
Dua bulan sudah Sisi melepaskan Dafin, dan dalam waktu itu pula begitu banyak yang dilalui gadis itu. Efek samping dari konferensi pers yang ia lakukan bersama Dafin membuat hidupnya makin terlihat mengenaskan. Keduanya memang mengatakan kalau perpisahan mereka dikarenakan ketidakcocokan dan memilih berpisah.
Namun, netizen begitu pintar mencari celah dan selalu dapat menyudutkan dirinya. Pertunangan yang putus di tengah jalan seolah menjadi aib yang begitu menjijikkan untuk pihak perempuan. Menerima tatapan sinis serta gunjingan orang-orang pun seakan menjadi sarapan pagi yang wajib ada dalam hidup Sisi selama dua bulan belakangan. Sayangnya begitulah hidup, tetap berjalan terus meski kadang kala ia sangat ingin putaran itu berhenti.
Lelah? Pasti, tapi ia telah berjanji pada diri sendiri untuk terus maju dan menggapai cita-cita. Sebatang kara bukan berarti harus murka dengan dunia, bukan?
Seperti biasa setiap pagi Sisi akan melakukan lari pagi. Rutinitas harian yang ia terapkan untuk menjaga kebugaran tubuh. Aktivitas yang membuatnya lumayan tenang setelah keputusannya melepaskan Dafin.
Sembari mengatur napas yang ngos-ngosan, ia pun kembali mengelap keringat yang bercucuran. Rambut yang terkucir ke belakang mempermudah untuknya melakukan itu. Ia telah merasa bugar tapi ada sesuatu yang membuatnya tak bisa berpura-pura baik-baik saja maupun menerima itu lebih lama lagi. Ia tidak bisa mentoleransi lebih banyak.
Meminum air putih yang dibawa, Sisi lantas memutar kepala setelahnya. Ia melihat sekitar. Sepi, komplek tempatnya tinggal memang begitu karena memang waktu masih menunjukkan pukul lima pagi.
"Keluarlah! Gak pegel apa ngikutin dari tadi?" ujarnya sedikit lantang.
Namun nihil, tak ada yang menyahut apalagi menampakkan diri. Sisi makin kesal.
"Ayo, cepat keluar! Gak capek apa harus bangun pagi-pagi demi ngikutin aku?"
Masih tidak ada yang menjawab. Sepasang pasutri yang kebetulan lewat untuk berlari pagi hanya terbengong melihatnya berteriak begitu. Namun Sisi tak peduli, ia sudah emosi.
"Hei! Keluarlah, jangan sembunyi, jangan pengecut," lanjut Sisi lagi, makin emosi.
Masih tak ada yang menyahut, tak ada juga yang keluar. Sisi makin geram.
"Sialan, orang ini kekeh banget. Gak sadar apa kalo aku udah tau? Bikin susah aja," gumamnya sambil mengedarkan mata. Botol yang ada di tangan bahkan sudah berbunyi karena genggamannya yang kuat.
"Hei, cepat keluar! Aku udah tau kalau kamu selama ini ngintilin aku. Ayo, keluar gak? Atau aku bakalan teriak biar kamu digebukin tetangga?" ancamnya tak tanggung-tanggung.
Sukses, sepasang kaki keluar dari balik pohon. Seorang pria bersetelan rapi dengan kacamata hitam datang mendekat, ia berdiri tegak di depan Sisi.
"Jadi kamu makhluk yang buntutin aku selama ini?" tanya Sisi. Terdengar sarkastis. Belum lagi bibirnya yang tipis berwarna merah turut menyeringai. Tampak meremehkan. Namun, si pria tak gentar. Ia tetap berdiri tegak.
Merasa tak mendapat jawaban, Sisi jadi kesal juga. Matanya pun menyelidik, menatap lekat dari bawah hingga atas. Tampan dan rapi itulah kesan pertamanya, tapi sayang, tu orang terlihat terlalu kaku.
Kini mata Sisi tertuju pada tanda pengenal yang terkalung di leher pria itu. "Jadi nama kamu Miko?" tanya Sisi lagi.
Si pria tak menjawab dan memilih diam. Sudah tertera jelas di id card yang terkalung di leher. Apa harus diperjelas lagi?
"Kamu orang suruhan Dafin, 'kan?" Sisi masih bertanya meski sudah yakin. Sebab tidak ada pria yang begitu perhatian terhadapnya selain Dafin. Terlebih lagi ada nama perusahaan Dafin di tanda pengenal itu.
Namun, si pria yang bernama Miko tetap memasang wajah tegang. Ia tetap berdiri tegak dengan kacamata hitam bertengger menutupi mata.
"Kenapa gak jawab?" sentak Sisi.
Anehnya, Miko tetap diam.
Tanpa sadar Sisi menikmati tubuh Miko yang bisa dikatakan proporsional. Dada bidang dan bahu tegap. Belum lagi rahang tegas dengan warna kulit sedikit eksotis. Sementara rambutnya bergaya under cut. Cukup keren apalagi dengan setelan jas menutup tubuh.
__ADS_1
Gila, keren juga dia ternyata, batin Sisi. Ia menelan ludah tapi berdeham setelahnya. Mengutuk diri dalam diam, ya ... ia melakukan itu. Bisa-bisanya terpesona pada orang asing?
Memajukan langkah, Sisi kelilingi tubuh Miko. Niat hati ingin mengintimidasi tapi sayangnya yang punya tubuh tetap mematung bak tugu Monas. Merinding Sisi jadinya.
Berdeham sekali, Sisi kembali menghadap Miko. Tangannya bersedekap. "Apa kamu senang, kamu senang ngikutin aku? Apa kamu puas ngintilin perempuan?" cecar Sisi.
Menyeringai. Sisi terlihat sinis. Bukan sinis yang sebenarnya, hanya saja ingin sekali mengerjai pria kaku yang berdiri tegak seperti dinding itu. Teganya mengabaikan padahal ia sudah berusaha bersikap baik.
"Apa kamu mau ngeliat yang lebih seksi lagi?" goda Sisi, ia bahkan sengaja menurunkan ritsleting sweater olahraga yang membalut tubuh. Namun, baru juga bergerak sedikit Miko memberi respon. Pria kaku itu memalingkan wajah lalu berdeham.
"Maaf Nona, bukan maksud saya untuk melecehkan Nona. Tapi saya hanya melakukan perintah atasan saja."
Akhirnya ucapan Miko terdengar juga. Sisi tersenyum miring lalu berdecak sebal. "Apa kamu nggak bosen ngintilin aku setiap saat? Sudah hampir 3 bulan. Ya, bener ... seingatku memang 2 bulan," paparnya setelah mengingat.
"Maaf Nona, sekali lagi ini adalah tentang tanggung jawab pekerjaan," jawab Miko lagi dengan nada datar dan kepala tetap terarah ke sebelah kanan. "Saya hanya mengikuti perintah. Tolong maafkan kelancangan saya."
Sisi mendesah. Ia tahu mantan kekasihnya akan seperti itu—tetep perhatian meski tidak lagi mempunyai hubungan. Bahkan sejak awal ia sudah menyadari keanehan—Miko selalu ada di sekitarnya setelah diputuskan oleh Dafin.
Ekspresi Sisi tak lagi sama. Wajahnya tampak sedih dengan helaan napas terdengar jelas. Ia tatap lagi Miko. "Benarkan kepala kamu."
"Maaf, Nona. Tidak bisa," jawab Miko yang tetap bernada datar.
Sisi berdecak sebal. Ia tangkup paksa wajah Miko. "Lihat, aku gak telanjang. Lagian dalam sweater ini aku masih pake baju," jelas Sisi kesal.
Miko lagi-lagi hanya berdeham. Ia betulkan kacamata hitam dan kembali berdiri tegak.
Akan tetapi, Miko tak mau ambil peduli. Masih dengan gaya kaku, ia pun berkata, "Maaf, Nona. Ini perintah. Saya tidak bisa memutuskan kecuali atasan yang bilang."
Sisi makin kesal. Miko ternyata bebal.
"Coba kamu jadi saya, apa kamu akan senang jika diikutin hampir 24 jam?"
Miko berdeham lagi. Ia tampak berpikir sebentar lalu kembali berucap, "Maaf, saya hanya melakukan perintah. Maaf kalau Nona merasa tidak nyaman. Saya akan mulai hati-hati dari sekarang."
"Kamu ini gimana, sih. Bukan itu intinya," kesal Sisi. Ia makin merungut. Sementara Miko hanya terdiam. Masih menelaah ekspresi wajah Sisi.
Sebenarnya ia paham apa yang dirasakan Sisi. Tidak akan enak jika dibuntuti terus apa pun alasannya. Hanya saja ia tidak bisa menolak. Perintah tetap harus dilaksanakan.
"Maafkan saya, Nona. Saya hanya pekerja. Saya harus memenuhi tanggung jawab. Dan keselamatan Nona adalah prioritas utama saya. Maaf jika Anda tidak nyaman. Tapi apa bisa Nona mengabaikan kehadiran saya?"
"Mana bisa," tegas Sisi, "lagian masalahnya bukan tentang nyaman atau tidak nyaman. Aku ngerasa ini hanya sia-sia Miko. Aku yakin kehadiran kamu di kantor lebih diperlukan dan lebih bermanfaat ketimbang cuma ngintilin aku olahraga, pergi ke kampus dan yang lainnya. Apa kamu nggak bosen hari-hari begitu?"
"Tidak, saya tidak bosan. Bagaimana bisa saya bosan dengan pekerjaan saya?" Kini Miko bertanya balik. Sisi makin dongkol dan menyipitkan mata. Melihat Miko yang tenang dan bebal seperti itu ingin sekali memukulinya hingga mengerti. Namun ....
"Maaf, Nona, sekali lagi saya tegaskan, ini adalah perintah. Saya nggak berhak mengemukakan pendapat apalagi sanggahan. Saya bertugas menjaga keselamatan Anda."
"Tapi sampai kapan?" tanya Sisi, setengah frustrasi.
__ADS_1
"Sampai turun perintah agar saya berhenti," balas Miko tak peduli.
Sisi makin menggeram, Miko ternyata sangat keras kepala.
"Sudah aku katakan. Aku baik-baik saja. Jadi tolong berhentilah. Dengan kamu berada di sekitar aku, aku jadi terbebani. Aku jadi teringat Dafin lagi. Kamu paham."
Miko bergeming. Mata yang tertutup kacamata hitam bergerak liar. Ia mengerti keresahan Sisi. Hanya saja tak bisa apa-apa selain mengikuti perintah. Dengan menebalkan rasa malu, ia pun kembali menjawab, "Maaf Nona Sisi. Ini pekerjaan dan tugas saya."
Sisi mendesis kesal. Percuma rasanya berbicara dengan Miko. Pria itu benar-benar seperti dinding, bukan dinding triplek atau semen, tapi sudah seperti dinding yang terbuat dari beton, kokoh tapi sialnya bernapas.
"Ya sudahlah. Percuma ngomong sama kamu."
Miko tak merespon. Ia tetap berdiri tegak. Alis naik sebelah saat melihat Sisi merogoh saku sweater dan mengeluarkan ponsel.
"Aku akan bicara langsung sama Dafin. Jadi kamu bersiaplah pergi dan jangan pernah balik lagi ataupun nunjukin wajah kamu di depanku. Ngerti!" ancam Sisi. Jati telunjuk bahkan sudah terarah ke kacamata Miko.
Namun raut wajah Miko tetap sama. "Baiklah, saya mengerti," jawabnya yang bikin Sisi makin kesal.
Bersungut dalam hati, ragu-ragu Sisi menekan satu persatu nomor Dafin. Walaupun nomor pria itu sudah dihapus dari memori telepon tapi sayangnya di ingatan masih melekat.
Sebenarnya ada rasa tak enak hati menyerang dada. Ia tak pernah menghubungi Dafin setelah mereka memutuskan berpisah. Sebatas berbasa-basi menanyakan kabar pun tidak. Walaupun rindu menggunung untuk Dafin, Sisi akan memendamnya sekuat tenaga. Menurutnya menghubungi mantan hanya akan membuat luka makin tambah dalam. Tentu saja pasti memperlambat kesembuhan yang sebenarnya bisa cepat.
Sisi menghirup napas panjang lalu mengeluarkan dengan perlahan. Hari ini ia menyerah dan menelepon Dafin terlebih dahulu. Tak memerlukan lama, pria itu pun menjawab.
"Fin, kita harus ngomong," ujar Fia to the point tanpa mengucap salam. "Sekarang kamu sibuk gak? Aku ganggu nggak?"
Dafin yang berada di seberang telepon langsung menyanggah. "Nggak. Enggak kok. Kamu enggak ganggu. Kebetulan aku baru habis mandi. Kenapa Si? Apa ada yang bisa aku bantu?''
Mendesah panjang, Sisi lirik Miko yang masih saja berdiri tegak di depannya. "Bisa nggak kamu berhenti nyuruh orang buat ikutin aku?"
Hening. Dafin tak menjawab. Sisi tahu, mantan kekasihnya itu pasti gugup karena kepergok melakukan pengintaian.
"Aku rasa cukup sampe di sini aja, Fin. Aku baik-baik aja. Aku sehat. Sampai sekarang aku bisa menjaga diri. Aku nggak bakalan ngelakuin hal yang nekat, jadi please ... please tolong jangan lakukan ini lagi. Kamu cuman buang-buang waktu Dafin ...." Mata Sisi melirik sinis ke Miko. "Dan kamu buang-buang tenaga orang lain," lanjutnya.
"Maaf kalau kamu keganggu. Tapi aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja," balas Dafin. Terdengar tulus.
"Aku tahu kamu nggak ada niatan jahat. Cuma tolong berhentilah, aku enggak apa-apa. Beneran, aku udah baik-baik aja," sahut Sisi. Terdengar memohon .
Dafin yang ada di seberang telepon pun menghela napas panjang. Ia akhirnya mengiyakan permintaan Sisi sebelum menutup telepon.
Kini tinggal Miko. Sisi kembali menghadap Miko. Pria tanpa ekspresi itu masih berdiri tegak tak tergoyahkan sebelum akhirnya suara dering telepon mengagetkan. Ia jawab telepon itu tanpa berkata banyak hal selain mengiyakan.
Miko kembali berdiri tegak. "Kalau begitu saya pamit Nona. Maaf jika selama ini Anda tidak nyaman."
Sisi tersenyum sedikit. "Terima kasih kembali. Karena selama ini kamu juga udah jagain aku. Tapi please ... kalau bisa kita jangan ketemu lagi."
"Baiklah. Jaga diri Nona." Miko sedikit membungkuk sebelum akhirnya berlalu.
__ADS_1
Sementara Sisi, ia tersenyum penuh ironi melihat punggung Miko yang makin lama makin tak terlihat. "Terima kasih banyak atas kebaikan kamu," lirihnya lalu kembali memutar tumit dan melanjutkan olahraga pagi yang sempat tertunda.