
Sementara itu di kediaman Chandra. Litania tengah duduk berhadapan dengan Chandra di meja makan.
"Mbak Sri, mana Kinar?" tanya Litania seraya melihat sekeliling. Biasanya gadis itu akan lebih dulu duduk di meja makan dengan senyum yang terkembang. Akan tetapi berbeda kali ini, kursi yang biasa diduduki gadis itu kosong. "Bisa bangunin dia gak, Mbak."
Sri yang tengah meletakkan jus di sampingnya menggeleng pelan. "Nona Kinar semalaman nggak pulang, Non."
"Apa?" Litania tampak kaget, dahinya bahkan mengkerut. "Beneran dia gak pulang?" tanyanya Litania lagi untuk memastikan.
"Iya, Non."
Kedua sudut bibir Litania terturun diiringi dengan helaan napas panjang. "Ya udah deh, Mbak." Beranjak dari kursi, Litania berencana balik ke kamar dan hendak menelepon Kinar.
"Mau ke mana?" tanya Chandra saat melihat Litania sudah berdiri.
"Aku mau ke kamar, mau ambil HP terus nelpon Kinar. Aku takut dia kenapa-napa."
"Gak usah takut, Kinar baik-baik aja. Tadi Arjun ada kirim pesan, katanya Kinar baik-baik aja. Nanti siang bakal diantar ke rumah."
Mata Litania melotot. "Lah, kenapa nggak bilang?" tanya Litania sewot, bibirnya maju beberapa senti karena Chandra hanya diam saja saat dirinya sudah terlanjur cemas.
"Kan kamu gak nanya."
"Ih, nyebelin," sungut Litania seraya kembali mendudukkan diri di kursi. Ia santap sarapan dengan nikmat karena memang dari semalam tidak makan. Apalagi sekarang dirinya tengah berbadan dua. Otomatis memerlukan tambahan gizi dan kalori yang harus bisa mencukupi kebutuhan tubuh.
Sementara Chandra tersenyum dengan mulut penuh roti isi. Melihat betapa lahapnya Litania makan membuatnya juga merasakan senang. Ia berharap Junior dari hasil kerja kerasnya akan selalu sehat. "Pelan-pelan makannya. Entar keselek sendok, loh."
Litania manyun lagi. Mulut yang sedang terisi nasi goreng seafood sontak saja makin menggembung. Ia putar bola matanya malas seraya berucap, "Emangnya aku Limbad. Aneh-aneh ih."
Chandra terkekeh sejenak. Perlahan wajah gusar Litania mulai hilang dan kembali ke mode lama—jutek tapi tetap cantik.
Sarapan pun berjalan dengan semestinya. Walaupun masalah kinar masih membayang di benak Litania dan Chandra, tapi tetap perut harus diisi agar bisa berpikir jernih.
Chandra masih mencuri pandang pada Litania. Wajah itu sudah mulai sedikit menggembung karena nafsu makan yang meningkat lebih banyak dari sebelumnya. Perubahan yang tentu saja membuat Chandra senang hingga seseorang dari arah depan membuyarkan tatapan.
Tampak Bambang tergopoh mendekati mereka.
"Ada apa, Pak?" tanya Chandra pada Bambang.
"Di luar ada tamu, Den. Ada Non Ara sama suaminya," ucap Bambang yang memang sudah kenal Ara dan juga suami Ara yang bernama Rio.
__ADS_1
Litania yang mulanya begitu menikmati sarapan berubah drastis menjadi tegang, begitu juga Chandra. Pria itu tampak melepaskan roti isi yang ada di tangan, meraih gelas air putih lantas meminumnya hingga habis sengah.
"Kamu tunggu di sini aja." Chandra berucap seraya menatap Litania yang juga sudah selesai dengan sarapan.
"Gak. Aku mau tahu hasilnya," jawab Litania setelah menggeleng mantap.
Chandra menghela napas, percuma juga melarang Litania. Istrinya itu memang keras kepala. Tak akan mungkin mempan hanya dengan satu kalimat saja. "Ya udah, ayo."
Litania mengikuti langkah lebar Chandra menuju ruang tamu. Di sana tampak Ara bersama dengan seorang pria yang tampak lebih muda. Rio, suami Ara yang juga bekerja di perusahaan yang sama. Hanya saja Rio menjabat sebagai staf keamana IT di perusahaan.
Jadi itu suaminya Mbak Ara. Berondong yang umurnya lima tahun lebih muda.
Litania berdecak kagum. Dalam langkah ia terus saja memindai penampilan Ara dan juga Rio. Ara terlihat elegan dan suaminya juga terlihat menawan, tampan, 2 x 5 dari Arjun (sama saja). Dua puluh delapan versus dua puluh tiga. Wau, angka yang fantastis tapi tak sefantastis dirinya dan Chandra.
"Duduk," perintah Chandra seraya merebahkan diri di sofa. Dua orang yang memang menjadi kaki tangannya itu duduk secara bersamaan.
Ara serahkan selembar map cokelat yang ada di tangan. "Ini data yang Bapak pinta semalam," ucap Ara dengan wajah tegang begitu juga Rio, keduanya saling pandang sebelum berakhir melihat wajah Chandra yang juga mulai menegang setelah mengetahui isi dari map itu.
"Alex ini tergolong manusia pintar. Dia lulusan Oxford university, Inggris. Dia satu-satunya orang Indonesia yang bisa menamatkan studi di jurusan Politics, Philosophy and Economics (PPE)." Rio menjelaskan dengan nada yakin.
"Jadi maksudmu dia ini manusia jenius?" Chandra meletakkan map di atas meja. Kedua tangannya tertaut di atas lutut dengan kaki menyilang. Sementara wajah tetap serius melihat dua orang kepercayaannya secara bergantian.
"Wah bibit orang kaya rupanya." Chandra tersenyum miris. "Lanjutkan."
"Alex masuk ke sekolah itu baru sekitar 6 tahunan. Dan anehnya dia tidak mengajar. Dia malah konsisten menghadapi murid yang bermasalah. Jadi dari awal mula masuk sekolah dia sudah menjabat sebagai guru BK di SMP itu."
Darah Chandra berdesir, begitu juga Litania.
"Jadi maksudmu itu kedok agar dia bisa melecehkan anak-anak yang bermasalah?" ujar Chandra.
Memori Litania mulai berputar. Ia ingat betul cerita yang Kinar katakan—Kinar dilecehkan Alex di ruang BK. "Sialan! Lelaki itu memang jenius brengsek. Dia manfaatin kenakalan anak-anak demi kelainannya. Dia tau kalau anak bermasalah gak akan dipercayai orang lain. Dasar bedebah busuk!" geram Litania dengan rahang yang mengatup. Tangan bahkan mengepal, membuat Chandra dan yang lainnya tampak keheranan.
"Iya, bahkan korbannya gak hanya satu," jelas Ara, "dalam enam tahun itu kami mencurigai dia sudah melecehkan lebih dari sepuluh siswi."
"Apa?" Suara Litania meninggi, kaget sekaligus kesal. Bagaimana bisa manusia busuk itu bisa hidup di dunia ini? Ditambah lagi dengan harta yang berlimpah. Astaga ....
"Saya sudah mengecek semua akun bank ayahnya Alex. Terhitung dalam enam tahun terakhir ada 16 wali siswi yang menerima kiriman uang. Nominalnya lumayan besar sekitar 20 sampai 30 juta per orang. Jadi kami mencurigai ada 16 korban." Rio menimpali, raut wajah tentu saja serius.
"Wow brengsek sialan? Awas aja. Kalau aku ketemu dia. Aku pastikan dia mati saat itu juga." Litania berucap dengan mengeratkan kepalkan tinju
__ADS_1
"Tenanglah, kamu lagi hamil jadi nggak boleh ngomong sembarangan," ujar Chandra. Kini wajahnya menatap serius Ara dan juga Rio. "Korbannya bagaimana, apa tidak ada yang mau bersaksi?"
"Tidak ada, Pak. Saya mendapat informasi dari beberapa orang suruhan saya, kata mereka, para korban tidak ada yang mau mengangkat kasus ini. Mereka seperti takut dan seperti tertekan."
"Semuanya. Dari 16 orang itu semuanya gak ada yang mau buka suara?"
Ara mengangguk. "Itu pun dari 16 korban hanya ada tiga orang saja yang masih tinggal di Jakarta. Sisanya memilih pindah. Dan semua siswinya juga ikutan pindah sekolah.
"Apa nggak ada cara lain?" tanya Chandra lagi.
Ara dan Rio saling tatap sekejap lalu menggeleng secara bersamaan. "Kita tidak punya cukup bukti. Para korban gak ada yang mau bersaksi. Jadi kemungkinan mustahil menjebloskan orang itu ke penjara."
Kepala Chandra makin berdenyut. "Lalu ke mana si brengsek itu sekarang?"
"Tadi saya dapat laporan dari orang yang berjaga di dekat rumahnya, mereka mengatakan kalau Alex berangkat ke sekolah seperti biasa."
"Apa? Bagaimana mungkin? Wajahnya saja bonyok begitu. Bagaimana bisa dia pergi ke sekolah?" Chandra lihat lagi wajah marah Litania. Ia maklum karena dirinya juga kesal dengan keadaan yang ada.
"Lalu, soal staf sama sekuriti yang berjaga semalam, bagaimana?"
"Semuanya hilang. Baik bukti vidio juga orang-orangnya menghilang."
Gila, konspirasi ini benar-benar bikin sakit kepala, batin Chandra.
***
Holla. aku udah up 3 bab ya. Semoga suka
Dan 1 lagi. aku mau promoin karya temen2 aku yang kece badai.
1 Buka kontrak pernikahan.
hello my boss.
3 Istri culun tuan narsis.
__ADS_1
mlipir k sana ya. jamin ngakak plus baper.