
Disepanjang perjalanan dari rumah sakit. Bibir Chandra tak henti menyunggingkan senyuman. Bayangan anak kembarnya terlintas terus di mata. Ia pegang perut Litania dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan masih setia memegang setir. Ia usap terus perut membuncit istrinya hingga yang punya perut mengernyit, heran.
"Gak capek tangannya ngedusel-dusel terus?" tanya Litania dengan alis terangkat sebelah.
Chandra terkekeh. "Ya enggak lah. Bikinnya aja aku kuat, apalagi cuma usap-usap begini."
"Ck! Lebhai banget, sih. Nyetir aja yang bener. Entar di rumah baru lanjutin."
"Beneran?" Senyum mesum Chandra langsung terukir. Matanya menyipit dengan ujung bibir tertarik. "Lebih dari usapan, boleh, 'kan?"
"Ye malah ngelunjak." Litania berdengkus lalu mencubit lengan suami genitnya itu. "Pikiran kok gak jauh dari itu, sih."
"Loh, tadi katanya boleh," balas Chandra seraya terkekeh.
"Pinter banget ngelesnya. Padahal tadi kan mintanya cuma elus-elus." Litania memutar bola matanya malas. "Dasar tukang modus," lanjutnya.
"Jadi ... mau ngelak?" Mata Chandra menyipit. Bibirnya berkedut menahan tawa.
"Iya deh iya. Tapi tangannya pinggiran dulu. Entar bisa celaka."
"Siap, Nyonya!" Chandra mengangguk dengan tangan sudah terangkat dan menyentuh pelipis. Siap sigap bak polisi sungguhan. Namun, sedetik kemudian senyumnya kembali terukir. Siulan bahkan terlantun merdu dari bibirnya.
Sementara Litania, wanita itu juga tak kalah senang. Ia usap terus perutnya seraya melihat vidio anak-anak mereka. Vidio yang di kasih oleh Dokter Novita saat si kembar begitu aktif bergerak di dalam perutnya.
"Aku gak nyangka bisa punya anak kembar. Padahal di keluarga kita 'kan gak punya genetik itu." Litania berucap dengan mata masih melihat vidio itu.
"Ya bagus, donk. Namanya hadiah dari Tuhan. Aku yakin pasti mama bakalan senang dengar berita ini."
__ADS_1
"Iya. Pasti. Mama pernah berharap anak yang aku kandung ini laki-laki. Nah sekarang malah dapetnya dua. Usaha satu bonus satu." Litania terkekeh. Pikirannya sudah menerawang ke beberapa taun yang akan datang. Terbayang di mata saat anak-anak mereka besar dan memperebutkan seorang wanita. Haish! korban Drakor!
Akan tetapi sebuah jalan yang mereka lalui membuyarkan hayalan absurd itu. Jalanan yang Litania hapal betul karena sering melewatinya selama tiga tahun belakangan. Jalanan menuju sekolahnya dulu.
Litania sentuh pergelangan tangan Chandra. Senyumnya terkembang sempurna. "Bisa pinggirin mobilnya bentar, gak? Aku mau beli cilok."
"Cilok? Mana?" Chandra hentikan mobil dan melihat di mana arah mata Litania tertuju. Benar adanya, tampak seorang Mamang Cilok tengah duduk di samping gerobaknya. "Cilok yang itu?" Jari telunjuk Chandra terarah ke lelaki yang ada di dekat pagar sekolah.
Litania mengangguk antusias. Wanita itu bahkan telah menelan saliva berkali-kali. Sudah lama ia tak ke sana. Terakhir saat bersama Kinar dulu. Kini rasa rindunya akan cilok spesial itu kembali datang.
"Itu tukang cilok yang kamu maksud dulu?" tanya Chandra lagi.
"Iya. Namanya Mang Urip. Orangnya baik, kok. Aku sering dikasih gratisan sama dia."
"Emang dulu gak punya duit buat jajan?" tanya Chandra, heran.
"Ye dasar." Chandra cubit pipi tembam Litania lalu membukakan sabuk pengamannya. "Ya udah. ayo kita turun. Aku juga mau coba seenak apa cilok buatannya."
"Enak banget. Pasti nagih," jawab Litania seraya menunjukkan dua jari jempolnya.
Tak memerlukan waktu lama, dua porsi cilok bumbu kacang sudah tersedia di atas meja. Litania tampak menikmatinya begitu juga Chandra. Pria berkemeja abu-abu itu menyantap makanan itu seolah itu adalah makan ternikmat di dunia. Bagaimana tidak, dirinya yang hampir bosan karena setiap hari dihidangkan dengan menu makanan mahal dan berkelas mendadak dihidangkan dengan makanan pinggir jalan. Memorinya refresh dalam sedetik. Ingatan kala masih sekolah dulu terlintas jelas di ingatan. Dulu ia juga suka nongkrong bersama teman-teman dengan camilan cilok, persis seperti sekarang ini.
"Enak. Bumbu ciloknya meresap. Pas," bisik Chandra dengan mulut yang masih mengunyah.
"Nah, aku bilang juga apa. Pasti enak," balas Litania seraya menarik pelan botol cabe yang ada di sebelah Chandra. Chandra yang tau gelagat mencurigakan itu langsung dengan cepat meraihnya. "Makan cilok, boleh. Asal gak pake sambel."
"Ih kok gitu, sih. Dikit aja, deh. Dikiiit aja ... ya ya ya." Litania mendorong gelas ciloknya. Wajah sudah ia buat sememelas mungkin. Namun tetap saja direspon Chandra dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Mau habisin cilok dulu apa langsung pulang?" ancam Chandra berkedok pertanyaan.
Litania merungut kesal tapi berakhir kembali menikmati makanannya. Percuma berdebat, toh akhirnya pasti akan kalah.
"Ah, aku kenyang." Litania berucap seraya meletakkan gelas ciloknya di atas meja. Punggungnya tersandar santun di sandaran kursi plastik berwarna biru. Senyumnya terkembang karena perut sudah terasa kenyang. Empat porsi cilok habis dalam satu kali hadap.
"Udah kenyang, Neng? Apa mau nambah lagi?" goda Urip yang tengah melayani pembeli.
"Gak deh, Mang. Perut aku udah gak muat lagi buat nampung. Kenyang banget. Ni liat ... udah gede begini." Litania usap perutnya yang membuncit.
"Tapi itu kan bukan karena cilok Mamang, Neng."
Litania terdiam. Tak lama ia terkekeh. Mata tertuju pada Chandra yang ada di sebelahnya. "Ya bukanlah, Mang. Ini tu bukan karena cilok. Ini karena kekenyangan makan sosis urat Ayang Embeb aku. Iya 'kan, Yang?" celetuk Litania. Matanya bahkan berkedip. Menggoda Chandra. Wajah pria itu tentu saja memerah karena mendengar celetukan Litania yang disusul gelak tawa para penjual di sana.
Chandra berdecak kesal. Bisa-bisanya istrinya itu buka kamus disembarang tempat. Mulut nggak ada akhlak, emang. Dasar Litania!
"Ya udah deh, Mang. Kami pamit dulu. Makasih, ya," ucap Litania setelah meletakkan uang seratus ribu di atas meja. Ia angkat dari kursi dibantu Chandra.
"Tapi kembaliannya, Neng!" seru Urip.
"Gak apa-apa, Mang. Ambil aja. Buat jajan anak-anak di rumah."
"Wah, makasih loh, Neng."
Litania tersenyum. Namun, saat hendak membuka pintu mobil, suara seseorang dari belakang, mengagetkan. Sontak ia dan Chandra mencari arah suara. Tampak remaja berkemeja kotak-kotak dengan ransel di punggung menghampiri mereka.
Dia ... Dia 'kan ....
__ADS_1