Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Sandiwara Kinar.


__ADS_3

"Hoi, Neng. Lagi ngapain?"


Suara cempreng Kinar mengagetkan Litania yang tengah rebahan menatap langit malam.


"Eh, kamu, Kin. Sinilah, temenin aku," jawab Litania seraya menepuk ranjang tempatnya berbaring.


Mengangguk dua kali, Kinar yang berada di ambang pintu menghampiri dan merebahkan diri di ranjang besar tempat Litania rebahan. Mata keduanya tertuju ke langit yang hanya dibatasi oleh kaca transparan. Kaca lebar yang membuat mereka bisa melihat langit tanpa mesti keluar rumah.


"Wah, bagus banget. Aku nggak nyangka di rumah ini ada ruangan kayak begini," ucap Kinar seraya melihat sekeliling. Begitu banyak gambar-gambar tentang astronomi tertempel di dinding. Bahkan teleskop pun ada di sana yang membuat mata Kinar makin berbinar. Ia tunjuk teropong besar berwarna silver yang ada di sebelah ranjang. "Itu punya suami kamu?"


Litania mengangguk. "Iya, itu punya dia. Apa aku nggak pernah bilang kalau Bangkocanku itu suka sama benda-benda langit?"


"Enggak, kamu gak pernah bahas soal ini."


"Masa, sih." Litania tersenyum canggung lantas melihat benda besar itu lalu kembali menatap langit, "Dia itu emang suka soal tata surya. Waktu kecil malahan aku sering diajarin pasal bintang. Aku bahkan pernah bercita-cita mau jadi astronom."


"Lalu kenapa gak jadi?" tanya Kinar penasaran"


"Yah namanya juga masih kecil. Kita mana tau arah jalan hidup. Aku juga pernah bercita-cita mau jadi guru, dokter, bahkan mau jadi artis." Litania mengukir senyuman lantas kembali berkata, "Tapi akhirnya malah nikah muda."


Kinar manggut-manggut. "Tapi kamu beruntung dapat suami keren bin kece badai kek begitu. Dia tampan, keren, kaya, penyayang, plus berkelas," ujar Kinar seraya menekuk lima jarinya setelah selesai menyebut satu per satu kelebihan Chandra.


"Hehehe ... namanya juga jodoh. Mana bisa kita yang minta," balas Litania seraya cekikikan. Ada rasa bangga saat mendengar pujian itu. Pujian yang membuatnya tak ingin melepaskan Chandra apa pun yang terjadi.


"Eh, tapi sumpah, lho. Aku tuh kesel tiap kamu manggil suamimu itu pakai sebutan Bangkocan. Kayak gak ada panggilan laen aja. Gak ada mesra-mesranya. Malah kalau lagi kesel kamu manggil dia Bangkotan. Apa itu nggak kurang ajar?"


Litania kembali tersenyum kuda lalu menggaruk pucuk kepala yang tak gatal. Malu karena apa yang dikatakan Kinar benar adanya. Hanya saja mulutnya susah diajak insaf. Lagi senang manggilnya sayang, kalau lagi kesal ya ... Bangkotan.


"Iya ... iya, entar aku biasain nggak manggil dia kayak gitu lagi. Habisnya mulut aku ini susah diajak kompromi. Kebiasaan." Litania kembali tersenyum. "Kamu mau tau gak kenapa aku suka panggil dia Bang Kocan?"


Kinar menggeleng lantas memiringkan tubuhnya menatap Litania yang sudah mesam-mesem sendiri. "Emang ada sejarahnya? Cerita dong. Aku penasaran," jawab Kinar antusias.


Kini Litania juga sudah menghadap Kinar. "Dulu, awal mula manggil dia Bang Kocan itu karna aku paling suka dengan kartun Shin-chan. Nah, kebetulan nama dia Chandra, kan ... jadi ya udah, aku plesetin sekalian. Tapi bakalan aku coba buat mengubahnya. Lucu bagi kita belum tentu bagi orang lain."


Kinar memencet hidung Litania. "Nah, gitu dong. Belajar dewasa dari sekarang. Kamu bentar lagi bakalan jadi orang tua. Jadi harus bisa jaga image baik biar dicontoh sama anak-anak kalian nanti."


"Ce ila. Bijak banget. Kayak kamu udah pengalaman aja," cibir Litania setelah bisa menepis cubitan tangan Kinar.


"Tau bukan berarti udah pernah. Makanya aku bilang harus ada edukasi dini."


Kinar terkekeh sejenak, memutar tubuhnya dan kembali menatap langit. Begitu pula Litania, gadis itu tersenyum. Entah mengapa kebahagiaannya makin hari makin berlipat. Apalagi ada Kinar yang menemaninya.


"Iya, iya. kamu 'kan masternya. Master dalam rumah tangga," celetuk Litania.


"Mater apaan? Ngaco." Kinar lagi-lagi menipiskan bibir. "Aku itu pengen banget nikah. Membina rumah tangga yang harmonis terus punya banyak anak. Aku bahkan sampe searching google, loh. Harusnya kamu juga kayak gitu. Biar ngerti."


"Hm ... iya iya." Litania memutar matanya malas. Mendengar ocehan Kinar serasa mendengar nasihat neneknya.


"Oh iya, aku dari tadi nggak nemu suami kamu. Emang dia nggak pulang?" tanya Kinar.


"Enggak. Katanya tadi ada yang perlu dibahas sama Ara dan Arjun."


Kinar ber "oh" tanpa mengeluarkan suara. "Pantesan ...."


Memandang wajah Litania yang masih melihat ke atas, Kinar telan ludahnya kemudian berucap, "Litan, aku boleh pinjam uang nggak."


"What?" Mata Litania membelalak. Ia bahkan telah duduk dan menatap Kinar dengan pandangan tak percaya. Ingin memastikan indra pendengarannya baik-baik saja, Litania pun mengulang ucapan Kinar. "Minjam duit? Kamu serius?'

__ADS_1


Kinar membetulkan posisinya—duduk—dan membalas tatapan mata Litania. "Iya, aku butuh duit buat ganti mesin cucinya Vika sama ganti duitnya karna aku pake buat bonding sama ngewarnain rambut."


"Vika, Vika siapa?" Litania makin serius saja. Dahi bahkan telah mengkerut membentuk beberapa lipatan. Tak percaya dan masih menebak apa yang ada dalam benak sahabatnya itu.


"Vika sepupunya Arjun. Jujur, selama dua hari di sana—Semarang, aku itu nginep di rumahnya Vika, terus gak sengaja ngerecokin mesin cuci bajunya dia."


Litania menutup erat bibirnya. Sumpah, wajah cemberut Kinar lumayan membuatnya ingin tertawa terbahak. "Seriusan? Kamu rusakin tu mesin?"


Kinar mengangguk lesu. "Sebenarnya aku kesel sama Arjun. Niat aku ikut dia kemarin itu biar bisa serumah sama dia, biar bisa ngerayu dia, e taunya aku malah diusir. Aku diasingkan di rumah sepupunya yang lumayan jauh. Mana aku nggak punya duit." Kinar makin memanyunkan bibir. Kaki bahkan telah menggeluarkan suara berisik karena Kinar menggesekkan sandalnya ke porslen.


Akhirnya, tawa Litania pecah. Benar-benar tak bisa membayangkan betapa menderitanya kehidupan Kinar di rumah sepupunya Arjun. Apalagi dengan pikiran Kinar yang tak bisa ditebak.


"Kamu ini ada-ada aja. Gimana bisa kamu ngerusakin mesin cuci orang lain?" Tawa Litania menggema. Menyisakan kegondokan di diri Kinar.


"Ketawa, ketawa aja terus." Kinar bahkan telah melipat kedua lengan di atas dada. Kesal, bukannya dihibur dirinya malah diejek.


"Iya, sorry." Litania meredam tawanya yang jujur ... masih terasa susah. Akan tetapi, demi ingin mendengar cerita lebih jauh lagi. Ia tahan rasa geli itu dan menatap serius wajah masam Kinar. "Tapi serius kamu enggak punya duit?"


Kinar kembali mengangguk dengan kepala tertunduk.


"Oke. Masalah duit aku pasti bantu. Tapi sebenarnya ada apa? Apa yang kamu sembunyikan? Aku itu udah lama curiga. Coba jelasin."


Kinar masih bungkam. Tangan bahkan tertaut dengan kepala yang masih tertunduk.


"Kinar, ayo dijawab. Apa kamu berantem lagi sama papa kamu?" selidik Litania. Mata bahkan makin menyipit saat tak mendapat jawaban. Oke, ini pasti karena Om Frans, batinnya.


Kinar mengangguk. "Iya, aku berantem sama papa. Aku balik ke Indonesia aja dia nggak tau. Dia taunya aku itu nginep di asrama kampus."


"Lah, kok bisa, berantem karena apa?" Litania makin penasaran.


Tawa Litania mengudara lagi, bahkan makin nyaring. Benar-benar tak mengerti arah pikiran Kinar yang menurutnya konyol, sunggul konyol. Bagaimana bisa melepaskan masa depan cerah demi menikah?


"Emang kamu udah punya calon buat dinikahin?" tanya Litania lagi saat tawa sudah sedikit mereda.


"Awalnya sih belum. Tapi sekarang aku udah punya calon. Arjun. Aku mau nikah sama Arjun." Senyum merekah Kinar terukir. Wajah tampan dan otot keras Arjun terlintas jelas di ingatan. "Astaga, Litan. Aku pengen banget nikah sama dia. Bantuin aku ya ya ya ya," lanjut Kinar seraya meraih tangan Litania, wajah pun sengaja di buat se-cute mungkin. Namun sayangnya tak bekerja. Litania malah berdecak, menarik tangannya seraya menggelengkan kepala. Ia tatap makin intens wajah Kinar yang masih tersenyum. "Wah, gila kamu. Pikiran kamu kok udah ke situ, sih. Harusnya kuliah dulu. Cari ilmu yang banyak."


Kinar bergeming, pikiran sudah traveling ke mana-mana. Otot bisep Arjun yang menonjol serta suara tawa yang renyah membuatnya merindukan sosok pria cerewet itu dan mengabaikan omelan Litania. Ah, aku mau peluk dia.


"Terus, apa ayah kamu ngebolehin kamu berhenti kuliah?"


Senyum Kinar sirna dan kembali ke mode semula—manyun.


"Ya tentu nggaklah. Kamu tahu 'kan, aku ini anak semata wayang. Papa aku itu orangnya super super super—"


"Super apa, Superman?" sela Litania lalu terkekeh jenaka.


Berdecak kesal, Kinar toyor pundak Litania hingga yang punya pundak itu terjungkal ke belakang. "Jangan asal. Galak-galak gitu dia itu papa aku."


"Iya, aku cuman bercanda." Litania masih terkekeh. Ia betulkan lagi posisinya dan kembali berhadapan dengan Kinar. "Jadi ceritanya sekarang bagaimana? Apa rencana kamu sekarang? Enggak mungkin ayah kamu gak tau kalau kamu nggak ada di asrama."


"Nah, itu dia, rencananya sebelum papa tau, aku harus bisa ngeyakinin Arjun buat nikah sama aku. Barangkali papa terima. Arjun cakep, baik terus gak matre."


"Gimana ceritanya. Arjun aja kayaknya ilfil sama kamu."


Mengehela napas, Kinar kembali merebahkan tubuhnya ke kasur empuk itu. Ia pandangi langit yang hanya tampak beberapa bintang saja.


"Pokoknya aku harus bisa ngeyakinin dia kalau aku itu layak buat jadi istrinya. Arjun itu orangnya beda, nggak kayak laki-laki yang lain. Pokoknya dia itu spesial. Pokoknya aku harus bisa dapetin dia," ucap Kinar dengan semangat 45. Tangan bahkan telah membentuk tinju. Membuat Litania yang melihatnya hanya mampu menahan tawa

__ADS_1


"Emang apa bedanya Arjun dengan laki-laki yang lain? Aku yakin anak dari kolega bisnis papa kamu pasti wajahnya gak kalah tampan. Mereka juga pasti kaya, tapi aku heran kenapa kamu ngebetnya sama Arjun?"


"Ya karena dia nggak matre. Intinya dia itu udah bikin aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagiku dia itu sempurna." Tersenyum, wajah tirus Kinar begitu indah kala membayangkan Arjun. Tangan bahkan telah menyatu di atas dada—berkhayal yang bukan-bukan.


"Tapi dia nolak kamu, 'kan?" tanya Litania yang masih dalam posisi duduk. Kaki bahkan telah bersila di atas ranjang.


Kinar terdiam, pandangan penuh semangatnya pudar dalam sekejap mengingat betapa ketus respon yang Arjun berikan.


"Kamu tau alasan dia nolak kamu," tanya Litania lagi.


Kinar mengangguk pelan. "Karena gayaku."


"Nah itu tau. Jadi mau sampe kapan kamu bergaya senyentrik ini?" Mata Litania bahkan sudah kembali menyipit. Ia tarik tangan Kinar—memaksanya untuk duduk—dan memegang bahu Kinar yang terturun. "Katanya cinta, ayo berubah. Lagian mau sampe kapan kamu berlakon gaje begini?"


Menepis tangan Litania, Kinar menatap depan. "Aku belum siap buat berpakaian normal."


Litania kembali meraih pundak Kinar dan menangkup wajah lesu gadis itu. "Ayolah, itu udah lama. Kamu harus move on, oke."


Kinar menggeleng. "Aku bakalan tetep maju meski dengan gaya begini."


"Kalau gitu, nyerah aja."


'Enggak mau. Apa pun masalah dan rintangannya, aku bakalan maju terus. Pokoknya aku harus bisa dapetin dia. Aku harus bisa ngeyakinkan dia kalau aku itu bisa diandelin, kalau aku ini bisa jadi istri yang baik. Kamu aja bisa nikah muda masa aku enggak."


"Ya ampun, Kinar. Nikah muda itu nggak gampang, lho. Aku aja kemarin hampir gila. Kamu tahu nggak, seusia kita ini lagi senangnya seneng-seneng. Bukannya dikasih masalah yang rumit. Cobaan orang berumah tangga itu gak main-main. Jadi menurut aku, kamu kuliah aja dulu yang benar. Masalah cinta itu belakangan."


"Ih, kamu kok gitu. Katanya teman, tapi kok nggak ngedukung, sih." Kinar tampak sewot. Wajah bahkan telah ditekuk hingga lehernya membentuk beberapa lipatan.


"Bukan nggak ngedukung Sayangku Cintaku Manisku," ucap Litania seraya mencubit gemas pipi Kinar. "Aku itu cuma ngasih saran. Sayang banget kalau kamu ninggalin kuliah kamu demi sesuatu yang nggak pasti kayak gini. Kamu ngejar-ngejar terus yang dikejar cuek bebek gitu. Rugi ...."


"Gak, pokoknya aku mau tetep ngejar Arjun. Aku yakin bisa naklukin dia. Aku yakin bisa bikin dia jatuh cinta sama aku."


Litania menghela napas panjang. "Ya udah deh. Aku dukung. Aku bakalan bantu."


Wajah Kinar yang masam mendadak kembali berseri. Netranya yang bulat berkedip beberapa kali membuat Litania tak tahan untuk tak tertawa. Ia jitak kepala Kinar hingga yang dijitak mengaduh. Namun bukannya marah keduanya malah tertawa. Aneh.


****


Menenggak air putih hingga habis setengah, Chandra lap bibirnya yang masih basah dengan mata yang tertuju hanya pada Litania. "Hari ini mungkin aku bakalan pulang agak telat, gak apa-apa, kan?"


"Iya, gak apa-apa. Lagian 'kan ada Kinar. Aku gak bakalan kesepian. Ada yang lainnya juga. Jadi jangan khawatir. Kerja aja yang tenang. Cari duit yang banyak."


Chandra tersenyum. Dilihatnya penampilan Kinar yang menurutnya aneh. Rambut abu-abu, mirip Nyi Kunti ketiban semen sekarung. Ditambah jaket bergliter hampir menutupi seluruh permukaan jaket. Chandra bergidik. Moga aja Litania gak kayak begitu.


Kembali melihat Litania, Chandra pun mengulas senyuman saat melihat betapa lahapnya Litania menikmati sarapan. "Oiya rencananya kamu mau ke mans hari ini?"


Litania meraih gelas dan meminum isinya. "Rencananya aku sama Kinar mau ke sekolah. Aku mau makan cilok bikinannya Mang Urip—pedagang yang mangkal di depan gerbang sekolah.


Chandra mengernyit. Ingin melarang tapi ia urung melakukannya. "Ya udah, nanti perginya sama Pak Bambang, ya."


Litania menggeleng. "Gak usah. Aku mau pesen ojol aja. Pengen ngenang masa sekolah. Gak apa-apa, 'kan?"


Chandra terpaksa tersenyum dan berakhir menganggukkan kepala. Meskipun ragu, ia izinkan juga Litania melakukan apa pun yang Litania suka.


***


Udah di favoritin kan. Soalnya besok atau lusa otor gaje ini mau ganti judul sama cover. hegehe.

__ADS_1


__ADS_2