Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Perpisahan termanis


__ADS_3

Wajah Kinar menjadi masam. Ia bersedekap dada lalu memicingkan mata. "Jadi kemaren kamu cuma becanda?"


"Kemaren apa? Emang kita ngelakuin apa?" tanya Arjun menggoda.


Kinar menggeram, ia apit bibir Arjun gemas dengan tangannya. "Ini loh, bibir yang gak ada akhlak ini udah nyium aku. Masih gak inget?"


Kinar kembali bersedekap dengan memunggungi Arjun. Ia kesal tak diakui, padahal imajinasinya sudah terlanjur tinggi—menikah dan mempraktikkan adegan nananina di atas ranjang. Astaga!


Arjun tersenyum. Ia raih pundak Kinar agar melihatnya. "Ya aku tau. Aku gak lupa. Cuma sengaja."


"Sengaja bikin aku kesal?" Bibir Kinar manyun dua senti.


Arjun mengunci pandangan Kinar. Tatapannya penuh keseriusan. "Kinar. Jujur ... aku gak tau perasaan apa ini, tapi yang jelas, dekat kamu aku nyaman."


"Bukan kasian?" selidik Kinar.


Arjun menggeleng. "Bukan." Ucapan pria itu jeda beberapa detik, tatapannya terfokus ke bibir Kinar. "Aku gak tau perasaan apa ini. Aku gak mau jadi lelaki brengsek yang ngancurin masa depan perempuan tanpa kepastian." Perkataan Arjun terjeda lagi. Jakunnya naik turun. "Tapi Kinar, aku benar-benar ingin menciummu, sekarang. Boleh?"


Gila! Baru ini ada pria yang minta izin sebelum mencium. Kinar anggukan kepalanya dengan cepat. "Tapi, imajinasiku tentang ciuman itu beda. Aku akan nganggap ciuman darimu ini adalah tanda cinta."


"Ya, aku tau, kau bisa menolak jika mau."


Aish! Ngapain nolak. Ini ni yang aku tunggu-tunggu, batin Kinar. Ia pejamkan mata, bersiap menerima asupan nutrisi dari Arjun.


Sementara Arjun, begitu bertengkar hebat dalam batinnya. Cium ... enggak ... cium ... enggak.


Tiga senti.


Dua Senti.


Satu senti.

__ADS_1


Arjun lepaskan pundak Kinar. Ia usap wajahnya yang sudah terlanjur merah. "Maafkan aku. Aku gak seharusnya kayak begini. Mending kamu pergi, Kinar. Aku takut kalau kamu berada di sini lebih lama, aku takut akan melakukan hal gila. Jadi sebelum semuanya terjadi, lebih baik kamu pulang."


"Tapi, Jun. Aku siap, kok. Bahkan aku siap ke penghulu sekarang."


Mata Arjun menyipit, tak lama kemudian senyumnya terukir, ia acak-acak pucuk kepala Kinar. "Ini kepala isinya apaan, sih. Kok gak jauh dari itu."


Kinar tersenyum malu. "Tapi aku serius, Jun. Lamar aku, ya. Aku siap kok. Aku sering baca kata 'Menikahlah sebelum karatan' di Instagram."


Sontak empat buku jari Arjun mendarat di dahi Kinar. Pria itu tertawa gemas. "Mana ada kata-kata begitu."


"Ada."


"Siapa yang bikin?"


"Aku." Kinar mengedip-ngedipkan matanya. Senyum Arjun menjadi lebar saat melihat gimik menggoda Kinar.


"Jangan bercanda. Lebih baik kamu sekarang pulang."


Arjun tak menanggapi. Kepala ia sandarkan di sofa dengan punggung tangan menutup mata. Helaan napasnya terdengar panjang. Entah apa yang ia pikirkan.


"Ayolah Arjun. Lamar aku. Mumpung papa setuju. Kita nikah besok. Kalau kamu nolak aku pasti dibawa paksa. Aku gak mau kuliyah, Jun ...." Kinar merengek seraya menggoyang-goyang paha Arjun.


Namun, Arjun lagi-lagi tak merespon. Ia buka mata lalu merogoh ponsel dan memasang handset.


"Sini." Arjun tepuk sandaran sofa—kode agar Kinar bersandar di sebelahnya.


Kinar mengkerutkan dahi tapi berakhir menurut juga. Ia bahkan tak protes saat Arjun memasangkan handset ke telinganya. Kedua manusia itu mendengarkan lagu The Way You Look at Me dari Cristian Bautista. Saking menghayati, Kinar bahkan memejamkan mata dengan senyum terkembang. Suara merdu si penyanyi menghipnotisnya hingga sebuah genggaman tangan Arjun menyadarkan.


Kinar tertegun dan membuka mata. Ia lihat wajah terpejam Arjun dengan seksama. Di benaknya begitu banyak pertanyaan untuk Arjun. Namun, tetap tak bisa melisankan. Apakah Arjun serius? Apakah Arjun menyukainya? Ataukah Arjun cuma menjadikannya pelampiasan?


Menggelengkan kepalanya cepat, Kinar tak peduli. Ia hanya ingin Arjun. Bersikap egois tak mengapa. Asal yang diinginkan bukan milik orang lain. Ye kan gaes!

__ADS_1


"Kinar ...." Arjun membuka mata, membetulkan posisi dan menatap Kinar. "Maaf, aku gak bisa menikah sekarang."


Wajah Kinar berubah. Ia bungkam. Masih menunggu ucapan selanjutnya dari Arjun. Meskipun hatinya sudah terempas, tapi tetap berupaya tegar.


"Aku belum mapan."


"Tapi, Jun. Orang tuaku banyak uang. Kamu gak perlu kerja."


Arjun mengeleng, raut wajahnya murung. "Aku gak tau siapa orang tuamu, karna aku gak pernah mencari tau. Tapi, kalau yang kamu bilang itu benar, tetap saja aku harus kerja. Aku memang bukan orang kaya Kinar. Tapi seenggaknya izinkan aku bekerja hasil jerih payahku. Pekerjaan bagi laki-laki itu harga diri. Jadi biarkan aku mempertahankan harga diriku sebelum melamar kamu.


"Lagian, aku belum yakin dengan perasaanku. Aku suka sama kamu, kamu selalu bikin aku marah tapi juga bikin kesel kalau gak liat kamu. Terakhir aku sedikit cemburu saat liat kamu sama Aldi. Tapi itu bukan berarti cinta. Mungkin aja sebatas kasihan. Dan aku gak mau kita salah mengartikan. Kamu belum tau aku. Aku belum terlalu mengenalmu. Bagiku hubungan kita ini seperti puzzle, harus disusun dulu baru bisa menikmatinya."


"Jadi kamu gak mau nikah sama aku?"


Arjun terdiam dan menyandarkan punggungnya kembali. "Aku gak tau, Kinar. Beri aku waktu. Aku yakin waktu bisa menjawab. Jadi, lebih baik kamu balik ke Inggris, belajar yang bener. Kamu bilang orang tua kamu pengusaha. Aku yakin mereka berharap lebih sama kamu. Aku yakin mereka gak mau kamu hanya jadi ibu rumah tangga aja."


Kini Kinar yang terdiam. Ia sandarkan juga punggungnya di sandaran kursi dengan mata menatap langit-langit. Perkataan Arjun ada benarnya. Helaan napasnya terdengar panjang. "Aku boleh nanya?"


"Tanya aja."


"Kamu beneran belum pernah cium bibir Meli. Itu artinya aku yang pertama."


Arjun tampak berjengket tapi berakhir kembali tenang. Tak menyangka itu yang akan ditanya Kinar padanya. "Emang kenapa?"


"Ya aneh aja. Secara kita hidup di zaman now, masa kamu belum pernah ciuman sama dia. Kalian pacaran bertahun-tahun, 'kan?" Ucapan Kinar jeda sejenak. Matanya menyipit tajam. "Apa kamu punya kelainan?"


Suara keplakan terdengar. Arjun memukul dahi kinar. "Otak kamu itu ngeres banget, sih. Asal kamu tau ya. Aku sama Meli itu tetanggaan. Orang tuanya taat beragama. Aku gak mau bikin orang tua kami malu. Jadi sebisa mungkin aku tahan. Aku sayang tulus sama dia. Bukan nafsu."


Mendengar ucapan Arjun, ada sentilan di hati Kinar. Ternyata kamu begitu menyayangi Meli. Kamu memang lelaki baik, Jun. Gak salah aku jatuh cintanya sama kamu. Kamu adalah lelaki berakhlak yang benar-benar berakhlak. Aku gak nyangka bisa ketemu laki-laki kayak kamu di tengah terkikisnya akhlak para pemuda di muka bumi. Baiklah, aku harap waktu bisa menjawab. Aku harap perasaan yang sudah ada untuk aku di hati kamu akan terus tumbuh hingga menjadi cinta. Cinta yang benar-benar murni, bukan kasihan atau tanggung jawab. Dan aku juga berharap kamu itu jodoh yang Tuhan siapkan buat aku. Tunggu aku, Jun. Aku akan balik lagi dan buat kamu melamar aku duluan.


Kinar hela napas seraya angkat dari kursi. Tangannya membentang begitu lebar dengan senyum yang tak kalah lebar. "Baiklah, aku gak punya alasan untuk tetap tinggal. Aku akan balik ke Inggris besok. Jadi kasih aku pelukan perpisahan."

__ADS_1


Arjun tampak kaget. Wajahnya menyiratkan dua arti. Antara sedih dan senang. Namun ia berakhir tersenyum dan berdiri. Lantas memeluk sebentar dan mengacak-acak rambut Kinar lagi. Terakhir ia daratkan kecupan singkat di dahi gadis itu. "Pilihan bagus, Kinar. Jagalah kesehatan selama di sana. Belajarlah yang giat. Oke. Pikiran jangan ngeres. Entar kuliah gak beres-beres."


__ADS_2