Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Kembar


__ADS_3

"Ini kenapa pake tutup tutupan segala, sih. Aku kan jadi nggak bisa lihat. Gelap ini, mana dikasih masker lagi, aku engap. Bang Chandra, sebenernya ini kita mau ke mana? Resek banget, deh. Siang-siang gini bikin kesel."


Chandra berdecak. "Udah, jangan banyak ngedumel. Nurut aja ngapa. Katanya sayang suami, jadi harus percaya, oke."


"Percaya sih percaya tapi kenapa mata aku pake ditutupin segala. Aku kan jadi nggak bisa lihat."


"Mata kamu gak perlu liat jalan. Cukup liat suami kamu yang tampan mempesona tujuh turunan, lapan tanjakan dan ketemu turunan lagi." Chandra terkekeh dengan omongan sendiri. Akan tetapi pikiran waras menghampiri setelah sempat hilang beberapa detik. Ia sadar telah salah berkata. Ia pukul mulutnya sendiri seraya menghentikan tawa. Bisa-bisanya bercanda saat istrinya tengah setengah murka. Dan benar adanya. Sang nyonya negara sudah menghentikan langkah. Kepalanya menoleh kiri ke arah Chandra lalu terdengar dengkusan halus dari hidungnya yang tertutup masker. "Mau tidur di luar malam ini?"


Chandra urut tengkuknya yang tak gatal. Aura Litania sudah terasa horor dan demi mendinginkannya, ia belai perut membuncit istrinya itu seraya berucap, "Cuma becanda, masa hanya gara-gara tanjakan aku harus pindah kamar. Gak enak, dong. Gak bisa lagi naik gunung dan lewati lembah."


Aih! Kode mesum itu sukses membuat Litania bungkam. Bagaimanapun ia suka permainan Chandra di ranjang, tapi tetap saja kesalnya masih ada. Bisa-bisanya Chandra memperlakukannya seperti tawanan—mata dan mulut ditutup.


"Kamu gak ngerencanain hal konyol, 'kan?"


"Konyol gimana?" tanya Chandra balik. Dahinya mengkerut memikirkan ucapan Litania.


"Ya kali aja kamu mau jual aku."


Sebuah sentilan di dahi menjadi jawaban Chandra. Ia gemas dengan jalan pikiran istrinya itu. "Sudah mau jadi emak masih aja berprasangka buruk sama suami sendiri."


"Wajar, dong. Kamunya aneh begini. Kenapa coba nutupin mata sama mulut aku. Apa gak sekalian dililitin ni seluruh tubuh aku biar kek mumi terus diawetin masukin dalem peti."


"Astaga ... tu mulut gak pernah insyaf kayaknya. Udah, sekarang lebih baik kamu diem, jalan yang bener. Ini demi kamu, demi kita."


"Demi demi ... demi apa pun aku kesel," celoteh Litania lagi. Bibirnya mengerucut, dengkusan pun makin jelas terdengar. Namun walaupun demikian, ia tetap berjalan dengan pelan. Melawan keinginan hati yang mempunyai banyak pertanyaan.

__ADS_1


Heran? Pasti. Bangun pagi tadi Chandra sudah mengajaknya bersiap-siap


Padahal dirinya termasuk tim rebahan sejati. Paling senang dan merasa nyaman saat memeluk guling kesayangan. Apalagi kandungan sudah menginjak usia 6 bulan. Rasanya berat, sesak. Itulah yang membuatnya malas melakukan apa pun selain makan, mandi, tidur dan berjalan sekedarnya saja.


Sementara Chandra, tersenyum puas. Ulasan bibirnya begitu lebar. Ia tuntun perlahan pundak Litania melewati lorong rumah sakit. Bukan tanpa alasan dia seperti itu. Kandungan Litania sudah besar tapi istrinya itu tidak pernah mau kontrol kehamilan.


Ingatan Chandra kembali ke sebulan yang lalu, terus ke bulan-bulan sebelumnya juga. Kala itu Chandra sudah semangat 45 mengantar Litania untuk periksa. Ingin mendengar detak jantung dan perkembangan janin mereka. Namun, semua berakhir sia-sia, baru saja menginjakkan kaki di halaman rumah sakit, Litania sudah muntah-muntah. Begitu hebat hingga hampir kehilangan kesadaran.


Serbasalah 'kan jadinya, plus bingung juga. Padahal wanita hamil harus rutin memeriksakan kandungan. Ya, minimal dua bulan sekali. Akan tetapi istrinya itu sudah 4 bulan berturut-turut tidak pernah mau ke rumah sakit maupun ke dokter praktik. Alasannya ... mual.


Di sinilah Chandra sekarang, demi ingin melihat perkembangan junior di rahim istrinya, ia rela menggunakan cara paling bodoh agar bisa memeriksakan kesehatan orang tersayangnya itu. Beruntung ampuh. Buktinya Litania tetap tenang masuk ke rumah sakit tanpa drama meski mulut mengomel di sepanjang jalan.


"Baring dulu ya," pinta Chandra ketika mereka sudah tiba di dalam ruang praktik Dokter Novita.


"Lah, ngapain baring? Aku beneran mau dililit terus masukin dalam peti?" Litania berucap dengan nada tinggi hingga Dokter Novita dan dua perawat di sana mengulum senyum. Mereka gatal ingin bersuara, hanya saja sudah diwanti-wanti sang dokter sebelumnya. Cara yang Chandra gunakan sekarang adalah saran dari dokter muda itu, jadi sebisa mungkin mereka harus tenang dan jangan sampai Litania sadar sebelum sukses memeriksa kandungannya.


"Ya habis kamu mencurigakan. Sebenarnya kita di mana sih."


Litania sudah berancang-ancang ingin melepas ikatan kepalanya, tapi belum sempat melancarkan niat, sebuah cekalan di lengan menghentikan.


"Jangan dilepasin dulu. Kalo lepas konsekuensi-nya kamu gak boleh nonton Drakor selama setaun. Laptop aku sita. HP entar aku sita juga. Aku ganti dengan HP jadul yang cuma bisa nelpon sama SMS aja. Mau?!"


"Yah, kok gitu, Yang."


Lagi, senyum empat orang di sana terukir. Sikap Litania yang tak konsisten menjadi hiburan buat mereka. Padahal sebelumnya suara perempuan bergaun panjang itu meninggi, tapi setelah terancam, suaranya berakhir rendah, serendah rendahnya. Wanita berperut buncit itu bahkan sudah duduk dan membaringkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Cepat-cepat Dokter Novita melanjutkan rencana. Ia sibak gaun Litania dan meletakkan alat yang sudah diberi gel dan menggerak-gelakkannya di perut Litania yang membuncit. Suara detak jantung pun menggema indah dalam ruangan itu hingga Litania sadar kalau dirinya tengah berada di rumah sakit.


"Kita di rumah sakit?" tanyanya dengan tangan yang sudah melepas ikatan. Matanya mengerjap saat mendapati seorang wanita duduk di sebelahnya dengan mata tertuju pada sebuah monitor. Sementara tangan masih saja memegang alat yang mengitari perut buncitnya.


Namun, tanpa diduga, perasaan kesal mendadak menguap. Mulutnya bungkam setelah melihat layar komputer itu. Anaknya ... Tidak! Yang benar adalah anak-anak. Ya ... janin dalam rahimnya sudah terlihat sempurna. Bergerak-gerak hingga ia juga merasakan di dalam perut. Kencang dan ngilu. Air mata Litania pun menetes tanpa bisa dicegah. Pria yang berdiri di sebelahnya juga tampak terkesima dengan keajaiban yang mereka lihat sekarang.


"Selamat, ya Pak, Buk. Anak kalian kembar. Laki-laki. Dan sehat," ujar Dokter Novita.


"T-tapi gimana mungkin? Bukannya waktu kami ke sini kantong embrionya cuma satu," tanya Litania yang masih tak percaya.


Dokter Novita tersenyum manis. "Kasus seperti ini pernah beberapa kali saya jumpai. Waktu kalian periksa, salah satu kantong bersembunyi di belakang kantong lainnya. Itulah yang membuat alat USG hanya bisa menangkap satu kantong saja."


Litania manggut-manggut. Perasaannya jangan ditanya lagi. Dunia serasa ditumpahi bunga dan gula. Bahagia tak bisa dilisankan.


"Bang Chandra, anak kita kembar," ucapnya seraya menghapus air mata.


Chandra masih terdiam hingga Litania memegang tangannya. Mata mereka bersitatap sekejap sebelum akhirnya kembali menatap layar monitor itu.


"Iya, Litan. Anak kita kembar." Tersenyum hangat, pria disebelahnya bahkan menitikkan air mata. Ia peluk Litania dengan erat. "Terima kasih, Sayang. Kamu istri terhebat."


"Baskom," lirih Litania seraya melepaskan pelukan.


"Baskom?" ulang Chandra dengan wajah bingung. Namun, tidak Litania, wajahnya memerah.


"Baskom." Litania menutup mulutnya.

__ADS_1


Beruntung salah satu perawat paham dan langsung menyerahkan baskom yang memang tersedia di sana. Tanpa menunggu lama, semua isi dalam perut Litania keluar berbarengan dengan air mata bahagianya.


__ADS_2