
Membuka pintu ruangan, mata Arjun membulat lebar kala melihat tas serta jas sang bos tergeletak di lantai, dan orangnya ... tak ditemukan di dalam sana.
"Ke mana dia?" gumam Arjun seraya memungut barang Chandra yang tergeletak itu. Ia edarkan pandangan.
"Pak Chandra!"
"Pak!"
"Pak Chandra!"
Arjun panik, dirinya berlari hingga ke luar ruangan. Perasaan buruk mulai menyerang. Ya Tuhan. Ke mana dia?
Merenggut rambutnya sendiri dengan kuat, Arjun pun terus saja bergumam dengan perasaan waswas.
"Di mana bos kamu?"
"N-nona ...." Tergagap, aliran darah Arjun mendadak tercekat. Pita suaranya juga terasa diikat. Pria tegap itu kesusahan berbicara. Mendapat pelototan tajam dari Litania membuat keberania menciut. Begitu mengerikan.
"Ke mana dia?" tanya Litania lagi. Wanita yang berpakaian serba hitam itu makin terlihat berang.
Serasa disudutkan, Arjun memundurkan langkah saat Litania mendekat dan tanpa aba-aba mencengkeram jas yang melekat di badan. "Ke mana dia?" ulang Litania lagi.
"S-saya tidak tau, Nona. Tadi saya tinggal sebentar tapi pas saya balik lagi orangnya sudah gak ada."
Gila! Baru kali ini dirinya merasa kalah hanya dengan pandangan. Tatapan menghunjam Litania bagai belati. Bisa membunuh hanya dengan satu kali tatapan. Apalagi penampilan Litania yang seakan-akan siap berperang—baju hitam, celana hitam serta rambut yang di sanggul tinggi ke atas. Asli, nyali Arjun menciut.
Sementara Kinar, tetap saja berpelangi. Hanya saja ekspresinya tidak kalah garang dari Litania.
__ADS_1
"Hais Sialan! Siapa lagi ini?" Melongos pergi, Litania tinggalkan Arjun yang mematung hingga ia tersadar akan sesuatu.
Memutar kembali tumitnya, Litania tatap nyalang sang asisten. "Kenapa berdiri saja? Mau nunggu Chandra turun dari langit! Ayo cepet cari!"
"Eh."
Bak orang linglung, Arjun baru tersadar saat dihardik. Ia pun langsung mengikuti jejak langkah Litania dan menuju parkiran.
Masih dengan wajah panik, Litania rogoh saku celana dan mencoba memanggil orang yang bisa diandalkan. Ara, sang sekretaris baik hati yang ia anggap kakaknya sendiri.
"Mbak Ara, sudah ada kejelasan lokasi dari bagian IT?"
"Sudah, Nona. Mereka sekarang baru saja memasuki Sky Hotel," jawab Ara yang ada di seberang telepon.
Wanita itu juga terlihat waswas, terbukti dengan pandangan yang terfokus pada sang suami yang berprofesi sebagai tim IT di perusahaan Chandra. Prianya itu tengah menatap serius ke arah komputer.
Sejam sebelumnya
Litania gusar menunggu Chandra di depan rumah. Mendadak seharian ini perasaannya tak enak, apalagi tak seperti biasa Chandra belum pulang padahal sekarang sudah pukul sembilan malam. Dan jikalau ada keperluan, prianya itu akan selalu memberi tahu terlebih dahulu. Tapi tidak untuk hari ini, Chandra tak mengangkat telepon juga tak memberi kabar.
Merogoh saku celananya, Litania telepon Arjun. Namun tak mendapat jawaban. Mendadak khawatirannya menjadi berkali lipat. Ia hubungi Ara.
"Mbak Ara, apa sekarang masih ada di kantor? Kenapa dia belum pulang juga?"
"Sekarang saya sudah pulang, Nona. Tapi kalau soal Pak Chandra, sepertinya dia ada pertemuan dengan investor di sebuah kelub malam."
"Apa?" Litania jelas kaget, matanya membulat seketika, pikiran tentu saja sudah mengarah ke hal yang buruk. Bukankah kelab malam itu bukan tempat yang cocok untuk berdiskusi bisnis maupun meeting?
"Apa kalau meeting selalu di klub malam?" tanya Litania.
"Tidak, selama saya menjadi sekretaris-nya, gak pernah sekali pun ada yang mengajak ketemuan atau membahas masalah pekerjaan di dalam klub malam. Baru kali ini. Saya juga curiga. Tapi Pak Chandra menyetujui pertemuan itu."
__ADS_1
"Ya sudah, Mbak. Saya ingin ke sana. Kirimkan alamatnya sekarang. Terus, untuk berjaga-jaga lacak juga lokasinya."