Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ekstra part. Kinar & Arjun.


__ADS_3

Part ekstra khusus Kinar Arjun.


happy reading. Jangan lupa like.


Denting jam setia berdetak, menengahi kebisuan antara Kinar dan Arjun. Pasangan suami istri itu sama-sama canggung akibat pura-pura pingsan yang Arjun lakoni sebelumnya. Keduanya saling memunggungi, bergelayut dengan pikiran masing-masing.


"Arjun, apa kamu udah tidur?" Pertanyaan Kinar memecah keheningan.


Sudah hampir sejam mereka terbaring di atas kasur bertabur kelopak bunga. Namun, sama sekali tak ada pergerakan. Seolah mati padahal masih hidup.


Arjun yang memang tak bisa tidur membalas pertanyaan Kinar dengan dehaman. "Kenapa?"


"Arjun, aku boleh nanya sesuatu?" tanya Kinar lagi.


"Tanya aja. Apa pun. Kalau aku bisa menjawabnya, pasti bakalan aku jawab."

__ADS_1


Hening lagi hingga Arjun yang kadung penasan membalik diri—menatap punggung Kinar yang terbalut piyama tidur berwarna kuning keemasan. "Tanya aja," lanjutnya.


Mendesah panjang, Kinar ubah posisinya menjadi terlentang. Dari dulu ia selalu memikirkan masa lalu Arjun sebelum mereka bertemu. Bagaimanapun ada rasa iri karena Meli adalah cinta pertama Arjun dan yang membuatnya makin sesak, Arjun sendirilah yang mengakui itu.


"Arjun, apa yang membuatmu mencintai Meli?"


Kini Arjun yang mengembuskan napas pelan. Ia ubah juga posisinya hingga menjadi terlentang.


"Aku merasa kami cocok. Kami punya banyak kesamaan dan hobi. Terlebih lagi kami sudah terbiasa sama-sama."


Arjun terdiam hingga Kinar kembali bersuara, "Aku hanya ingin memastikan, apa sudah gak ada lagi nama Meli di hati kamu?"


"Kinar ...." Arjun memanggil seraya memegang tangan Kinar. Direngkuhnya tubuh wanita itu lalu mendaratkannya di dada. Ia belai rambut hitam pekat nan panjang Kinar, lantas mengecup pucuk kepalanya.


"Tolong jangan bahas masa lalu. Aku memang bukan tipikal cowok romantis. Aku cenderung pasif soal hubungan. Aku gak bisa kayak laki-laki lain yang selalu menaburi pasangan dengan perhatian atau manjain dangan berbagai gombalan. Tapi, Kinar ... asal kamu tau saja, aku kayak begitu bukan berarti aku gak sayang. Aku cuma gak bisa berlebihan. Aku pun sadar, aku itu gak punya selera humoris yang bisa menghibur kamu saat kamu sedih. Tapi Kinar, satu yang pasti, aku setia. Aku selalu bertanggung jawab atas pilihanku. Saat kamu perlu apa pun, bersandarkan di bahuku. Bergantungan sama aku. Sekarang aku sudah memantapkankan hati sama kamu. Masalah sudah kita lalui dengan baik. Jadi aku harap kamu mau nerima kekuranganku itu dan kita bisa melalui sisa umur kita sama-sama tanpa ada embel-embel masa lalu. Ayo kita sama-sama saling menjaga dan menyayangi sampe tua."

__ADS_1


Dih! Sumpah demi apa pun, itu kata-kata termanis yang pernah Kinar dengar dari bibir Arjun. Ia terharu, air matanya menetes. Senyuman tersungging. Dipeluknya pinggang Arjun dengan erat.


"Makasih, Jun. Aku sayang sama kamu. Aku gak salah karna udah jatuh cinta sama kamu. Kamu laki-laki pertama dan akan selalu begitu." Cengiran Kinar langsung terbit. Rasanya sudah seperti ketumpahan gula, manis.


Sementara Arjun, hanya mengulas bibir. Ia dekap makin erat tubuh Kinar. "Aku sama Meli sudah berakhir. Sudah lama bahkan sebelum ketemu kamu."


"Maaf, aku gak bakalan ungkit itu lagi."


"Dan satu lagi, dalam cinta jangan pernah ada kata maaf. Kita jalani saja, nikmati hidup ini. Nikmati rasa kita dan jangan pernah berubah kadi orang lain."


Lagi, bibir Kinar makin tipis, ucapan Arjun yang tulus seperti itu membuatnya bahagia. Belum lagi aroma mint dari tubuh Arjun merusak kenormalan otak Kinar. Singa betina genit sudah bangun sekarang.


"Arjun ...."


"Ya, kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2