
"Lah Mas Vero ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Anya. Ia yang sudah rapi dengan pakaian putih abu-abu dikagetkan dengan kedatangan Vero, pria itu datang membawa sekotak kue.
Namun, bukannya menjawab Vero malah berdengkus lantas menyerahkan kantong bawaan ke tangan Anya, Anya mau tak mau menyambutnya.
"Apaan sih, Mas? Kasar banget," sungut gadis itu lalu melihat isinya. "Ini apaan?" lanjutnya lagi.
"Jangan sok-sokan gak tau. Aku tau kamu minta bikinin kue sama mama. Nah itu kuenya," balas Vero. Ketidaksenangan tercetak nyata di wajah.
"Idih Mas Vero gitu amat. Cuma nganterin kue aja mukanya di bikin ancur. Gak lucu ih, Mas. Entar gak dapat jodoh baru nyahok," celetuknya tanpa dosa. Ia lantas menyibak sedikit kotak yang di bawah Vero. "Keknya enak."
Menelan ludah, Anya kembali berkata, "Tante Reka emang the best." Jari jempol Anya terarah ke Vero. "Dia bener-bener master chef. Kapan-kapan aku mau belajar ah," lanjutnya lantas tersenyum, deretan giginya yang rapi dan bersih terlihat jelas.
"Udah, deh. Jangan nyengir kayak gitu, bikin kesel tau nggak," dengkus Vero lagi.
"Ya elah Mas, pagi-pagi udah ngedumel aja. Gak ikhlas ya?" tanya Anya, matanya menyipit sinis.
"Ya iyalah, karena ini kue aku harus muter arah."
"Segitunya ih Mas Vero. Sama aku ini perhitungan banget," balas Anya lagi. Vero yang kesal tapi galaknya galakan dia.
"Aku ini adik kamu loh," lanjut gadis itu lagi.
"Adik dari mana, sih." Vero makin naik spaning.
"Lah, ibu kita kan sodara. Sodara sesama perempuan," lanjutnya seraya nyengir dan tentu saja refleks Vero menggetok keningnya dengan empat buku jari. Ia gemas.
Anya benar-benar gak berubah. Dari dulu selalu rese dan seenaknya sendiri. Vero bermonolog, kesal.
"Sakit tau ih Mas," sungut Anya, mulutnya monyong-monyong sambil mengusap kening yang panas.
"Makanya jangan asal." Vero bersedekap. Wajah Anya yang masam kecut seperti itu menghiburnya. Ia sudah sering bersikap jahil, hanya saja gadis itu lagi dan lagi tetap saja bermanja-manja. Seperti nggak ada kapok-kapoknya.
"Aku gak asal tau. Tante Reka sendiri sering bilang kalau aku ini anak yang manis. Dia sering banget bilang mau jadiin aku anaknya." Anya menjeda kata, ia menatap kesal Vero yang seolah meremehkan. "Mas Vero gak percaya ya sama aku?"
"Gak, lagian males banget punya adek kek kamu. Udahlah males, manja, oon pula. Aku heran kenapa bisa Tante Litan ngelahirin generasi kek kamu ini. Kamu beda banget dari Dafan Dafin. Aku curiga kamu ini produk gagal."
"Mas Vero!" sentak Anya.
"Kenapa?" balas Vero tak kalah galak
Nyali Anya menguap. "Mas Vero kalo ngomong suka bener," lanjutnya pelan. Sangat pelan. Malu mengakui kalau memang berbeda dari kedua abangnya.
Vero tergelak nyaring. "Kamu ini bener-bener, jagonya cuma di kandang."
"Mas Vero ngomong apaan, sih?"
Meremas jari tangan yang kaku, Anya tertunduk. Ia malu karena tidak bisa menyanggah. Vero seperti keluarga. Lelaki itu tahu seluk-beluknya. Jadi percuma berdebat karena pasti akan di sanggah.
"Lah iya, di Jakarta sana aku denger kalo kamu itu sering banget bikin masalah. Bikin Tante Litan bolak-balik ngurusin masalah kamu. Tapi sekarang, aku denger kamu gak pernah bikin masalah." Alis Vero naik sebelah. "Kenapa? Takut di hukum? Kamu udah punya pawangnya?"
Mendengar itu Anya tak bisa lagi menunduk. Ia menatap nyalang Vero. "Mas Vero kata aku buaya?"
"Iya, buaya labil." Vero lagi-lagi terkekeh. "Tapi bagus juga sih kamu terdampar di sini. Kepribadian kamu lumayan ada perubahan. Aku yakin kamu gak bisa macem-macem karena memang gak bisa bergantung sama mereka lagi. Aku heran, kenapa gak dari dulu Tante Litan kek begini."
Anya bungkam, dalam hati membenarkan. Di Jakarta tak segan membuat masalah karena ada nama orang tua di belakangnya. Sedangkan di sini, harus benar-benar menjaga sikap jika tak ingin berakhir menjadi rakyat jelata. Tak dipungkiri yang membuatnya berani kurang ajar adalah uang. Uang membuat segala urusan jadi mudah, tapi sekarang, ia kesulitan karena tidak punya uang. Dunia berputar sebagaimana mestinya, ia merasa benar-benar berada di bawah.
Anya mendesah, lantas menggesekkan kaki ke lantai hingga bunyian berisik pun terdengar. "Please ya, Mas. Tolong jangan bandingin aku sama Bang Dafan dan Dafin. Mereka jelas beda. Mereka spesial."
"Terus apa bedanya sama kamu?" tanya Vero menyelidik. Gadis di depannya terdengar putus asa.
"Entahlah, aku pernah mikir, apa jangan-jangan aku anak pungut?"
Lagi-lagi suara ringisan Anya terdengar. Gadis itu mengusap kening yang baru saja menjadi sasaran empuk empat buku jari Vero. Ia menatap nyalang tapi sedetik kemudian menundukkan pandangan.
"Jangan ngadi-ngadi. Aku sendiri saksi idup kalo kamu anak mereka. Aku liat waktu ibumu masuk rumah sakit." Jeda sejenak. Vero membenarkan pakaiannya. "Jadi jelas kamu itu anak kandung mereka," tambahnya lagi.
Anya mengangkat kepala. "Lalu kenapa aku gak sepintar Bang Dafan?"
"Lah, itu nasib kamu. Gen pintar dari ayah kamu di borong habis sama Dafan. Salahin dia."
"Ih, Mas Vero kejem banget. Bukannya nenangin malah bikin aku kena mental. Jahat banget, Sumpah. Aku yakin itu yang bikin Mas Vero gak punya pacar. Lagian mana ada yang mau deket sama Mas kalo bibirnya pedes ke cabe rawit."
"Anya!''
"Apa?" balas Anya tak kalah galak.
Vero yang malas berdebat menghela napas kesal. Ia lirik jam yang ada di pergelangan. "Ya udah deh. Aku pergi. Males ngadepin kamu. Yang ada urusan gak kelar-kelar."
"Loh, kok aku yang disalahin?" Anya tak terima. Mulutnya kembali bersungut ria.
"Udah, jangan bahas lagi. Oiya, entar jangan lupa kasih tau mama kalau kue pesenan kamu itu udah selamat sampai tujuan tanpa kehilangan rasa," lanjut Vero lagi dengan nada datar pastinya.
Anya tertegun. Kekesalannya menghilang dalam sekali kedipan mata. Ia memindai penampilan Vero, pria tinggi dengan poni menyamping itu terlihat tampan meski wajahnya tidak ramah sama sekali. Mendadak Anya memikirkan sesuatu, kalimat aji mumpung menggerayangi benaknya. Bagiamana tidak, hari ini Livia tidak ada jadwal mengajar. Jadi ia harus menggunakan ojek online untuk ke sekolah. Kebetulan yang hakiki kan? Mayan buat irit ongkos.
Anya lagi-lagi nyengir. Vero yang masa bodoh mulai memutar tumit. Namun, baru juga beberapa langkah tangannya di cekal Anya dari belakang. Dengan malas ia pun membalik diri dan menatap nyalang Anya. Anak itu benar-benar menguji imannya sebagai manusia.
"Ada apa lagi, Nya?" ujarnya sedikit geram terlebih lagi saat mendapati ekspresi Anya yang menyebalkan.
"Kuenya udah aku taruh di sana," ujar Anya, jari telunjuknya terarah ke meja ruang tamu.
"Lah terus?" Vero menarik turunkan sebelah alis.
"Aku nebeng ya, Mas. Mas Vero 'kan bawa mobil."
"Gak!" tolak Vero. Ia lepas cekalan tangan Anya. "Kenapa juga nganterin kamu? Kek gak punya kesibukan aja. Kamu lupa, aku ini Direktur Kinara group. Seorang pengusaha gak punya banyak waktu buat hal remeh kek begitu," terang Vero lagi. Penuh penegasan dalam kalimat terakhir.
"Ya elah, Mas Vero pelit amat, sih," sungut Anya, sedetik kemudian tersenyum licik. Ia pun bergegas masuk ke dalam mobil Vero dan tanpa malu langsung memasang sabuk pengaman.
Membuka kaca mobil, Anya lalu melambai pada Vero yang mematung di teras rumah. "Ayo Mas! Cepetan. Pengusaha itu enggak boleh telat, loh."
Vero berdengkus, ia usap wajah kasar dengan sebelah tangan. "Emang dasar anak curut. Tukang paksa. Awas aja kalo nanti banyak maunya," gerutunya dalam langkah.
Mobil pun melaju. Vero menyetir dengan kecepatan rata-rata. Ia membelah jalanan yang lumayan padat.
Melirik sekilas, Vero mulai kepo apa yang dilihat Anya sampai-sampai tersenyum sendirian seperti itu.
"Kamu lagi liatin apaan?" tanya Vero akhirnya.
Anya cuma menggerakkan ekor matanya, lalu kembali fokus menatap layar HP.
__ADS_1
"Nya, kalo di tanya itu jawab dong. Atau mau aku turunin di sini?"
"Ya jangan dong." Memasang wajah masam, Anya langsung memperlihatkan layar ponsel. "Puas!" sambungnya kesal.
Vero tersenyum, Anya benar-benar seperti remaja kebanyakan—doyan belanja.
"Jangan terlalu banyak belanja, Nya. Kalo gak kepake jangan di beli. Mubazir nanti."
"Pasti aku pake."
Vero melirik. Mendadak ia ingin jail. "Emangnya kamu punya duit?" tanyanya dengan nada meremehkan.
Nyes! Anya langsung menjatuhkan ponsel. Ia baru ingat kalau masalah utama di hidupnya adalah duit. Namun, senyum penuh percaya diri terbit seketika saat teringat iming-iming sang bunda.
"Punya dong, Mas. Bunda mau kasih aku vocer belanja sepuasnya kalau aku lulus remidi matematika hari ini." Balasan Anya membuat Vero menaik turunkan alis.
"Oh ya? Emang kamu yakin lulus?"
"Mas Vero!" sentak Anya lagi, tapi respon Vero hanyalah gelak tawa hingga suara dering telepon menyadarkan.
"Ya, kenapa, Na," jawab Vero setelah panggilan terhubung ke earpod yang ada di telinga.
Hening, Vero mendengar dengan seksama ucapan sang sekretaris yang ada di seberang telepon lalu mengusap wajah yang mendadak terlihat gusar. Anya jadi penasaran, siapa yang menelpon dan apa yang mereka bicarakan sampai-sampai Vero berubah seperti itu?
"Baiklah, kamu tahan dia. Saya akan segera ke sana," balas Vero penuh keyakinan.
Mobil pun menepi. Anya yang masih belum paham hanya terbengong. "Kenapa berhenti, Mas. Sekolah aku masih jauh," ucapnya keheranan.
"Nya, kamu turun di sini, ya. Aku ada urusan," jawab Vero. Tak ada lagi senyuman ataupun wajah mengejek di sana. Yang ada adalah keseriusan.
Namun, bukan Anya jika tidak berulah. Ia memelas. "Bentar lagi sampe loh. Masa iya aku diturunin di sini?" rengeknya.
"Tapi aku punya urusan, Nya."
"Ya udah deh kalo gitu." Telapak tangan kanan Anya terbuka. Vero yang tak paham hanya bengong dengan tatapan bingung.
"Kamu mau ngapain? Salim?" tanya Vero lalu menjabat tangan Anya dan menyentuhkan punggung tangan ke kening gadis itu. Namun bukan itu yang Anya mau.
Vero yang tak paham dengan ekspresi masam serta mulut bersungut Anya pun bertanya lagi, "Kenapa lagi sih, Nya?"
"Aku itu mau minta ongkos, Mas." jelas Anya tanpa malu.
Vero berdengkus, ia akhirnya paham kalau benar-benar dimodusin oleh Anya. Terpaksa ia buka dompet dan mengeluarkan selembar uang berwarna merah. Namun, Anya yang matanya sudah terlanjur hijau menyambar dompet itu lalu mengambil tiga lembar uang seratus ribu.
"Makasih ya Mas," ujarnya lalu tersenyum besar. Tanpa menunggu jawaban ia membuka sabuk pengaman dan bergegas keluar mobil.
Vero yang baru saja sadar kalau dikadalin lekas-lekas keluar dari mobil lalu menghampiri Anya. Ia ambil dua lembar uang dari tangan gadis itu.
"Loh, Mas. Kok diambil lagi?"
"Tiga ratus ribu kebanyakan untuk ongkos ojek," kesal Vero.
"Lah iya, Mas. Ongkosnya nggak segede itu. Yang gede malunya, masa iya aku diturunin tengah jalan?"
Vero berdecak, lalu menjitak kepala Anya. "Ngeles aja bisanya. Kamu kira aku bisa dikadalin? Nggak mudah Anya Danurdara Senja," ucap Vero geram lalu pergi tanpa menoleh lagi.
Sementara Anya, terdiam. Pupus sudah harapannya untuk berfoya-foya dengan uang itu. Sekarang hanya tertinggal selembar ditangan. Ia pun tak henti bersungut sebelum akhirnya sebuah bunyian dari belakang mengagetkan.
"Nya, kenapa berdiri di sini?" tanya Dery setelah membuka kaca helm. Anya hanya tersenyum canggung. "Terus, yang tadi itu siapa?" tanya Dery lagi yang dalam diam membuntuti mereka.
"Dia Mas Vero, Pak. Anaknya teman ayah. Tadinya mau nebeng minta anterin ke sekolah, tapi dia ada urusan mendadak. Jadi ... ya gitu, aku diturunin di sini," balas Anya, seketika wajahnya merah. Ia menggoyang-goyangkan kaki bak orang yang lagi kebelet pipis. Dery yang kasihan hanya bisa mengernyitkan dahi.
"Ya sudah kalau gitu, naik. Kasihan kamu. Kita sama-sama aja ke sekolahnya," tawar diri. Ia tak tega melihat Anya yang seperti menahan kemih. Padahal bukan itu yang Anya rasa.
Bak mendapat sekarung uang, mata Anya langsung berbinar. Tanpa mendengar tawaran yang ke dua ia langsung melompat dan duduk di belakang Dery.
Sumpah, bahagianya benar-benar tiada tara. Dibonceng sang idola ke sekolah seperti mendapat hidayah besar. Anya tersenyum sepanjang perjalanan.
Dery yang dapat melihat ekspresi wajahnya dari spion hanya bisa mengernyitkan dahi. Baru kali ini menemukan manusia yang kebelet pipis tapi senyumnya nggak habis-habis.
Tibalah di lingkungan sekolah. Semua mata tertuju pada Anya dan Dery. Bagaimana tidak, bertahun-tahun Dery mengajar di sana baru Anya yang dibonceng. Semua mata siswi menatap Anya dengan sinis, tapi Anya yang sudah kadung bahagia mengabaikan tatapan itu. Senyum masih terlihat lebar.
"Makasih ya, Pak. Makasih banyak atas tumpangannya. Kalau nggak sama Bapak mungkin saya telat masuk kelas," ujar gadis itu.
Dery membuka helm, jaket lalu turun dari motor. "Nggak masalah. Oh iya, kamu sudah siap remidi hari ini?"
"Sudah dong," balas Anya percaya diri.
Tersenyum, Dery usap poni Anya.
Please dong Pak. Jangan bikin aku gede rasa, batin Anya saat melihat dan mendapatkan perlakuan manis itu.
"Semoga beruntung, dan buktiin sama saya kalau cara saya ngajarin kamu itu udah bener." Lantas pergi meninggalkan Anya yang mematung. Gadis itu terbengong. Entah mendapat mimpi apa ia semalam bisa dibelai oleh Dery. Walaupun hari ini kepalanya mendapat tiga kali jitakan tak menyurutkan kebahagiaan. Sentuhan terakhir dari Dery mengalihkan dunianya.
Serasa ditumpahi berbagai macam bunga, Fia tersenyum dengan hidung kembang kempis hingga suara seruan dari belakang mengagetkan. Tampak tiga gadis sekelas dengannya datang dengan wajah tak menyenangkan untuk dilihat.
Memutar matanya malas, Anya pun bersedekap. "Mau ngapain Geng meong itu ke sini?" sungutnya pelan. Ia balas tatapan mereka yang seperti siap bertarung. Anya yang mempunyai prinsip, tidak gentar sama sekali dengan yang namanya di bully.
"Heh, Nya. Gimana ceritanya kamu bisa dibonceng Pak Dery?" tanya Mila—gadis berambut sebahu, berbadan pendek dengan lemak di sekitar pinggang. Nada suaranya sangat sumbang di telinga Anya.
"Ngapain cerita, kami cuma boncengan bukan lagi mendongeng," balas Anya santai.
Si Mila mulai tersulut emosi, tapi Chika—gadis ber-bando pink dengan rambut sedikit ikal, mencegah. Ia tahan dada Mila lalu tersenyum sinis ke arah Anya.
"Berani kamu ama kita-kita?" Chika terkekeh sinis, lalu mendorong bahu Anya dengan sadis. "Di sekolah ini, anak pindahan terbego dilarang belagu, tau gak?" lanjutnya.
Anya yang sempat terhuyung membalas tatapan menghunjam Chika. Giginya bahkan bergemeletuk dengan tangan yang sudah terkepal. Dihina seperti itu membuat darahnya berdesir seketika.
"Kenapa? Mau ngelawan? Ayo sini. Kita buktiin. Aku mau liat, apa bokap kamu yang pengusaha bisa ngelawan bokap aku aku yang jaksa?" ujar Chika, terdengar belagu.
Anya tak gentar dengan apa pun. Baginya ayahnya adalah orang paling jujur. Jadi tidak mungkin takut yang namanya jaksa atau pengacara. Namun ....
Inget, jangan bikin masalah. Cari masalah itu sama artinya potong uang saku.
Seketika kemarahan Anya menguap. Ancaman apa pun tidak akan mempan kecuali potong uang jajan. Langsung kena mental.
Anya memutuskan menyerah dan tidak mencari masalah. Ia melemaskan tangan lalu memaksa untuk tersenyum. Namun, tiga gadis bertampang belagu di depannya terus saja maju hingga Anya terpaksa memundurkan langkah. Bukan terintimidasi, hanya saja ia tak ingin mendapat masalah lagi. Ujian tinggal menghitung minggu.
"Kenapa? Takut?" tanya Chika. Ia yang sudah condong ke arah Anya menarik sebelah bibirnya, lantas hendak mencekal lengan Anya. Beruntung Anya sigap menghindar dan dengan spontan menyeru nama Dery.
__ADS_1
Ketiga gadis itu langsung berdiri dan melihat kebelakang. Sialnya tak mendapati siapa-siapa. Sementara Anya, sudah hilang dari pandangan mereka.
"Dasar bengek. Awas aja dia," geram Chika.
***
Mata pelajaran pertama, mata pelajaran kedua dan selanjutnya berlalu dengan semestinya. Sekarang waktunya Anya melakukan remidial di saat semua siswa sudah pulang. Risiko mengulang sendirian ya gitu, jadi harus mengikuti instruksi guru itu sendiri. Dery meminta remidial di saat pulang sekolah bukan tanpa sebab. Rasanya tidak adil saja mengorbankan jam pelajaran demi satu siswi yang mengulang.
Anya yang duduk sendiri di ruang seni meremas jemari tangan. Ia sudah siap dengan segala apa pun yang ada. Berpasrah, akan mengisi jawabannya semampu otak saja.
"Gimana Anya, sudah siap remidinya?" tanya Dery yang entah sejak kapan tiba, ia berjalan dengan beberapa lembar kertas di tangan.
"Sudah, Pak. Saya yakin bisa tuntas kali ini," jawab Anya mantap sambil tersenyum lebar. Iming-iming voucher belanja dari Litania menjadi pendorong.
"Baiklah, kerjakan dua puluh soal. Saya kasih waktu kamu satu jam dari sekarang," balas Dery seraya meletakkan lembar soal beserta kertas coretan di depan Anya.
Menit demi menit berlalu hingga selesailah waktu untuk Anya mengisi soal. Senyumnya terkembang lebar, dengan langkah mantap ia datangi Dery yang duduk di meja depan.
Menyambut lembar jawaban, Deri menarik kedua belah bibirnya sedikit. "Wah, wajah kamu kelihatan bahagia. Kamu yakin dengan jawaban ini? Kamu yakin isinya bener?" tanyanya. Menggertak.
Alih-alih takut, Anya justru tersenyum jemawa. Sorot matanya menyiratkan keyakinan. Ia mengangguk dan mengiyakan pertanyaan itu.
Dery manggut-manggut, matanya fokus ke kertas sedangkan tangan kanan menyentuh dagu yang ditumbuhi sedikit bulu halus. Ia melihat dan memeriksa jawaban Anya dengan seksama. Sedetik kemudian. tersenyum sedikit. Ia perhatikan wajah cemas Anya.
"Gimana, Pak? Apa saya tuntas?" tanya Anya dengan hati yang dag-dig-dug tak karuan. Voucher belanja sepuasnya dari sang bunda masih membayangi.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Anya masih menunggu, ia menelan ludah berkali-kali sembari menatap Dery serius. Ia masih saja menunggu jawaban hingga akhirnya Dery mengangguk dan tersenyum puas.
Tentu saja sebuah anggukan kepala pelan Dery membuat gadis itu bahagia. Bak memenangkan penghargaan internasioanl, ia melompat kegirangan. Padahal itu hanyalah remedial yang keempat.
"Bisa dikasih nilai sekarang gak Pak?" tanya Anya. Ia sudah siap dengan ponsel di tangan. Bukti, ya ... ia butuh bukti.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak." Anya tak berhenti tersenyum. Angka sembilan puluh menjadi titik fokusnya.
Sementara Dery hanya tersenyum saja. Sebagai guru ia merasa bahagia. Berharap gadis itu tidak remedial lagi. Ia berdiri lalu memegang pundak Anya. "Nggak perlu berterima kasih sama saya. Kamu berhasil karena usaha kamu sendiri. Tapi saya heran kenapa dengan soalan mudah kek begini kamu bisa remedial sampai empat kali?
"Bapak ih. Habis menjunjung tinggi masa saya dihempas ke bumi. Tega amat," sungut Anya. Namun, saat melihat angka 90 ia tersenyum lagi.
"Lah iya, temen kamu cuma sampe dua kali. Lah kamu?"
"Saya juga gak tau, Pak. Perasaan kemarin-kemarin susah. Nah sekarang kok bisa mudah ya?" tanya Anya balik. Dahinya mengernyit.
Entah sengaja atau tidak, kalimat pertanyaan itu membuat Dery tersenyum kecil lalu mengacak poninya. "Itu pada dasarnya kamu yang gak belajar. Udah sekarang pulang sana. Udah sore."
Lagi, Dery pergi setelah membuat Anya senam jantung. Sentuhan biasa yang baru saja ia berikan membuat gadis yang baru insyaf dan memantapkan hati untuk terus berada di jalan yang benar itu pun terbengong. Kedua belah bibir tertarik. Hidungnya tampak kembang kempis menahan diri agar tak berteriak. Sumpah. Ia mendapat hidayah hari ini—tambahan uang jajan dari Vero, diperhatikan Dery, lulus remedial dan ATM yang beku sudah cair.
Nikmat dunia mana lagi yang kau dustakan?
***
Senja telah datang, Anya yang baru saja pulang dari berbelanja ria tengah tersenyum gembira, ia bersenandung merdu di dalam taksi.
Seraya melirik bag paper yang tersusun di kursi belakang, ia pun membatin, kalau gini, aku akan belajar terus. Biar dapat nilai bagus terus. Biar kartu debit yang ayah kasih bisa aku pake lagi. Ayo Anya, kamu bisa!
"Seneng banget keknya, Neng."
Si sopir yang sedari tadi melihat ekspresi Anya akhirnya bertanya juga. Ia ikut tersenyum melihat tingkah-laku Anya.
"Iya dong, Pak," balas Anya. "Aku itu seneng karena akhirnya dapat imbalan. Rasanya sangat manis setelah usaha. Rasanya gak akan sama saat aku mendapatkannya dengan mudah."
"Itu bagus, Neng. Neng harus melewati susahnya sebuah proses baru bisa merasakan nikmatnya."
"Iya, Pak. Sekarang aku baru paham," balas Anya.
Akan tetapi, sebuah kendaraan yang terparkir di tepi jalan membuat senyumnya menguap dalam kedipan mata. Ia pinta sang sopir berhenti.
"Rumahnya di sini?" tanya sang sopir yang berperawakan sedikit gendut dengan kepala sulah di tengah.
"Bukan Pak. Rumahku ada di ujung komplek ini." Anya langsung membuka sabuk pengaman. Ia tatap lagi sopir itu. "Bapak bisa antar barang-barang saya ke sana, 'kan?" lanjutnya.
"Bisa sih, Neng. Tapi Neng percaya gitu sama saya?" tanya sang sopir sedikit menggoda.
Anya mengangguk dan tersenyum. Ia tuliskan alamat rumah Lita dan memberikan ongkos taksi pada bapak itu dan tanpa ragu mendekati beberapa motor yang terparkir tak beraturan di tepi jalan. Salah satunya adalah motor Dery.
Firasatnya mengatakan ada yang tak beres. Ia sering melewati jalan ini ketika pulang dan pergi ke sekolah. Jalanan ini memang sepi. Banyak rumah yang belum selesai di bangun dan ada juga yang terbengkalai.
Anya membenarkan ikat rambutnya. Matanya melihat sekeliling dan memang hanya beberapa orang saja yang melewati jalan itu. Dengan hati-hati ia dorong pagar rumah. Berjalan cepat dengan mata tetap memindai sekitar. Alangkah kagetnya ia saat mendengar suara pukulan dan ringisan dari belakang rumah. Lekas-lekas ia hampiri dan mendapati Dery tengah meringkuk dan dua orang berpakaian hitam mengelilingi.
"Pak Dery!" serunya. Matanya membesar. Ia shock.
Semua orang menoleh, tak terkecuali Dery yang sudah babak belur. Dengan tenaga yang hampir habis itu ia memperingatkan Anya. Tangannya melibas dengan gelengan kepala mengikuti. Ia ingin Anya pergi.
Namun, bukan Anya namanya jika pergi. Ia tahu kode itu tapi tetap nekat menghampiri. Ia dekati Dery lalu menerobos pria-pria besar itu.
"Kalian apakan Pak Dery?" tanyanya dengan suara lantang, matanya nyalang, tangan bahkan terbentang.
Bukannya menjawab, salah satu pria di sana menarik tas yang ada di punggung Anya hingga Anya ikutan tertarik. Dan tanpa aba-aba mendorong gadis itu hingga terjungkal.
"Pergilah bocah. Jangan ganggu," ucap pria besar berambut klimis.
Anya berdengkus. "Aku bukan bocah! Aku Anya. Aku udah kelas tiga SMA!" teriaknya tak terima.
"Lalu?" Seorang pria besar yang memegang patahan kursi mendekat. Ia dorong lagi Anya hingga gadis itu terduduk. "Pergilah. Jangan ikut campur."
Terdengar mengancam, tapi Anya urung pergi. Ia lihat Dery, sang idola juga seakan menyuruhnya pergi. Namun Anya tak berharap demikian. Matanya awas melihat dua pria berbadan besar yang mengelilingi Dery, ia pindai secara bergantian.
"Lepasin Pak Dery dulu, baru aku pergi," ujar Anya, mantap. Tangannya sudah terkepal.
"Kalo kami gak mau?" balas pria lain berambut gondrong. Ia terkekeh meremehkan.
Alih-alih menjawab, Anya justru melihat sekeliling dan mendapati cutter berkarat di tanah.
"Mau ngapain kamu dengan pisau itu?" tanya si gondrong lagi.
__ADS_1
Anya tak menjawab. Ia hanya merobek kedua belah sisi rok abu-abu yang melekat di pinggang hingga hot pant terlihat. Mata Dery membelalak, tapi dua preman di sana malah terbahak.
"Kamu ngajakin main. Ayo. Om bakalan bikin kamu kelojotan."